BAB II DISPARITAS PUTUSAN HAKIM DALAM PERKARA
D. PEMBATALAN PERKAWINAN
1. Pengertian Pembatalan Perkawinan
Pembatalan perkawinan adalah pembatalan suami istri sesudah dilangsungkannya akad nikah. Oleh karena itu, akan dikaji mengenai langkah-langkah pembatalan setelah perkawinan selesai dilangsungkan dan diketahui adanya syarat-syarat yang tidak terpenuhi.146 Menurut Soedaryo Soimin, pembatalan perkawinan adalah perkawinan yang terjadi dengan tanpa memenuhi syarat-syarat sesuai Undang-Undang.147 Menurut Undang-Undang perkawinan, pada prinsipnya perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat
persangkaan (dugaan) d) Alat bukti pengakuan e) Alat bukti sumpah f) Alat bukti pemeriksaan setempat (discente) g) Alat bukti keterangan ahli (expertise), Lihat, K.Wantjik Saleh, Hukum
Acara Perdata RBg/HIR (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1990), h.71. 145
Taufik Makarao, Op.Cit, h.94
146
Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h.37.
147
Muchlis Marwan dan Thoyib Mangkupranoto, Hukum Islam II, (Surakarta: Buana Cipta, 1986). h.2.
untuk melangsungkan perkawinan. Hal ini diatur dalam Pasal Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 22:
Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
Pembatalan perkawinan merupakan tindakan Putusan pengadilan yang menyatakan bahwa ikatan perkawinan yang dilakukan itu tidak sah, akibatnya ialah perkawinan itu dianggap tidak pernah ada. Dalam hukum islam batalnya perkawinan karena tidak terpenuhinya syarat-syarat dan rukun perkawinan, batalnya perkawinan atau putusnya perkawinan disebut juga dengan (حسف) fasakh.
Fasakh berasal dari bahasa arab yakni mencaut sesuatu yang
sudah sah dan formal fasakh disyariatkan dalam rangka menolak kemudharatan. Sedangkan menurut Imam Syafi‟i dan Hambali fasakh pisah karena cacat salah seorang pasangan suami istri, perceraian kerena berbagai kesulitan (i‟sar) suami, pisah karena li‟an, salah seorang suami istri murtad, perkawinan itu rusak (fasad), dan tidak ada kesamaan status (kufu).fasakh menurut mazhab Hanafi ialah pisah karena suami istri murtad, perceraian karena perkawinan itu fasad (rusak), dan perpisahan karena tidak seimbangnya sttus (kufu) atau suami tidak dapat ditemukan. Fasakh menurut mazhab maliki ialah terjadinya li‟an, fasadnya perkawinan, dan salah seorang pasangan tersebut murtad.148 Fasakh bisa terjadi karena tidak terpenuhinya
148
Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h.19-20.
syarat ketika berlangsung akad nikah, atau karena hal-hal lain yang datang kemudian dan membatalkan kelangsungan perkawanian.149 2. Sebab-sebab Batalnya Perkawinan (Fasakh)
Pada prinsipnya perkawinan dapat dituntut pembatalannya oleh orang-orang tertentu. Pembatalan tersebut yang dilakukan oleh orang harus berdasarkan keadaan tertentu sesuai dengan peraturan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam150 yang pada garis besarnya karena alasan:
149
Fasakh (batalnya perkawinan) karena syarat-syarat yang tidak terpenuhi ketika akad
nikah, yaitu:a) Setelah akad nikah, ternyata diketehaui bahwa istrinya adalah saudara kandung atau saudara sesusuan pihak suami; b) Suami istri masih kecil, dan diadakannya akad nikah oleh selain ayah atau datuknya, kemudian setelah dewasa, ia berhak meneruskan ikatan perkawinannya yang dahulu atau mengakhirinya. Cara seperti ini diebut khiyar balig. Jika yang dipilih mengakhiri ikatan suami istri, maka hal ini disebut fasakh balig.Sedangkan Fasakh karena hal-hal yang datang setelah akad, yaitu: a) Bila salah seorang dari suami murtad dan tidak mau kembali sama sekali, maka akadnya batal (fasakh)karena kemurtadan yang terjadi belakangan; b) Jika suami, yang tadinya kafir masuk islam, tetapiistri masih tetap dalam kekafirannya, yaitu tetap menjadi musyrik, maka akadnya batal (fasakh). Lain halnya kalau istri adalah ahli kitab. Maka, akadnya tetap sah seperti semula. Sebab perkawinannya dengan ahli kitab dari semula dipandang sah. Lihat, Slamet Abidin dan H Aminuddin, Fiqh Munakahat 2, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h.73.
150
Lebih rinci mengenai sebab-sebab batalnya perkawinan terdapat dalam Pasal 70 s.d Pasal 75. Pasal 70 menyatakan yaitu Perkawinan batal apabila: a.Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang isteri sekalipun salah satu dari keempat isterinya dalam iddah talak raj`i; b.Seseorang menikah bekas isterinya yang telah dili`annya; c.Seseorang menikah bekas isterinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas isteri tersebut pernah menikah dengan pria lain kemudian bercerai lagi ba`da al dukhul dan pria tersebut dan telah habis masa iddahnya; d.P erkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah; semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan e.Isteri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dan isteri atau isteri-isterinya. Pasal 71 menyatakan suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila: a.seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama; b. perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi isteri pria lain yang mafqud. c.perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dan suami lain; d. perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan; e. perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak; f. perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan, Pasal 72 menyatakan bahwa:a.seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar hukum. b. seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri c.apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaanya dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak dapat menggunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur. Pasal 73 menyatakan bahwa yang dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan adalah : a. para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah dari suami atauisteri; b.suami
a. Pelanggaran terhadap asas monogami;
b. Salah satu pihak tidak memiliki keabsahan dalam kata sepakat; c. Suami atau istri berada dibawah pengampunan;
d. Belum mencapai umur yang ditentukan oleh undang-undang; e. Pelanggaran terhadap larangan yang ditentukan undang-undang; f. Karena tidak memenuhi perizinan yang ditentukan undang-undang; g. Perkawinan dilaksanakan tidak di depan pejabat yang berwenang
menurut undang-undang.
Selain hal-hal tersebut hal-hal lain yang menyebabkan batalnya perkawinan (fasakh), yaitu sebagai berikut:
a. Karena ada balak (penyakit belang kulit) b. Karena gila
c. Karena Penyakit Kusta
d. Karena ada penyakit menular, seperti sipilis, TBC, dsb.
e. Karena ada daging tumbuh pada kemaluan perempuan yang menghambat maksud perkawinan (bersetubuh).
f. Karena „unnah, yaitu zakar laki-laki impoten (tidak hidup untuk
ijma‟) yang menyebabkan seorang laki-laki yang menyandangnya
tidak mampu melaksanakan tugas seksualnya. Dalam keadaan seperti itu, menurut pendapat seluruh mazhab, istri dapat membatalkan perkawinannya.151
g. Perkawinan yang dilakukan oleh wali dengan laki-laki yang bukan jodohnya, misalnya: budak dengan orang merdeka atau orang yang berzina dengan orang yang terpelihara.
h. Suami tidak mampu memulangkan istrinya, dan tidak pula memeberikan belanja sedangkan istrinya itu tidak rela.
i. Suami miskin, setelah jelas kemiskinannya yang diketahui oleh beberapa orang saksi yang dapat dipercaya. Artinya suami benar-benar tidak mampu lagi memberi nafkah sekalipun itu pakaian yang sederhana dan tempat tinggal, atau ia tidak mampu membayar maharnya sebelum mencapuri istrinya.152
atau isteri; c.pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan perkawinan menurut Undang-undang. d.para pihak yang berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam rukun dan syarat perkawinan. Pasal 74 menyatakan bahwa: a.permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal suami atau isteri atau perkawinan dilangsungkan. b.Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah putusan pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan. Pasal 75 menyatakan bahwa Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap : a. perkawinan yang batal karena salah satu sumaiatau isteri murtad; b. anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut; Lihat, Kompilasi Hukum Islam, cet.I, (Bandung: Citra Umbara, 2007), h.252-254.
151
Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fih „ala Al-Madzahib al-Khamsah, Alih Bahasa, Masykur A. B dkk, Fiqh Lima Mazhab, Cetakan Kesebelas, (Jakarta: PT. Lentera Merah, 2004), h.351.
152
H.M.A. Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat (Kajian Fikih Nikah Lengkap), (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h.199-202.
j. Waktu akad nikah berlangsung suatu kewajaran, kemudian ternyata terdapat penipuan, baik dari segi mahar atau pihak yang melangsungkan perkawinan.
3. Akibat Hukum Batalnya Perkawinan
Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan Pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berprilaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.
a. Terhadap Anak
Permasalahan yang berkenaan dengan akibat hukum terhadap pembatalan perkawinan di muat dalam pasal 28 ayat (2), yang menyatakan keputusan tidak berlaku surut terhadap:
1) Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut
2) Suami atau isteri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan atas adanya perkawinan lain yang lebih dahulu 3) Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam 1) dan 2)
sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan iktikad baik sebelum keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap.153
153
Keputusan tidak berlaku surut terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut. Anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang telah dibatalkan tidak berlaku surut, sehingga dengan demikian anak-anak ini dianggap sah, meskipun salah seorang tuanya beritikad atau keduanya beritikad buruk. Dalam BW bila kedua orangtuanya beritikad baik, maka anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang dibubarkan ini, disahkan. Sedangkan bagi mereka yang kedua orang tuanya beritikad buruk, maka anak-anaknya dianggap anak luar kawin, dan dianggap tidak ada perkawinan. Dalam Undang-undang Nomor. 1 Tahun 1974 lebih adil kiranya bahwa semua anak yang dilahirkan, dalam perkawinannya yang dibatalkan, meskipun kedua orangtuanya beritikad buruk anak tersebut masih anak sah. Ini berdasarkan kemanusiaan dan kepentingan anak-anak yang tidak berdosa dan patut mendapatkan perlindungan hukum. Dan tidak seharusnya bila anak-anak yang tidak berdosa harus menanggung akibat tidak mempunyai orang tua, hanya karena
b. Terhadap Harta yang diperoleh Bersama
Suami atau isteri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan atas adanya perkawinan lain yang lebih dahulu. Pembahasan mengenai harta yang ada pada dan sebelum perkawinan serta setelah pembatalan perkawinan merupakan masalah yang perlu mendapatkan pemahaman mendalam, karena ini salah satu hal yang menyangkut perlindungan hak dan kewajiban para pihak.
c. Terhadap Pihak Ketiga
Terhadap pihak ketiga yang beritikad baik pembatalan perkawinan tidak mempunyai akibat hukum yang berlaku surut, jadi segala perbuatan perdata atau perikatan yang diperbuat suami isteri sebelum pembatalan perkawinan tetap berlaku, dan hal ini tetap harus berlaku. Sehingga pihak ketiga yang beritikad baik tidakdirugikan. Adapun dalam Pasal 75 Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa akibat hukum terhadap pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap:
1) Perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau isteri murtad
2) Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut
3) Pihak ketiga sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan beritikad baik, sebelum keputusan pembatalan perkawinan mempunyai kedudukan hukum yang tetap.
kesalahan orang tuanya, dengan demikian menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 anak-anak yang dilahirkan itu mempunyai status hukum yang jelas sebagai anak-anak sah dari kedua orang tuanya yang perkawinannya dibatalkan. Analisis yang disampaikan oleh Wibowo Reksopradoto, lihat Wibowo Reksopradoto, Hukum Perkawinan Nasional Jilid II Tentang Batal dan Putusannya