BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Pengobatan Kanker
2.4.3 Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi yang paling awal dikenal untuk pengobatan kanker. Kanker yang paling memungkinkan untuk pembedahan saat ini adalah kanker payudara
Terapi pembedahan dikenal sebagai berikut :
a. Terapi atas masalah lokal dan regional : Mastektomi, breast conserving surgery, diseksi aksila dan terapi terhadap rekurensi lokal/regional.
b. Terapi pembedahan dengan tujuan terapi hormonal : ovariektomi, adrenalektomi, dan lain-lain.
c. Terapi terhadap tumor residif dan metastase.
d. Terapi rekonstruksi, terapi memperbaiki kosmetik atas terapi lokal/regional, dapat dilakukan pada saat bersamaan (immediate) atau setelah beberapa waktu (delay).
Jenis mastektomi pada kanker payudara:
a. Mastektomi Radikal Modifikasi (MRM) MRM adalah tindakan pengangkatan tumor payudara dan seluruh payudara termasuk kompleks puting-areola, disertai diseksi kelenjar getah bening aksilaris level I sampai II secara en bloc. Indikasi: Kanker payudara stadium I, II, IIIA dan IIIB.
Bila diperlukan pada stadium IIIb, dapat dilakukan setelah terapi neoajuvan untuk pengecilan tumor.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur tentang potensi antikanker dari tumbuhan Andaliman. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan serangkaian artikel baik berupa research article maupun review article yang berkenaan dengan subjek yang di teliti kemudian di lanjutkan dengan mereview artikel-artikel terkait tumbuhan Andaliman tersebut sehingga dihasilkan suatu narrative review.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Juli 2020 hingga Februari 2021. Penelitian dilakukan secara daring (dalam jaringan).
3.3 Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah jurnal-jurnal hasil penelitian maupun artikel review yang terbit pada tahun 2010 hingga 2020. Sumber data penelitian diperoleh dengan search engine pada Google Scholar, PubMed, Research Gate, dan PMC sehingga didapatkan jurnal-jurnal yang bermutu dari berbagai negara.
3.4 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah jurnal ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi. Kriteria sampel penelitian adalah sebagai berikut:
Kriteria inklusi yaitu :
a. Jurnal ilmiah tahun 2010 hingga 2020 dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.
b. Jurnal yang memuat artikel tentang tumbuhan andaliman, khasiat/manfaat, serta kandungan yang berfokus sebagai anti kanker
c. Artikel atau jurnal tersebut berupa text pdf yang lengkap bukan hanya sebagian atau sepotong jurnal sebagai contoh: hanya abstraknya saja, kemudian tidak di sertai dengan data hasil penelitian, terutama tidak ada kesimpulan yang dapat di tarik dari jurnal tersebut.
Kriteria ekslusi yaitu :
a. Jurnal berbahasa asing selain bahasa Inggris b. Artikel tidak lengkap (hanya abstrak)
3.5 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian adalah:
a. Mengajukan izin melakukan penelitian research article kepada Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
b. Mengumpulkan artikel-artikel yang berfokus pada antikanker dan tumbuhan Andaliman)
c. Mengelompokkan artikel-artikel tersebut sesuai dengan topic penelitian menggunakan software Mendeley.
d. Menelaah artikel-artikel tersebut dan menentukan batasan bahasan untuk narrative review, yang dilakukan:
1) Membaca isi teks artikel keseluruhan 2) Memahami isi teks artikel keseluruhan
3) Membuat kesimpulan dari artikel yang dibaca 3.6 Tahapan Penelusuran Artikel
Penelusuran artikel dilakukan dengan mencari/menelusuri artikel-artikel terkait baik research article maupun review article menggunakan Google Scholar, PubMed, Research Gate, PMC, dan Science Direct. Berikut adalah tahapan untuk mendapatkan artikel-artikel tersebut yaitu:
a) Buka aplikasi pencarian yang digunakan seperti chrome
b) Setelah aplikasi pencarian terbuka, diketik kata “google scholar”,
“PubMed”, “Research Gate”, “PMC”, dan “Science Direct” pada halaman pencarian.
c) Setelah memasuki halaman “google scholar”, “Research Gate”, “PubMed”,
“PMC”, dan “Science Direct”. Lalu dimasukkan kata kunci untuk pencarian jurnal seperti “Zanthoxylum acanthopodium DC., anticancer, apoptosis, cancer, cell cycle, MTT assay, treatment of cancer.
d) Sebelum menekan tanda search, diatur terlebih dahulu rentang waktu seperti tahun 2010-2020.
e) Ditekan search maka artikel yang kita inginkan akan muncul semua. Lalu dibaca dan dipilah mana jurnal yang akan diambil.
f) Apabila artikel-artikel telah terkumpul semua dari berbagai situs web, maka langkah selanjutnya disimpan semua artikel tersebut dalam satu folder g) Artikel-artikel yang sudah diperoleh disimpan dalam aplikasi di Mendeley
agar tersusun rapi dan tersusun berdasarkan nama pengarang, tahun pembuatan artikel, serta tanggal penyimpanan artikel.
3.7 Pengumpulan database
Untuk pengambilan literatur jurnal dari setiap situs atau link seperti Pubmed, Google Scholar harus merupakan jurnal yang sudah melakukan uji coba dan datanya ada atau valid yang memungkinkan kita meneliti suatu jurnal yang berkaitan dengan apa yang kita cari sesuai dengan kriteria tugas akhir.
Adapun artikel-artikel yang dikumpulkan tersebut direkam dalam diagram rigkasan.
Gambar 3.1. Diagram alir penelusuran literatur Science Direct N = 1240
Jurnal akhir yang
- Tidak sesuai dengan topik (n=210)
Intervention:
-Tidak sesuai dengan intervensi (n=20)
Outcome :
- Tidak ada hubungan (n=22) Study design:
- Systematic review (n=3) - Literature review (n=2) - Book chapters (n=10)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengumpulan artikel sebagai referensi utama yang ditelaah dalam penelitian ini dan setelah dilakukan penyeleksian, diperoleh sebanyak 18 artikel yang memenuhi kriteria inklusi . Kemudian 18 artikel yang sudah memenuhi kriteria diseleksi kembali berdasarkan kesesuaian dengan tujuan penelitian dan kualitas quartile jurnal yang dikeluarkan oleh Scopus dan SchimagoJr, sehingga diperoleh 7 artikel yang dijadikan referensi utama. Artikel yang ditelaah merupakan 2 artikel dari jurnal Q3, 1 artikel dari jurnal Q2 dan 4 artikel lain tidak terindeks Scopus. Jurnal yang memuat tentang tumbuhan andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) masih sedikit yang tercatat pada penelitian tahun 2010-2020, oleh karena itu jurnal yang tidak terindeks Scopus juga dimasukkan.
TABEL 4.1 Tabel Publikasi Jurnal Tentang Tanaman Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.)
-IC 50 dari fraksi etilasetat buah andaliman adalah
3 Denny akumulasi sel pada G0 / G1 (60,48%)dan
Metode MTT. Kombinasi ekstrak etilasetat buah andaliman
50 terkecil yaitu sebesar 57,677 ppm dibandingkan akar 65,313 ppm, daun sebesar 77, 983 ppm.
acanthopodium DC 550 nm adalah 221,31 mg L ‒ 1 yang menunjukkan
Metode MTT Hasil uji sitotoksik (IC50) yang diperoleh setelah pemberian EEBA dan doksorubisin sebesar 54,48
± 0,22 µg/mL dan 0,80 ± 0,02 µg/mL.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Kandungan Metabolit
Menurut jurnal yang berjudul “Anticancer potential from ethanol extract of Zanthoxylum acanthopodium DC. seed to against MCF-7 cell line”(Arsita,2019) bahwa kandungan metabolit yang terkandung dalam tumbuhan andaliman yaitu fenol, saponin, tanin, triterpen, dan alkaloid sedangkan steroid tidak terkandung dalam ekstrak andaliman. Golongan flavonoid yang teridentifikasi dalam ekstrak, berupa: flavonoid, flavonol dan flavanon yang memberikan hasil positif bila ditambahkan HCl dan Mg sedangkan flavonoid dari gugus fenol ditandai hasil positif bila ditambahkan NaOH 10%. Maka metabolit sekunder yang ditemukan pada ekstrak etanol adalah fenol, saponin, flavonoid, tanin, triterpenoid, dan alkaloid. Jenis pelarut yang berbeda menghasilkan kandungan yang berbeda pula.
Hasil pengujian metabolit sekunder yang diperoleh pada penelitian (Arsita,2019) dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2 Metabolit sekunder dari biji Zanthoxylum acanthopodium DC.
Secondary metabolites Test method Result Phenolic Tambahkan FeCl3 5 % +
Saponin dipanaskan + Flavonoid a. ditambahkan konsentarsi HCl + Mg + b. ditambahkan H2SO4 2N - c. ditambahkan NaOH 10 % + Tannin Ditambahkan FeCl3 3 % + Triterpenoid Ditambahkan konsentrasi H2SO4 + di tambahCH3COOH
Steroid Anhidrat - Alkaloid a. Menggunakan reagen Dragendorff + b. Menggunakan reagen Mayer +
(Sumber: Arsita,2019) Ekstrak dan efek berbeda pada proliferasi kultur sel MCF-7. Ekstrak etanol biji Andaliman berpotensi sebagai antikanker karena memiliki efek aktif dalam
menghambat perkembangbiakan sel MCF-7 dan memiliki efektivitas yang kuat pada ekstrak murni.
Menurut artikel yang berjudul “Combinational effects of ethylacetate extract of Zanthoxylum acanthopodium DC. with doxorubicin on T47D breast cancer cells”(Ratih,2014), diketahui kombinasi ini mampu menghambat sel kanker payudara T47D. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi ekstrak etil asetat sebagai ko-kemoterapi pada doksorubisin pengobatan. Ekstrak etil asetat, doxorubicin dan kombinasinya diselidiki untuk mengetahui efek sitotoksisitasnya pada sel T47D, dan selektivitasnya diukur pada sel Vero. Metode MTT digunakan untuk menentukan viabilitas sel setelah inkubasi selama 24 jam. Pada setiap perlakuan (Ekstrak etil asetat, doxorubicin dan kombinasinya) menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan sel. Nilai IC50 dari ekstrak etil asetat 24.476 µg / mL dan doxorubicin 348.72 nM, dan kombinasinya adalah menunjukkan efek penghambatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengobatan tunggal.
Indeks kombinasi optimum (efek sinergis) ditunjukkan pada nilai Ekstrak etil asetat 2/8 IC50 dan nilai doxorubisin 1/16 IC50 (7,5 µg / mL- 25 nM) dikategorikan dengan efek sinergis kuat (CI <0,1). Efek ini seharusnya terkait dengan modulasi siklus sel.
Untuk mengevaluasi efek ekstrak etil asetat dalam kombinasi dengan doksorubisin terhadap peningkatan kematian sel dengan modulasi siklus sel, lebih lanjut menggunakan metode flowcytometry. Pengaruh kombinasi disajikan pada Gambar 1. Sedangkan kombinasi keduanya lebih tinggi pada G0 / G1 (80,83%) pada 2/8:
1/16 IC50. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Ekstrak etil asetat dapat meningkatkan efek sitotoksik doxorubisin pada fase G0 / G1.Dalam analisis siklus sel, kombinasi Ekstrak etil asetat dengan doxorubicin menunjukkan fase G0-G1
yang lebih tinggi. akumulasi jika dibandingkan dengan pengobatan tunggal Ekstrak etil asetat atau doksorubisin. Analisis ini juga menunjukkan sel mengalami apoptosis yang ditunjukkan dengan terjadinya apoptosis selama penghambatan siklus sel pada fase G0-G1.
Berdasarkan hasil penelitian (Ratih,2014),diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak etil asetat Zanthoxylum acanthopodium DC. merupakan kombinasi dari ekstrak etil asetat Zanthoxylum acanthopodium DC., buah-buahan, dan doksorubisin yang sangat kuat secara sinergis meningkatkan aktivitas sitotoksisitas doksorubisin melalui penghentian siklus sel. Ekstrak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen ko-kemoterapi untuk doxorubicin dalam terapi kanker payudara.
Liis Panggabean,et al(2020) menyatakan dalam artikelnya yang berjudul
“PROFIL FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL TUMBUHAN Zanthoxylum acanthopodium DC (ANDALIMAN) MENGGUNAKAN METODE BSLT” bahwa suatu sampel dikatakan sangat toksik jika LC50 1000 ppm. Jika dilihat dari LC50 yang diperoleh dari setiap bagian tumbuhan Andaliman, bagian tumbuhan Andaliman yang bersifat lebih toksik terhadap larva udang adalah yang pertama kulit batang dan yang kedua akar, karena kulit batang dan akar mempunyai LC50 yang paling tekecil dari keempat bagian tumbuhan yakni sebesar sebesar 57,677 ppm untuk kulit batang dan sampel akar sebesar 65,313 ppm. Kulit batang dapat bersifat lebih toksik jika dibandingakan dengan akar, buah dan daun Andaliman karena kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada kulit andaliman lebih banyak dibandingkan akar, buah dan daun. Zat aktif yang terkandung di dalam daun, akar, kulit batang dan buah Andaliman dapat
membunuh Artemia salina Leach adalah saponin, alkaloid, tanin, flavonoid dan terpenoid.metabolit sekunder saponin dapat menurunkan tegangan permukaan selaput saluran pencernaan sehingga dinding saluran pencernaan menjadi rusak.
Metabolit sekunder alkaloid dapat membunuh Artemia salina Leach karena alkaloid merupakan komponen aktif yang bekerja di saraf yang juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan karena alkaloid dapat bertindak sebagai racun melalui mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya sehingga larva mati kelaparan. Kandungan metabolit sekunder falvonoid dan tanin dapat membunuh larva udang yang dianggap seperti sel kanker karena komponen aktif pada flavonoid dan tanin dapat mengaktifkan mekanisme jalur apoptosis sel kanker, selain itu flavonoid juga dapat menghambat proliferasi sel kanker.
4.2.2 Zanthoxylum acanthopodium DC. memiliki efek antikanker
Tabel 4.2.2 Nilai IC50 dan LC50 beberapa ekstrak dan fraksi andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) Bagian
Tumbuhan
Sampel Nilai IC50 (µg / mL) Nilai LC50
(ppm)
Referensi
MCF-7 T47D 4T1 Larva Udang
Ektsrak etanol - - 54.48 + 0.22 - Rosidah et al.,(2019)
Buah Ekstrak etil asetat - 24.476 - - Ratih et al.,(2014)
Fraksi etil asetat - 48.94 ± 0.32 48.1 + 1.06 - Urip Harahap et al.,(2018), Denny satria et al.,(2019)
Ekstrak - - - 191,426 Liis Panggabean et al.,(2020)
Biji Ekstrak etanol 221.31 - - - Arsita et al.,(2019)
Daun Ekstrak - - - 77,983 Liis Panggabean et al.,(2020)
Kulit batang Ekstrak - - - 57,677 Liis Panggabean et al.,(2020)
Akar Ekstrak - - - 65,313 Liis Panggabean et al.,(2020)
Berdasarkan data penelitian yang di sajikan dalam bentuk tabel di atas dapat kita lihat bahwa penelitian yang memiliki IC 50 terkecil yaitu dengan ekstrak etilasetat (24.476 µg / mL),ini dipengaruhi oleh metode yang digunakan sehingga menghasilkan data penelitian yang (< 100 µg /mL) yang menurut literatur sangat baik dalam katagori sebagai pengobatan kanker menggunkan tanaman herbal dan LC 50 ekstrak kulit batang terhadap larva udang yaitu Sebesar 57,677 ppm, dikarenakan berkembangnya zaman maka di lakukan uji menggunakan media larva udang yang bernama BSLT( Brine Shrimp Lethality Test),ini juga merupakan tes awal uji coba untuk kedepannya agar dapat di lakukan uji coba mengggunakan metode lainnya.
Menurut data yang di peroleh oleh (Bhattacharya, (2017)AEZA (ekstrak encer Zanthoxylum acanthopodium DC.) 200mg / kg dan 400mg / kg, MEZA(ekstrak metanol Zanthoxylum acanthopodium DC) 200mg / kg dan 400mg / kg dapat melemahkan kultur sel DLA yang diinduksi kanker pada tikus. Kedua ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas antiproliferatif yang signifikan dengan cara yang bergantung pada dosis. Aktivitas AEZA (ekstrak encer Zanthoxylum acanthopodium DC.) relatif lebih tinggi dibandingkan MEZA( ekstrak metanol Zanthoxylum acanthopodium DC.). Upaya penelitian ini digunakan untuk mengatasi kanker sejauh yang diperlukan untuk melindungi kehidupan individu yang terkena dan membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut terutama dengan mengacu pada pengembangan phytomedicine yang manjur untuk pengobatan kanker dari tanaman(Zanthoxylum acanthopodium DC.) AEZA 200, 400mg / kg.
Studi toksisitas akut dilakukan dengan menggunakan dosis 2mg / kg dengan dua ekstrak berbeda dari tanaman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) pada mencit
albino betina menurut pedoman OECD (425). Bahkan pada dosis tinggi ini, (Ekstrak kental pedoman OECD ( ekstrak encer Zanthoxylum acanthopodium DC.) AEZA dan MEZA(ekstrak metanol Zanthoxylum acanthopodium DC.) tidak menunjukkan tanda atau gejala toksisitas dan kematian. Oleh karena itu, dua dosis (200, 400mg / kg b.wp.o.) dari dosis uji maksimum dipilih untuk penelitian lebih lanjut pada hewan. Studi fitokimia kualitatif pendahuluan dari ekstrak encer Zanthoxylum acanthopodium DC. AEZA dan ekstrak metanol Zanthoxylum acanthopodium DC. MEZA mengungkapkan adanya alkaloid, flavonoid, karbohidrat, glikosida, fitosterol, tanin dan protein.
Sedangkan menurut (Arsita,2019) ekstrak Zanthoxylum acanthopodium DC. dengan nilai IC50 menunjukkan bahwa ekstrak tersebut cukup aktif jika diaplikasikan sebagai antikanker. Hal ini dikarenakan nilai IC50 berada pada kisaran 100 µg mL ‒ 1 sampai 500 µg mL ‒ 1. Sedangkan berdasarkan klasifikasi senyawa antikanker oleh National Cancer Institute (NCI), ekstrak biji Zanthoxylum acanthopodium DC. dengan nilai IC50 tidak memiliki efek kuat atau sedang sebagai antikanker. Hal tersebut terjadi karena ekstrak yang dihasilkan dari proses ekstraksi merupakan ekstrak kasar. Senyawa sitotoksik sebagai antikanker akan meningkat jika nilai IC50 semakin kecil.
Perbedaan jenis dan konsentrasi pelarut digunakan sebagai modifikasi dari penelitian untuk mengetahui efektivitas ekstrak yang mengandung metabolit sekunder. Konsentrasi etanol yang digunakan berbeda-beda yaitu 70%, 80%, dan 96%. Perbedaan konsentrasi tersebut akan mempengaruhi jumLah metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak. Dari penelitian ini diketahui bahwa jumLah efektif metabolit sekunder yang terkandung dalam etanol dengan ekstraksi
96% memiliki persentase hambatan yang lebih besar dibandingkan dengan yang lain serta nilai IC50-nya. Ekstrak yang dihasilkan dari ekstraksi ini merupakan ekstrak kasar yang terdiri dari kadar lemak 0,21%. Kondisi ekstrak juga dipengaruhi oleh kesegaran sampel yang nilai IC50 dari setiap jenis tumbuhan yang diekstraksi akan menghasilkan variasi. Faktor lain yang mempengaruhi perbedaan ini adalah metode ekstraksi, jenis pelarut ekstraksi yang digunakan, dan sel yang diuji. Nilai IC50 yang diperoleh menggunakan uji MTT dengan absorbansi 550 nm adalah 221,31 µL L‒ 1. Nilai tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji Zanthoxylum acanthopodium DC. berpotensi sebagai antikanker karena nilai IC50 berada di bawah konsentrasi 1000 µL L‒1. Potensi tersebut ditunjukkan dengan kemampuan ekstrak dalam menghambat proses proliferasi kultur sel MCF-7 yang dapat dilihat pada visualisasi gambar 4.1.
Gambar 4.1 Grafik persen penghambatan ekstrak etanol (96%) dari (Zanthoxylum acanthopodium DC.) terhadap kultur sel MCF-7.
Berdasarkan hasil yang telah di paparkan mengenai aktifitas antikanker tumbuhan andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) yaitu :
a) Bahwa tanaman andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) berpotensi untuk dikembangkan sebagai ko-kemoterapi untuk kanker payudara dengan cara penghambatan siklus sel (Ratih,2014)
b) Pada hasil uji sitotoksik, masing-masing ekstrak kulit batang, daun, akar, dan buah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) memiliki potensi sebagai agen antikanker.(Liis Panggabean,2020)
c) Di dalam ekstrak etanol biji Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) berpotensi sebagai antikanker karena memiliki efek aktif dalam menghambat perkembangbiakan sel MCF-7 dan memiliki efektivitas yang kuat pada ekstrak murni.(Arsita,2019)
d) Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol pada buah Zanthoxylum acanthopodium DC. Memiliki potensi untuk mengobati kanker payudara.
(Rosidah,2019)
Berdasarkan dari artikel yang telah ditelaah tanaman andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) khususnya buah,biji,dan kulit batang dapat di jadikan alternatif pengobatan kanker, seperti pengobatan yang bersifat medis contohnya kemoterapi,terapi gen,dan lain-lain.
BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang di lakukan di peroleh kesimpulan bahwa adanya aktivitas antikanker pada tanaman andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.
5.2 Saran
Disarankan sebaiknya pada penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian antikanker terhadap tumbuhan andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) dengan sasaran yang lebih spesifik seperti kanker hati, kanker prostat dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Alam, F., Saqib, Q. N. dan Waheed, A. (2017). Cytotoxic activity of extracts and crude saponins from Zanthoxylum armatum DC. Against human breast (MCF-7, MDA-MB-468) and Colorectal (Caco-2) cancer cell lines. Jurnal Fakultas Farmasi. Halaman: 1-3.
Alam, P., Din, K. M., Rasheed, R., Sadiq, A., Jan, M. S., Minhas, A. M. dan Khan A. (2020). Phytochemical investigation, antiinflammatory, antipyretic and antinociceptive activities of Zanthoxylum armatum DC extracts-in vivo and in vitro experiments. Jurnal Fakultas Farmasi. 2405-8440. Halaman: 1-2.
Amelia, S., Lubis, N. D. A., Balatif, R., Rozi, M. F. dan Sindhi, S. P. (2019).
Antibacterial effect of Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) against contaminant in raw common carp (Cyprinus carpio Linnaeus). Jurnal Fakultas Kedokteran. Halaman: 1-2.
Andima, M., Coghi, P., Yang, L. J., Wong, V. K. W., Ngule, C. M., Heydenreich, M., Ndakala, A. J., Yenesew, A., Derese, S. (2020). Antiproliferative Activity of Secondary Metabolites from Zanthoxylum zanthoxyloides Lam:
In vitro and in silico Studies. Jurnal Fakultas Farmasi. Vol. 10(1).
Halaman: 44-46.
Anggraeni, R. (2019). Uji Karakteristik Simplisia Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.). Jurnal Fakultas Farmasi. Vol. 3. No. 2. Halaman: 34-37.
Arsita, E. V., Saragih, D. E. dan Aldrin, K. (2019). Anticancer potential from ethanol extract of Zanthoxylum acanthopodium DC. seed to against MCF-7 cell line. The 2nd International Conference on Natural Resources and Life Sciences. Halaman: 1-6.
Asbur, Y. dan Khairunnisyah. (2018). Pemanfaatan Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) Sebagai Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Jurnal Kultivasi. Vol 17(1). Halaman: 1-3.
Balatif, R. (2019). Uji Efektivitas Antibakterial Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio Linnaues) Mentah.
Skripsi Fakultas Kedokteran. Halaman: 5-8.
Barkatullah, B. B., Ibrar, M., Ali, N., Muhammad, N. dan Rehmanullah. (2013).
Antispasmodic Potential of Leaves, Barks and Fruits of Zanthoxylum armatum DC. Jurnal Farmasi dan Farmakologi. Vol 7(13). pp. 685-693.
Halaman: 685-686.
Batubara, M. S., Sabri, E. dan Tanjung, M. (2017). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) Terhadap Gambaran Morfologi Ovarium Mencit (Mus musculus L.) Strain DDW.
Jurnal FMIPA. Vol. 1 No. 1. Halaman: 5-7.
Batubara, M. S., Sabri, E., dan Tanjung, M. (2017). Basil Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Daun Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.).
Jurnal FMIPA. Vol. 2 No. 1. Halaman: 24-28 .
Bhattacharya, J. (2017). Evaluation of Cytotoxic Activity of Zanthoxylum Acanthopodium in Dalton’s Lymphoma Ascites Cells Induced Cancer in Mice. Jurnal Biomedis dan Farmasi Sains. Vol. 4(10). Halaman: 541-543.
Chen, J. J, Yang, C. K., Kuo, Y. H., Hwang, T. L., Kuo, W. L., Lim, Y. P., Sung, P. J., Chang, T. H. dan Cheng, M. J. (2015). New Coumarin Derivatives and Other Constituents from the Stem Bark of Zanthoxylum avicennae: Effects on Neutrophil Pro-Inflammatory Responses. Jurnal Fakultas Farmasi. Vol.
16. Halaman: 9720-9723.
Faradillah, F., Santi, M. A., Sipahutar, L. W., Nurmi, A. dan Mahmud, A. (2020).
Effect of Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium, DC) Supplementation on Broiler Immunity. Jurnal Fisika: Seri Konferensi. Halaman: 15-17.
Fitriatuzzakiyyah, Sinuraya, R. K., Puspitasari, I. M. (2017). Terapi Kanker dengan Radiasi: Konsep Dasar Radioterapi dan Perkembangannya di Indonesia.
Jurnal Fakultas Farmasi. Vol. 6. No. 4. Halaman: 311-317.
Harahap, U., Hasibuan, P. A. Z., Sitorus, P., Arfian, N. dan Satria, D. (2017).
Antimigration Activity of an Ethylacetate Fraction of Zanthoxylum acanthopodium DC. Fruits in 4T1 Breast Cancer Cells. Vol. 19(2).
Halaman: 565-566.
Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro.
Penerbit ITB, Bandung, 10-15.
He, Q., Wang, W. dan Zhu, L. (2018). Larvicidal activity of Zanthoxylum acanthopodium essential oil against the malaria mosquitoes, Anopheles anthropophagus and Anopheles sinensis. Halaman: 1-3.
Julistiono, H., Lestari, F. G., Iryanto, R. dan Lotulung, P. D. (2018).
Antimycobacterial activity of fruit of Zanthoxylum acanthopodium DC against Mycibacterium smegmatis. Jurnal FMIPA. Vol. 8. No. 5. Halaman:
433-436.
Junaidi I. 2007. Kanker. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Katzer, G. (2012). Sichuan pepper and others (Zanthoxylum piperitum, simulans, bungeanum, rhetsa, acanthopodium). Tersedia: http://www.uni-graz.at. [10 Februari 2019].
Kelvin, J. F.dan Tyson, L. B. 2011. 100 Tanya Jawab Mengenai Gejala Kanker dan Efek Samping Pengobatan Kanker. Jakarta: PT. Indeks.
Latika, B., Pandey, A., Tamta, S. (2013). An Overview on Phytomedicinal Approaches of Zanthoxylum armatum DC.: An Important Magical Medicinal Plant. Jurnal Tanaman Obat. Vol. 7(8), pp. 366-370. Halaman:
1-3.
Lichota, A. dan Gwozdzinski, K. (2018). Anticancer Activity of Natural Compounds from Plant and Marine Environment. Jurnal Fakultas Biologi dan Perlindungan Lingkungan. Halaman: 10-17.
Manalu, A. I. (2019). Potensi Ekstrak Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) Sebagai Anti Quorum Sensing Terhadap Enterobacter cloacae dan Aeromonas hydrophila. Tesis FMIPA. Halaman: 23-26 . Mariani, K. S. (2018). Profil Penggunaan Obat Sitostatika Pada Pasien Kanker
Rawat Inap Yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Tahun 2018. Karya Tulis Ilmiah Farmasi. Halaman: 6-12.
NIH. (2015). What Is Cancer. Dipetik 04 16, 2018, dari National Cancer Institute:
https://www.cancer.gov/about-cancer/understanding/what-is-cancer
Nurse, P. (2000). A Long Twentieth Century of TheCell Cycle dan Beyond. Cell Press. 100: 71-78.
Panggabean, L., Nurhamidah dan Handayani, D. (2020). Profil Fitokimia dan Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol Tumbuhan Zanthoxylum acanthopodium DC (Andaliman) Menggunakan Metode BSLT. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia. Vol. 4 No. 1. Halaman: 59-66.
Parwata, I. M. O. A. (2014). Bahan Ajar Jurusan Kimia: Kanker dan Antikanker.
Bali: Universitas Udayana. Halaman sekian – sekian.
Pasaribu, K. M., Gea, S., Ilyas, S., Tamrin, Sarumaha, A. A., Sembiring, A. dan Radecka, I. (2020). Fabrication and In-Vivo Study of Micro-Colloidal Zanthoxylum acanthopodium-Loaded Bacterial Cellulose as a Burn Wound Dressing. Jurnal FMIPA. Halaman: 1-4.
Raja, R. N. L. dan Hartana, A. (2017). Variasi Morfologi Andaliman (Zanthoxylum Acanthopodium) Di Sumatera Utara. Jurnal Pertanian. Vol 5(7). Halaman:
Raja, R. N. L. dan Hartana, A. (2017). Variasi Morfologi Andaliman (Zanthoxylum Acanthopodium) Di Sumatera Utara. Jurnal Pertanian. Vol 5(7). Halaman: