D. Manfaat Penelitian
3. Pembelajaran a. Konsep pembelajaran
Mulyasa (dalam Rohmadi, 2009: 65) menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Interaksi ini terjadi terutama antara siswa dan guru. Pada proses pembelajaran terjadi hubungan yang bersifat dwiarah antara guru dan siswa. Pembelajaran adalah kegiatan yang di dalamnya terdapat proses mengajar, membimbing, melatih, memberi contoh, dan atau mengatur serta memfasilitasi berbagai hal kepada peserta didik agar bisa belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan.
(Amelia Resky, 2015. Kemampuan menggambar Bentuk Dengan Model Pembelajaran Outdoor Siswa kelas X SMA Muhamadiyah 1 Unismuh Makassar. Skripsi tidak diterbitka. Makassar: Unismuh. Makassar).
Konsep tentang pembelajaran diutarakan oleh banyak ahli, dari Wikipedia (www.wikipedia.com) konsep pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan agar dapat terjadi proses
pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Dalam pembelajaran terdapat interaksi antara guru dan siswa yakni guru mengajar dan murid dalam belajar. Menurut Syafi’i (2007: 40) dijelaskan
bahwa: Konsep pembelajaran seperti dipahami termasuk dalam lingkup aktivitas pendidikan. Konsep ini sering dimakanai secara terbatas dalam konteks intruksional, yang melibatkan guru mengajar (teaching) dan murid belajar (learning). Konsep pembelajaran digunakan karena dipandang lebih memposisikan guru dan murid sebagai subjek, artinya keduanya memiliki peran yang sama-sama penting. Dengan kata lain konsep pembelajaran adalah semakna dengan konsep instruksional, dapat berarti juga secara terbatas guru mengajar, dan murid dalam belajar. Sedangkan Sugandi (2007: 9) berpendapat bahwa dalam pembelajaran terjalin usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan berupa penyediaan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus dengan tingkah laku siswa, cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar memahami apa yang dipelajari, serta pemberian kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
(Amelia Resky, 2015. Kemampuan menggambar Bentuk Dengan Model Pembelajaran Outdoor Siswa kelas X SMA Muhamadiyah 1 Unismuh Makassar. Skripsi tidak diterbitka. Makassar: Unismuh. Makassar.)
Dalam prosesnya, sistem pembelajaran itu merupakan interaksi, fungsional antara sub sistem seperti kurikulum, kesiswaan, tenaga kependidikan, perpustakaan dan sebagainya (Sugandi 2007: 20).
Menurut Ismiyanto (2009:1) belajar adalah mengalami, artinya dalam belajar murid menggunakan atau mengubah lingkungan tertentu dan anak belajar mengenai lingkungan tersebut melalui akibat tindakannya; tidak hanya sekadar berhubungan dengan lingkungannya.Oleh karena itu, dapat ditegaskanlingkungan sangat mempengaruhi hasil belajar murid, selain belajar dari akibat tindakannya murid juga belajar dari berbagai hal di dalam lingkungan tersebut.
(Amelia Resky, 2015. Kemampuan menggambar Bentuk Dengan Model Pembelajaran Outdoor Siswa kelas X SMA Muhamadiyah 1 Unismuh Makassar. Skripsi tidak diterbitka. Makassar: Unismuh. Makassar.)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara guru dengan murid dan lingkunganya yang dilakukan secara terprogram. Pembelajaran mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan, yakni mengajar dan belajar.
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu adanya perubahan tingkah laku.
b. Komponen pembelajaran
Mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar itu secara optimal. Sistem lingkungan ini terdiri atas beberapa komponen yang saling berinteraksi dalam menciptakan proses belajar yang terarah pada tujuan tertentu. Gulo (2004: 8) menyebutkan ada tujuh komponen pembelajaran. Komponen-komponen tersebut yaitu; (1) tujuan pengajaran, (2) Guru, (3) peserta didik, (4) materi pelajaran, (5) metode pengajaran, (6) media pengajaran, (7) faktor administratif dan finansial.
Sementara itu disebutkan dalam Ismiyanto (2009: 19) komponen pembelajaran meliputi beberapa unsur sebagai berikut :
1. Tujuan Pembelajaran disebut sasaran belajar. Merupakan komponen utama dan paling awal harus dirumuskan oleh guru dalam merancang pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang harus ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah dilakukan.
2. Guru adalah orang profesional yang melakukan penyelanggaraan mengajar dalam suatu pembelajaran di sekolah, guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan secara optimal.
yang selanjutnya dipahami oleh murid dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
5. Pendekatan, strategi dan metode pembelajaran adalah rencana dan cara yang dilakukan oleh guru untuk membantu mewujudkan interaksi komunikatif dalam kegiatan belajar mengajar. Pemahaman guru terhadap pendekatan pembelajaran akan dapat membantunya menetapkan pilihan strategi pembelajaran, selanjutnya strategi pembelajaran akan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana bentuk interaksi belajar mengajar yang diharapkan oleh guru dan dapat digunakan oleh guru dalam memilih dan menetapkan metode pembelajaran atau merancang kegiatan belajar mengajar.
6. Sumber dan media pembelajaran adalah pendukung kegiatan belajar mengajar, sumber belajar dapat digunakan oleh guru untuk membantu mengembangkan bahan ajar dan bagi murid sebagai media belajar serta pengayaan hasil belajar. Media belajar kedudukannya sebagai media belajar yang diharapkan dapat meningkatkan pengalaman belajar murid kearah yang lebih konkret dan bermakna bagi murid.
7. Evaluasi Hasil Pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan sebelum atau setelah berlangsungnya suatu kegiatan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan kegiatan tersebut. Evaluasi sebaiknya dilakukan dua kali, yang pertama pretest (sebelum pelaksanaan pembelajaran) dengan tujuan mengetahui kemampuan awal murid berkenaan dengan pembelajaran, dan yang kedua dilakukan posttest (sesudah pelaksanaan pembelajaran)dengan tujuan mengetahui gambaran kemampuan murid setelah mengikuti pembelajaran. Dengan cara membandingkan hasil tes awal dengan akhir, maka guru akan mengetahui efektivitas pembelajaran yang telah dilakukan untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan perlu diadakan remidial (perbaikan)bagi para murid atau program pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan komponen utama dalam pembelajaran terdiri dari tujuan pembelajaran, guru, siswa, bahan ajar atau materi, pendekatan, strategi dan metode, sumber dan media pembelajaran, serta evaluasi hasil pembelajaran yang masing-masing komponen saling mempengaruhi satu sama lain dalam terciptanya tujuan pembelajaran di sekolah.
(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran). Diakses 10 juni 2015.
permukaandari objek tiga dimensi untuk mendapatkan kesan tertentu. Media lukisan dapat berupa banyak objek seperti kertas, kanvas, kain, papan, dan bahkan film dalam fotografi juga dapat dianggap sebagai media lukisan.
Alat lukis yang digunakan juga dapat bermacam-macam dengan syarat dapat memberikan bayangan dan kesan tertentu pada media yang digunakan. Kecocokan media dan alat juga dapat mempengaruhi kualitas dan kesan sebuahlukisan. Ada beberapa bagian gaya (corak) dalam lukisan antara lain:
1). Realisme
Realisme adalah suatu aliran yang ingin menangkap realitas ini seperti apa adanya, tanpa ilusi dan tanpa tambahn apa-apa. Yang dicari oleh senimannya ialah kewajaran.Hal ini jelas terlihat dari ucapan salah seorang seniman penganut aliran ini, Gusyave Courbet (1819-1877) “Tunjukkanlah malakait padaku dan aku akan melukisnya”. Mereka ingin menciptakan
hasil seni yang nyata dan menggambarkan apa yang nyata dan kasat mata.
Apa yang ada dilihat itu akan dilukis seperti adanya, tanpa idealisasi, distorsi, maupun pengolahan-pengolahn lainnya. Namun dalam perkembangannya bukan lagi kewajaran, melainkan cenderung melahirkan yang jelek-jelek misalnya kemelaratan, penderitaan dan sejenisnya.
S. Sudjojono (Toko PERSAGI) pernah mencoba memperjuangkan realisme di Indonesia. Dia mengambil objek apa adanya tidak menambah dan tidak mengurangi. Salah satu karya lukisan realis ialah diciptakan oleh GUSTAVE COURBET pada tahun 1949 berjudul “ Pemecah Batu” lihat contoh sebagai:
Gambar 10. Lukisan Realisme
“Pemecah Batu”
(id.wikipedia.org)
2). Naturalisme
Naturalisme dan realisme adalah dua aliran yang agak sukar dibedakan corak lukisannya. Dalam hasil karya lukisan kedua-duanya mengambil kepersisan bentuk dari alam, baik anatomi. Proporsi, warna dan sebagainya.
Pengertian semacam ini sudah menjadi umum dan luas terutama di Indonesia. Namun kalau dilihat dalam realism cenderung memiliki objek yang jelek-jelek misalnya kemelaratan, maka dalam naturalism cenderung memilih objek yang indah-indah. Seandainya objek lukisan kurang indah, maka ia menambah indah. Ada usaha mengidealisir keadaan alam yang sudah ada.
Indonesia yang digelar pelukis Mooi indie.
Gambar 11. Lukisan Naturalisme
“Kakak dan Adik”Basuki Abdullah, 1978 (id.iwikipedia.org)
3). Impresionisme
Menikmati hasil karya lukisan impresionisme berarti menikmati warna-warna yang cemerlang saling terkombinasi mengesankan seperti pantulan cahaya matahari dari berbagai benda. Hal ini sesuai dengan konsepsi Manet (seorang tokoh impresionisme) yang mengatakan bahwa persoalan seni bukan masalah isi melainkan masalah bentuk. Bukan masalah tema tetapi masalah warna, garis komposisi dan lain-lain.
Lukisan impresionisme adalah lukisan kesan dari objek yang dipantulkan oleh sinar matahari. Yang menentukan bentuk dan warna adalah sinar matahari, oleh karena itu sangat memuja sinar matahari. Corak lukisan impresionisme memberi kesan tidak sampai pada penyelesaian yang
mendetailn tidak mementikan adanya out line dari sebuah contoh hasil karya lukisan yang bercorak impresionisme.
Pada lukisan impresionisme pelukis menempatkan warna secara berjejer tidak dengan mencapurnya sehingga kesan warna secara berjejer tidak dengan mencampurnya sehingga kesan warna yang terpancar setelah berdekatan nampak lebih cemerlang pada pelukis impresionisme juga mempunyai corak bermacam-macam.
Gambar 8.Impression, Sunrise
Gambar 12. Lukisan impresionisme Claude Monet 1872/1873 History Of Art (Kusrianto, 2011:119)
4). Ekspresionisme
Pada tahun 1990-an, para pelukis mulai tidak puas dengan karya yang hanya menonjolkan bentuk-bentuk objek. Mereka mulai menggali hal-hal yang berhubungan dengan batin, sehingga muncullah aliran ekspresionisme.
Vincent Van Gogh (1850) adalah tokoh yang menjadi tonggak kemunculan aliran ekspresionisme dan tokoh lain yang mengikuti adalah Paul Cezanne, Paul Gauguin, Emil Nolde dan di Indonesia yaitu Affandi. Ekspresionisme
melototkan dari tubenya dengan bantuan pisau palet atau kwas, ia dapat menghasilkan lukisan ekspresionisme. Beberapa contoh karya yang ekspresionisme.
Gambar 13. Lukisan Ekspresionisme
“Potret Diri” karya Affandi Sumber: (www.google.co.id)
5). Abstraksionisme
Hasil karya yang bercorak abstrak dalam ciptaan yang semata-mata berdasarkan dari ide yang bebas dari ilusi atau bentuk-bentuk yang ada di alam.Hasilnya merupakan garis, bentuk dan warna.
Seni abstrak dalam arti umum adalah seni yang tidak lagi mengfusikan bentuk-bentuk di alam ini sebagai objek atau tema yang harus dibawakan, melainkan hanya sekedar sebagai motif saja, sebagai alasan untuk membuat sesuatu. (Wahid, Abdul Kahar dan Pangeran Paita Yunus. 2014. Apresiasi Seni. Makassar: CV Prince Publishing. Hal 77).
Abstraksionisme adalah aliran yang berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasi figurative suatu objek. Abstraksionisme di bedakan menjadi dua yaitu:
a) Abstrak Kubistis
Yaitu abstrak geometric murni seperti lingkaran kubus dan segi tiga Tokoh alira ini berasal dari Rusia yaitu Malivic (1913).
Gambar 14.Lukisan Abstrak kubuistis Sumber: (www.google.co.id )
b) Abstrak Nonfiguratif
Yaitu abstrak dalam arti seni lukis murni sebagai ungkapan perasaan, dimana garis mewakili garis, warna mewakili warna dan sebagainya.
Gambar 15:Lukisan Abstrak Nonfiguratif Sumber: (www.google.co.id )
primitive telah mengenal gambar sebagai bahasa rupa. Hal ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya gambar dan lukisan di goa-goa tempat manusia tinggal saat itu. Dari gambar-gambar tersebut terdapat beberapa kesamaan tema dan objek gambar. Pada umumnya, tema yang diangkat adalah seputar kehidupan manusia sehari-hari pada zaman itu, seperti berburu binatang, benda-benda langir, dan ritual keagamaan yang berkembang saat itu (animisme dan dinamisme).
Seiring dengan berkembangnya zaman dan peradaban manusia, seni menggambar juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tiap suku dan etnis mempunyai ciri khas sendiri dalam hal motif atau gayanya.
Gambar tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata tetapi lebih sarat dengan isi dan muatan filosofis yang dianggap memiliki kekuatan magis dan melukis mitologi yang dipercaya manusia beribu-ribu tahun lamanya.
Dewasa ini seni menggambar tidak lagi dianggap sebagai sesuata yang sakral. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan gambar mengalami pergeseran fungsi dan makna. Saat ini menggambar sudah menjadi bidang keilmuan yang mempunyai banyak cabang dan turunan menurut fungsinya. Menyatu dengan perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Menggambar adalah
induk dari segala ilmu seni rupa, baik itu seni rupa murni (seperti seni lukis, seni patung, seni keramik) maupun seni rupa terapan (seperti desain dan arsitektur).
Pada dasarnya, menggambar adalah keterampilan yang bisa dipelajaran oleh setiap orang, terutama bagi yang punya minat untuk belajar.
Menggambar adalah sebuah proses kreasi yang harus dilakukan secara intensif dan terus-menerus. Menggambar merupakan wujud pengeksplorasian diri. Hal ini karena selain memiliki fungsi praktis, menggambar juga memiliki fungsi untuk terapi secara psikologis.
Bagi seorang perupa, seperti seniman, desainer, arsitek, komikus, kartinunis, ilustrator, dan drafter, keterampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam menggambar teknik dasar mutlak harus dikuasai sebagai basic proses kreasinya. Pada intinya, menggambar adalah pepduan keterampila (skill), kepekaan rasa (teste), kreativitas, ide, pengetahuan, dan wawasan. (Veri Apriyanto, SSn, 2004. Cara Mudah Menggambar Dengan Pensil.Hal. 1).