• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses pembelajaran yang baik adalah ketika peserta didik mampu memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya hal itu adalah proses pembelajaran dimana semuanya berjalan dengan seimbang, baik dari tenaga pendidik, metode pembelajaran, media pembelajaran maupun sarana dan prasana yang mendukung. Proses pembelajaran tentunya tidak pernah terikat oleh waktu dan tempat. Proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja selagi proses pembelajaran dapat diterima dan tetap menyenangkan bagi siswa.

Seperti halnya di SMAN 4 Kota Tegal, selain mengadakan pembelajaran rutin di dalam kelas namun juga sesekali mengadakan pembelajaran di luar kelas. Seperti yang diungkapkan seorang guru PAI :

“Biasanya untuk materi-materi pelajaran seperti tentang shalat, wudhu, langsung kami praktikkan di Mushola. Selain mendapatkan suasana baru, siswa juga lebih memahami ketika kita langsung mempraktikannya. Tidak hanya itu, terkadang siswa juga langsung saya ajak ketika ada orang tua siswa meninggal dunia, saya ajak beberapa siswa untuk ta‟ziyah dan langsung saya

suruh mereka untuk ikut shalat jenazah. Jadi tidak hanya sekedar dalam waktu proses pembelajaran saja, tapi saya langsung ajak pada keadaan riilnya. Hal itu juga saya maksudkan untuk menanamkan rasa kepedulian terhadap sesama. Contoh lainnya juga ada ketika kita mempelajari materi shalat tahajud, saya tidak bisa hanya menerangkan teorinya di dalam kelas. Saya dibantu dengan pengurus rohis membuat agenda untuk mereka bisa menginap di sekolah, dan kegiatan dimulai ba‟da ashar dengan tadarus bersama, shalat maghrib dan isya berjama‟ah, kemudian malamnya kami bangunkan untuk melaksanakan shalat hajat, tahajud dan witir. Nah..upaya seperti itu tentunya tidak bisa saya lakukan di dalam kelas. Harapannya kegiatan seperti itu bisa memberikan contoh langsung kepada siswa, dengan suasana baru dan menyenangkan sehingga dapat dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.”23

Pembelajaran di luar kelas tampaknya membuat siswa lebih antusias dan memahami materi pelajaran yang dibandingkan hanya sekedar pembelajaran rutin di dalam kelas. Pembelajaran di luar kelas tentunya dapat menjadi alternatif proses pembelajaran yang menyenangkan, sementara guru tetap dapat mengamati, memberi arahan dan bimbingan agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Selain materi-materi pelajaran yang diajarkan di luar kelas, masih dalam rangka proses pembelajaran moral dan penanaman nilai-nilai pendidikan anti korupsi kepada siswa juga terdapat beberapa tempat atau kegiatan pembelajaran di luar kelas, seperti :

a. Tempat Temuan Barang

Tempat temuan barang menjadi salah satu media pembelajaran di luar kelas yang dimiliki oleh SMAN 4 Kota Tegal.

Sebagai salah satu sarana pendidikan anti korupsi, keberadaan tempat tersebut menjadi penting untuk meningkatkan kepedulian peserta didik dan rasa tanggung jawab peserta didik ketika menemukan barang milik orang lain.

Efektifitas tempat tersebut dapat berjalan baik jika mampu menamkan kesadaran kepada setiap penghuni sekolah akan sifat kejujuran terhadap sesuatu yang bukan menjadi haknya. Penghuni sekolah secara tidak langsung terbiasa untuk melakukan kebaikan dari tempat tersebut. Sehingga hal tersebut dapat menjadi budaya yang mengandung orientasi penanaman nilai-nilai pendidikan anti korupsi dalam kegiatan sehari-hari.

b. Kantin Kejujuran

Kantin kejujuran menjadi salah satu sarana untuk melakukan pendidikan karakter terhadap peserta didik. Hal tersebut tentu berpengaruh dalam upaya penanaman nilai-nilai pendidikan anti korupsi yakni melatih siswa untuk menanamkan nilai kejujuran baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hal ini tentunya dapat melatih kesadaran diri untuk bersikap jujur bahwa dirinya selalu di awasi oleh Allah SWT. Kesadaran peserta didik ini terlihat pada aktifitas yang terjadi sehari-hari di kantin. Seperti yang diungkapkan salah seorang siswa :

“Kalau di kantin kejujuran itu kita mengambil barang atau makanan sendiri dan bayarnya sesuai harga yang tertera kemudian uangnya kami masukan kedalam kotak uang yang memang sudah disediakan. Kalau ada kembalian, kita

kembaliin sendiri, dan kalau uang kembaliannya belum ada, biasanya kita bawa dulu dan dicatat dibuku yang disediakan supaya tidak lupa, setelah uangnya sudah ada kita bayar masukan ke kotak dan kita coret yang tadi dicatat tanda kita sudah membayar.”24

Hal tersebut tentunya dapat sekaligus melatih menanamkan nilai kemandirian di dalam diri siswa untuk mengatur jual beli sesuai dengan sistem yang berlaku. Nilai kejujuran dan kesadaran peserta didik juga sangat di utamakan, dengan tanpa adanya pengawasan diharapkan peserta didik dapat mengedapankan kejujurannya dan sadar akan pengawasan Allah SWT.

Dengan demikian, tentunya semua potensi yang ada di sekolah dapat bersinergi bersama dalam mendukung keberhasilan penanaman nilai agama, terutama nilai pendidikan anti korupsi di SMAN 4 Kota Tegal melalui pembelajaran pendidikan agama Islam.

c. Poster

Keseriusan SMAN 4 Kota Tegal dalam menerapkan program pendidikan anti korupsi di sekolah terlihat dari disepanjang koridor dan sudut sekolah terpampang slogan dan poster anti korupsi sebagai media pembelajaran dan motivasi siswa dalam membudayakan anti korupsi. Seperti yang diungkapkan oleh kepala urusan kesiswaan berikut :

“Di SMAN 4 Kota Tegal ini juga banyak terpasang poster-poster dan slogan-slogan anti korupsi disetiap sudut sekolah. Tujuannya agar siswa dapat membaca dan diingatkan setiap saat oleh kata-kata tersebut untuk menghindari tindak korupsi. karena tindak korupsi kan tidak hanya masalah uang saja mba, tapi kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan juga dapat dikatakan sebagai tindak korupsi, meskipun korupsi dalam tataran kegiatan sekolah. Harapannya dengan slogan-slogan tersebut dapat memotivasi siswa untuk senantiasa menanamkan budaya anti korupsi tidak hanya di sekolah tetapi juga dikehidupan sehari-hari.”25

Dengan demikian, slogan dan poster tersebut secara tidak langsung dapat memberikan dampak positif dan upaya pencegahan tindak korupsi di sekolah.

d. Workshop Pendidikan Anti Korupsi

Sebagai salah satu upaya dalam pelaksaan program pendidikan anti korupsi di SMAN 4 Kota Tegal juga secara aktif mengadakan workshop dan sosialisasi pendidikan anti korupsi di sekolah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tahun 2013 yang diikuti oleh guru, siswa dan karyawan SMA se-Kota Tegal. Tentunya kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai penanaman nilai-nilai pendidikan anti korupsi di sekolah baik berupa kegiatan-kegiatan maupun tentang pembelajaran pendidikan anti korupsi yang harus diintegrasikan pada setiap kegiatan pembelajaran di sekolah.

25 Akhmad Yaseer, Kepala Urusan Kesiswaan SMAN 4 Kota Tegal, Wawancara Pribadi, Tegal, 19 Januari 2015.

e. Lomba Kreasi Anti Korupsi

Selain workshop anti korupsi yang diadakan untuk mendukung terlaksananya program pendidikan anti korupsi, sebagai sekolah satu-satunya yang menerapkan program pendidikan anti korupsi di kota Tegal, SMAN 4 Tegal juga mengadakan berbagai lomba yang diikuti oleh para pelajar SMA se-Kota Tegal. Beberapa perlombaan yang diadakan diantaranya, lomba majalah dinding dengan tema anti korupsi, puisi anti korupsi dan poster anti korupsi. Beberapa hasil perlombaan di pajang dekat ruang kepala sekolah SMAN 4 Kota Tegal sebagai bentuk penghargaan kepada para pemenang. Dengan diadakan kegiatan tersebut selain bertujuan untuk menanamkan budaya anti korupsi di kota Tegal, harapannya lomba tersebut dapat menjadi wadah bentuk penolakan mereka terhadap korupsi.

Dokumen terkait