• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian teori

2.1.4 Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar

2.1.4.1.1. Belajar

Belajar mempunyai pengertian yang kompleks, sehingga banyak ahli me-ngemukakan pengertian belajar dengan pendapat dan pengertian yang berbeda-beda. Menurut Hamalik (2007: 37) belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Sedangkan menurut Rifa’i (2009: 84) belajar (learning) mengacu pada perubahan perilaku yang terjadi sebagai akibat dari interaksi individu dengan lingkungannya. Apa yang dipelajari seseorang dapat diuraikan dan disimpulkan dari pola-pola perubahan perilakunya.

Peristiwa belajar yang terjadi pada diri siswa dapat diamati dari perbedaan perilaku sebelum dan setelah berada di dalam peristiwa belajar. Namun, keber-hasilan belajar pada diri siswa juga dipengaruhi oleh berbagai faktor. Rifa’i (2009: 97) berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor intern (yang berasal dari dalam individu) dan faktor-faktor ekstern (yang berasal dari luar individu). 1) Faktor internal mencakup; (1) kondisi fisik, seperti kesehatan organ tubuh;

(2) kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual, emosional; (3) kondisi sosial seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.

2) Faktor eksternal mencakup; (1) variasi dan tingkat kesulitan materi belajar yang dipelajari; (2) tempat belajar; (3) iklim; (4) suasana lingkungan; dan (5) budaya belajar masyarakat.

Berdasarkan pengertian belajar menurut para ahli tersebut, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah usaha yang dilakukan manusia yang

melibatkan proses interaksi dengan lingkungannya disertai dengan perubahan tingkah laku. Seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui proses interaksi dengan lingkungannya.

2.1.4.1.2. Pembelajaran

Siswa tidak akan bisa dengan belajar optimal tanpa adanya guru yang memfasilitasinya. Hubungan timbal balik tersebut disebut juga pembelajaran. Pembelajaran menurut Warsita (2008: 85) adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada siswanya. Sedangkan menurut Hamalik (2007: 57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu kawasan taksonomi. Bloom (dalam Uno 2006: 35-39) memilah taksonomi pembelajaran yaitu:

1) Kawasan kognitif

Kawasan ini berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual yang mencakup kategori pengetahuan/ingatan, pemahaman, penerapan/aplikasi, analisis, evaluasi dan kreasi.

2) Kawasan afektif

Kawasan afektif adalah salah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interes, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial.

Tingkatan afeksi ini mencakup kemauan menerima, kemauan menanggapi, ber-keyakinan, penerapan karya, ketekunan dan ketelitian.

3) Kawasan psikomotorik

Domain psikomotorik mencakup tujuan yang berkaitan dengan ke-terampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik. Cakupannya antara lain persepsi, kesiapan melakukan kegiatan, mekanisme, respons terbimbing, ke-mahiran, adaptasi, dan originasi.

Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha terencana dari guru untuk membuat siswa belajar dengan cara menginteraksikan siswa dengan sumber-sumber belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

2.1.4.2 Hakikat bahasa Jawa

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang dituturkan oleh suku bangsa Jawa.

Bahasa Jawa merupakan simbol-simbol yang tercipta dan berkembang melalui kemampuan berpikir orang Jawa dan proses interaksinya di masa lampau hingga sekarang. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh orang Jawa sangat berpengaruh terhadap penerimaan diri dan konsep diri seorang individu. Bahasa Jawa sebagai bahasa suku Jawa membentuk makna yang mencerminkan budaya, norma sosial, dan adat, istiadat yang mengikat orang Jawa itu sendiri dalam bertindak, berperilaku dan bergaul (Rahayu 2011: 7).

Bahasa Jawa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki nilai-nilai yang luhur, yang berupa falsafah-falsafah (pitutur dalam tembang-tembang macapat dan sebagainya) yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Kenyataan yang dihadapi saat ini, bahwa nilai-nilai budaya Jawa

tersebut hampir punah, sehingga perlu upaya-upaya untuk menumbuhkan kembali dan mengembangkan menjadi bagian yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan nasional. Salah satunya upayanya tersebut adalah melalui pendidikan. 2.1.4.3 Bahasa Jawa di sekolah dasar

Peranan pembelajaran bahasa Jawa dalam menciptakan pendidikan yang bermakna adalah karena dalam bahasa Jawa sarat dengan falsafah yang memiliki nilai luhur. Melestarikan bahasa Jawa yang mengandung pendidikan budi pekerti melalui jalur sekolah, juga dapat diartikan mempersiapkan siswa menjadi manusia berkepribadian serta berperilaku dan berakhlak baik, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

.

Oleh karena itu, pelajaran bahasa Jawa perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah formal maupun diterapkan dalam pendidikan formal maupun diterapkan dalam pendidikan nonformal serta sosialisasi dalam kehidupan masyarakat (Ratnaningsih 2008: 2-4).

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah diarahkan untuk dapat lebih membekali dan meningkatkan kualitas output pendidikan terhadap bahasa Jawa itu sendiri. Menurut Sugito (dalam Mulyana 2008: 18), sebagai upaya ngembangan, pembinaan, pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Jawa, pe-ngembangan budi pekerti serta kepribadian di kalangan para siswa pendidikan dasar dan menengah, diperlukan kurikulum muatan lokal sebagai acuan dalam kegiatan belajar mengajar. Realisasi kurikulum muatan lokal tersebut di-manifestasikan melalui Standar Kompetensi.

Standar kompetensi dan kompetensi dasar lulusan SD/MI menurut kurikulum mata pelajaran bahasa Jawa (2010: 18) adalah:

1) Mendengarkan

Memahami wacana lisan yang didengar baik teks sastra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa berupa cerita teman, teks karangan, pidato, pesan, cerita rakyat, cerita anak, geguritan, tembang macapat, dan cerita wayang.

2) Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, baik sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam bahasa berupa menceritakan berbagai keperluan, mengungkapkan keinginan, menceritakan tokoh wayang, mendeskripsikan benda, menanggapi persoalan faktual/pengamatan, me-laporkan hasil pengamatan, berpidato, dan mengapresiasikan tembang.

3) Membaca

Menggunakan berbagai keterampilan membaca untuk memahami teks sastra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa berupa teks bacaan, pidato, cerita rakyat, percakapan, geguritan, cerita anak, cerita rakyat, dan huruf Jawa. 4) Menulis

Melakukan berbagai keterampilan baik sastra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi berupa karangan sederhana, surat, dialog, ringkasan, parafrase, geguritan, dan huruf Jawa.

Tabel 2.1

Kurikulum pelajaran bahasa Jawa kelas V semester 2

No Kompetensi Dasar Materi pokok pembelajaran 1. Mendengarkan cerita rakyat. Nyimak cerita rakyat.

2. Mendeskripsikan benda sekitar. Nyebutake kawruh tetanen. 3. Membaca indah (misalnya

geguritan).

Maca geguritan.

4. Menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa menggunakan

pasangan.

Nulis pasangan aksara Jawa

Dokumen terkait