BAB IV: PELAKSANAAN UNSUR-UNSUR KURIKULUM KEBIJAKAN
C. Pembelajaran Daring untuk Memfasilitasi Merdeka Belajar Kampus
Program MBKM memungkinkan mahasiswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar program studi, baik di dalam perguruan tinggi yang sama, maupun di luar perguruan tinggi asal mahasiswa. Pada berbagai kegiatan yang disebutkan di atas, mahasiswa tetap dapat memiliki kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran lainnya (baik di program studi sendiri atau di sumber belajar lainnya) sesuai dengan jumlah maksimum beban sks yang dimiliki oleh mahasiswa pada suatu semester. Dalam hal ini, program studi perlu pula menyiapkan berbagai moda dan strategi pembelajaran untuk mengakomodir proses pembelajaran mahasiswa selama mereka melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran di luar program studinya.
Sebagai contoh ilustrasi, Gambar 4 menjelaskan beberapa skenario yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa di dalam menjalankan merdeka belajar.
Gambar 4 Proses Pembelajaran dalam 1 (Satu) Semester Program MBKM
Gambar 4 menjelaskan bahwa dalam 1 (satu) semester, bila mahasiswa masih memiliki sejumlah sks yang diijinkan, di luar jumlah sks suatu kegiatan pembelajaran di luar program studi yang diambil, maka mahasiswa tersebut dapat mengambil beberapa mata kuliah di dalam program studi (secara tatap muka atau daring) dan/atau di luar program studi (secara daring). Untuk mata kuliah yang diikuti di luar program studi mahasiswa dapat mengikutinya secara daring pada suatu institusi/perguruan tinggi lain atau mengambil mata kuliah yang tersedia pada suatu penyelenggara Massive Open Online Courses (MOOCs) yang diakui oleh program studi asal mahasiswa. Dengan demikian, meskipun mahasiswa sedang mengikuti proses pembelajaran di luar program studi, mahasiswa tersebut tetap dapat mengikuti perkuliahan mata kuliah yang diambil di program studinya atau di luar program studi.
Hal ini akan berdampak pada lama masa studi yang dapat ditempuh oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa tetap dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan di luar program studinya, namun tidak mempengaruhi masa studi yang harus ditempuh.
Khusus untuk kegiatan proses pembelajaran yang berupa perolehan kredit di luar program studi (baik secara daring maupun tatap muka di perguruan tinggi sendiri maupun perguruan tinggi lain), mahasiswa juga tetap dimungkinkan untuk dapat mengambil mata kuliah sesuai dengan skenario di atas (mengambil be berapa mata kuliah dari perguruan tinggi lain/penyelenggara MOOCs), selama jumlah maksimum sks yang diizinkan dalam semester terkait masih dipenuhi. Hal ini secara ringkas digambarkan pada skenario yang diberikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Skenario Pembelajaran dalam 1 (Satu) Semester Program MBKM Ilustrasi pada Gambar 5 menunjukkan, sebagai contoh, seorang mahasiswa (yang berasal dari Perguruan Tinggi A) pada suatu semester memiliki maksimum 21 sks (X sks), dan mahasiswa tersebut ingin mengambil 1 (satu) mata kuliah dengan bobot 3 sks (Y sks) di suatu Perguruan Tinggi B secara tatap muka (face to face/F2F), maka 18 sks sisanya masih dapat diikuti oleh mahasiswa tersebut dengan mengambil beberapa mata kuliah dari perguruan tinggi asal mahasiswa (PT A) secara daring.
Sebaliknya, bila Y sks yang akan di ambil secara daring dari perguruan tinggi lain (PT B) atau mengambil melalui penyelenggara MOOCs, maka mahasiswa tersebut, tetap dapat mengikuti perkuliahan sejumlah (X-Y) sks secara tatap muka di perguruan tinggi asalnya (PT A). Skenario di atas perlu dipersiapkan oleh program studi atau perguruan tinggi terkait, terutama untuk memfasilitasi pembelajaran secara daring yang diambil oleh mahasiswa dari prodinya sendiri. Ini semua memerlukan kesiapan terkait aplikasi (seperti Sistem Pengelola Pembelajaran/Learning Management Systems) dan infrastruktur yang memadai, yang memungkinkan mahasiswa dapat mengakses dan mengikuti proses pembelajaran secara daring.
D. Pengakuan Kredit
Dalam program MBKM mahasiswa diberikan kebebasan mengambil sks di luar program studi berupa 1 semester kesempatan mengambil mata kuliah di luar program studi dan 2 semester melaksanakan aktivitas pembelajaran di luar perguruan tinggi. Pengambilan mata kuliah di luar program studi, baik di dalam maupun diluar perguruan tinggi dapat untuk memenuhi capaian pembelajaran yang sudah tertuang di dalam struktur kurikulum, ataupun untuk memperkaya capaian pembelajaran lulusan yang dapat berbentuk mata kuliah pilihan. Target program studi di dalam atau di luar perguruan tinggi dalam lingkup nasional adalah dari program studi target yang telah terakreditasi oleh BAN-PT, sehingga secara langsung nilai sks mata kuliah mendapatkan pengakuan. Selain itu, perguruan tinggi menyusun kebijakan/pedoman akademik untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran di luar prodi tersebut dan mengembangkan kerjasama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan mitra perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Kerjasama dapat dilakukan secara nasional dalam bentuk bilateral, konsorsium (asosiasi prodi). Klaster (berdasarkan akreditasi, atau zonasi (berdasarkan wilayah). Program studi melaporkan pengakuan sks dalam program transfer kredit ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Kegiatan pembelajaran di luar Program Studi lain pada Perguruan Tinggi yang berbeda dapat dilakukan secara tatap muka atau dalam jaringan (daring).
Program MBKM 2 semester di luar program studi dengan bentuk kegiatan belajar pilihan seperti magang/ praktek kerja di Industri atau tempat kerja lainnya, melaksanakan proyek pengabdian kepada masyarakat di desa, mengajar di satuan pendidikan, mengikuti pertukaran mahasiswa, melakukan penelitian, melakukan kegiatan kewirausahaan, membuat studi/ proyek independen, dan/atau mengikuti program kemanusisaan, penentuan bobot sks adalah berdasarkan atas susunan capaian pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai penguasaan Pengetahuan, Sikap, keterampilan Umum dan/atau Keterampilan Khusus, serta waktu yang dibutuhkan
mahasiswa (ber dasarkan SN-Dikti). Penyusunan capaian pembelajaran bentuk kegiatan pembelajaran di atas dan rasionalisasi bobot sks berdasarkan SN-Dikti, dilakukan oleh tim kurikulum prodi, selanjutnya disahkan oleh prodi/fakultas.
Berdasarkan susunan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan, bentuk-bentuk kegiatan belajar tersebut dibuatkan RPS yang mengacu pada SN-Dikti, selanjutnya RPS disahkan oleh Prodi/ Fakultas untuk diimplementasikan. Dengan demikian sks dari bentukbentuk kegiatan belajar secara sah dan mendapat pengakuan tercantum di dalam transkrip akademik. Setelah mendapat pengakuan dan kesetaraan dari program studi atas kegiatan pembelajaran MBKM yang dilakukan mahasiswa, Program studi melaporkan pengakuan sks dalam program transfer kredit ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.
BAB V PENILAIAN
A. Penilaian Hasil Perkuliahan
Untuk menjamin mutu, maka pelaksanaan monitor dan evaluasi dilakukan mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Penilaian/evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja, dan produktifitas dalam melaksanakan program. Fokus evaluasi adalah individu mahasiswa, yaitu prestasi yang dicapai dalam pelaksanaan magang oleh mahasiswa. Melalui evaluasi akan diperoleh tentang apa yang telah dicapai dan apa yang belum dicapai oleh mahasiswa selama mengikuti kegiatan. Evaluasi dapat memberikan informasi terkait kemampuan apa yang telah dicapai oleh mahasiswa selama mengikuti program. Selain itu, melalui evaluasi dapat dilakukan judgment terhadap nilai atau implikasi dari hasil program.
Selanjutnya, program ini digunakan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Penilaian hasil dilakukan untuk mengetahui keberhasilan capaian pembelajaran pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan umum dan khusus. Penilaian dilakukan pada tiap sub capaian pembelajaran (sub kompetensi). Penilaian terhadap kegiatan penilaian dilakukan untuk mengetahui kelayakan kegiatan penilaian pembelajaran, dengan menekankan pada aspek-aspek yang dinilai dan metodologi penilaian.
Penilaian hasil perkuliahan juga dapat dilakukan melalui portofolio. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan capaian belajar mahasiswa dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya mahasiswa dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik atau karya mahasiswa yang menunjukan perkembangan kemampuannya untuk mencapai capaian pembelajaran. Macam
1. Portofolio perkembangan, berisi koleksi artefak karya mahasiswa yang menunjukkan kemajuan pencapaian kemampuannya sesuai dengan tahapan belajar yang telah dijalani.
2. Portofolio pamer/showcase berisi artefak karya mahasiswa yang menunjukkan hasil kinerja belajar terbaiknya.
3. Portofolio komprehensif, berisi artefak seluruh hasil karya mahasiswa selama proses pembelajaran.
Penilaian pengetahuan dapat dilakukan dalam bentuk tes tulis, tes lisan, dan atau tes perbuatan (tes praktik) yang secara teknis dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung maksudnya adalah dosen dan mahasiswa bertemu secara tatap muka saat penilaian, misalnya saat kuis, tes formatif sub capaian pembelajaran, ujian akhir semester, seminar, ujian skripsi, tesis dan disertasi. Penilaian secara tidak langsung misalnya menggunakan lembar-lembar soal ujian tulis yang diunggah dan diunduh melalui sistem informasi tertentu.
B. Pelaksana Penilaian
Pelaksanaan penilaian dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran dan dapat dilakukan oleh:
1. Dosen pengampu atau tim dosen pengampu;
2. Dosen pengampu atau tim dosen pengampu dengan mengikutsertakan mahasiswa; dan/atau
3. Dosen pengampu atau tim dosen pembimbing dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan yang relevan.
C. Teknik dan Instrumen Penilaian 1. Tehnik Penilaian
Teknik penilaian secara garis besar dapat dilihat pada table 7 Tabel 7 Teknik dan Instrumen Penilaian
Penilaian Tehnik Instrumen
Sikap Observasi Rubrik untuk penilaian proses
dan / atau 2. Portofolio atau karya desain untuk penilaian hasil
Keterampilan Umum Observasi, partisipasi, unjuk kerja, tes tertulis, tes lisan, dan angket Keterampilan
Khusus pengetahuan
Hasil akhir penilaian merupakan integrasi antara berbagai teknik dan instrumen penilaian yang digunakan
Penilaian capaian pembelajaran dilakukan pada ranah sikap, pengetahu an dan keterampilan secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
▪ Penilaian ranah sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar mahasiswa (mahasiswa menilai kinerja rekannya dalam satu bidang atau kelompok), dan penilaian aspek pribadi yang menekankan pada aspek beriman, berakhlak mulia, percaya diri, disiplin dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya.
▪ Penilaian ranah pengetahuan melalui berbagai bentuk tes tulis dan tes lisan yang secara teknis dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung maksudnya adalah dosen dan mahasiswa bertemu secara tatap muka saat penilaian, misalnya saat
seminar, ujian skripsi, tesis dan disertasi. Sedangkan secara tidak langsung, misalnya menggunakan lembar-lembar soal ujian tulis.
▪ Penilaian ranah keterampilan melalui penilaian kinerja yang dapat di selenggarakan melalui praktikum, praktek, simulasi, praktek lapangan, dan lainnya yang memungkinkan mahasiswa untuk dapat me ningkatkan kemampuan keterampilannya.
2. Instrumen Penilaian a. Rubrik Rubrik
Rubrik merupakan panduan atau pedoman penilaian yang meng gambarkan kriteria yang diinginkan dalam menilai atau memberi tingkatan dari hasil kinerja belajar mahasiswa. Rubrik terdiri dari dimensi atau aspek yang dinilai dan kriteria kemampuan hasil belajar mahasiswa ataupun indikator capaian belajar mahasiswa. Pada buku panduan ini dijelaskan tentang rubrik analitik, rubrik holistik, dan rubrik skala persepsi. Tujuan penilaian menggunakan rubrik adalah memperjelas dimensi atau aspek dan tingkatan penilaian dari capaian pem belajaran mahasiswa. Selain itu rubrik diharapkan dapat menjadi pendorong atau motivator bagi mahasiswa untuk men capai capaian pembelajarannya.
Rubrik dapat bersifat menyeluruh atau berlaku umum dan dapat juga bersifat khusus atau hanya berlaku untuk suatu topik tertentu. Rubrik yang bersifat menyeluruh dapat disajikan dalam bentuk holistic rubric.
Ada 3 macam rubrik yang disajikan sebagai contoh pada buku ini, yakni:
1) Rubrik holistik adalah pedoman penilaian untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria.
Contoh rubrik holistik dapat dilihat pada table 8..
Tabel 8 Contoh Bentuk Rubrik Holistik untuk Rancangan Proposal
Grade Skor Kriteria Penilaiam
Sangat kurang <20 Rancangan yang disajikan tidak teratur dan tidak menyelesaikan permasalahan
Kurang 21-40 Rancangan yang disajikan teratur namun kurang menyelesaikan permasalahan
Cukup 41-60 Rancangan yang disajikan tersistematis, menyelesaikan masalah, namun kurang dapat diimplementasikan
Baik 61-80 Rancangan yang disajikan sistematis, menyelesaikan masalah, dapat diimplementasikan, kurang inovatif
Baik Sekali >80 Rancangan yang disajikan sistematis, menyelesaikan masalah, dapat diimplementasikan dan inovatif
2) Rubrik analitik adalah pedoman penilaian yang memiliki tingkatan kriteria penilaian yang dideskripsikan dan diberikan skala penilaian atau skor penilaian. Contoh rubrik analitik dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9 Contoh Bentuk Rubrik Analitik untuk Penilaian Presentasi Makalah
Aspek/
Dimensi yang Dinilai
Skala Penilaian
Sangat kurang Kurang Cukup Baik Baik Sekali
(Skor <20 21-40 41-60 61-80 Skor >80
mereka tidak
3) Rubrik skala persepsi adalah pedoman penilaian yang memiliki tingkatan kriteria penilaian yang tidak dideskripsikan, namun tetap diberikan skala penilaian atau skor penilaian. Contoh rubrik skala persepsi dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Contoh Bentuk Rubrik Skala Persepsi untuk Penilaian Presentasi Lisan Aspek/Dimensi yang Dinilai Sangat
Kurang
Beberapa manfaat penilaian menggunakan rubrik adalah sebagai berikut: 1) Rubrik dapat menjadi pedoman penilaian yang objektif dan konsisten dengan kriteria yang jelas; 2) Rubrik dapat memberikan informasi bobot penilaian pada tiap tingkatan kemampuan mahasiswa; 3) Rubrik dapat memotivasi mahasiswa untuk belajar lebih aktif; 4) Mahasiswa dapat menggunakan rubrik untuk mengukur capaian kemampuannya sendiri atau kelompok belajarnya; 5) Mahasiswa mendapatkan umpan balik yang cepat dan akurat; 6) Rubrik dapat digunakan sebagai instrumen untuk refleksi yang efektif tentang proses pembelajaran yang telah berlangsung; 7) Sebagai pedoman dalam proses belajar maupun penilaian hasil belajar mahasiswa.
b. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan capaian belajar mahasiswa dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya mahasiswa dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik atau karya mahasiswa yang menunjukkan perkembangan kemampuannya untuk mencapai capaian pembelajaran.
Macam penilaian portofolio yang disajikan dalam buku ini adalah sebagai berikut:
1) Portofolio perkembangan, berisi koleksi hasil-hasil karya mahasiswa yang menunjukkan kemajuan pencapaian kemampuannya sesuai dengan tahapan belajar yang telah dijalani.
2) Portofolio pamer (showcase) berisi hasil-hasil karya mahasiswa yang menunjukkan hasil kinerja belajar terbaiknya.
3) Portofolio komprehensif, berisi hasil-hasil karya mahasiswa secara
Contoh penilaian portofolio seperti pada table 11 digunakan untuk mengukur kemampuan mahasiswa memilih dan meringkas artikel jurnal ilmiah. Capaian pembelajaran yang diukur: (1) Kemampuan memilih artikel jurnal bereputasi dan mutakhir sesuai dengan tema dampak polusi industri; (2) Kemampuan meringkas artikel jurnal dengan tepat dan benar.
Tabel 11 Contoh penilaian portofolio
No Aspek/Dimensi yang Dinilai Artikel-1 Artikel-2 Artikel-3 Rendah 1 Artikel berasal dari jurnal
terindeks dalam kurun waktu 3 tahun terakhir
2 Artikel berkaitan dengan tema dampak polusi industri.
3 Jumlah artikel sekurang kurangnya membahas dampak polusi industri pada manusia dan lingkungan.
4 Ketepatan meringkas isi bagian-bagian penting dari abstrak artikel,
5 Ketepatan meringkas konsep pemikiran penting dalam artikel.
6 Ketepatan meringkas metodologi yang digunakan dalam artikel.
7 Ketepatan meringkas hasil penelitian dalam artikel.
8 Ketepatan meringkas pembahasan hasil penelitian dalam artikel.
9 Ketepatan meringkas simpulan hasil penelitian dalam artikel.
10 Ketepatan memberikan komentar pada artikel journal yang dipilih.
Jumlah skor tiap ringkasan artikel Rata-rata skor yang diperoleh
D. Sistem Penilaian
Berikut ini beberapa hal yang terkait dengan penilaian hasil perkuliahan:
1. Sistem penilaian dilakukan untuk mengukur kemampuan dan kecakapan mahasiswa dalam menerima, memahami, menalar dan mengembangkan bahan pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kurikulum dan silabus yang telah ditetapkan serta untuk mengetahui perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa.
2. Evaluasi dilakukan dengan cara memberikan penilaian terhadap kemampuan akademik mahasiswa dalam suatu mata kuliah, penilaian terhadap keberhasilan praktek, penilaian terhadap keberhasilan ujian komprehensif, dan penilaian terhadap keberhasilan ujian skripsi dan/ atau tesis.
3. Kegiatan penilaian kemampuan akademik suatu mata kuliah dilakukan melalui tugas terstruktur, tugas mandiri, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester.
4. Kegiatan praktikum didasarkan pada penerapan disiplin ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah tertentu dan penilaiannya dilakukan oleh pembimbing yang dilaksanakan secara terarah dan objektif.
4. Kegiatan terstruktur dalam kegiatan penilaian kemampuan akademik suatu mata kuliah pada suatu semester dilaksanakan sekurangkurangnya 1 (satu) kali dalam satu semester.
5. Kegiatan mandiri dalam kegiatan penilaian kemampuan akademik suatu mata kuliah pada suatu semester dilaksanakan sekurang- kurangnya 1 (satu) kali dalam satu semester.
6. Ujian tengah semester dilaksanakan pada pertemuan ke 8 (delapan) dan ujian akhir semester dilaksanakan pada pertemuan ke 16 (enam belas) sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dalam kalender akademik.
7. Penilaian melalui tugas terstruktur, tugas mandiri, ujian tengah semester, ujian akhir semester dan ujian praktikum untuk menentukan nilai akhir (NA) dengan
8. Sebagai perguruan tinggi yang menerapkan kurikulum mengacu pada KKNI, seluruh program studi di seluruh Fakultas dan Pascasarjana di lingkungan IAIN Palangka Raya menerapkan Penilaian Acuan Patokan (PAP). Dosen Pembina mata kuliah berkewajiban memberitahukan kepada mahasiswa tentang sistem penilaian tersebut.
9. Sistem PAP adalah penilaian dengan cara membandingkan antara hasil belajar riil mahasiswa dengan patokan yang telah ditetapkan.
10. Patokan selanjutnya disebut dengan batas kelulusan atau tingkat penguasaan minimum.
11. Hasil penilaian akhir mata kuliah dinyatakan dengan huruf dan angka sebagaimana disajikan pada tabel 12 berikut.
Tabel 12 Standar Penilaian Hasil Belajar
12. Nilai mata kuliah yang dinyatakan dengan huruf D atau E dianggap tidak lulus.
13. Mahasiswa yang tidak lulus atau yang mendapat nilai D atau E harus menempuh kembali mata kuliah tersebut sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
14. Nilai mata kuliah C dinyatakan lulus, tetapi disarankan menempuh perbaikan nilai.
15. Perbaikan nilai melalui perkuliahan reguler untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar memperoleh nilai tertinggi dalam mata kuliah pada semester berikutnya sesuai prosedur dan ketentuanan yang berlaku di program studi.
16. Nilai akhir suatu mata kuliah yang dicantumkan merupakan nilai tertinggi setelah menempuh perbaikan melalui perkuliahan reguler.
17. Nilai akhir untuk beberapa mata kuliah sebagai hasil ekuivalensi dari program kegiatan merdeka belajar yang selanjutnya diatur secara rinci oleh Fakultas.
18. Prosedur, mekanisme, dan penetapan kelulusan praktikum diatur dan ditetapkan oleh Fakultas/Pascasarjana sesuai standar mutu yang ditetapkan Institut.
19. Prosedur, mekanisme, penetapan kelulusan ujian, dan ekuivalensi Tugas Akhir diatur dan ditetapkan secara detail oleh Fakultas sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan Institut.
20. Prosedur, mekanisme, dan penetapan kelulusan ujian Tesis diatur dan ditetapkan oleh Pascasarjana sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan Institut.
E. Prinsip Penilaian
Prinsip Penilaian dalam pelaksanaan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, program “hak belajar tiga semester di luar program studi” mengacu kepada 5 (lima) prinsip sesuai SNPT yaitu: Edukatif, Otentik, Objektif, Akuntabel, dan Transparan yang dilakukan secara terintegrasi.
Tabel 13 Prinsip Penilaian
Prinsip Penjelasan
Edukatif Memotivasi untuk: a. Memperbaiki rencana dan cara belajarnya;
Otentik a. Berorientasi pada proses belajar yang berkesinambungan;
b. Hasil belajar yang mencerminkan kemampuan
Objektif a. Penilaian yang standarnya disepakati antara dosen dan mahasiswa;
b. Bebas dari pengaruh subjektivitas penilai dan yang dinilai;
Akuntabel Penilaian yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan kriteria yang jelas, disepakati pada awal kuliah, dan dipahami oleh mahasiswa.
Transparan Penilaian yang prosedural; b. Hasil penilaiannya dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan;
Adapun aspek tambahan yang dinilai dalam pelaksanaan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, program “hak belajar tiga semester di luar program studi”, setidaknya sebagai berikut:
Kehadiran saat pembekalan dan pelaksanaan;
1. Kedisiplinan dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas;
2. Sikap;
3. Kemampuan melaksanakan tugas-tugas;
4. Kemampuan membuat laporan.
BAB VI
TINDAK LANJUT HASIL PENILAIAN
A. Pendahuluan
Evaluasi adalah bagian pokok dalam penerapan kurikulum KKNI. Dalam evaluasi terdapat penilaian formatif yang digunakan untuk memonitor efektifitas pembelajaran dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK). Hasil Assesmen formatif pada suatu Sub CPMK, akan menggolongkan mahasiswa pada dua golongan, yaitu lulus dan tidak lulus.
B. Asumsi yang Mendasari Konsep Belajar Tuntas
Beberapa prinsip dan asumsi yang memungkinkan diterapkannya mastery learning (belajar tuntas), ialah:
1. Sebagian besar mahasiswa dapat menguasai secara tuntas apa yang diajarkan.
2. Dosen mencari strategy mengajar agar mahasiswa dapat menguasai secara tuntas materi pelajaran.
3. Perbedaan kemampuan (bakat) atas suatu mata pelajaran, menentukan kecepatan mahasiswa, menguasai secara tuntas materi pelajaran tersebut.
4. Apabila diberikan kesempatan yang cukup dan strategi yang cocok, semua mahasiswa dapat mencapai ketuntasan.
Kurikulum berbasis kompetensi atau kurikulum yang berorientasi pada learning outcome atau CP, berprinsip bahwa setiap mahasiswa dapat mencapai CP mata kuliah (CPMK) jika diberi waktu yang cukup dan menggunakan teknik, metode, strategi, atau media belajar, serta lingkungan belajar yang sesuai. Mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus atau tidak menguasai CPMK, dapat dikatakan bahwa yang bersangkutan hanya belum berhasil, karena dimungkinkan hanya akibat waktu yang masih kurang, atau media/teknik/lingkungan belajar yang belum sesuai dengan karakteristik mahasiswa tersebut. Kecukupan waktu untuk belajar dapat bervariasi antar-mahasiswa. Demikian
karakteristik, metode belajar, tingkat kematangan, kecakapan, dan kemandirian masing-masing mahasiswa. Teknik, metode, strategi, media, atau lingkungan belajar sangat ditentukan oleh dosen. Oleh karenanya, penyebab belum berhasil atau belum tuntasnya mahasiswa pada suatu CPMK atau subCPMK, selain karena/faktor kecukupan waktu, adalah faktor dosen dan mahasiswa itu sendiri. Dalam konteks ini, tingkat kesulitan materi (pengetahun, skill, atau sikap) untuk dikuasai mahasiswa, menjadi sangat relatif, bergantung kecukupan waktu, kecocokan strategi dan teknologi pembelajaran yang digunakan dosen, dan karakteristik mahasiswa itu sendiri.
C. Batas Ketuntasan
Dalam kerangka KKNI, keberhasilan belajar ditetapkan melalui ukuran atau tingkat kompetensi atau capaian pembelajaran (CPMK) sebagai prasarat penguasaan kompetensi atau CPMK lebih lanjut. Semua kompetensi atau CPMK perlu dinilai menggunakan acuan kriteria berdasarkan pada indikator hasil belajar. Dosen dapat menetapkan kriteria ketuntasan ini sesuai dengan aturan umum, kondisi, dan sifat dari kompetensi atau CPMK. Angka lulus suatu mata kuliah adalah minimal C atau dengan angka minimal 60. Dalam hal ini mahasiswa yang tidak mencapai skor/nilai C atau 60
Dalam kerangka KKNI, keberhasilan belajar ditetapkan melalui ukuran atau tingkat kompetensi atau capaian pembelajaran (CPMK) sebagai prasarat penguasaan kompetensi atau CPMK lebih lanjut. Semua kompetensi atau CPMK perlu dinilai menggunakan acuan kriteria berdasarkan pada indikator hasil belajar. Dosen dapat menetapkan kriteria ketuntasan ini sesuai dengan aturan umum, kondisi, dan sifat dari kompetensi atau CPMK. Angka lulus suatu mata kuliah adalah minimal C atau dengan angka minimal 60. Dalam hal ini mahasiswa yang tidak mencapai skor/nilai C atau 60