• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

2. Pembelajaran di kelas VIII C (eksperimen)

Pembelajaran pada kelas Eksperimen atau pada kelas VIII C diajarkan menggunakan dengan Macromedia Flash. Untuk mengetahui minat awal siswa kelas VIII C, terlebih dahulu peneliti memberikan angket minat (pretest) kepada semua siswa. Setelah diberikan angket, siswa kelas VIII C kemudian diberikan treatment yaitu Macromedia Flash yang berisikan materi tentang kedatangan bangsa Eropa di Indonesia. Proses ini berlangsung selama 3 pertemuan. Pada pertemuan pertama peneliti dan siswa membahas tentang Kedatangan bangsa barat ke Indonesia sampai terbentuknya kekuasaaan kolonial. Proses belajar mengajar berlangsung kondusif, karena semua mata siswa tertuju pada Macromedia Flash yang peneliti gunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran IPS Sejarah kelas VIII. Pada pertemuan kedua melanjutkan materi yaitu perkembangan kebijakan dan tindakan pemerintah kolonial. Suasana kelas hampir sama dengan pertemuan pertama. Kelas relatif kondusif dan banyak interaksi antara peneliti dan siswa. Pada pertemuan ketiga

materinya sampai pada munculnya berbagai reaksi dan perlawanan. Dengan media tersebut, suasana kelas menjadi lebih hidup. Pembelajaran berlangsung dengan komunikatif dan interaktif. Hal tersebut terbukti dengan gambar dibawah ini.

Gambar 4.2. Aktivitas siswa pada kelas eksperimen

Sumber: Dokumentasi Penelitian (Lutfi Amiq, 2013) Gambar 4.3. Aktivitas siswa pada kelas eksperimen

Sumber: Dokumentasi Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Dua gambar tersebut memperlihatkan bahwa siswa lebih fokus, aktif bertanya dan lebih antusias pada pelajaran IPS Sejarah. Setelah proses

belajar mengajar pada pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, pada pertemuan ketiga di 15 menit terakhir digunakan peneliti untuk membagikan angket minat (Posttest) kepada siswa untuk mengetahui kondisi akhir minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS Sejarah pada kelas eksperimen. Hasil uji statistik pemanfaatan Macromedia Flash terhadap minat belajar IPS Sejarah siswa kelas VIII SMP N 1 Pecangaan Jepara dapat dilihat pada analisis data dibawah ini : 3. Analisis Data

Setelah Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selesai dengan diberikan perlakuan yang berbeda antara kelompok Eksperimen diberikan Macromedia Flash dan kelompok kontrol dengan metode ceramah tanpa media tanpa media. Tahap selanjutnya yaitu menganalisis data hasil tes akhir (post tes). Analisis data hasil post tes sebagai berikut.

a. Uji Normalitas

Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data kita memiliki distribusi normal atau tidak, sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistik inferensial). Sebelum hasil total kemampuan akhir dilakukan uji-t yang bertujuan sebagai syarat apakah data tersebut layak dianalisis atau tidak. Cara yang dipakai untuk menghitung masalah ini adalah Kolmogorov-smirnov dengan menggunakan SPSSfor windows.

Tabel 4.1.Uji Normalitas (Pretest)

Kelas statistic df Sig.

eksperimen 0,14 28 0,172

kontrol 0,14 28 0,200

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Pada hasil penghitungan di atas saat Pretest diperoleh untuk kelas eksperimen nilai sig = 0,172, sehingga sig > α dan untuk kelas kontrol nilai sig = 0,200, sehingga sig > α. Nilai sig > α dengan α =

0.05, maka H1 diterima. Dengan demikian sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 4.2. Uji Normalitas (posttest)

Kelas statistic df Sig.

eksperimen 0,14 28 0,200

kontrol 0,14 28 0,200

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Sedangkan saat Posttest diperoleh untuk kelas eksperimen nilai sig = 0,200, sehingga nilai sig > α dan untuk kelas kontrol nilai sig = 0,200, sehingga nilai sig > α dengan α = 0.05, maka H1 diterima. Dengan demikian sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas Varian

Pengujian hipotesis dua varians dilakukan untuk mengetahui varians dua populasi sama (homogen) atau tidak (heterogen). Berdasarkan hasil penghitungan cepat dengan menggunakan software SPSS adalah sebagai berikut.

Tabel 4.3. Uji Homogenitas (Pretest)

Levene Statistic df1 df2 Sig.

.121 1 54 .730

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Berdasarkan hasil diatas saat Pretest diperoleh nilai dari sig= 0,730 > α dengan α = 0.05, maka H1 diterima/ dengan kata lain data tersebut homogen.

Tabel 4.4. Uji Homogenitas (Posttest)

Levene Statistic df1 df2 Sig.

.092 1 54 .763

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Sedangkan saat Posttest nilai dari sig= 0,763 > α dengan α = 0.05, maka

H1 diterima, dengan kata lain bahwa data tersebut adalah sama atau homogen.

c. Uji Perbedaan dua Rata-rata (Uji-t)

Pembelajaran yang diberikan Macromedia Flash dan metode ceramah tanpa media, kedua kelompok antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tersebut diberikan tes kemampuan akhir yang berfungsi untuk mengukur keefektifan Macromedia Flash dengan metode ceramah tanpa media tanpa media. Uji ini menggunakan uji

Independent-Sampel T-test berbantuan SPSS for windows adalah sebagai berikut.

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Berdasarkan hasil diatas nilai dari sig Pretest adalah 0,542 > α dengan α

= 0.05, maka H1 ditolak, dengan kata lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar siswa yang menggunakan Macromedia Flash dengan siswa yang tidak menggunakan Macromedia Flash.

Tabel 4.5.

Uji perbedaan dua rata-rata (Pretest)

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T Df Sig. (2-tailed) Mean Differe nce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper minat belajar siswa Equal variances assumed .121 .730 .614 54 .542 .82143 1.33749 -1.86008 3.50293 Equal variances not assumed .614 53.677 .542 .82143 1.33749 -1.86045 3.50330

Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Sedangkan nilai dari sig posttest adalah 0,000 < α dengan α = 0.05,

maka H1 diterima dengan tingkat kepercayaan 95% maka dengan kata lain bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar siswa yang menggunakan Macromedia Flash dengan siswa yang tidak menggunakan Macromedia Flash.

d. Minat Siswa dalam Proses Pembelajaran

Skor minat belajar siswa melalui angket yang diisikan oleh dua sampel antara kelas VIII C dan kelas VIII D setelah proses pembelajaran dilaksanakan dapat disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 4.6.

Uji perbedaan dua rata-rata (Posttest)

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df Sig. (2-taile d) Mean Difference Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper minat belajar siswa Equal variances assumed .092 .763 22.184 54 .000 22.71429 1.02390 20.66149 24.76709 Equal variances not assumed 22.184 53.869 .000 22.71429 1.02390 20.66137 24.76720

Tabel 4.7. Skor Rata-rata Minat Belajar Siswa dalam IPS Sejarah No . Kelas Pretest Posttest Skor rata –rata Present ase Skor rata-rata Presenta se 1. 2.

Kelas VIII C (Eksperimen) Kelas VIII D (kontrol)

66.2 65.3 52,89% 52,23% 92,79 70.1 74,23% 56,06% Sumber: Data Penelitian (Lutfi Amiq, 2013)

Dari data diatas dapat dilihat perbedaan yang sangat mendasar antara pembelajaran dengan menggunakan Macromedia Flash dengan tidak menggunakan Macromedia Flash. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil Pretest dan Posttest skor dan prosentase dua kelas antara kelas VIII C (Kelas Eksperimen menggunakan Macromedia Flash) dan kelas VIII D (Kelas kontrol tidak menggunakan Macromedia Flash). Kelas VIII C skor rata-rata adalah 66,2 (Pretest) dan 92,79 (Posttest) dengan presentase 52,89 % (Pretest) dan 74,23% (Posttest) sedangkan kelas VIII D skor rata-rata 65,3 (Pretest) dan 70,1 (Posttest) dengan presentase 52,23% (Pretest) dan 56,06% (Posttest).

Perbedaan minat belajar IPS Sejarah antara siswa kelas VIII D dan VIII C disebabkan oleh proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash dapat lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat menambah minat dan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Bahan ajar menjadi lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan membuat siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih

baik. Sedangkan pada kelas kontrol, siswa masih merasa monoton dan bosan terhadap pembelajaran IPS Sejarah karena tidak ada sesuatu yang bisa menghidupkan suasana kelas mereka. Sehingga mereka kurang termotivasi dan minatnya rendah pada pembelajaran IPS Sejarah.

C. Pembahasan

Sejarah tidak hanya membantu para siswa dari berbagai umur dan kemampuan untuk menemukan posisi mereka pada masa sekarang dengan

cara menciptakan “hubungan yang menenteramkan” dengan masa lampau,

tetapi juga secara tidak langsung mengandung filsafat tentang asal usul yang bermakna di masa lalu dan tujuan yang bermakna di masa depan, yang harus menjadi alasan bagi kerja keras manusia di masa sekarang (Kochhar, 2008:63).

Salah satu permasalahan yang selama ini dihadapi dalam dinamika pembelajaran IPS Sejarah adalah menurunnya minat siswa sehingga mata pelajaran IPS Sejarah dianggap kering dan membosankan. Siswa hanya menganggap pelajaran IPS Sejarah hanya untuk mendapatkan sebuah nilai prestasi yang berbentuk angka, tanpa perlu pemahaman makna didalam pembejaran IPS Sejarah. Pada hakekatnya pembelajaran IPS Sejarah dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme lebih efektif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan adanya inovasi baru dalam pembelajaran IPS Sejarah kontruktivistik yang dikemas kedalam konsep e-learning sehingga siswa dapat secara aktif dan konstruktif dalam membangun ide kemampuan mereka untuk selalu berpikir kritis terhadap kontribusi

perkembangan teknologi internet sebagai media pembelajaran. Artinya siswa tidak hanya sekedar mengetahui suatu konsep, namun secara lebih efektif memanfaatkan secara positif kemajuan dari konsep tersebut.

Dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti sebelum dilaksanakan tindakan pada pembelajaran IPS Sejarah, guru belum menggunakan alat-alat pendukung yang sebenarnya sudah ada, sehingga penyampaian materi belum maksimal. Sedangkan buku paket digunakan sebagai satu-satunya media dalam menyampaikan materi. Guru juga tidak menggunakan metode atau pun media yang memungkinkan materi pelajaran dapat disampaikan secara lebih optimal dalam meningkatkan aktivitas siswa pada kegiatan belajar mengajar. Keadaan ini tentu saja mempengaruhi minat maupun aktivitas siswa itu sendiri. Minat merupakan salah satu hal yang ikut menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang, baik dalam studi, kerja dan kegiatan- kegiatan lain, hal tersebut karena minat akan memunculkan perhatian yang spontan terhadap bidang tersebut (Loekmono, 1994:62). Dengan demikian proses belajar akan berjalan lancar bila disertai dengan minat belajar sehingga dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu.

Setelah diadakan penelitian dengan membandingkan “dua keadaan”

atau dua populasi yang berbeda (Sudjana, 2005:238), antara Macromedia Flash dengan metode ceramah tanpa media, hasil analisis data akhir (Posttest) kelas VIII C dengan perlakuan Macromedia Flash menunjukkan skor rata-rata minat siswa dalam belajar IPS Sejarah sebesar 92,79 dengan

presentase 74,23%. Sedangkan skor rata-rata kelas VIII D dengan metode ceramah tanpa media menunjukkan skor 70,1 dengan presentase 56,06%. Perbedaan yang signifikan tersebut juga ditunjukkan dengan bedasarkan hasil Uji-T nilai dari sig adalah 0,000 < α dengan α = 0.05, dengan kata lain bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan minat belajar siswa yang menggunakan Macromedia Flash dengan siswa yang tidak menggunakan Macromedia Flash. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Macromedia Flash ternyata menghasilkan minat belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode ceramah tanpa media pada mata pelajaran IPS Sejarah siswa kelas VIII Semester Ganjil SMPN 1 Pecangaan Jepara Jawa Tengah tahun pelajaran 2013/2014”.

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dibahas sebelumnya, berikut ini diuraikan deskripsi dan iterpretasi data hasil penelitian. Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa minat belajar kelas eksperimen yang menggunakan media pembelajaran Macromedia Flash lebih baik dari pada kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam pembelajaran.

Hasil uji tersebut menunjukan bahwa media pembelajaran Macromedia Flash memberikan perbedaan yang signifikan terhadap minat belajar IPS Sejarah antara siswa kelas VIII C dan kelas VIII D SMP N 1 Pecangaan Jepara Tahun pelajaran 2013/2014. Sedangkan hasil observasi aktivitas siswa pada saat pembelajaran di kelas VIII C menunjukkan bahwa siswa mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Macromedia

Flash baik sekali. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan skor 92,79 dengan presentase 74,23%. Hal ini juga disebabkan oleh proses pembelajaran dengan menggunakan media Pembelajaran Macromedia Flash dapat lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Bahan ajar menjadi lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan membuat siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.

Metode mengajar juga menjadi lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. Selain itu siswa juga lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain, seperti mangamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Ibrahim (1982:12) bahwa fungsi atau peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain dapat menghindari terjadinya verbalisme, membangkitkan minat atau motivasi, menarik perhatian, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, mengaktifkan siswa dalam belajar dan mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.

Hal ini terbukti dari hasil statistik yang sudah dianalisis menunjukan hasil yang sangat signifikan dengan probabilitas di bawah 0,005 yaitu 0,000 yang artinya bahwa perlakuan yang diberikan pada kelas VIII C yaitu pemanfaatan Macromedia Flash memberikan perbedaan minat belajar antara siswa kelas VIII C dan kelas VIII D. Hal ini juga ditunjukan dari rata-rata skor angket siswa kelas VIII D yang lebih tinggi dari pada rata-rata skor

angket kelas kontrol, yaitu 92,79 > 70,1. Sehingga perbedaan rata-ratanya sebesar 22,69 dengan presentase kenaikan sebanyak 18,15%.

63 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait