BAB II KAJIAN TEOR
3. Pembelajaran Keterampilan Berbicara di Sekolah Dasar
Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang produktif. Keterampilan ini sebagai implementasi dari hasil simakan. Peristiwa ini berkembang pesat pada kehidupan anak-anak. Pada masa kanak-kanak, kemampuan berbicara berkembang begitu cepat. Hal itu tampak dari perubahan kosa kata yang disimak anak dari lingkungan semakin hari semakin bertambah. Dalam kegiatan formal (sekolah) pada kelas awal Sekolah Dasar bisa dimulai dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara di depan kelas untuk memperkenalkan diri, tanya jawab dengan teman, bercerita tentang pengalaman, menceritakan gambar, menceritakan kembali sebuah cerita yang telah didengarnya dan sebagainya.
Menurut Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi (1998: 32), pengembangan keterampilan berbicara di sekolah dasar terutama kelas 3 adalah secara vertikal tidak secara horizontal, maksudnya pada awalnya anak-anak sudah dapat mengungkapkan pesan secara langsung tetapi belum sempurna. Pengembangan keterampilan berbicara tersebut harus menggunakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa agar peningkatan keterampilan berbicara siswa lebih bermakna.
Saleh Abbas (2006: 85) menjelaskan ada beberapa kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara untuk sekolah dasar.
a. Menirukan ucapan
Pembelajaran ini sangat baik diterapkan di kelas rendah. Pengulangan- pengulangan bunyi bahasa harus sesering mungkin didengar siswa kelas rendah. Bunyi bahasa yang diperkenalkan kepada siswa adalah bunyi-bunyi yang sering didengar di lingkungan masyarakat sekolah serta lingkungannya sehingga akurasi ucapan, intonasi bicara siswa akan terkondisi dengan lingkungan bahasa yang didengar.
b. Menceritakan hasil pengamatan
Perkembangan bahasa dan kosa kata siswa akan berkembang sesuai dengan lingkungan, situasi, dan kondisi anak. Kondisi lingkungan anak saat di rumah antara anak yang satu dengan yang lain berbeda, sehingga objek pengamatan yang berbeda-beda secara tidak langsung akan menambah perbendaharaan kosa kata bagi siswa lainnya.
c. Percakapan
Bentuk-bentuk percakapan yang dapat mengasah keterampilan berbicara siswa antara lain bertelepon dan berdialog antar pasangan. Kegiatan ini akan melatih bagaimana etika berkomunikasi yang baik. d. Mendeskripsikan
Bercerita tentang sesuatu bagi siswa akan terasa sulit, karena apa yang diceritakan tidak berada dekat dengan dirinya. Guru dapat melatih siswa bercerita dengan menggunakan benda-benda yang dekat dengan siswa seperti benda kesayangan dan mainan kesenangan karena siswa dapat lebih mudah menceritakan tentang sesuatu yang sudah diketahuinya dan dekat pada dirinya. Jika tahap ini telah dilaksanakan barulah guru mulai meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa kepada hal-hal yang jauh dari siswa seperti gambar-gambar peristiwa, menceritakan pengalaman yang menyenangkan, dan lain sebagainya. e. Pertanyaan menggali
Pembelajaran ini merupakan kelanjutan dari pembelajaran mendeskripsikan. Jika pada pembelajaran mendeskripsikan siswa hanya menceritakan tentang benda yang dibawa tanpa ada reaksi dari para pendengar, maka pada pembelajaran ini pendengar dapat memberikan reaksi atau menanyakan berbagai hal yang masih ada kaitannya dengan benda yang diceritakan.
f. Bercerita
Bercerita sebagai sarana komunikasi linguistik yang kuat dan menghibur memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengenal intonasi dan pengimajinasian serta nuansa bahasa.
g. Berwawancara dan melaporkan hasilnya
Kegiatan pembelajaran ini tidak cukup hanya dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Guru perlu memperlihatkan bagaimana siswa melakukan wawancara, merumuskan pertanyaan-pertanyaan wawancara, dan membuat pedoman wawancara.
h. Berpidato
Kemahiran mengungkapkan pikran secara lisan bukan saja menghendaki penguasaan bahasa yang baik dan lancar tetapi aspek non kebahasaan lainnya seperti keberanian, ketenangan di depan massa, sanggup menampilkan gagasan-gagasan secara lancar dan teratur, dan menampilkan suatu sikap yang tidak kaku. Berlatih berpidato akan memberikan bekal siswa terampil berbicara baik dari segi bahasa maupun non kebahasaan.
i. Diskusi
Kegiatan diskusi sering terlihat ada siswa terlibat aktif dan bahkan mendominnasi diskusi dan ada pula yang tidak mau berbicara sama sekali sehingga perlu didorong untuk ikut berpartisipasi. Hal ini merupakan tantangan bagi guru jika melaksanakan pembelajaran dengan cara berdiskusi. Dengan demikian sebelum diskusi dimulai
guru perlu memberikan arahan kepada peserta diskusi tentang aturan dan tata cara berdiskusi.
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2009: 278-291), ada beberapa kegiatan berbicara yang dapat dilatih untuk mengembangkan keterampilan berbicara siswa. Bentuk-bentuk kegiatan tersebut adalah sebagai berikut. a. Berbicara Berdasarkan Gambar
Dalam kegiatan ini, siswa diberikan sejumlah gambar dan siswa diminta menjawab pertanyaan sesuai gambar yang diberikan. Tujuan pragmatik yang lebihmemberikan kebebasan siswa dalam mengungkapkan kemampuan berbahasa adalah siswa diminta untuk bercerita berdasarkan gambar yang diberikan.
b. Wawancara
Wawancara biasanya dilakukan terhadap seorang siswa yang kemampuan bahasanya cukup memadai sehingga memungkinkan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bahasa itu.
c. Bercerita
Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang bersifat pragmatis. Untuk dapat bercerita paling tidak ada dua hal yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu: unsur linguistik dan unsur yang diceritakan.
d. Pidato
Kegiatan berpidato hampir sama dengan kegiatan bercerita bila dilihat dari kebahasaan siswa memilih bahasa untuk mengungkapkan
gagasan. Tugas berpidato baik diajarkan di sekolah untuk melatih siswa mengungkapkan gagasan dalam bahasa yang tepat dan cermat. e. Diskusi
Dalam kegiatan ini, siswa berlatih untuk mengungkapkan gagasan- gagasan menanggapi gagasan dari kawan secara logis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berbicara merupakan kegiatan yang utama bagi manusia. Sesuai dengan beberapa pendapat di atas ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan kegiatan berbicara menirukan ucapan, menceritakan hasil pengamatan, percakapan, mendiskripsikan, pertanyaan menggali, bercerita, berwawancara dan melaporkan hasilnya, berpidato, diskusi, dan berbicara dengan gambar. Dari beberapa kegiatan berbicara tersebut bercerita adalah hal yang sering dilakukan setiap orang dan bercerita adalah kegiatan berbicara yang paling dikuasai oleh siswa kelas rendah.
Dari beberapa kegiatan pembelajaran berbicara dalam penelitian ini peneliti memilih keterampilan bercerita, karena keterampilan bercerita merupakan salah satu kegiatan yang paling dikenal siswa. Melalui kegiatan bercerita siswa dapat berlatih keterampilan berbicara yang mencakup aspek lafal, intonasi, pilihan kata, keruntutan, keberanian, kelancaran, sikap dan penguasaan tema. Siswa juga berlatih untuk tampil bercerita di depan kelas dan melatih kata-kata dan ekspresi tubuh. Bentuk kegiatan berbicara yang difokuskan dalam penelitian ini adalah keterampilan bercerita dengan menggunakan media boneka tangan.
B. Kajian Keterampilan Bercerita Menggunakan Media Boneka Tangan