BAB II KAJIAN TEORETIS , KERANGKA BERPIKIR DAN
B. Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa inggris “inquiry” yang secara harfiah berarti
penyelidikan. Piaget mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta
21
Ella Yulaelawati, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Pakar Raya, 2007), h. 141
R Relating (Mengaitkan) Eksperiencing (Mengalami) Applying (Mengaplikasikan) Cooperating (Bekerja Sama) Transferring (Memindahkan) E A C T
Belajar dalam konteks menghubungkaitkan pengetahuan
baru dengan pengalaman hidup
Belajar dalam konteks penemuan dan daya cipta
Belajar dalam konteks bagaimana pengetahuan atau informasi dapat
digunakan dalam berbagai situasi
Belajar dalam konteks menghubungkaitkan pengetahuan
baru dengan pengalaman hidup
Belajar dalam konteks pengetahuan yang ada atau membina dari apa yang sudah
menghubungkan penemuan yang satu dengan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.22
Inkuiri pada dasarnya adalah suatu ide yang kompleks, yang berarti banyak hal, bagi banyak hal, bagi banyak orang, dalam banyak konteks (a complex idea that means many things to many people in many contexts). Inkuiri adalah bertanya. Bertanya yang baik, bukan asal bertanya. Pertanyaan harus berhubungan dengan apa yang dibicarakan. Pertanyaan yang harus diajukan harus dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya. Pertanyaan harus dapat diuji dan disilidiki secara bermakna.23
Pembelajaran inkuiri adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.24
Inkuiri memberikan kepada siswa pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif. Siswa diharapkan mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memperoleh keterampilan. Inkuiri memungkinkan siswa dalam berbagai tahap perkembangannnya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan bahkan mereka bekerja sama mencari solusi terhadap masalah-masalah. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing.
Berdasarkan urain di atas dapat disimpulkan bahwa metode inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat menemukan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
22
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 108
23
Nurhadi, dkk, Op.Cit., h. 43 24
1. Siklus Inkuiri
Pembelajaran inkuiri dilakukan melalui beberapa siklus berikut.25
a. Observasi (Observation). Dalam siklus ini siswa melakukan observasi terhadap objek atau bahan yang akan dijadikan sumber belajar.
b. Bertanya (Questioning). Setelah melakukan observasi, siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan hasil observasi.
c. Mengajukan hipotesis (Hyphotesis). Kegiatan pembuatan prediksi atau jawaban-jawaban sementara atas pertanyaan-pertanyaan di atas.
d. Pengumpulan data (Data gathering). Kegiatan mengumpulkan data atau informasi yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam masalah di atas melalui berbagai sumber yang ada.
e. Pembahasan, yaitu kegiatan menganalisis dan membahas data atau bahan yang telah berhasil dikumpulkan oleh siswa.
f. Penyimpulan (Conclussion). Kegiatan menyimpulkan atas apa yang sudah dibahas dan ditemukan terhadap suatu masalah.
Langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagai berikut. 1. Merumuskan masalah
2. Mengamati atau melakukan observasi
3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
Jika digambarkan dalam sebuah bagan, siklus inkuiri tampak sebagai berikut.26 25 Ibid, h. 373-374 26 Nurhadi, dkk, Op.Cit., h. 44
Gambar 2.3 Bagan Siklus Inkuiri
Salah satu prinsip utama inkuiri, yaitu siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Dalam proses belajar mengajar, inkuiri ini digunakan sebagai metode pengajaran yang memungkinkan ide siswa berperan dalam investigasi yang akan dilakukan oleh pembelajar/siswa.
Metode inkuiri merupakan metode penyidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
a. mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam b. merumuskan masalah yang ditemukan
c. merumuskan hipotesis
d. merancang dan melakukan eksperimen e. mengumpulkan dan menganalisis data
f. menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan bertanggung jawab.
Dalam Standar for Science Teacher Preparation (1998) terdapat 3 tingkatan inkuiri, yakni:27
1) Discovery/Structured Inquiry
Dalam tingkatan ini tindakan utama guru ialah mengidentifikasi permasalahan dan proses, sementara siswa mengidentifikasi alternatif hasil.
27
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h. 121-122 Observing Questioning Draw conclusions Data analysis Inquiry process Gathering Information Hypothesis
2) Guided Inquiry
Tahap guided inquiry mengacu pada tindakan utama guru ialah mengajukan permasalahan, siswa menentukan proses dan penyelesaian masalah.
3) Open Inquiry
Tindakan utama pada open inquiry ialah guru memaparkan konteks penyelesaian masalah kemudian siswa mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.
2. Proses Pembelajaran dengan Metode Inkuiri
Metode pembelajaran inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelekual tetapi seluruh potensi siswa yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan keterampilannya. Pada hakikatnya, metode pembelajaran inkuiri ini merupakan suatu proses. Proses ini bermula dari merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang pada taraf tertentu diyakini oleh siswa yang bersangkutan.28
Gambar 2.4 Proses Inkuiri
28
Gulo, W, Strategi Belajar-Mengajar, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 94
Merumuskan masalah Merumuskan hipotesis Menarik kesimpulan sementara Menguji hipotesis Mengumpulakan bukti Siswa
Semua tahap proses pembelajaran dengan metode inkuiri tersebut di atas merupakan kegiatan belajar dari siswa. Guru berperan untuk mengoptimalkan kegiatan tersebut pada proses belajar sebagai motivator, fasilitator, dan pengarah.
Keberhasilan proses pembelajaran dengan metode inkuiri sangat bergantung pada tahap pendahuluan. Permasalahan yang diketengahkan pada tahap awal ini harus mampu dipertanyakan oleh siswa. Tahap pendahuluan ini disebut juga tahap apersepsi atau advanced organizer. Hal tersebut demikian, karena materi yang disajikan harus terkait dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya.
3. Karakter Inkuiri
Hinrichsen dan Jarret dalam Program Report The Northwest Regional Educational Laboratory menyatakan empat karakter inkuiri, yaitu:29
a. Koneksi Pada tahap ini:
1. Siswa mampu menghubungkan pengetahuan sains pribadi dengan konsep komunitas sains.
2. Dilakukan dengan diskusi bersama, eksplorasi fenomena
3. Guru mendorong untuk mendiskusikan dan menjelaskan pemahaman mereka bagaimana suatu fenomena bekerja, menggunakan contoh dari pengalaman pribadi, menemukan hubungan dengan literatur.
4. Proses koneksi melalui: konsiliasi, pertanyaan, dan observasi. b. Desain
Pada tahap ini:
1. Proses melalui prosedur-materi.
2. Siswa membuat perencanaan mengumpulkan data yang bermakna yang ditujukan pada pertanyaan.
3. Siswa berperan aktif mendiskusikan prosedur, persiapan materi, menentukan variabel kontrol, pengukuran.
4. Guru memantau ketepatan aktivitas siswa.
29
c. Investigasi Pada tahap ini:
1. Proses melalui koleksi dan mempresentasikan data.
2. Siswa dapat membaca data secara akurat, mengorganisasi data dalam cara yang logis dan bermakna, dan memperjelas hasil penyelidikan.
d. Membangun Pengetahuan Pada tahap ini:
1. Proses melalui refleksi-konstruksi-prediksi.
2. Konsep yang dilakukan dengan eksperimen akan memberi arti yang lebih bermakna dan mampu berpikir kritis.
3. Siswa dapat mengaplikasikan pemahamannya pada situasi baru yang mengembangkan inferensi, generalisasi, dan prediksi.
4. Guru melakukan sharing pemahaman siswa.
Pembelajaran yang dilaksanakan melalui pendekatan kontekstual dengan metode inkuiri diharapkan mampu mengubah cara belajar siswa yang selama ini lebih banyak bersifat menunggu informasi dari guru ke pembelajaran yang bermakna. Dengan terbiasanya siswa belajar secara bermakna dan menemukan sendiri konsep-konsep materi yang dipelajari, diharapkan kualitas proses dan hasil belajar siswa akan lebih baik dengan mengaitkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, strategi pembelajaran kontekstual yang paling efektif untuk menyatukan pembelajaran dan konteks pengalaman pribadi siswa yaitu strategi ruang kelas tradisional yang mengaitkan materi dengan konteks siswa.
Guru adalah pemimpin di ruang kelas. Sebagai pemimpin, guru di sebuah ruang kelas tradisional dapat menghubungkan informasi baru dengan kehidupan siswa melalui banyak cara yang penuh dengan makna.30 Salah satu contoh mengaitkan pembelajaran kontekstual di kelas yaitu dengan cara guru mendorong siswa untuk membaca, menulis, dan berpikir secara kritis dengan meminta mereka untuk fokus pada permasalahan yang diberikan oleh guru. Kelompok dibagi
30
menjadi empat atau lima kelompok. Setiap kelompok diberikan LKS yang bertujuan untuk mempermudah membangun keterkaitan pembelajaran, menemukan makna, meningkatkan pengetahuan dan memperdalam wawasan siswa.