• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (1995) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok

kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.

Suherman dkk (2001 : 218), mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif. Pertama, para siswa yang bergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai. Kedua, para siswa yang tergabung dalam sebuah kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu. Ketiga, untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Terakhir, siswa harus menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya (suherman dkk , 2001 : 218).

Dalam pembelajaran kooperatif, terdapat banyak pendekatan yang dapat digunakan (Arends, 2008 : 13-16), yaitu Student Teams Achievement Division

(STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI), dan pendekatan struktural yang meliputi Thingk-Pair-Share, Numbered Heads Together (NHT).

1. Student Teams Achievement Division (STAD)

Menuru Slavin (1994, 1995) dalam Arends (2008 : 13), pendekatan pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ini merupakan tipe pendekatan yang paling sederhana dan paling mudah dipahami. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kerjasama setiap individu dalam tim dan dalam tipe ini terdapat persaingan antar tim untuk mendapatkan tim yang terbaik. Dengan adanya persaingan itu, maka setiap anggota tim benar-benar berusaha memahami apa yang ditugaskan oleh guru, sehingga setiap siswa dapat menjawab semua pertanyaan ketika diberi kuis. Hasil kuis setiap siswa memberikan sumbangan terhadap keberhasilan kelompok.

Tipe ini menggunakan langkah pembelajaran di kelas dengan menempatkan siswa ke dalam tim-tim , dimana masing-masing tim terdiri dari 4-5 siswa. selanjutnya guru memberikan tugas kepada tim untuk dikerjakan oleh tim. Anggota tim yang tau jawaban dari tugas tersebut menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam tim itu mengerti. Pada waktu evaluasi, guru memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa dan ketika menjawab, siswa tidak boleh saling membantu. 2. Jigsaw

Tipe ini menekankan pada tanggung jawab setiap anggota kelompok terhadap penguasaan materi bagi dirinya sendiri maupun bagi

siswa lain, karena dalam tipe ini penguasaan materi setiap anggota kelompok dipengaruhi oleh anggota yang lain. Dapat dikatakan bahwa dalam tipe ini terdapat suatu ketergantungan positif antar siswa. Dalam tipe ini tidak ada persaingan antar kelompok.

Pada tipe ini siswa dikelompokkan dengan anggota 4-6 siswa. tiap anggota kelompok bertanggung jawab terhadap setiap penguasaan setiap komponen yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa yang bertanggung jawab dengan komponen yang sama membentuk kelompok baru. Setelah berdiskusi dengan kelompok baru, masing-masing siswa kembali ke kelompoknya masing-masing dan masing-masing siswa wajib menjelaskan mengenai komponen yang telah mereka diskusikan sebelumnya kepada siswa lain dalam kelompoknya. Dengan demikian seluruh siswa dapat memahami semua komponen yang diberikan guru,. 3. Group Investigation (GI)

Tipe ini menekankan pada proses memperoleh informasi dari suatu topik melalui suatu kegiatan investigasi dalam kelompok. Dengan kegiatan investigasi, siswa diharapkan mampu mendapat fakta dari suatu topik. Selain itu, siswa diharapkan dapat lebih memahami topik yang mereka bahas, karena melalui proses investigasi, mereka dapat memperoleh suatu pengetahuan murni dari usaha mereka mencari sendiri pengetahuannya sehingga akan lebih mudah dipahami. Tidak ada persaingan antar kelompok dalam tipe ini.

Tipe ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui investigasi. Dalam metode ini, guru membagi siswa dalam kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 orang. Masing-masing kelompok memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai topik yang dipilih, kemudian membuat laporan dan mempresentasikan hasil investigasi di forum kelas. Selanjutnya guru mengadakan evaluasi.

4. Thingk-Pair-Share

Pendekatan pembelajaran ini dikembangkan oleh Frank lyman (1985, dalam Arends 2008), dengan struktur pembelajaran sebagai berikut: Thinking : guru mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait dengan pelajaran dan meminta siswa untuk menggunakan alokasi waktu untuk memikirkan sendiri jawabannya. Pairing : setelah itu guru meminta siswa untuk berpasang-pasangan dan mendiskusikan segala sesuatu yang siswa pikirkan atas pertanyaan dari guru. Sharing : langkah terakhir, guru meminta pasangan-pasangan siswa untuk berbagi sesuatu yang sudah dibicarakan beepasangan masing-masing dengan seluruh kelas.

5. Numbered Heads Together (NHT)

Pendekatan pembelajaran ini yaitu guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada seluruh kelas. Tidak beda dengan penedekatan yang lainnya, guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap anggota kelompok memperoleh nomor yang berbeda dan mempunyai

tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tugas itu kemudian dikerjakan dalam kelompok. Setelah selesai, guru akan memanggil nomor kelompok. Siswa yang merasa mempunyai nomor itu maju untuk menjelaskan jawaban pada seluruh siswa.

D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement

Dokumen terkait