TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.6 Pembelajaran Matematika di SD
Teori-teori yang akan dibahas mengenai pembelajaran matematika di SD mencakup hakikat matematika, pembelajaran matematika di SD, dan tujuan pembelajaran matematika di SD. Teori-teori tersebut akan dibahas selengkapnya pada penjelasan berikut:
2.1.6.1 Hakikat Matematika
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dibelajarkan di SD. “Matematika merupakan ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan di antara hal-hal itu” (Karso dkk 2009: 1.40). Menurut Ruseffendi (1991) dalam Heruman (2012: 1), matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, serta ilmu tentang pola keteraturan dan struktur yang terorganisasi. Sementara Muhsetyo dkk (2011: 1.2) berpendapat bahwa matematika mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu abstrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis.
Sutawijaya (1997) dalam Aisyah (2007: 1.1) menjelaskan bahwa matematika mengkaji benda abstrak yang disusun dalam suatu sistem aksiomatis dengan menggunakan simbol (lambang) dan penalaran deduktif. Menurut Hudoyo (1990) dalam Aisyah dkk (2007: 1.1), matematika berkenan dengan ide-ide, aturan-aturan, dan hubungan-hubungan yang diatur secara logis, sehingga
matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Soedjadi (2000) dalam Heruman (2012: 1) berpendapat bahwa matematika memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan dan pola pikir yang deduktif. Selanjutnya Soedjadi (1999) dalam Muhsetyo (2011: 1.2) menyatakan bahwa “keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta, konsep, operasi, dan prinsip”.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang matematika, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis, yang disusun menggunakan simbol/lambang. Matematika mempelajari konsep-konsep abstrak dan pola hubungan yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa belajar matematika pada hakikatnya yaitu belajar tentang konsep, struktur konsep, dan mencari hubungan antarkonsep. 2.1.6.2 Pembelajaran Matematika di SD
“Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama” (Hardini dan Puspitasari 2012: 159). Berbekal kemampuan tersebut, siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang guru dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan siswa melaksanakan kegiatan belajar matematika (Aisyah dkk 2007: 1.4). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa guru dan siswa menjadi komponen penting dalam pembelajaran matematika. Guru berperan sebagai perancang
pembelajaran dan siswa sebagai pelaksana atau subjek kegiatan yang mempelajari matematika sebagai objek. Perancangan proses pembelajaran matematika perlu dilakukan secara matang agar siswa memperoleh hasil yang maksimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Muhsetyo (2011: 1.26), yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika merupakan proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana, sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.
Proses pembelajaran matematika bukan sekedar transfer ilmu dari guru kepada siswa. Pembelajaran matematika merupakan suatu proses yang dikondisikan atau diupayakan oleh guru, sehingga siswa aktif dengan berbagai cara untuk membangun sendiri pengetahuannya. Interaksi antara guru dan siswa serta antara siswa dengan siswa lainnya harus terjadi dalam setiap pembelajaran agar siswa mendapat kemudahan untuk belajar, termasuk dalam pembelajaran matematika. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam mempelajari matematika.
Heruman (2012: 2-3) menjelaskan bahwa konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
(1) Penanaman konsep dasar, yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. (2) Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep,
yang bertujun agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. (3) Pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman
konsep dan pemahaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika.
2.1.6.3 Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Tujuan akhir pembelajaran matematika di SD menurut Heruman (2012: 2) yaitu agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Aisyah dkk (2007: 1.4), tujuan matematika sekolah, khususnya di SD agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
(1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar- konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan
manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
(3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
(4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Jadi, tujuan pembelajaran matematika di SD yaitu agar siswa dapat menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan matematika, menggunakan pikirannya dalam memecahkan masalah, dan dapat mengkomunikasikannya dengan berbagai media. Dengan demikian, siswa memiliki sikap saling menghargai dan mampu menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. 2.1.7 Hakikat Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, seringkali ditemui kesulitan atau hambatan yang datang, baik dari materi pelajaran, sumber belajar, situasi dan kondisi belajar, lingkungan belajar, maupun dari siswa. Hal ini merupakan tantanagan bagi guru untuk tetap memberikan pendidikan yang bermutu dan menciptakan
pembelajaran yang berkualitas agar siswa tetap menikmati proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif, efisien, menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan dapat diciptakan melalui variasi pembelajaran. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan cara menerapkan model pembelajaran.
Menurut Suprijono (2011: 46), “model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial”. Sejalan dengan pendapat tersebut, Dahlan (1990) dalam Isjoni (2010a: 49) menyatakan bahwa “model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas”. Sementara Joyce (1992) dalam Trianto (2009: 22), mengemukakan bahwa:
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai model pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran. Model pembelajaran juga berfungsi untuk menentukan perangkat-perangkat yang mendukung proses pembelajaran.