• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

2.1.9 Pembelajaran Matematika Realistik

 

Dalam pembelajaran Matematika siswa merasa sulit dalam memahami materi dan kurangnya penggunaan media pembelajaran pada pelajaran Matematika, sehingga mengakibatkan siswa merasa bosan terhadap proses pembelajarannya. Akibatnya, siswa merasa kesulitan dalam memecahkan soal Matematika yang disajikan guru.

Dalam kegagalan banyak faktor yang mempengaruhi, baik dari guru, siswa, maupun sarana yang disediakan. Guru biasanya hanya menggunakan metode ceramah saja dan tidak menggunakan model pembelajaran yang inovatif, sehingga mengakibatkan pembelajaran kurang bermakna.

2.1.9 Pembelajaran Matematika Realistik

Pembelajaran yang dapat mendekatkan siswa dengan kehidupan nyata dalam membelajarkan matematika, khususnya materi Pecahan sangat perlu untuk diterapkan. Materi Pecahan sangat berhubungan dengan peristiwa yang sering ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu usaha untuk menciptakan suatu pembelajaran Matematika yang lebih mendekatkan siswa dengan keadaan nyata dalam kehidupan siswa yaitu dengan menerapkan suatu pendekatan pembelajaran Matematika yaitu RME. Secara lebih rinci penjelasan lebih lanjut mengenai RME yaitu sebagai berikut:

2.1.9.1 Hakikat Pembelajaran Matematika Realistik

Model pembelajaran didefinisikan oleh Joyce dan Weil dalam Abimanyu dan Sulo (2008: 2.4) sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang

pembelajaran. “Realistic Mathematics Education (RME) is a domain-specific instruction theory for mathematics education This theory is the Dutch answer to the need, felt worldwide, to reform the teaching of mathematics”. (e.g., Treffers, 1987; De Lange, 1987; Streefland, 1991, Gravemeijer, 1994a; Van den Heuvel-Panhuizen, 1996 dalam Marja Van Den Heuvel-Panhuizen 2003: 9). RME adalah instruksi domain teori khusus untuk pendidikan matematika. Teori ini adalah jawaban Belanda terhadap kebutuhan, dirasakan di seluruh dunia, untuk mereformasi pembelajaran matematika.

Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan

matematika realistik (PMR), yaitu sebuah pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari

Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda. Pendekatan ini

didasarkan pada anggapan Freudenthal bahwa matematika merupakan kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini, kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah nyata. Di sini matematika dilihat sebagai kegiatan manusia yang bermula dari pemecahan masalah (Dolk dalam Aisyah dkk 2007: 7.3). Oleh karena itu, siswa tidak dipandang sebagai penerima pasif, tetapi harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika di bawah bimbingan guru.

Proses penemuan kembali ini menurut Hadi dalam Aisyah dkk (2007: 7.3), dikembangkan melalui penjelajahan berbagai persoalan dunia nyata. Di sini, dunia nyata diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di luar matematika, seperti kehidupan sehari-hari, lingkungan sekitar, bahkan mata pelajaran lain pun dapat

27

 

dianggap sebagai dunia nyata. Dunia nyata digunakan sebagai titik awal pembelajaran Matematika. Untuk menekankan bahwa proses lebih penting daripada hasil, dalam pendekatan matematika realistik digunakan istilah matematisasi, yaitu proses mematematikakan dunia nyata. Selanjutnya, oleh Treffers yang dikutip dalam Aisyah dkk (2007: 7.3) matematisasi dibedakan menjadi dua, yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal.

Matematisasi horizontal adalah proses penyelesaian soal-soal kontekstual dari dunia nyata. Dalam matematika horizontal, siswa mencoba menyelesaikan soal-soal dari dunia nyata dengan cara mereka sendiri dengan menggunakan bahasa dan simbol mereka sendiri. Adapun matematisasi vertikal adalah proses formalisasi konsep matematika. Dalam matematisasi vertikal, siswa mencoba menyusun prosedur umum yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal-soal sejenis secara langung tanpa bantuan konteks.

Dalam matematisasi horizontal, misalkan ada soal tentang penjumlahan, siswa diminta untuk menghitung 2+2. Siswa menggunakan 2 pensil + 2 pensil untuk menghitung penjumlahan tersebut dan didapatkan hasil ada 4 pensil yang mereka pegang, sehingga siswa jelas dan merasakan langsung menghitung, sedangkan dalam matematisasi vertikal, misalkan soal tetang perkalian, siswa diminta untuk menghitung 3x3. Siswa menggunakan cara 3+3+3 sampai didapatkan hasil 9 dan siswa menggunakan cara yang sama dengan jenis soal yang sejenis.

2.1.9.2 Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik

RME. Ada tiga prinsip RME menurut Gravemeijer dalam Supinah (2008: 16) yaitu guided reinvention, didactical phenomenology, dan self developed model.

2.1.9.2.1 Guided Reinvention atau Menemukan Kembali Secara Seimbang Memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru. Siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja bahkan diharapkan dapat mengonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang akan diperolehnya. Pembelajaran tidak dimulai dari sifat-sifat atau definisi dan selanjutnya diikuti contoh, tetapi dimulai dengan masalah konstekstual atau nyata yang selanjutnya melalui aktivitas siswa diharapkan dapat ditemukan sifat-sifat atau definisi oleh siswa itu sendiri.

2.1.9.2.2 Didactical Phenomenology atau Penomena Didaktik

Topik-topik matematika disajikan atas dasar aplikasi dan kontribusinya bagi perkembangan matematika. Pembelajaran matematika yang cenderung berorientasi pada memberi informasi atau memberitahu siswa dan memakai matematika yang sudah siap pakai untuk memecahkan masalah, diubah dengan menjadikan masalah sebagai sarana utama untuk mengawali pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dengan caranya sendiri mencoba memecahkannya. Dalam memecahkan masalah tersebut, siswa diharapkan dapat melangkah ke arah matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal.

2.1.9.2.3 Self Depeloped Models atau Model Dibangun Sendiri oleh Siswa

Pada waktu siswa mengerjakan masalah kontekstual, siswa mengembangkan suatu model. Model ini diharapkan dibangun sendiri oleh siswa, baik dalam proses matematisasi horisontal maupun vertikal. Kebebasan yang

29

 

diberikan kepada siswa untuk memecahkan masalah secara mandiri atau kelompok, dengan sendirinya akan memungkinkan munculnya berbagai model pemecahan masalah buatan siswa.

2.1.9.3 Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik

Beberapa karakteristik pembelajaran matematika realistik menurut Suryanto dalam Aisyah, dkk (2007: 7.7), yaitu sebagai berikut:

(1) Masalah kontekstual yang realistik (realistic contextual problems) digunakan untuk memperkenalkan ide dan konsep matematika kepada siswa,

(2) Siswa menemukan kembali ide, konsep, dan prinsip, atau model matematika melalui pemecahan masalah kontekstual yang realistik dengan bantuan guru atau temannya,

(3) Siswa diarahkan untuk mendiskusikan penyelesaian terhadap masalah yang mereka temukan (yang biasanya ada yang berbeda, baik cara menemukan maupun hasilnya),

(4) Siswa merefleksikan (memikirkan kembali) apa yang telah dikerjakan dan apa yang telah dihasilkan, baik hasil kerja mandiri maupun hasil diskusi,

(5) Siswa dibantu untuk mengaitkan beberapa isi pelajaran matematika yang memang ada hubungannya,

(6) Siswa diajak mengembangkan, memperluas, atau meningkatkan hasil-hasil dari pekerjaannya agar menemukan konsep atau prinsip matematika yang lebih rumit,

(7) Matematika dianggap sebagai kegiatan bukan sebagai produk jadi atau hasil yang siap pakai. Mempelajari matematika sebagai kegiatan paling cocok dilakukan melalui learning by doing (belajar dengan mengerjakan).

2.1.9.4 Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik

Langkah-langkah pembelajaran untuk matematika realistik yang akan ditempuh menurut Zulkardi dalam Aisyah dkk (2007: 7.20), yaitu sebagai berikut:

(1) Persiapan; selain menyiapkan masalah kontekstual, guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki berbagai macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya,

(2) Pembukaan; pada bagian ini, siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkenalkan pada masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri baik individu maupun kelompok,

(3) Proses pembelajaran; siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum yang dapat memecahkan masalah yang diajukan,

31

 

(4) Penutup; setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik simpulan dari pelajaran saat itu. Pada akhir pembelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika formal yang dikerjakan secara mandiri, kemudian membahas soal evaluasi tersebut secara bersama-sama dan memberikan tidak lanjut terhadap hasil yang telah didapatkan.

Dokumen terkait