• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Pembelajaran Membaca Al-Qur’an

1. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an a. Pengertian pembelajaran membaca Al-Qur’an

Pembelajaran berasal dari kata “ajar” yang telah mendapatkan imbuhan gabungan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembelajaran diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.37 Proses pembelajaran disebut juga keterpaduan antara konsep belajar dan mengajar yang akhirnya melahirkan konsep pembelajaran. Belajar dan mengajar merupakan dua aktivitas yang saling keterkaitan satu dengan yang lain dalam proses pembelajaran. Belajar mengacu kepada apa yang dilakukan siswa, sedangkan mengajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh guru. Dua kegiatan tersebut menjadi terpadu pada saat terjadi interaksi antara guru dan murid dalam proses pembelajaran.38

Makna mengajar awalnya masih diartikan sebagai aktivitas pemberian bimbingan kepada siswa yang mengacu kepada apa yang dialkukan guru. Pandangan paedagogis dan ilmuan pendidikan di awal paroan ke-2 abad ke-20 sudah berkembang menuju model pendidikan yang berpusat pada siswa, hanya

36

Syaikh Muhammad Said Mursi, Seni Mendidik Anak, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), cet. Ke- 1, h. 285 - 301

37

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia... h. 17

38

Annisatul Mufarokah, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Teras, 2009), cet. Ke-1, h. 25

saja keterlibatan dan peran guru masih sangat besar dalam proses pengajaran. Itulah bagian-bagian yang dikritik oleh para ilmuwan pendidikan di akhir abad ke-20 dengan memberi peluang yang sebesar-besarnya pada siswa untuk belajar.39

Seperti kritik yang dilontarkan Paulo Freire yang dikutip oleh Dede Rosyada terhadap pengajaran dengan model pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, guru bertanya, murid menjawab, dan seterusnya. Paulo Freire menyebutnya dengan pendidikan gaya bank, yakni pendidikan model deposito, guru sebagai deposan yang mendepositokan pengetahuan serta berbagai pengalamannya pada siswa, sementara siswa hanya menerima dan mencatat semua yang disampaikan guru. Pendidikan dengan model seperti ini menurut Freire merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap siswa, karena menghambat kreativitas dan pengembangan potensi siswa.40

Oleh sebab itu, pengertian mengajar pun berubah seiring dengan pergeseran masa. Seperti pendapat Kenneth D Moore dikutip oleh Dede Rosyada dalam bukunya Paradigma Pendidikan Demokratis Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Menyelenggarakan Pendidikan yang menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya. Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa tingkat keberhasilan mengajar bukan pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan guru kepada siswa, melainkan seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk belajar dan memperoleh segala sesuatu yang ingin diketahuinya, guru hanya memfasilitasin parasiswanya untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya.41

39

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Menyelenggarakan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2004), cet. Ke-1, h. 91

40 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Menyelenggarakan Pendidikan... h. 89

41

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Menyelenggarakan Pendidikan... h. 91

Kemudian kata membaca memiliki arti melihat serta memaknai isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati.42 Sedangkan Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.43

Secara etimologi, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan kata Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menulisnya tanpa huruf hamzah (dibaca Al-Quraan) dan ada pula yang menulisnya dengan memakai huruf hamzah (dibaca Al-Qur’an). Pendapat yang pertama dapat dilihat dari pernyataan Imam Syafi’i yang dikutip oleh A. Chaerudji Abdul Chalik yang menyatakan bahwa kata Al-Qur’an ditulis tanpa huruf hamzah dan tida diambil dari kata apapun. Ia merupakan kata yang khusus dipakai untuk kitab suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw., sebagaimana nama Injil dan Taurat yang dipakai khusus untuk kitab-kitab Tuhan yang diberikan masing-masing kepada Nabi Isa as., dan Nabi Musa as.44

Berbeda dengan Subhi al-Shaleh dalam kutipan A. Chaerudji Abdul Chalik yang menyatakan bahwa kata Al-Qur’an itu masdar dan sinonim/ murodif dengan kata qiro’ah yang berarti bacaan. Menurutnya kata qara’a yang berarti membaca adalah berasal dari bahasa Arami. Tetapi ketika Al-Qur’an diturunkan, kata tersebut telah baku menjadi bahasa Arab. Kemudian Islam mempergunakan kata Al-Qur’an itu untuk nama kitab sucinya.45

Secara terminologi pun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya. Subhi Al-Shaleh yang dikutip oleh A. Chaerudji Abdul Chalik berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., yang termaktub dalam

42

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia... h. 83

43 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia... h. 33

44

A. Chaerudji Abdul Chalik, ‘Ulum Al-Qur’an, (Jakarta: Diadit Media, 2007), cet. Ke-1, h. 39

45

mushaf-mushaf yang dinukilkan daripadanya dengan jalan mutawatir yang dianggap bernilai ibadah membacanya.46

Di dalam Kamus Agama, makna Al-Qur’an yang populer di kalangan umat ialah nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada nabi-Nya yang bernama Muhammad saw., yang tertulis dalam mushaf. Sedangkan menurut ulama ahli kalam, Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat yang gaib dan azali, sejak dari awal Al-Fatihah sampai An-Naas, yaitu lafal-lafal yang terlepas dari sifat-sifat kebendaan, baik secara inderawi, khayali, ataupun secara lain-lain, yang tersusun pada sifat Allah yang Qadim.47

Prof. M.T. Thahir Abdul Mu’in sebagaimana yang dikutip oleh Humaidi Tatapangarsa menyatakan bahwa Al-Qur’an ialah firman Allah swt., yang disampaikan kepada rasul-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril dengan berangsur-angsur, yang akan disampaikan kepada umatnya dengan mutawatir dan sebagai tanda kerasulan Muhammad saw., dengan mengandung mu’jizat dan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menuju ketinggian/ kemuliaan hidup dengan jalan yang lurus, yang dapat menyampaikannya kepada kebahagiaan hidup yang abadi.48

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an pada dasarnya mengandung unsur-unsur yang berupa:

a) Bahwa ia adalah kalam / wahyu Allah swt. Artinya bukan buatan atau karangan manusia, jin, atau makhluk lainnya.

b) Bahwa ia diturunkan kepada rasul Allah yang bernama Muhammad saw. Artinya kalam Allah yang diturunkan kepada selain Muhammad saw., bukanlah Al-Qur’an.

c) Bahwa kalam Allah swt., yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., itu ialah dengan perantara malaikat Jibril, dan membacanya termasuk ibadah. Artinya, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., tidak

46 A. Chaerudji Abdul Chalik, ‘Ulum Al-Qur’an... h. 43

47

Humaidi Tatapangarsa, Al-Qur’an yang Menakjubkan, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2007), h. 1

48

melalui Jibril dan membacanya tidak termasuk ibadah, seperti hadits qudsi, bukanlah Al-Qur’an.

d) Bahwa kalam Allah swt., yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., dengan perantara malaikat Jibril itu merupakan mu’jizat Nabi Muhammad saw., dan sebagai pedoman agama Islam. Artinya, bahwa wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., yang juga merupakan pedoman agama Islam, seperti hadits-hadits nabi, tetapi tidak menjadi mu’jizat beliau, bukanlah pula Al-Qur’an.

Dengan demikian, yang dimaksud pembelajaran membaca Al-Qur’an ialah suatu proses interaksi belajar mengajar antara guru dan murid yang menekankan pada murid untuk mampu melafalkan huruf demi huruf, kata demi kata, serta kalimat demi kalimat yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi umat Nabi Muhammad saw., yang selanjutnya diharapkan murid dapat memahami maknanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an

Dalam mengajar Al-Qur’an, ada pengklasifikasian ayat-ayat ke dalam dua kategori, yaitu ayat-ayat yang hanya dibaca dan ayat-ayat yang harus ditafsirkan dan dihafal. Semua itu bertujuan memberikan pengetahuan kepada anak didik agar mengarah kepada:

1) Kemantapan membaca sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dan menghafal ayat-ayat atau surat-surat yang mudah bagi mereka.

2) Kemampuan memahami kitab Allah secara sempurna.

3) Kesanggupan menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari.

4) Kemampuan memperbaiki tingkah laku murid melalui metode pengajaran yang tepat.

5) Kemampuan memanifestasikan keindahan retorika Al-Qur’an. 6) Penumbuhan rasa cinta dan keagungan Al-Qur’an dalam jiwanya.

7) Pembinaan pendidikan Islam berdasarkan sumber-sumbernya yang utama dari Al-Qur’an.49

Secara khusus, tujuan mengajar Al-Qur’an yang berkaitan dengan ayat-ayat bacaan, yaitu:

1) Murid-murid dapat membaca Al-Qur’an dengan mantap, baik dari segi ketepatan harkat, saktat (tempat berhenti), membunyikan huruf-huruf sesuai dengan makhrajnya dan persepsi maknanya.

2) Murid-murid mengerti makna Al-Qur’an dan berkesan dalam jiwanya.

3) Murid-murid mampu menimbulkan rasa haru, khusyu, dan tenang jiwanya serta takut kepada Allah swt.

4) Membiasakan kemampuan murid dalam membaca pada mushaf dan meperkenalkan istilah-istilah yang tertulis baik untuk waqaf, mad, dan idgham.50

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus dalam bukunya Metodik Khusus Pendidikan Agama menyebutkan tujuan mempelajari Al-Qur’an selain untuk jadi ibadah adalah sebagai berikut:

a) Memelihara kitab suci dan membacanya serta memperhatikan apa-apa isinya untuk jadi petunjuk dan pengajaran dalam kehidupan di dunia.

b) Mengingat hukum agama yang termaktub dalam Al-Qur’an serta menguatkan keimanan dan mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.

c) Mengharapkan keridhaan Allah swt. d) Menanamkan akhlak yang mulia.

e) Menanam perasaan keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya sehingga bertambah keimanannya kepada Allah swt.51

2. Standar Kompetensi Pembelajaran Membaca Al-Qur’an

Standar kompetensi pembelajaran membaca Al-Qur’an yang dimaksud pada pembahasan ini adalah kemampuan minimal yang harus dikuasai atau

49

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: T. Pn., 1985), h. 79

50 Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam... h. 80-81

51

Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1983), cet. Ke-11, h. 61

dimiliki siswa dalam mata pelajaran agama Islam khususnya materi yang berbasis Al-Qur’an. Berikut penulis akan uraikan standar kompetensi mata pelajaran agama Islam yang berbasis Al-Qur’an yang penulis kutip dari Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pengajaran yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional:

Tabel 1

Satndar kompetensi materi pembelajaran agama Islam berbasis Al-Qur’an kelas VII sampai IX

No. Kelas Semester Materi Pembelajaran Standar Kompetensi

1 VII

1

Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

Menerapkan hukum

bacaan “Al”

Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

2

Hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

Menerapkan hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

2 VIII

1 Hukkum bacaan

qalqalah dan ra

Menerapkan Hukkum bacaan qalqalah dan ra 2 Hukum bacaan mad

dan waqaf

Menerapkan Hukum bacaan mad dan waqaf

3 IX

1 Al-Qur’an surat At-Tin

Memahami ajaran Al-Qur’an surat At-Tin 2

Qur’an surat Al-Insyirah

Memahami ajaran Al-Qur’an surat Al-Insyirah52

3. Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran Al-Qur’an

Kompetensi dasar merupakan kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh siswa yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Kompetensi dasar ini mengacu kepada standar kompetensi yang telah ditetapkan untuk masing-masing materi pembelajaran.

52

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: T. Pn., 2006), h. 3-53.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, indikator diartikan sebagai sesuatu yang dapat memberikan (menjadikan) petunjuk atau keterangan. Indikator adalah karakteristik, tanda-tanda, perbuatan atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kemampuan dasar tersebut.

Selanjutnya penulis akan uaraikan komptensi dasar dan indikator pada materi pembelajaran agama Islam Sekolah Menengah Pertama yang berbasis Al-Qur’an dari BSNP Departemen Pendidikan Nasional:

Tabel 2

Kompetensi dasar dan indikator kelas VII semester 1 materi pembelajaran Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

Kompetensi Dasar Indikator

1. Menjelaskan Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

1. Menjelaskan pengertian Hukum bacaan “Al” Syamsiyah

2. Menyebutkan contoh-contoh bacaan “Al” Syamsiyah

3. Menjelaskan pengertian “Al” Qamariyah

4. Menyebutkan contoh-contoh bacaan “Al” Qamariyah

2. Membedakan Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

1. Menyebutkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Syamsiyah

2. Menyebutkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Qomariyah

3. Membandingkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qomariyah

3. Menerapkan bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qomariyah dalam

1. Menelaah hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qomariyah dalam

bacaan surat Al-Qur’an dengan benar

Q. S. Adh-Dhuha

2. Menelaah hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qomariyah dalam Q. S.Al-‘Adiyat.53

Tabel 3

Kompetensi dasar dan indikator kelas VII semester 2 materi pembelajaran Hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

Kompetensi Dasar Indikator

1. Menjelaskan hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

1. Menjelaskan pengertian nun mati / tanwin

2. Menjelaskan pengertian mim mati 3. Menyebutkan contoh bacaan nun mati

/ tanwin dan mim mati 2. Membedakan hukum

bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

1. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan nun mati / tanwin

2. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan mim mati

3. Menjelaskan perbedaan antara hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati

3. Menerapkan hukum bacaan nun mati / tanwin dan mim mati dalam bacaan surat Al-Qur’an dengan benar

1. Mencari hukum bacaan nun mati / tanwin dalam Q.S. Al-Qadr

2. Mencari hukum bacaan mim mati dalam Q.S. Al-Fiil.54

53

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 3-4.

54

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 15-16.

Tabel 4

Kompetensi dasar dan indikator kelas VIII semester 1 materi pembelajaran hukum bacaan qalqalh dan ra

Kompetensi Dasar Indikator

2. Menjelaskan hukum bacaan qalqalah dan ra

1. Menjelaskan pengertian hukum bacaan qalqalah

2. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan qalqalah dan menyebutkan contohnya

3. Menjelaskan pengertian hukum bacaan ra

4. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan ra dan menyebutkan contohnya 4. Menerapkan hukum

bacaan qalqalah dan ra dalam bacaan surat Al-Qur’an dengan benar

4. Membaca bacaan qalqalah dengan benar

5. Membaca bacaan ra tebal dan tipis dengan benar

6. Menerapkan hukum bacaan qalqalah pada Q.S. Al-Ikhlas dan Q.S. AL-Lahab

7. Menerapkan hukum bacaan ra dengan membaca potongan ayat-ayat dengan benar.55

55

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 23-24.

Tabel 5

Kompetensi dasar dan indikator kelas VIII semester 2 materi pembelajaran hukum bacaan mad dan waqaf

Kompetensi Dasar Indikator

1. Menjelaskan hukum bacaan mad dan waqaf

1. Menjelaskan pengertian hukum bacaan mad

2. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan mad dan menyebutkan contohnya

3. Menjelaskan pengertian hukum bacaan waqaf dan washal

4. Menjelaskan macam-macam hukum bacaan waqaf dan menyebutkan contohnya

2. Menerapkan hukum bacaan qalqalah dan ra dalam bacaan surat Al-Qur’an dengan benar

1. Menunjukkan beberapa contoh hukum bacaan mad dalam Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Kafirun

2. Menunjukkan beberapa contoh hukum bacaan waqaf dalam Q.S. Al-Fatihah dan Q.S. Al-Ikhlas

3. Mempraktikan bacaan mad dan waqaf dalam bacaan surat Al-Qur’an

1. Mempraktikan cara membaca bacaan mad

2. Mempraktikan cara membaca bacaan yang diwaqafkan dan yang diwashalkan

3. Mempraktikan bacaan mad dan waqaf dalam ayat-ayat Q.S. Al-Baqarah.56

56

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 37-38.

Tabel 6

Kompetensi dasar dan indikator kelas IX semester 1 materi pembelajaran Al-Qur’an Surat At-Tin

Kompetensi

Dasar Indikator

1. Membaca Q.S. At-Tin dengan tartil

1. Membaca potongan-potongan ayat dalam Q.S. At-Tin dengan benar

2. Membaca keseluruhan ayat dalam Q.S. At-Tin dengan tartil dan benar

2. Menyebutkan arti Q.S. At-Tin

1. Mengartikan masing-masing kata dalam Q.S. At-Tin dengan benar

2. Mengartikan masing-masing ayat dalam Q.S. At-Tin dengan benar

3. Mengartikan keseluruhan ayat dalam Q.S. At-Tin dengan benar

3. Menjelaskan makna Q.S. At-Tin

1. Menjelaskan makna setiap ayat yang ada dalam Q.S. At-Tin dengan benar

2. Menjelaskan pesan-pesan pokok dari Q.S. At-Tin.57

Tabel 7

Kompetensi dasar dan indikator kelas IX semester 2 materi pembelajaran Al-Qur’an Surat Al-Insyirah

Kompetensi Dasar Indikator

1. Menampilkan bacaan Q.S. Al-Insyirah dengan tartil dan benar

1. Membaca potongan-potongan ayat dalam Q.S. Al-Insyirah dengan benar 2. Membaca keseluruhan ayat dalam Q.S.

Al-Insyirah dengan tartil dan benar 3. Menyebutkan arti Q.S.

Al-Insyirah

1. Mengartikan masing-masing kata dalam Q.S. Al-Insyirah dengan benar 2. Mengartikan masing-masing ayat

dalam Q.S. Al-Insyirah dengan benar 3. Mengartikan keseluruhan ayat dalam

Q.S. Al-Insyirah dengan benar.58

57

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 45-46.

58

Depart emen Pendi dikan Nasional, Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ...., h. 53-54.

Menurut hemat penulis, dari keseluruhan komptensi dasar dan indikator yang diberikan oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional akan dirasakan sulit bagi guru untuk menyampaikannya kepada anak didik apabila kemampuan dasar membaca Al-Qur’an seperti mengenal huruf hijaiyah belum dikuasai oleh siswa.

4. Strategi Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Al-Qur’an a. Startegi Pembelajaran Al-Qur’an

Kata strategi berasal dari kata startegos (Yunani) yang berarti jenderal atau perwira negara. Jenderal inilah yang bertanggung jawab merencanakan suatu strategi dari mengarahkan pasukan untuk mencapai kemenangan. Dalam perkembangannya, konsep strategi telah banyak digunakan dalam berbagai situasi, termasuk untuk situasi pendidikan. Implementasi konsep strategi dalam situasi dan kondisi belajar-mengajar, sekurang-kurangnya melahirkan pengertian berikut:

1)Strategi merupakan suatu keputusan bertindak dari guru dengan menggunakan kecakapan dan sumber daya pendidikan yang tersedia untuk mencapai tujuan melalui hubungan yang efektif antara lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan.

2)Strategi merupakan garis-garis besar haluan bertindak dalam mengelola proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

3)Strategi dalam proses belajar-mengajar merupakan suatu rencana yang disiapkan secara seksama untuk mencapai tujuan belajar.

4)Strategi sebagai pola-pola umum kegiatan guru dalam perwujudan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

5)Strategi belajar mengajar berarti pola umum perbuatan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar dan mengajar.59

Mempertimbangkan suatu strategi berarti mencari dan memilih model, metode dan pendekatan proses belajar mengajar yang didasarkan atas karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik dan kondisi lingkungan serta tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain, strategi belajar-mengajar merupakan siasat guru utnuk

59

mengoptimalkan intreaksi antara peserta dengan komponen-komponen lain dari sistem instruksional secara konsisten.60

Kaitannya dengan pembelajaran Al-Qur’an, guru agama Islam dapat memilih metode pengajaran Al-Qur’an yang tepat dan sesuai agar mudah diterima oleh peserta didik. Ada banyak metode yang lazim digunakan untuk mengajarkan Al-Qur’an yang dapat menjadi alternatif bagi guru agama, di antaranya yaitu: 1) Metode Qira’ati

Metode qira’ati adalah cara mengajar membaca Al-Qur’an dengan menggunakan buku qira’ati dan menawarkan pengajaran yang sistematis dan mendetail serta pemahaman ilmu tajwid dan cara baca tartil. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:

a) Praktis

b)Sederhana (realis, tidak teoris) c) Sedikit demi sedikit

d)Merangsang murid untuk saling berpacu e) Tidak menuntun bacaan

f) Teliti terhadap bacaan salah atau keliru g) Driil (bisa karena dibiasakan)61

2) Metode Iqra

Metode iqra merupakan temuan K.H. As’ad Human dari Yogyakarta. Metode ini terdiri dari 6 jilid dengan waktu belajar selama 6 bulan. Ciri-cirinya sebagai berikut:

a) Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) b)Privat, guru menyimak bacaan siswa

c) Asistensi, guru bisa meminta bantuan untuk mengajar kepada guru yang lain

Ada pula metode-metode penunjang yang dapat digunakan untuk lebih memudahkan siswa menerima pelajaran, yaitu:62

60

Annisatul Mufarokah, Strategi Belajar Mengajar... h. 39

61

Tombak Alam, Metode Membaca Menulis Al-Qur’an 5 kali Pandai, (Jakarta: PT. Reneka Cipta, 1995), h. 112

1) Metode menyanyi

Menyanyi merupakan rekreasi batin yang indah, anak-anak akan hanyut dalam nyanyian yang indah itu. Ia akan merasa senang dan tidak merasa dibebani sehingga suasana belajar mengajar menjadi segar dan gembira. Misalnya huruf-huruf hijaiyah dinyanyikan menggunakan nada dari lagu ”abang tukang bakso” atau tidak menutup kemungkinan juga bagi guru menciptakan lagu sendiri atau meniru lagu yang sedang terkenal di kalangan masyarakat.

2) Metode cerita

Cerita meruupakan media efektif untuk menanamkan nilai-nilai yang

Dokumen terkait