LANDASAN TEORI
E. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural Multikultural
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Islam mengenal pendidikan dengan pengertiannya yang menyeluruh, pendidikan yang memperhatikan unsur-unsur manusia, yaitu pengembangan jasmani, akal, emosi, rohani dan ahklak. Pengertian yang menyeluruh bukan saja di sekolah, tetapi juga meliputi segala yang mempengaruhi peserta didik/siswa. Yakni di rumah, di jalanan, tempat wisata, di kebun-kebun, di alam terbuka atau tempat-tempat lain. Pendidikan Islam merupakan sebuah konsep pendidikan seumur hidup 14 abad sebelum pendidikan modern mengenalnya. Syariat Islam disampaikan dengan sebuah sistem pembelajaran ( pendidikan dan pengajaran) yang Islami.
Pembelajaran merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi antara anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak
dengan pendidik93. Secara terperinci Umar H. Malik94 memberi
definisi tentang pembelajaran. “Pembelajaran merupakan suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi, material,
93 M. Miftahusirojudin “ Meaningful Learning :Melalui Pendekatan Tematik Pada Siswa Tingkat Dasar“ , MPA No. 249 Th. XX Juni 2007,hlm. 40
71 fasilitas, perlengkapan, dan prosedur saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran”.
Manusia yang disebutkan dalam definisi di atas meliputi siswa, guru, tenaga pendidik lainnya semisal tenaga laboratorium. Material meliputi buku-buku pelajaran, papan tulis, kapur, slide dan film, Audio, perangkat laboratorium IPA, tape recorder atau sarana multi media, sedangkan fasilitas dan perlengkapan bisa berupa ruangan kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur dirupakan jadwal, metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.
Lebih lanjut Oemar mengemukakan perkembangan teori pembelajaran yakni :
a. Mengajar adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/siswa di sekolah Rumusan ini sesuai dengan pendapat dalam teori pendidikan yang mementingkan mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik. Dalam teori ini pembelajaran digunakan sebagai upaya untuk mempersiapkan masa depan.
Sebagai suatu proses penyampaian pengetahuan, teori ini mengharapkan peserta didik mampu menguasai pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Mata pelajaran tersebut berasal dari pengalaman-pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung sepanjang kehidupan manusia.
72 Pengalaman-pengalaman itu diselidiki untuk kemudian disusun secara sistematis dan logis sehingga tercipta sebuah mata pelajaran.
Karena menganggap penguasaan mata pelajaran adalah hal terpenting dalam pengajaran maka kegiatan pembelajaran hanya berlangsung di dalam kelas sehingga siswa terisolir dari kehidupan masyarakat. Guru memiliki kekuasaan penuh di dalam kelas, sedang siswa bersikap dan bertindak pasif. Siswa hanya bersikap sebagai pendengar, pengikut dan pelaksana tugas. Kebutuhan, minat, tujuan, abilitas yang dimiliki siswa diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian guru. Inilah yang dikatakan oleh J. Wayner Wrightstone
dalam Oemar sebagai “ the older principle of education”
yang berimplikasi pada terbatasnya pengalaman peserta didik yang hanya berpusat pada pelajaran akademik. Sekolah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial, minat atau ketertarikan pengetahuan peserta
didik tidak dituangkan dalam kurikulum.95
b. Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
Meski bersifat lebih umum, teori ini memiliki pola pikir yang seirama.
Pembelajaran dianggap sebagai proses pewarisan kepada para siswa yang dipandang sebagai keturunan orang tua. Upaya pewarisan
73 itu dilakukan melalui berbagai prosedur yakni pengajaran, media, hubungan antar pribadi dan sebagainya.
Dalam teori ini pembelajaran bertujuan untuk membentuk manusia berbudaya, bahan pelajaran bersumber pada kebudayaan sebagai kumpulan warisan sosial dalam masyarakat. Menurut Warcester dalam Oemar kebudayaan itu bersifat non material, abstrak dan ada dalam jiwa serta kepribadian manusia. Sedangkan benda-benda material
sendiri merupakan hasil dari keterampilan manusia.96
c. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
Dengan lebih menitikberatkan pada unsur peserta didik, lingkungan dan proses belajar , teori ini sejalan dengan pendapat Mc Donald yang menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku pada manusia.
Kegiatan pembelajaran tidak terbatas pada sekat-sekat ruang kelas tapi juga pengorganisasian lingkungan. Sekolah berfungsi menyediakan lingkungan yang dibutuhkan bagi perkembangan tingkah laku siswa. Selain itu, pribadi guru, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan luar sekolah, semua menjadi lingkungan belajar yang bermakna bagi perkembangan para siswa.
96
74 Aktifitas belajar bersumber sepenuhnya dari peserta didik, guru hanya menyediakan lingkungan yang serasi agar tujuan yang diinginkan tercapai, sehingga setiap individu peserta didik mampu berkembang sesuai pola dan caranya, serta cocok dengan potensi yang siap untuk dikembangkan.
d. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik.
Pembelajaran yang dimaksudkan dalam teori ini berorientasi pada kebutuhan dan tuntunan masyarakat. Warga masyarakat yang baik adalah yang dapat bekerja di masyarakat yang harus memiliki ketrampilan berbuat dan bekerja, sehingga tidak hanya menjadi konsumen tetapi produsen. Pembelajaran berlangsung dalam suasana kerja, suasana yang aktual seperti dalam keadaan yang sesungguhnya. Para siswa mengerjakan hal-hal yang menarik minatnya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam teori ini guru bertindak sebagai pemimpin dan pembimbing siswa belajar, bekerja dalam suatu bengkel yakni sekolah dan sekolah merupakan sebuah ruang kerja atau workshop.
e. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan sehari-hari.
Teori ini berorientasi pada kehidupan masyarakat, sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan, karena itu siswa harus mengenal keadaan kehidupan
75 yang sesungguhnya. Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam sekolah dan masyarakat. prosedur penyelenggaraannya bisa dengan membawa siswa ke dalam masyarakat dengan survei, berkemah atau yang lainnya atau sebaliknya membawa masyarakat ke sekolah sebagai nara sumber.
Dengan demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap pendidikan anak, dan sebaliknya. Sekolah akan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah- masalah yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga berfungsi turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitarnya. Selain itu, siswa tidak saja aktif di sekolah tapi juga di dalam masyarakat. Semua potensi siswa menjadi hidup dan berkembang sehingga perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakat. Sedangkan guru bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Sebagai komunikator guru harus mengenal baik keadaan masyarakat sekitar, kemudian menyusun proyek- proyek kerja bagi siswa. Di sisi lain guru memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, juga ketrampilan berintegrasi serta bekerja sama dengan masyarakat.
Dalam sebuah pembelajaran, penekanannya terletak pada keharusan peserta didik untuk belajar, bukan melulu pada bagaimana guru mengajar. Karena dengan memfokuskan kegiatan pada mengajar
76 tanpa bisa membuat murid untuk belajar berarti sebuah pembelajaran
dikatakan gagal.97
Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu rekayasa yang diupayakan untuk membantu peserta didik agar dapat tumbuh berkembang sesuai maksud dan tujuan penciptaannya. Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan peserta didik.
Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik terus-menerus untuk belajar agama Islam, baik untuk mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun
mempelajari Islam sebagai pengetahuan.98
Konsep pembelajaran mengandung beberapa implikasi, yaitu (1) perlu diupayakan agar dapat terjadi proses belajar yang interaktif antara peserta didik dan sumber belajar yang direncanakan; (2) Ditinjau dari sudut peserta didik, proses ini mengandung makna bahwa terjadi proses internal interaksi antara seluruh potensi individu dengan sumber belajar yang bisa berupa pesan-pesan ajaran dan nilai-nilai serta norma-norma ajaran Islam, guru sebagai fasilitator, bahan ajar cetak atau non cetak yang digunakan, media dan alat yang dipakai untuk belajar, cara dan teknik belajar yang dikembangkan, serta latar
97 H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta : Rineka Cipta,2000), hlm.192
98 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam : Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002) cet. II, hlm. 184
77 atau lingkungannya (spiritual, budaya, sosial dan alam) yang menghasilkan perubahan perilaku pada diri peserta didik yang
semakin dewasa dan memiliki tingkat kematangan dalam beragama; (3) ditinjau dari sudut pemberi rangsangan perancang pendidikan agama, proses itu mengandung makna pemilihan, penetapan dan pengembangan metode pembelajaran yang memberikan kemungkinan yang paling baik bagi terjadinya proses belajar
pendidikan agama.99
Kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dari peserta didik, yang disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi itu, mampu memancar ke luar dalam hubungan keseharian dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama maupun tidak. Serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhuwah wathaniyah) dan bahkan persatuan dan kesatuan antar sesama manusia (ukhuwah insaniyah).
Dari konsep pembelajaran dapat diidentifikasikan prinsip-prinsip
belajar dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:100
a. Prinsip Kesiapan ( Readiness), Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subjek yang melakukan kegiatan
99
Ibid., hlm. 182
100
78 belajar. Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, intelegensi,latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar
b. Prinsip Motivasi(Motivation). Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu.
c. Prinsip Perhatian. Perhatian merupakan strategi kognotif yang mencakup empat ketrampilan, (1) berorientasi pada suatu masalah, (2) meninjau sepintas masalah isi, (3) memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan, dan (4) mengabaikan stimuli yang tidak relevan.
d. Prinsip Persepsi. Persepsi adalah suatu proses yang bersifat komplek yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya.
e. Prinsip Retensi. Retensi adalah yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat tertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan.
f. Prinsip Transfer. Transfer merupakan proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat mampengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari.
79 Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen utama yang saling berpengaruh dalam proses pembelajaran pendidikan agama, pertama Kondisi Pembelajaran pendidikan agama Islam yakni faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran pendidikan agama Islam. Kedua, metode pembelajaran pendidikan agama Islam yaitu cara-cara tertentu yang paling cocok untuk digunakan dalam mencapai hasil-hasil pembelajaran pendidikan agama Islam yang berada dalam kondisi pembelajaran tertentu. Metode pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berbeda-beda menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran yang berbeda pula. Ketiga, Hasil pembelajaran pendidikan agama Islam adalah mencakup semua akibat yang dapat dijadikan indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda.
Hasil pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berupa hasil nyata (actual comes)dan hasil yang diinginkan (desired out-comes). Pola interelasi dari ketiga komponen itu digambarkan sebagai berikut 101:
80 Gambar 3.1 : Interelasi Komponen Pembelajaran
Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam terdapat beberapa pendekatan yang bisa digunakan, yang pada intinya terdapat enam pendekatan :
a. Pendekatan pengalaman, yakni memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan;
b. Pendekatan pembiasaan, yakni memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan/atau ahklakul karimah; c. Pendekatan emosional, yakni usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati Aqidah Islam serta memberi motivasi agar peserta didik ihlas mengamalkan ajaran agamanya, khususnya yang berkaitan dengan ahklakul karimah;
d. Pendekatan rasional,yakni usaha untuk memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama;
e. Pendekatan fungsional, usaha untuk menyajikan ajaran Islam dengan menekankan segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya;
f. Pendekatan keteladanan, yakni menyuguhkan keteladanan, baik yang langsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan, maupun yang tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah -kisah teladan.
81
2. Pembelajaran Berwawasan Multikultural : Upaya membangun Kesadaran