Daftar Pustaka
SMP NEGERI 3 DHARMA CARAKA TELUK DALAM, KABUPATEN NIAS SELATAN TAHUN PELAJARAN 2014/
2.5. Pembelajaran Problem Posing
Problem posing mulai dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lynn D. English dan awal mulanya
diterapkan dalam mata pelajaran matematika (Suyitno Amin, 2004). Kemudian model ini dikembangkan pada mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran problem posing mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2000.
Problem Posing mempunyai beberapa arti, problem posing adalah perumusan masalah yang berkaitan
dengan syarat-syarat soal yang telah dipecahkan atau alternatif soal yang masih relevan (Suharta, 2000: 93).
“problem posing essentially means creating a problem with solutions unknown to the target problem solver the
problem create for” (Leung, 2001). “Dunker describe problem posing in mathematics as the generation of a new
problem or the formulation of a given problem (Dunker, 1945)” (dalam Abu-Elwan).
Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar (berlatih soal) secara mandiri (Suyitno Amin, 2004). Problem
posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang masalah yang ada dengan perubahan agar lebih
sederhana dan dapat dikuasai.
Dalam pembelajaran matematika, sebenarnya pengajuan masalah (problem posing) menempati posisi yang strategis. Dalam hal ini siswa harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetail. Hal
6410
tersebut akan tercapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tidak hanya dari guru melainkan perlu belajar mandiri.
3. Pembahasan
Pada penelitian ini digunakan dua (2) kelas yang berbeda sebagai kelompok uji. Kelas VIII yang terdiri dari 24 orang siswa diterapkan dengan metode pembelajaran Problem Posing. Selanjutnya setelah dilakukan ujian pada kelas tersebut diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC dan pada akhir pertemuan dilakukan ujian.
Dari hasil ujian diperoleh hasil bahwa kemampuan siswa yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang tertinggi adalah 90 dan yang terendah adalah 55, dengan rata-rata
x
= 74,70. Sedangkan nilai kemampuan siswa yang menggunakan metode belajar problem posing yang tertinggi adalah 86 dan yang terendah adalah 53, dengan rata-ratax
= 69,43.Dari hasil pengolahan data secara statistik, temuan yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Skor rata-rata tes siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah sebesar 74,70. 2. Nilai rata-rata kemampuan siswa yang menggunakan teori belajar problem posing adalah sebesar 69,43. 3. Standar deviasi kelompok siswa yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC sebesar 9,42. 4. Standar deviasi kelompok siswa yang menggunakan metode pembelajaran problem posing sebesar 8,49.
Dari uraian data di atas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kekmampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Dharma Caraka Teluk Dalam yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan problem posing. Melihat landasan teoritis dengan hasil penelitian di lapangan, maka dapat diambil kesimpulkan bahwa landasan teoritis dalam penelitian ini tidak bertentangan dengan hasil penelitian di lapangan.
Dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC daya serap siswa akan semakin baik. Hal ini disebabkan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC juga mengajukan suatu model pengajaran dengan cara mengerjakan soal dengan secara team, sehingga dengan cara berdiskusi siswa lebih cepat tanggap dan tidak malu bertanya kepada teman-temannya yang lebih pintar.
Dengan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC terlihat adanya kemampuan siswa di dalam kelas yang menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan yang menggunakan metode pembelajaran problem posing. Hal ini disebabkan pada metode belajar kooperatif tipe CIRC keinginan siswa untuk belajar matematika semakin meningkat. Selanjutnya bagi siswa yang kemampuannya rendah terdapat peningkatan keinginan untuk belajar matematika, yang terlihat dari adanya interaksi pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
4. Kesimpulan dan Saran 4.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisa terhadap data hasil penelitian, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Nilai rata-rata hasil ujian siswa yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah sebesar
74,70. Nilai rata-rata kemampuan siswa yang menggunakan metode pembelajaran problem posing adalah sebesar 69,43.
6411
2. Kemampuan siswa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran problem posing.
3. Metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan menyelesaikan soal matematika siswa SMP Negeri 3 Dharma Caraka Teluk Dalam Tahun Pelajaran 2014/2015.
4.2. Saran
Dari hasil penelitian dapat disarankan :
1. Agar para guru matematika berkenan mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC. 2. Kepada guru yang akan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC harus terlebih dahulu
mengetahui dengan baik konsep apa yang dimiliki oleh siswa untuk keterkaitan pada konsep yang akan diajarkan sehingga pembelajaran berjalan dengan baik.
3. Bagi siswa agar dapat mengikuti pembelajaran metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan baik. 4. Bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan meneliti pengaruh penerapan metode pembelajaran lainnya, sehingga
diperoleh perbandingan antara setiap metode pembelajaran. Daftar Pustaka
Abu-Elwan, Reda. The development of mathematical problem posing skills for porspective middle school
teachers. Mathematics Education, Sultan Qaboos University. Tersedia di :
http://www.math.unipa.it/~grim /EAbu-elwan8.PDF [11 Juli 2007] Ali, Muhammad. 1993. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Anna Marie Farnish. 2006. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) – Reading. Baltimore: Center for Social Organization of Schools, The Johns Hopkins University. Tersedia di: http://www.ed.gov/pubs/EPTW/eptw4/eptw4c.html [April 2006]
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Praktek.
Arifin, Zaenal. 1991. Evaluasi Instruksional: prinsip-teknik-prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ibrahim, Muslimin dkk. 2001. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.
Junaidi, Syamsul dan Eko Siswono. 2004. Matematika untuk SMK Kelas VIIII. Semarang: Esis.
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Leung, Shuk-kwan S. 2001. The Integration of Problem–Posing Research into Mathematics Teaching Case of
Prospective and In-service Elementary School Teacher. Tersedia di:
http://www.math.ntnu.edu.tw/~cyc/private/ mathedu/me1/me1_2001/sksl.doc [11 Juli 2007]
Lowrie, Tom. 2002. Designing a Framework for Problem Posing: young children generating open-ended tasks.
Charles Sturt University, Australia. Tersedia di: http://www.merga.net.au/documents/merj142.lowrie.pdf [11 Juli 2007]
6412
Max, Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang.
Muslich, Masnur. 2007. KTSP: Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nur, Muhammad & Prima R. W. 2000. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis
dalam Pengajaran. Surabaya: UNESA.
Poerwadarminto. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Purwanto, M. Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Setyo Budi, Wono. 2004. Matematika SMK untuk Kelas VIII Semester Genap. Jakarta: Erlangga
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Research and Practice. Second Edition. Boston: Ally and Bacon.
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sukestiyarno. 2001. Problem Posing: Strategi Menumbuhkan Kreatifitas Siswa Belajar Matematika. Makalah Seminar Nasional UNNES, 27 Agustus 2001 (tidak diterbitkan).
Suharta. 2002. Pengembangan Strategi Problem Posing Dalam Pembelajaran Kalkulus Untuk Memperbaiki
Kesalahan Konsepsi. Jakarta.
Suharyono, T. dkk. 1996. Strategi Belajar Matematika. AMP Matematika Jakarta: konsultan dan tim pengembangan PKG matematika. Dirjen Dikdasmen Depdikbud.
Suherman, Erman dkk. 2003. Satrategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia
Suryabrata, Sumadi. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali
Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
6413
PENERAPAN SISTEM REWARD DAN FUNISHMENT DALAM MENINGKATKAN DISPLIN GURU