F. Manfaat Penelitian
5. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Pembelajaran berasal dari kata belajar yang mendapat imbuhan “pe” dan akhiran “an” yang bermakna menyatakan proses. Pengertian pembelajaran menurut bahasa adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut Nurochim (2013:17) istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan
pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukann di dalam kelas.
Pengertian pembelajaran menurut istilah, menurut bebe rapa ahli adalah sebagai berikut:
1) Gagne dan Briggs (1979) mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk memengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. 2) Duffy dan Roehler (1989) mendefinisikan pembelajaran adalah
suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.
3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara guru dengan siswa untuk saling tukar menukar pesan atau informasi (transfer of knowledge) berupa pengetahuan, keterampilan, keahlian, ide, pengalaman, ataupun yang lainnya melalui komunikasi dalam suatu lingkungan belajar.
b. Tahapan-tahapan dalam Pembelajaran
Terdapat beberapa tahapan dalam pembelajaran, tahapan-tahapan tersebut harus ditempuh saat melaksanakan pembelajaran. Dimana jika salah satu tahap tersebut ditinggalkan maka tidak dapat dikatakan telah terjadi proses pembelajaran, tahapan-tahapan tersebut antara lain yaitu:
Menurut RD. Conners (1980) dalam Syafruddin Nurdin dan Basyirun Usman yang dikutip oleh Maunah (2009:244) bahwa mengajar adalah suatu perbuatan yang terpadu dan dilaksanakan secara bertahap, adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
1) Tahap sebelum pengajaran (pre-active)
Pada tahap ini yang dimaksud adalah perencanaan pembelajaran. Agar bahan pengajaran dapat disajikan kepada siswa dalam jam pelajaran tertentu guru harus membuat perencanaan
pembelajaran yang dilakukannya berdasarkan pedoman
instruksional. Pada tahap ini perencanaan pembelajaran yang dilakukan adalah membuat perencanaan tahunan, perencanaan semester, memetakan bekal bawaan siswa, perumusan tujuan, pemilihan metode, pengalaman belajar, juga bahan dan peralatan untuk pengajaran yang dimana hal tersebut sudah tersusun menjadi satu perencanaan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang sering disebut dengan RPP.
Menurut Rasyidin dalam Maunah (2009:246) perencanaan adalah pemetaan langkah-langkah kearah tujuan, perencanaan
sangat diperlukan guru karena alokasi sumber, terutama waktu yang sangat terbatas. Adapun perencanaan yang dilakukan guru yaitu: penentuan tujuan mengajar, pemilihan materi sesuai dengan waktu, strategi optimum, alat dan sumber, kegiatan belajar siswa dan evaluasi.
2) Tahap pengajaran (inter-active)
Yang dimaksud pada tahap ini adalah tahap pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini yang dilakukan guru adalah: pengelolaan kelas, kontrol siswa, penyampaian informasi, penggunaan tingkah laku verbal atau non-verbal, umpan balik, penerapan konsep psikologis, mendiagnosis kesulitan belajar siswa dan mengarahkan untuk evaluasi, tidak lupa juga dengan mengaplikasikan alat, media, dan bahan dalam pelaksanaan pembelajaran.
3) Tahap sesudah pengajaran (post-active)
Yang dimaksud pada tahap ini adalah tahap evaluasi. Pada tahap ini yang dilakukan guru adalah: melakukan evaluasi (penilaian) baik pada rencana pelaksanaan pembelajaran, proses pembelajarannya, dan ataupun pada siswanya.
Menurut Majid (2012:246) guru merupakan seorang yang memegang peranan prima, yang mana guru berfungsi sebagai pembuat keputusan dalam tahapan-tahapan pembelajaran yaitu: perencanaan, implementasi, dan penilaian atau evaluasi.
1) Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiagnosis kebutuhan para siswanya sebagai subjek belajar, merumuskan tujuan kegiatan proses pembelajaran, dan menetapkan strategi pengajaran yang ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan. 2) Sebagai pengimplementasi rencana pengajaran yang telah disusun,
guru hendaknya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada dan berusaha memoles setiap situasi yang muncul menjadi situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. 3) Pada kegiatan evaluasi, guru harus dapat menetapkan prosedur dan
teknik evaluasi yang tepat. Jika kompetensi dasar yang telah ditetapkan pada kegiatan perencanaan belum tercapai, maka guru harus meninjau kembali rencana serta implementasinya dengan maksud untuk melakukan perbaikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tahapan-tahapan dalam pembelajaran adalah meliputi: proses perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan juga evaluasi pembelajaran.
c. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan catatan
perkembangan perjalanan hidup manusia dari masa ke masa dalam beribadah, bermuamalah dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupan atau menyebarkan ajaran Islam yang dilandasi oleh akidah. Karateristik dari mata pelajaran SKI adalah menekankan pada kemampuan mengambil ibrah/hikmah (pelajaran) dari sejarah Islam,
meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain, untuk mengambangkan kebudayaan dan peradaban Islam pada masa kini dan masa yang akan datang.
Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam di masa lampau, mulai dari dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan periode Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah Saw. wafat, sampai perkembangan Islam periode klasik (zaman keemasan) pada tahun 650 M–1250 M, abad pertengahan/zaman kemunduran (1250 M–1800 M), dan masa modern/zaman kebangkitan (1800-sekarang), serta perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.
Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik (KMA Nomor 165 Tahun 2014).
Sejarah Kebudayaan Islam diartikan sebagai perkembangan atau kemajuan Islam dalam perspektif sejarah. Dalam hal ini ruang lingkup pembahasan akan sangat luas, karena Islam sebagai sistem keyakinan dan kepercayaan serta tauran yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia,
dan manusia dengan lingkngannya, keseluruhannya tercermin dalam sejarah dan kehidupan umat islam.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah suatu proses interaksi antara guru dengan siswa untuk saling tukar menukar pesan atau informasi cerita atau peristiwa yang berkaitan dengan asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam di masa lampau, mulai dari dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan periode Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah Saw. wafat hingga peradaban Islam saat ini.
d. Tujuan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah saw. dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
2) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.
3) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.
5) Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni dan lain-lain untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam (KMA Nomor 165 Tahun 2014).
e. Ruang Lingkup Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Aliyah berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab Pada Madrasah meliputi:
1) Dakwah Nabi Muhammad saw. pada periode Makkah dan periode Madinah.
2) Kepemimpinan umat setelah Rasulullah saw. wafat.
3) Perkembangan Islam periode klasik/zaman keemasan (pada tahun 650M–1250M).
4) Perkembangan Islam pada abad pertengahan/zaman kemunduran (1250M–1800M).
5) Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800-sekarang).
6) Perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.
Sedangkan ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ditingkat Madrasah menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah (Sejarah Kebudayaan Islam), (2008:51-52). meliputi:
1) Meningkatkan pengenalan dan kemampuan mengambil ibrah terhadap peristiwa penting sejarah kebudayaan Islam mulai perkembangan masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan para Khulafaurrasyidin, Bani Umayah, Abbasiyah, Al-Ayyubiyah sampai dengan perkembangan Islam di Indonesia. 2) Mengapresiasi fakta dan makna peristiwa-peristiwa bersejarah dan
mengaitkannya dengan fenomena kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni.
3) Meneladani nilai-nilai dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam peristiwa bersejarah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di tingkat Madrasah Aliyah adalah mempelajari perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw. pada periode Makkah dan periode Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah saw. wafat (Khulafaur Rasyidin), perkembangan Islam dari zaman klasik atau periode keemasan, Islam abad pertengahan atau periode kemunduran, Islam pada masa modern atau periode kebangkitan hingga sekarang, serta meningkatkan pengenalan
dan kemampuan mengambil ibrah terhadap peristiwa penting sejarah kebudayaan Islam dan meneladani nilai-nilai dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam peristiwa bersejarah.