TINJAUAN TEORITIS
B. Pembelajaran Fikih
1. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran Fiqih
Pembelajaran fiqih dalam kurikulum MTs adalah salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (Way of Life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Fiqih di MTs bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli
43Nasir A. Baki, Metode Pembelajaran Agama Islam; Dilengkapi Pembahasan Kurikulum 2013 (Cet. I; Yogyakarta: Eja Publisher, 2014), h.88.
dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan bertanggung jawab yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.44
2. Fungsi Pembelajaran Fikih
Pembelajaran fikih merupakan pembelajaran mengarahkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati serta mengamalkan hukum Islam dengan sempurna, pada dasarnya pembelajaran fikih memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Menanamkan nilai-nilai dan kesadaran beribadah peserta didik kepada Allah swt, sebagai pedoman untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
b. Membiasakan pengalaman terhadap hukum Islam pada peserta didik dengan ikhlas dan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku di sekolah dan lingkungan.
c. Membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab sosial di sekolah/madrasah dan masyarakat.
d. Meneguhkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt serta menanamkan akhlak peserta didik seoptimal mungkin, melanjutkan upaya yang terlebih dahulu dilakukan dalam lingkungan keluarga.
44Departemen Agama RI., Kurikulum Berbasis Kompetensi MTs. Bidang Studi Fiqih, (Dirjen. Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2003). h. 2.
e. Membangun mental peserta didik dalam menyesuaikan diri dalam lingkungan fisik dan sosialnya.
f. Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam pelaksanaan ibadah dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari.
g. Membekali peserta didik akan bidang fiqih atau hukum Islam untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.45
3. Ruang Lingkup Materi Pembelajaran Fiqih di MTs
Secara garis besar, ruang lingkup fikih mencakup tiga dimensi, yaitu:
a. Dimensi pengetahuan fiqih (knowledge) yang mencakup bidang ibadah dan muamalah). Materi pengetahuan fiqih dalam dua bidang tersebut meliputi pengetahuan tentang thaharah, shalat, dzikir, puasa, haji, umroh, makanan, minuman, binatang halal dan haram, qurban dan aqiqah.
b. Dimensi ketrampilan fiqih (fiqh skill) meliputi ketrampilan melakukan ibadah
mahdlah, memilih dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal,
melakukan kegiatan muamalah dan sesama manusia berdasarkan syari’at Islam, memimpin, dan memelihara lingkungan.
c. Dimensi nilai-nilai fiqih (fiqh values) mencakup penghambaan kepada Allah swt yang meliputi ta’abud, penguasaan atas nilai religius, disiplin, percaya diri, komitmen, norma dan moral, nilai keadilan, demokrasi, toleransi, kebebasan
45Depag RI Kurikulum 2004, Pedoman Umum Pengembangan Silabus Madrasah Ibtidaiyyah, (Jakarta: Direktoral Jenderal Pengembangan Kelembagaan Agama Islam, 2004), h. 2.
individual. Adapun penjabaran bidang kajian fiqih dari dimensi pengetahuan dan ketrampilan fikih sebagai berikut:
Tabel 2
Dimensi Pembelajaran Fiqih No Dimensi Keterangan
1 Ibadah
1. Mengetahui Najis dan cara mensucikannya 2. Mengetahui Hadats dan cara bersucinya 3. Melakukan shalat wajib
4. Melakukan adzan dan iqamah 5. Melakukan shalat jum’at 6. Macam-macam shalat sunnah 7. Melakukan puasa
8. Melakukan zakat
9. Melakukan shadaqah dan infaq
10. Memahami hukum Islam tentang makanan dan minuman
11. Memahami ketentuan aqiqah dank qurban 12. Memahami ibadah haji dan umroh
13. Melakukan dzikir dan doa 14. Memahami khitan
2 Muamalah 1. Memahami ketentuan jual beli 2. Memahami pinjam dan sewa 3. Memahami ketentuan upah 4. Memahami ketentuan riba
5. Memahami ketentuan barang temuan
Dari dimensi dan lingkup kajian pembelajaran fikih di atas, maka dapat disimpulkan bahwasanya tujuan utama dari pembelajaran fikih adalah adanya penguasaan materi teoritis dan praktek ibadah dan muamalah sesuai dengan syari’at Islam.
4. Metode Quantum Learning dalam Pembelajaran Fiqih
Hal paling berharga dalam belajar adalah mengadakan program bagaimana cara belajar. Untuk berhasilnya program ini tentunya melalui proses yang terarah dan bertujuan yakni mengarahkan peserta didik kepada titik optimal kemampuannya. Di samping itu dalam penyajian materi harus mampu menyentuh jiwa dan akal peserta didik, sehingga mereka dapat mewujudkan nilai etis atau kesucian, yang merupakan nilai dasar bagi seluruh aktipitas manusia, sehingga harus melahirkan keterampilan dalam materi yang diterimanya.
Dapat dikatakan bahwa tujuan quantum learning menurut pandangan Islam adalah membina manusia guna mampu menjalankan funsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Manusia yang dibina adalah mahluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan inmaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akal menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwa menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmani menghasilkan keterampilan. Dengan menggabungkan unsur-unsur tersebut, terciptalah mahluk dwidimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan amal.46
Metode quantum learning menurut perspektif Islam mengarahkan peserta didik pada titik optimal kemampuannya, dapat memberikan perasaan gembira dan kesan yang menyenangkan. Dengan metode belajar yang tepat guna, berdaya guna dan berhasil guna serta berarah tujuan pada cita-cita Islam, dunia dan akhirat, ilmu dan amal.
46M. Quraisy shihab, Membumikan Alquran Fungsi Dan Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Cet. II, Bandung: Mizan 1992), h. 173.
Metode mengajar merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran. Ketepatan penggunaan metode dalam proses pembelajaran akan dapat memudahkan terwujudnya tujuan pembelajaran seperti yang telah direncanakan dan diinginkan. Pemilihan metode mengajar dalam proses pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, baik dalam lingkup jasmani maupun rohaninya.
Jenis dan bentuk metode mengajar beraneka ragam dan pengajar dapat mengeksplorasi metode-metode tersebut dalam mengajar. Termasuk dalam lingkup pembelajaran fiqih. Dalam sejarah Islam, Rasulullah saw pun juga menerapkan beberapa metode dalam upaya menjalankan dakwah. Salah satu metode yang digunakan oleh Rasulullah saw adalah metode quantum atau yang dikenal istilah “bawalah dunianya ke dalam dunia kita atau dunia mereka ke dalam kita”. Metode inilah Rasulullah saw sering memperagakan materi dakwahnya baik melalui lisan maupun sikap sehingga banyak sahabat yang takjub dan mengikuti ajaran yang merupakan perintah dari Allah swt.
Metode pembelajaran dapat mencapai hasil pembelajaran yang maksimal asalkan memberikan ruang yang cukup leluasa kepada peserta didik untuk melatih kemampuannya dalam berbagai macam kegiatan. Istilah lainnya adalah adanya keseimbangan antara aspek teoritis dan aspek praktis dalam pembelajaran atau sering juga disebut dengan belajar sambil berbuat. Berdasarkan penjelasan tersebut dan disandarkan pada pengertian dari quantum learning, maka dapat disimpulkan
bahwasanya metode quantum learning berpeluang untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran secara maksimal. Sebab itulah mengapa penerapan metode
quantum learning penting dalam pendidikan Islam, agar kemudian terwujud dimensi hablum min Allah dan hablum min al-nas artinya dalam hidup sejalan dengan
pendekatan kepada Allah swt. sebagai tuhan yang wajib disembah dan juga saling berbuat baik dan saling mengdukung sesama manusia agar mencapai ridha Allah swt. melalui interaksi sesama.
Pendidikan agama Islam termasuk di dalamnya pembelajaran fikih dan pembelajaran lainnya merupakan suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran agama Islam secara menyeluruh, menghayati maksud dan tujuan yang hendak dicapai yang akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.