BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Pembentukan Karakter Disiplin
kekurangan suatu rencana. Setelah kebijakan tersebut sudah dibuat, maka dapat pula direncanakan perhitungan biaya
maupun kebutuhan lainnya sehingga program yang
direncanakan bisa terlaksana dengan baik, serta menentukan target yang diinginkan.
3) Tahap Elaborasi Rencana
Tahap ini merupakan tahap perincian tugas untuk setiap unit supaya menjadi jelas sebelum rencana diimplementasikan. Misalnya dalam membagi rencana ke dalam area-area pelaksanaannya harus dipersiapkan dengan matang.
4) Tahap Implementasi Rencana
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan. Pada langkah ini perencanaan bergabung dengan proses pelaksanaan atau manjemennya.
5) Tahap Evaluasi dan Perencanaan Ulang
Selama rencana dilaksanakan, perlu adanya evaluasi untuk mendeteksi kelasahan atau kekurangan dalam rencana yang telah dibuat sehingga dapat memberi gambaran untuk proses perbaikan.
2. Pembentukan Karakter Disiplin
a. Pengertian Karakter Disiplin
Karakter dalam bahasan inggris Character, dari istilah Yunani dari kata Charassein yang berarti membuat tajam atau membuat dalam,
28
maksudnya disini ialah suatu perbuatan untuk membantu setiap individu menjadi lebih semangat untuk membangun dirinya semaksimal mungkin dengan tujuan untuk menjadi insan yang mempunyai perilaku yang berkarakter.
Dalam bahasa sederhana, karakter dapat diartikan sebagai akhlak, tabiat, watak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan karakter ialah sifat khas yang dimiliki oleh individu yang membedakannya dari sifat individu lain yaitu watak, sifat, tabiat, bakat. Dapat pula karakter ini diartikan sebagai kepribadian individu yang dipandang dari segi moralnya, misalnya kejujuran seseorang dan berkaitan dengan sifat-sifat individu.22
Seperti yang disebutkan di atas, bahwa karakter dapat dikatakan sebagai akhlak maka berikut merupakan beberapa pendapat dari para ahli mengenai definisi akhlak secara istilah (terminologi).
1) Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa serta menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, serta tidak memerlukan adanya pemikiran dan pertimbangan.23
2) Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa akhlak adalah suatu kondisi di dalam jiwa manusia yang mendoronhgnya untuk melakukan
22 Suprapto Wahyunianto, Implementasi Pembiasaan Diri Dan Pendidikan Karakter
(Sebagai Pengantar) (Yogyakarta: Deepublish, 2019), hlm. 1.
23 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 2.
29
pernuatan-perbuatan tanpa melalui proses pertimbangan dan pemikirikan.
3) Ahmad Amin berpendapat bahwa akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak.24
4) Ibrahim Anis berpendapat bahwa akhlak ialah sifat yang melekat dalam jiwa yang melahirkan berbagai macam perbuatan baik dan buruk tanpa memerlukan adanya pertimbangan dan pemikiran.25 Jadi, pada hakikatnya akhlak atau karakter adalah suatu keadaan atau sifat yang melekat dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dapat menimbulkan macam-macam perbuatan manusia yang dilakukan secara spotan dan gampang, tidak dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari keadaan tadi menimbulkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti atau karakter mulia dan sebaliknya apabila yang lahir perbuatan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti atau karakter yang buruk. 26
Disiplin berasal dari kata discipline dapat berarti peraturan yang harus diikuti, bidang ilmu yang dipelajari, ajaran, hukuman atau
24 Zahruddin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 4.
25 Abuddin Nata, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 4.
30
etika/norma/tata cara bertingkah laku.27 Disiplin merupakan kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peranturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa ada paksaan dari siapapun. Dalam bidang pendidikan, dengan adanya disiplin ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengatur perilaku anak dalam mencapai tujuan pendidikan, karena ada perbuatan-perbuatan yang harus dicegah atau dilarang ataupun sebaliknya, harus dilakukan. Disiplin sendiri bukanlah kepatuhan lahiriah, bukanlah paksaan, bukanlah ketaatan pada otoritas gurunya untuk patuh terhadap aturan yang ada. Melainkan suatu sikap batin, bukan kepatuhan yang otomatis. 28
Berikut ini merupakan pengertian disiplin menurut beberapa tokoh.29
1) Menurut Lickona, disiplin ialah sesuatu yang harus dikembangkan dari dalam diri seperti tulang belakang, tidak berpatokan dari luar diri seperti belenggu.
2) Menurut The Liang Gie, disiplin ialah keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peran peraturan-peraturan yang telah ada dengan senang hati.
27 Sindu Mulianto dkk, Panduan Lengkap Supervisi Diperkaya Prespektif Syariah (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2006), hlm. 171.
28 Rinja Efendi & Delita Gustriani, Manjaemen Kelas di Sekolah Dasar (Pasuruan: Qiara Media, 2020), hlm. 38.
29 Arsyl Mirdanda, Motivasi Berprestasi & Disiplin Peserta Didik (Pontianak: Yudha English Gallery, 2018), hlm. 10.
31
3) Menurut Katharine C Kersey, disipline is the practice of teaching or training a person to obey rules or a code of behaviour in both the short and long terms.
Berbicara masalah pembentukan akhlak (karakter) maka sama dengan berbicara mengenai tujuan pendidikan karena akhlak (karakter) adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan kerja keras serta kesungguhan.30 Pembentukan karakter disiplin bukan hanya untuk menjadikan anak menjadi patuh dan taat terhadap aturan dan tata tertib yang ada, melainkan untuk mendisiplinkan diri sendiri. Artinya mereka berperilaku baik, patuh dan taat pada aturan bukan karena paksaan dari orang lain atau guru melainkan karena kesadaran dari dirinya.31
Dengan demikian, maka pembentukan akhlak (karakter) bisa diartikan sebagi suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang telah direncanakan dengan baik dan dilakukan dengan kesungguhan dan konsisten.32 Maka dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter disiplin pada mahasantri yakni segala usaha yang sungguh-sungguh melalui pembinaan dan pendidikan supaya mahasantri mempunyai perilaku atau tindakan yang baik patuh dan taat pada aturan dengan sifat batin mereka miliki yang mana perilaku ini
30 Abuddin Nata, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, op.cit., hlm. 155.
31 Rinja Efendi & Delita Gustriani, Manjaemen Kelas di Sekolah Dasar (Pasuruan: Qiara Media, 2020), loc.cit.
32
mengalir begitu saja tanpa ada paksaan dan dinilai sebagai budi pekertinya dalam melakukan interaksi dengan sesamanya.
b. Dasar Perintah Berkarakter Disiplin
Karakter disiplin akan mengantarkan seseorang mencapai tujuan yang akan diharapkan dalam setiap kegiatan, tugas dan tanggung jawabnya, kehidupan yang harmoni dalam keluarga, masyarakat, lingkungan alam bahkan membimbimbing seseorang mencapai kehidupan bahagia di akhirat kelak. Allah memerintahkan agar manusia tetap disiplin dan konsisten pada ajaran Islam yang benar dan tidak melampaui batas yang artinya melanggar segala aturan dalam ajaran Islam.33 Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
هَّناا ۗاْوَغْطَت َلََّو َكَعَم َبَتَ ْنَمَو َتْرامُا ٓاَمَك ْماقَتْساَف
ٗ
اَابِ
َنْوُلَمْعَ ت
رْياصَب
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an, Huud [11]: 112)34
Pada ayat berikut ini Allah SWT. memerintahkan supaya orang-orang yang beriman itu disiplin dalam melaksanakan Shalat Jum’at dan meninggalkan berbagai macam kegiatn mereka. Setelah usai
33 Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) ( https://books.google.co.id/books?id=yhtaDwAAQBAJ&pg=PA39&dq=jenis-jenis+karakter+disiplin&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjUotfH8YDrAhUDzTgGHRALBmAQ6A
EwAHoECAMQAg#v=onepage&q=jenis-jenis%20karakter%20disiplin&f=false, diakses pada
tanggal 04 Agustus 2020 pukul 13.52 WIB).
34 Kementerian Agama RI, Qur’an Kemenag (https://quran.kemenag.go.id/sura/11/112, diakses pada tanggal 04 Agustus 2020 pukul 13.37 WIB)
33
melaksanakan Shalat Jum’at, hendaknya mereka orang yang beriman tadi kembali untuk melaksanakan berbagai tugas dan kegiatannya mereka untuk mencari karunia dan selalu mengingat-Nya supaya menjadi orang yang beruntung.35
اذ َٰلَاا اْوَعْساَف اةَعُمُْلْا امْوَّ ي ْنام اةوَٰلَّصلال َيادْوُ ن اَذاا آْوُ نَمَٰا َنْياذَّلا اَهُّ يََٰٓيَ
اوُرَذَو اَٰرللَّا ارْك
َنْوُمَلْعَ ت ْمُتْ نُك ْناا ْمُكَّل رْيَخ ْمُكالَٰذ َۗعْيَ بْلا
)
٩
(
افِ اْوُراشَتْ ناَف ُةوَٰلَّصلا اتَياضُق اَذااَف
ْ باَو اضْرَْلَّا
َّل اًْياثَك ََٰرللَّا اوُرُكْذاَو اَٰرللَّا الْضَف ْنام اْوُغَ ت
َنْوُحالْفُ ت ْمُكَّلَع
)
١٠
(
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9) Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung (10).” (Al-Qur’an, Al-Jumu’ah [62]: 9-10)36
Karakter juga dapat diartikan sebagai akhlak. Sumber ajaran akhlak adalah Al-Qur’an dan Hadis. Perilaku Nabi Muhammad SAW. merupakan suri teladan untuk semua manusia. Hal ini disebutkan dalam firman Allah yang berbunyi:
رةَوْسُأ اَّللَّا الوُسَر افِ ْمُكَل َناَك ْدَقَل
َرَكَذَو َراخ ْلْا َمْوَ يْلاَو ََّللَّا وُجْرَ ي َناَك ْنَمال رةَنَسَح
اًياثَك ََّللَّا
35 Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) ( https://books.google.co.id/books?id=yhtaDwAAQBAJ&pg=PA39&dq=jenis-jenis+karakter+disiplin&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjUotfH8YDrAhUDzTgGHRALBmAQ6A
EwAHoECAMQAg#v=onepage&q=jenis-jenis%20karakter%20disiplin&f=false, diakses pada
tanggal 04 Agustus 2020 pukul 17.30 WIB).
36 Kementerian Agama RI, Qur’an Kemenag (https://quran.kemenag.go.id/sura/62/9-10, diakses pada tanggal 04 Agustus 2020 pukul 13.46 WIB)
34
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Qur’an, Al-Azhab [33]: 21)37
c. Unsur-Unsur Disiplin
Disiplin diharapkan dapat mendidik anak supaya dapat bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku di lingkungan kelompok sosial mereka. Berikut ini merupakan empat unsur disiplin menurut Hurlock.38
1) Peraturan
Peraturan ialah suatu pola yang telah ditetapkan untuk berbuat atau bertingkah laku, yang tujuannya ialah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi dan kelompok tertentu. Peraturan mempunyai dua fungsi, yaitu pertama, fungsi pendidikan yang mana peraturan ialah alat memperkenalkan perbuatan yang disetuji anggota kelompok kepada anak. Kedua, fungsi preventif, dikarenakan peraturan yang menolong untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan. Efektifnya suatu peraturan yaitu apabila setiap pelanggaran atas aturan-aturan yang berlaku, maka terdapat konsekuensi yang setimpa. Dengan adanya peraturan yang
37 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya (Jakarta: Syaamil Quran, 2009), hlm. 420.
38 Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), hlm. 124-125.
35
efektif juga dapat menolong peserta didik supaya merasa terlindungi dari hal-hal yang tidak pantas.
2) Hukuman
Hukuman berasal dari kata Latin, pinier yang artinya menjatuhkan hukuman kepada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Hukuman disini mempunyai tiga fungsi yaitu mengahalangi pengulangan suatu perbuatan, mendidik (yang dimaksudkan disini yakni sebelum peserta didik paham peraturan, mereka dapat belajar bahwa perbuatan tersebut benar atau salah dengan mendapat hukuman), memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. 3) Perhargaan
Kata penghargaan identik dengan suatu hal yang menghasilkan sesuatu yang baik. Penghargaan tidak hanya berbentuk materi akan tetapi bisa juga dalam bentuk pujian.,
kata-kata, senyuman, ataupun tepukan di punggung.
Penghargaan mempunyai tiga peranan penting, yaitu diantaranya memiliki nilai dalam mendidik, sebagai motivasi untuk menanggulangi tindakan yang disetujui secara sosial, serta memperkuat perbuatan yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan perilaku tersebut.
36
4) Konsistensi
Kosistensi artinya tingkat keseragaman atau stabilitas, mempunyai tiga fungsi yaitu memiliki nilai mendidik yang besar, konsistensi memiliki nilai motivasi yang kuat untuk melakukan perbuatan yang baik di masyarakat dan menjauhi tindakan yang buruk dan konsisten membantu pekembangan anak untuk hormat terhadap aturan-aturan dan masyarakat sebagai otoritas. Anak-anak yang telah berdisiplin secara konsisten maka mereka memiliki motivasi yang lebih kuat untuk bertingkah laku sesuai dengan standar sosial dibandingkan dengan anak-anak yang berdisiplin secara tidak konsisten.
d. Jenis-Jenis Disiplin
Disiplin dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni disiplin internal (positif) dan dsiplin eksternal (negatif). Hal ini sejalan dengan pendapat dari Hurlock terdapat dua konsep mengenai disiplin yaitu disiplin positif dan negatif. Disiplin negatif disii dimaksudkan yang berhubungan dengan control seseorang berdasarkan otoritas luar yang biasanya dilakukan dengan terpaksa, dan dengan cara kurang menyenangkan ataupun dilakukan karena adanya ketakutan terhadap hukuman. Sedangkan disiplin yang positif merupakan pendidikan dan bimbingan karena pertumbuhan dan perkembangan di dalam diri (inner
37
growth) yang mencakup disiplin diri (self discipline) dan pengendalian diri (self control).39
e. Indikator Disiplin
Istilah disiplin saat ini menjadi popular engan dimasukkannya istilah karakter yang harus ditanamkan pada diri setiap peserta didik. Termasuk halnya dengan karakter disiplin. Dalam konteks pendidikan, disiplin pada hakikatnya bagian dari pendidikan dan merupakan suatu prose yang perlu dibiasakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti norma-norma, akidah, sikap, serta seperangkat aturan yang dianggar baik dan berlaku dalam masyarakat.40 Adapun indikator disiplin menurut Elizabeth Hurlock yaitu adanya peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi. Seperti yang telah disebutkan di atas. Sejalan dengan indikator yang dikemukakakn oleh Hurlock di atas, menurut Surya menjelaskan tentang indikator disiplin meliputi beberap unsur. Unsurnya yakni sesuatu yang harus diaati atau ditinggalkan, 41
Adapun indikator disiplin menurut Gilmore dan Chabib Thoha sebagai berikut.42
1) Adanya rasa tanggungjawab
2) Mempunyai pertimbangan dalam menilai problem yang dihadapi secara mendalam
39 Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, op.cit., hlm. 120.
40 Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, op.cit., hlm. 117-119.
41 Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, op.cit., hlm. 127.
42 Adelina Sari Pohan, Tesis: Internalisasi Nilai-Nilai Religius Dan Kedisiplinan Mahasantri
Melalui Program Keagamaan di Lembaga Ma’had Sunan Ampel Al-Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (Malang: UIN Malang, 2019), hlm. 42.
38
3) Adanya perasaan aman apabila mempunyai pendapat yang berbeda dari orang lain
4) Adanya sikap kreatif, sehingga melahirkan ide-ide yang bermanfaat serta berguna bagi orang lain
f. Tujuan dan Fungsi Pembentukan Karakter Disiplin
Adapun tujuan disiplin menurut Willamson ialah untuk peneguahan diri, kekuatan diri, serta pertumbuhan dan pengembangan bagi anak didik. Menurut Rachman, tujuan disiplin yaitu meliputi meberi dukungan bagi tercapainya tindakan yang menyimpang, mendorong anak didik melaksanakan hal baik dan benar, membantu anak didik menyesuaikan diri dengan tuntunan di lingkungan dan menjauhi hal yang dilarang, anak didik belajar hidup dengan kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.43 Menurut Arikunto, disiplin mempunyai tujuan yakni supaya kegiatan sekolah dapat berlangsung secara efektif dalam suasana tenang, tentram dan setiap pendidik beserta karyawan dalam organisasi sekolah merasa puas karena terpenuhi kebutuhannya.44
Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh peserta didik untuk mecapai tujuan pendidikan. Disiplin menjadi prasyarat untuk pembentukan sikap, perilaku, dan tata kehidupan berdisiplin yang dapat mengantarkan mereka menacapi keberhasilan dalam mencapai tujuan
43 Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, op.cit., hlm. 123-124.
44 Darmadi, Membangun Paradigma Baru Kinerja Guru (Lampung Tengah: Guepedia, 2018), hlm. 60.
39
pendidikan. Menurut Tulus, terdapat fungsi dari disiplin sebagai beberikut.45
1) Menata Kehidupan Bersama
Manusia selain sebagai makhluk individu merek juga sebagai makhluk sosial. Dalam berinteraksi dengan orang lain pada perlu adanya norma, niali, peraturan yang mengatur supaya kehidupan dan aktivitasnya dapat berlanjalan dengan baik dan lancar. Setiap makhluk mempunyai kepentengan yang berbeda, sehingga perlu kita untuk menghagai orang lain dengan mematuhi aturan yang berlaku.
2) Membangun Kepribadian
Kepribadian tumbuh biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti keluarga, pergaulan di masyarakat, sekoalh, lingkungan kerja ataupun yang lainnya. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan yang disebutkan maka akan memberikan dampak positif atas pertumbuhan kedisiplinan karena terbiasa untuk mengikuti, mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Oleh karena itu, lingkungan yang mempunyai karakter disiplin yang baik maka orang-orang yang disekitarnya pun terpengaruh akan kepribadian untuk disiplin.
40
3) Melatih Kepribadian
Sikap, perilaku, dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin perlu adanya pembiasaan terus-menerus sejak dini. Melalui tempaan, manusia akan menjadi kuat serta mempunyai nilai tambah. Sehingga disiplin perlu adanya pembinaan sejak dini misalnya dimulai dari lingkungan keluarga.
4) Pemaksaan
Faktor-faktor yang mendorong terbentuknya
kedisiplinan yaitu dorongan secara internal (dari pengalaman, kesadaran, dan kemauan untuk berbuat disiplin) dan dorongan secara eksternal (perintah, larangan, pengawasan, pujian, ancaman, dan ganjaran). Dsisiplin dapat berfungsi sebgai pemaksaan kepada seseorang untuk mengikuti aturan yang ada di lingkungan tertentu.cdari mula-mula paksaan, kini tumbuh kesadaran diri sehingga menjadi kebutuhan bahkan kebiasaan. 5) Hukuman
Menurut Dorothy, hukuman mengandung empat fungsi yaitu sebagai pembahasan atas perilaku yang salah yang telah dilakukan, sebagai pencegahan dan adanya rasa takut orang melakukan pelanggaran, sebagai koreksi perbiuatan salah, dan sebagai pendidikan. Sehingga sanksi disiplin berupa hukuman ini tidak boleh dipandang untuk menakuti-natuki saja, melainkan mengambil unsur pendidikannya.
41
6) Mencapai Lingkungan Kondusif
Disiplin dalam lingkunsgn pendidikan berfungsi untuk mendukung terlaksananya prose belajar dan kegiatan pendidikan lainnya berjalan dengan lancar. Sehingga di lingkungan pendidikan itu pasti ada aturan-aturan yang harus dipatuhi. Sehingga akan menimbulkan lingkungan yang kondusif.
g. Pembentukan Karakter Disiplin
Menurut Ibnu Miswakaih, Ibnu Sina dan Al-Ghazali mengatakan bahwa akhlak (karakter) ialah hasil suatu usaha dalam
mendidik, membimbing, latihan dan kesungguhan. Dalam
pembentukan akhlak (karakter) tentu melewati proses pembinaan akhlak (karakter )yang dapat dianalisis pada muatan akhlak yang ada pada aspek ajaran Islam. Misalnya dalam hal keimanan, berkaitan erat dengan perbuatan amal salih dan perilaku terpuji. Iman yang tidak disertai amal salih dianggap sebagai iman yang hanya kepalsuan belaka. Maka dari itu yang benar-benar dimaksud iman dalam Islam bukan hanya seledar ucapan dan keyakinan, namun disertai dengan amal salih (akhlak mulia). Sehingga hal ini membuktikan bahwa keimanan harus menghasilkan akhlak dan Islam mendambakan setiap muslim untuk berakhlak mulia.46
46 Abuddin Nata, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 156-160.
42
Menurut An-Nahlawi, metode untuk menanamkan rasa iman (penanaman karakter atau akhlak) ialah sebagai berikut.47
1) Metode Hiwar (Percakapan) Qur’ani dan Nabawi
Hiwar (dialog) ialah percakapan secara bergantian antara dua pihak maupun lebih mengenai suatu pembahasan, dan dilakukan dengan sengaja serta diarahkan kepada satu tujuan tertentu yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru).
2) Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi
Metode kisah dalam pendidikan Islam memiliki fungsi edukatif. Metode kisah Qur’ani dan Nabawi ini mempunyai berbagai keistimewaan yang membuatnya memiliki pengaruh seperti melahirkan kehangatan perasaan, aktivitas di dalam jiwa, membuat manusia termotivasi untuk mengubah perilakunya, serta berusaha untuk memperbaharui tekanya sesuai tuntunan, pengarahan dan akhir kisah itu, dan mengambil ibrah dari kisah tersebut.48
3) Metode amsal (perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an terdapat berbagai bentuk perumpamaan dalam mendidik umat-Nya. Contohnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 17, perumpamaan orang-orang kafir itu ialah seperti orang yang menyalakan api. Hal tersebut cara
47 Abuddin Nata, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, op.cit., hlm. 276.
43
penyampaiannya sama dengan metode kisah yakni berceramah atau membaca teks.49
4) Metode Keteladanan
Metode keteladanan sebagai suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan cara pemberian contoh yang baik untuk anak didik supaya mereka bisa berkembang baik fisik, mental dan mempunyai akhlak yang baik. Sebagaimana Allah juga menurunkan Rasulullah saw. sebagai sosok teladan bagi umat manusia.
5) Metode Pembiasaan
Pembiasaan maknanya ialah proses membuat seseorang atau sesuatu menjadi biasa. Jika diakitkan dengan metode pengajaran dalam pendidikan agama Isam, maka pembiasaan ialah sebuah cara yang dapat dilakukan supaya membiasakan anak didik berfikir, bertindak dan bersikap menurut ajaran agama Islam.50
6) Metode Ibrah dan Mauidzah
Ibrah menurut An-Nahlawi ialah suatu kondidi psikis yang menyampaikan manusia kepada pokok dari sesuatu yang dilihat, dihadapi, dengan menggunakan nalar sampai hati mengakuinya. Sedangkan mauidzah adalah nasihat yang lembut dan diterima oleh hati dengan cara menerangkan tentang pahala atau ancamannya.51
49 Binti Maunah, Metodologi Pengajaran Agama Islam, op.cit., hlm. 73.
50 Binti Maunah, Metodologi Pengajaran Agama Islam, op.cit., hlm. 102.
44
7) Metode Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Targhib ini bertujuan supaya manusia mematuhi ajaran Allah. Sedangkan tarhib adalah berupa ancaman akibat dosa yang telah diperbuat. Targhib dan tarhib dalam pendidikan Islam memiliki perbedaan dengan metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Barat. Perbedaan yang utama ialah targhib dan tarhib bersandar pada ajaran Allah (akhirat), sedangkan ganjaran dan hukuman bersandarkan pada hukum duniawi.52
Menurut Tulus, terdapat empat hal yang dapat mempengaruhi dan membentuk karakter disiplin individu, yaitu:53
1) Mengikuti dan menaati peraturan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur tindakan individunya. Hal ini sebagai kelanjytan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan yang kuat.
2) Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa karakter disiplin dianggap penting untuk kebaikan dan kesuksesan dirinya. Kesadaran diri juga dapat menjadi motivasi kuat terwujudnya karakter disiplin.
52 Binti Maunah, Metodologi Pengajaran Agama Islam, op.cit., hlm. 76-77.