BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembentukan Model
Penelitian ini menggunakan analisis Partial Least Square (PLS) dengan bantuan software smartPLS2. Pada analisis PLS pembentukan model merupakan hal yang penting karena jika pembentukan model salah maka data yang ada tidak dapat diolah, sehingga perlu dipahami beberapa model dalam menggunakan analisis Partial Least Square (PLS), yaitu :
1. Pembentukan Inner Model 2. Pembentukan Outer Model dan 3. Konstruksi diagram jalur
1. Inner Model
Merancang model struktural (inner model) adalah merancang hubungan antar variabel laten pada Partial Least Square (PLS) dengan didasarkan pada rumusan masalah atau hipotesis penelitian. Hipotesis pada penelitian ini adalah adanya pengaruh antara biaya, discrepancy fee, kemungkinan gagal buyer, hubungan
dengan importir dan pemilikan anak cabang perusahaan terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit. Berdasarkan hal tersebut, inner model dibentuk secara formatif untuk mengetahui pengaruh dari variabel laten eksogen atau variabel tidak terukur yang mempengaruhi terhadap variabel laten endogen atau variabel tidak terukur yang dipengaruhi. Maka inner model pada penelitian ini merancang model untuk mengetahui pengaruh variabel laten eksogen yaitu biaya, discrepancy fee, kemungkinan gagal buyer, hubungan dengan importir dan pemilikan anak cabang perusahaan terhadap variabel laten endogen yaitu keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit.
Penentuan variabel laten eksogen didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu dari segi kelemahan pada transaksi letter of credit dan syarat yang harus dipenuhi eksportir untuk memitigasi resiko pada transaksi non letter of credit. Variabel laten eksogen biaya, discrepancy fee dan kemungkinan gagal buyer merupakan kelemahan dari transaksi letter of credit, sedangkan hubungan baik dengan importir dan pemilikan anak cabang perusahaan merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh eksportir untuk memitigasi resiko pada transaksi non letter of credit. Adapun inner model pada penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 6. Inner Model
2. Outer Model
Merancang model pengukuran (Outer Model) yaitu merancang hubungan variabel laten dengan indikatornya. Dalam penelitian ini, indikator tiap-tiap variabel laten bersifat refleksif dengan 5 variabel laten eksogen yaitu, biaya, discrepancy fee, kemungkinan gagal buyer, hubungan dengan importir dan pemilikan anak cabang perusahaan. Variabel laten endogen dalam penelitian ini adalah keputusan eksportir kopi dalam menggunakan transaksi non letter of credit. Dimana masing-masing variabel laten eksogen dan endogen diberikan indikator pengukurannya, berkaitan dengan variabel yang akan diukur, dimana indikator-indikator tersebut dijadikan butir-butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner guna mengetahui besarnya pengaruh variabel laten eksogen terhadap variabel laten
Keputusan Eksportir Kopi menggunakan transaksi non L/C (K) Discrepancy fee Biaya (B) Pemilikan Anak Cabang Perusahaan (P) Hubungan dengan importir (H) Kemungkina n gagal buyer (G)
endogen serta dapat menjawab hipotesis penelitian. Berikut adalah outer model dari masing-masing variabel laten eksogen dan endogen :
Pada variabel laten endogen, yaitu keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit menggunakan 3 indikator yaitu efisiensi waktu, efisiensi biaya dan kepopuleran transaksi non letter of credit. Efisiensi waktu dijadikan indikator karena pada dasarnya eksportir selaku penjual akan memilih proses penjualan yang simpel dan efisien waktu sehingga mereka dapat dengan cepat mendapatkan pembayaran yang kemudian dapat langsung dijadikan modal pada proses ekspor berikutnya, terlebih pada eksportir kecil. Efisiensi biaya dijadikan indikator karena setiap eksportir akan melakukan prinsip ekonomi, yaitu dengan pengorbanan (biaya, waktu dll) sekecil-kecilnya dapat menghasilkan output yang sebesar-besarnya, maka keuntungan yang diinginkan dapat tercapai. Kepopuleran transaksi non letter of credit dijadikan indikator karena peneliti tidak menemukan adanya eksportir kopi yang menggunakan transaksi letter of credit sehingga indikator ini tepat dijadikan sebagai pengukuran. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7. Outer Model Variabel Keputusan Eksportir Kopi Menggunakan Transaksi Non Letter of Credit
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Efisiensi Waktu (K1) Efisiensi Biaya (K2) Kepopuleran transaksi non L/C (K3) Keputusan Eksportir Kopi menggunakan transaksi non L/C (K)
Pada variabel laten eksogen biaya menggunakan 4 indikator yaitu biaya negosiasi/komisi, biaya discrepancy, biaya yang besar pada transaksi letter of credit dan biaya yang murah pada transaksi non letter of credit. Transaksi letter of credit dikenal dengan transaksi ekspor besar biaya, adapun beberapa dari biaya-biaya tersebut adalah biaya-biaya negosiasi dan biaya-biaya discrepancy, kedua biaya-biaya ini dijadikan indikator karena biaya-biaya ini merupakan biaya yang dikenakan oleh bank kepada eksportir pada transaksi letter of credit, dimana biaya-biaya tersebut dirasa sangat memberatkan eksportir karena berdampak pada keuntungan perusahaan. Sementara indikator, biaya yang besar pada transaksi letter of credit dan biaya yang murah pada transaksi non letter of credit dijadikan indikator karena kedua hal ini merupakan pertimbangan utama eksportir dalam memilih transaksi ekspor kopi. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 8.
Gambar 8. Outer Model Variabel Biaya
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Biaya Discrepancy L/C (B2)
Biaya besar pada transaksi L/C (B3)
Biaya (B)
Biaya Negosiasi L/C (B1)
Biaya murah pada transaksi non L/C (B4)
Pada variabel laten eksogen discrepancy fee menggunakan 4 indikator yaitu resiko terjadinya discrepancy, resiko terlambat pembayaran, waktu koreksi discrepancy yang panjang dan pengurangan pembayaran akibat discrepancy. Keempat hal tersebut dijadikan indikator dikarenakan transaksi letter of credit sangat sensitif terhadap discrepancy, dimana hal ini menjadi kelemahan dari transaksi letter of credit itu sendiri. Jika terjadi discrepancy atau penyimpangan dalam dokumen, maka eksportir dapat dikenakan denda dan hal ini otomatis akan mengurangi pembayaran atas ekspor yang diterima eksportir, sementara waktu pengecekan discrepancy yang relatif panjang berisiko menyebabkan pembayaran terlambat dan eksportir terhambat untuk mempersiapkan ekspor berikutnya dikarenakan pada umumnya pembayaran yang diperoleh dari transaksi ekspor sebelumnya merupakan modal bagi eksportir untuk dapat mempersiapkan transaksi ekspor berikutnya. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 9.
Gambar 9. Outer Model Variabel Discrepancy Fee
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Terlambatnya pembayaran akibat discrepancy (D2)
Waktu koreksi discrepancy (D3) Discrepancy Fee (D) Resiko Discrepancy (D1) Discrepancy mengurangi pembayaran (D4)
Pada variabel laten eksogen kemungkinan gagal buyer menggunakan 4 indikator yaitu gagal buyer yang diakibatkan expired letter of credit, gagal buyer yang diakibatkan discrepancy, gagal buyer yang diakibatkan kesalahan pihak bank terkait dan gagal buyer yang diakibatkan ketidaksesuaian barang. Keempat hal tersebut dijadikan sebagai indikator karena merupakan beberapa kelemahan lain dari transaksi letter of credit, transaksi letter of credit memiliki tangal kadaluarsa, dimana apabila dokumen tidak dikirim atau melewati tanggal yang telah ditentukan dalam letter of credit, importir dapat membatalkan perjanjian bisnis. Discrepancy yang tidak dapat diterima oleh importir menjadi salah satu penyebab kegagalan pada transaksi ekspor, dimana kesalahan ini dapat diakibatkan dari kesalahan pihak bank yang tidak teliti dalam melakukan pengecekan dokumen sehingga terjadi penyimpangan. Hal ini menjadi pertimbangan bagi eksportir kopi untuk melakukan transaksi non letter of credit. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 10.
Gambar 10. Outer Model Variabel Kemungkinan Gagal Buyer
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Gagal buyer dikarenakan expired L/C (G1) Gagal buyer dikarenakan
Discrepancy (G2) Gagal buyer diakibatkan
kesalahan pihak bank terkait (G3) Gagal buyer karena ketidaksesuain barang
(G4) Kemungkinan
Pada variabel laten eksogen, hubungan dengan importir menggunakan 4 indikator yaitu hubungan yang baik dengan importir, seringnya keberhasilan transaksi non letter of credit, kepercayaan terhadap importir dan kepuasan dalam bertransaksi non letter of credit. Keempat indikator tersebut dijadikan pengukuran karena keempat hal diatas merupakan beberapa syarat yang sebaiknya dapat dipenuhi oleh eksportir kopi untuk memperkecil resiko terjadinya kegagalan dalam ekspor kopi pada transaksi non letter of credit atau dengan kata lain hal ini dapat menjadi jaminan bagi eksportir dan importir bahwa kegiatan ekspor-impor yang mereka lakukan dapat berjalan dengan lancar. Hubungan yang baik dapat ditandai dengan kepercayaan dan seringnya keberhasilan dalam berbisnis menggunakan transaksi non letter of credit. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 11.
Gambar 11. Outer Model Variabel Hubungan Dengan Importir
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Pada variabel laten eksogen, pemilikan anak cabang perusahaan menggunakan 3 indikator yaitu pemilikan anak cabang perusahaan di negara tujuan ekspor,
Hubungan dengan importir
(H)
Hubungan baik dengan importir (H1) Seringnya keberhasilan transaksi non L/C (H2) Kepercayaan terhadap importir (H3) Kepuasan dalam bertransaksi non L/C (H4)
kemudahan karena pemilikan anak cabang perusahaan dan kecilnya resiko gagal dikarenakan pemilikan anak cabang perusahaan. Pemilikan anak cabang perusahaan merupakan syarat sukses dalam bertransaksi ekspor non letter of credit, selain memiliki hubungan yang baik dengan importir. Hal ini juga memiliki dampak positif yaitu kemudahan dalam melakukan transaksi ekspor kopi. Dengan tercapainya syarat ini transaksi non letter of credit dapat dikatakan hampir tidak akan terjadi kegagalan, karena pada dasarnya importir dan eksportir berada pada satu naungan perusahaan yang sama, namun berbeda negara, pengiriman barang yang terjadi antara kedua perusahaan ini dikatakan sebagai kegiatan ekspor karena mengeluarkan barang dari dalam negeri ke luar negeri. Adapun outer model pada variabel ini ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 12. Outer Model Variabel Pemilikan Anak Cabang Perusahaan
(Sumber : wawancara dari pihak Bank Mandiri)
Pemilikan Anak Cabang Perusahaan (P)
Pemilikan anak cabang perusahaan di negara tujuan
ekspor (P1)
Kemudahan dikarenakan pemilikan anak cabang
perusahaan (P2) Kecilnya resiko gagal dikarenakan pemilikan anak
3. Konstruksi Diagram Jalur
Setelah menentukan inner model dan outer model, langkah selanjutnya adalah mengkonstruksi diagram jalur. Konstruksi diagram jalur merupakan tahapan yang penting pada analisis Partial Least Square (PLS), jika konstruksi diagram jalur salah maka data yang ada tidak dapat diolah. Konstruksi diagram jalur yang benar ditandai dengan perubahan warna dari merah menjadi biru pada software smartPLS2. Diagram jalur harus disesuaikan dengan perancangan inner model (variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen) dan outer model (variabel laten dengan indikatornya) agar dapat menjawab identifikasi masalah atau hipotesis penelitian. Dengan demikian konstruksi diagram jalur merupakan gabungan dari outer model dan inner model dalam satu jalur. Adapun konstruksi diagram jalur pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Konstruksi Diagram Jalur
Setelah konstruksi diagram jalur ditentukan, langkah selanjutnya adalah mengkonversikan diagram jalur kedalam bentuk persamaan. Bentuk diagram jalur untuk PLS dipandang secara umum dapat dilihat pada Gambar 14.
Discrepancy Fee (D) Biaya (B) Pemilikan Anak Cabang Perusahaan (P) Hubungan dengan importir (H) Kemungkina n gagal buyer (G) Keputusan Eksportir Kopi menggunakan transaksi non L/C (K) K1 K2 K3 P1 P2 P3 B1 H2 H3 H4 B4 B2 B3 H1 D1 D2 D3 D4 G1 G2 G3 G4
γ1
λX1 λX2 λX3 λX4 λY1 λY2 λY3
Gambar 14. Konstruk Diagram Jalur Dengan Dua Variabel Dimana :
ξ = Ksi, variabel laten eksogen η = Eta, variabel laten endogen
λ= Lamda, loading faktor variabel laten eksogen
λ= Lamda, loading faktor variabel laten endogen
γ = Gamma, koefisien pengaruh variabel eksogen terhadap endogen X= indikator variabel eksogen
Y = indikator variabel endogen
= Delta, galat pengukuran pada variabel laten eksogen = Epsilon, galat pengukuran pada variabel laten endogen
Maka diperoleh persamaan untuk outer model dan inner model pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
η1
ξ1
X1 X2 X3 X4 Y1 Y2 Y3
1. Outer model
Untuk variabel keputusan eksportir menggunakan transaksi non L/C : K1 = λK1 ξK + K1
K2 = λK2 ξK + K2 K3 = λK3 ξK + K3 Untuk variabel Biaya : B1 = λB1 ξB + B1 B2 = λB2 ξB + B2 B3 = λB3 ξB + B3 B4 = λB4 ξB + B4
Untuk variabel Discrepancy fee : D1 = λD1 ξD + D1
D2 = λD2 ξD + D2 D3 = λD3 ξD + D3 D4 = λD4 ξD + D4
Untuk variabel Kemungkinan Gagal Buyer : G1 = λG1 ξG + G1
G2 = λG2 ξG + G2 G3 = λG3 ξG + G3 G4 = λG4 ξG + G4
Untuk variabel Hubungan dengan importir : H1 = λH1 ξH + H1
H2 = λH2 ξH + H2 H3 = λH3 ξH + H3
H4 = λH4 ξH + H4
Untuk variabel Pemilikan Anak Cabang Perusahaan : P1 = λP1 ξP + P1
P2 = λP2 ξP + P2 P3 = λP3 ξP + P3
2. Inner model
Untuk variabel laten biaya terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit :
K = γB ξ B
Untuk variabel laten discrepancy fee terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit :
K = γD ξ D
Untuk variabel laten kemungkinan gagal buyer terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit :
K = γG ξ G
Untuk variabel laten hubungan dengan importir terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit:
K = γH ξ H
Untuk variabel laten pemilikan anak cabang perusahaan terhadap keputusan eksportir kopi menggunakan transaksi non letter of credit :
K= γP ξ P Dimana : B = Biaya
G = Kemungkinan Gagal Buyer H = Hubungan dengan importir
P = Pemilikan Anak Cabang Perusahaan