Bab IV: Peran Teuku Nyak Arif Pasca kemerdekaan
PERJUANGAN TEUKU NYAK ARIF PASCA KEMERDEKAAN A.Perjuangan Teuku Nyak Arif Pasca kemerdekaan
B. Proklamasi Kemerdekaan di Aceh
3. Pembentukan Pemerintah Republik Indonesia di Daerah Aceh
77
sebagai modal dasar untuk menggedor gudang-gudang senjata Jepang yang masih terkunci rapat.17
Pada tanggal 10 Oktober 1945 Pemerintah Jepang Mayor Omuro Syo Sa segera mengirim pasukan Batalyon tempur ke Aceh. Tugas yang diberikan kepada Batalyon Jepang untuk merebut kambali dan menguasai Aceh serta merampas kembali senjata-senjata Jepang yang jatuh ketangan API dan TKR.
Pada tanggal 24 Desember 1945 terjadi pertempuran sengit di Kuala Simpang. Satu Batalyon Jepang datang dari Medan menuju Aceh. Mereka mengemban misi dari Sekutu untuk merampas kembali senjata-senjata TKR dan Pejuang Indonesia didaerah Aceh. Rencana demi rencana dilakukan oleh beberapa kelompok pejuang Aceh untuk menyerbu gudang-gudang persenjataan Jepang di beberapa tempat. maka terjadilah peristiwa-peristiwa heroik yang tidak lepas dari jatuhnya korban jiwa dalam menghadapi Jepang. Beberapa peristiwa perebutan senjata itu antara lain Meulaboh, Lhoknga, Krueng Panjo, Langsa.18
3. Pembentukan Pemerintah Republik Indonesia di Daerah Aceh
Meskipun berita Proklamasi Kemerdekaan telah tersebar luas di daerah Aceh sejak akhir Agustus-September 1945, namun Pemerintah RI yang definit baru terbentuk dan digerakkan di sana sejak tanggal 13 Oktober 1945, yaitu setelah keluarnya pengumuman resmi Gubernur
17
Sjarif Thajeb Amran Zamzami Pecut Meurah Intan Srikandi Nasional Dari Tanah Rencong
(Jakarta: Yayasan TP Aceh, 1987), 185
18
Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 64.
78
Sumatera yang menyatakan bahwa: “Pemerintah Negara Repoeblik Indonesia moelai dengan resmi dijalankan dengan Poelaoe Soematera, dengan pengangkatan Residen seloeroeh dan staf Goebernoer dengan pergoenakan kekoeasaan yang diberikan Presiden Negara Repoeblik Indonesia”.19
Sehubungan dengan diatas, pada bulan Septemebr 1945 Teuku Nyak Arif dalam kedudukannya selaku Atjeh-Syu Sangikai-tyo, telah membuat surat Perintah kepada Teuku Panglima Polem Moh. Ali (Panglima Sagi XXII Mukim Aceh Besar) untuk memenuhi Atjeh Syu Sei Tyo Somubu-tyo (Kepala Urusan Pemerintahan umum pada kantor keresidenan Aceh). Dalam surat itu Teuku Nyak Arif meminta agar Somubu Tyo menghadap Atjeh Syu Tjokan (Residen Aceh) S. Lino untuk membicarakan penyerahan pemerintahan dari Jepang kepada Teuku Panglima Polem. Ditegaskan juga melalui Panglima Polem, bahwa sejak waktu itu Teuku Nyak Arif tidak bersedia mengadakan hubungan dengan Jepang.20
Pada bulan September 1945 semua pegawai bangsa Indonesia bangsa, yang selama ini bekerja pada kantor pemerintahan Jepang di Ibu Kota Kutaraja, disahkan oleh Teungku Ismail Ja’cob menjadi pegawau Pemerintah Republik Indonesia. Langkah selanjutnya yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai kepala Pemerintahan di daerah-daerah seluruh Aceh. Pemerintah pusat Negara Republik Indonesia, Gubernur Sumatera juga menetapkan sejumlah peraturan yang
19
Mardanas Pahlawan Nasional, 187.
20
ibid., 227.
79
seharusnya menjadi wewenang pemerintah pusat, seperti: Peraturan Pembentukan Dewan Perwakilan Sumatera (tanggal 12 April 1946, no. 8/M.G.S), Peraturan Gaji Pegawai Negeri di Sumatera (PGS 1946, tanggal 22 Juli 1946, no. 128 a), Peraturan tentang pengeluaran uang atau tanda pembayaran resmi di Sumatera (tanggal 8 April 1947, no.92/K.O).21
Sejak 13 Oktober 1945, berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatera dari Negara republik Indonesia no. 1/X, Teuku Nyak Arif selaku Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh telah banyak berperan dalam menggerakkan roda Pemerintah Republik Indonesia disana, diangkat menjadi Residen Aceh. Dalam menjalankan Pemerintah sehari-hari Residen Teuku Nyak Arif dibantu oleh wakil Residen T. Mohd. Ali Panglima Polem dan Badan Eksekutif Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Istimewa Aceh, Teuanku Mahmud (Wakil Ketua).
Dengan lahirnya API di Daerah Aceh maka dasar yang kuat untuk tumbuhnya tentara resmi Negara Republik Indonesia. Pada bulan September 1945, mantan anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda) juga membentuk polisi di Kutaraja. Pada tanggal 4 Oktober 1945 organisasi IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) juga ikut serta dalam mempertahankan daerah Aceh dari serangan Penjajah, kemudian pada tanggal 6 Oktober organisasi IPI digantikan menjadi BPI (Barisan Pemuda Indonesia).
21
T. Ibrahim Alfian, Zakariya Ahmad,dkk Revolusi Kemerdekaan Indonesia Di Aceh Tahun
(1945-1949) (Daerah Istimewa Aceh: Deartemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Pemuseuman Daerah Aceh, 1982), 42
80
Pada tanggal 9 Oktober 1945 Teuku Nyak Arif, selaku Residen Aceh dari Negara Republik Indonesia memerintahkan agar API sebagai dasar dari Tentara Republik Indonesia dan harus disempurnakan, sehingga membentuk kepada organisasi ketentaraan yang lengkap. Pada tanggal 12 Oktober 1945 Residen Teuku Nyak Arif yang berpangkat Jenderal Mayor Tituler melantik organisasi API yang telah mendapatkan hak penting bagi sistem pemerintahan di Aceh. Pada tanggal 1 Desember 1945 organisasi API berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Sejalan dengan keputusan Pemerintah Pusat pada tanggal 6 Januari 1946 TKR berubah nama menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia).22
22
Ibid.,55.
BAB V PENUTUP
1. Kesimpulan
1. Teuku Nyak Arif dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee-lee, Banda Aceh. Ayahnya bernama Teuku Nyak Banta yang bernama lengkap Teuku Sri Imeum Nyak Banta, Panglima (kepala daerah) Sagi XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Rayeuh, bangsawan di daerah Ulee-lee juga. Bahwa Teuku Nyak Arif adalah seorang bangsawan Aceh karena dari garis keturunan seorang bangsawan. Istri Teuku Nyak Banta yang kedua bernama Cut Nyak Cahaya. Dari istrinya yang kedua ini Teuku Nyak Banta mendapat empat orang anak, yaitu Cut Nyak Ubit, Cut Nyak Tengoh, Cut Nyak Maneh dan Teuku Abdul Hamid. Semenjak masa kanak-kanak Teuku Nyak Arif termasuk anak yang cerdas, berani dan mempunyai sifat yang keras. Teuku Nyak Arif membenci Belanda, karena menganggap bangsa itu penjajah negerinya yang membawa kesengsaraan rakyat Aceh
2. Pada tanggal 26 Maret 1873 mengirimkan ultimatum kepada Raja Aceh, agar Aceh menyerah. Ultimatum ini ternyata di tolak oleh rakyat Aceh, Belanda pun mengirimkan ekspedisi yang dipimpin Jenderal Kohier untuk menyerang Aceh dengan sebutan Agresi Militer Belanda I. Pada tahun 1840 Belanda mengirimkan pasukannya kembali, dibawah pimpinan Mayor Jendral van Swieten, untuk mengusir pasukan-pasukan Aceh yan dinamakan perang Agresi Militer Belanda yang ke II. Namun semua usaha yang dilakukan Belanda untuk menguasai Aceh sia-sia dan
tidak berhasil walaupun dikedua belah pihak menanggung korban jiwa yang tidak sedikit. kemudian pada tahun 1942 Jepang masuk ke wilayah Aceh dengan tujuan untuk mengusir Belanda dan perlawanan itu juga mendapatkan hal positif bagi kaum Aceh yang dimana pada masa itu ingin mengusir Belanda.
3. Pada tanggal 16 Mei 1927 Teuku Nyak Arif diangkat menjadi anggota Volksraad disamping itu Teuku Nyak Arif juga tetap memegang jabatan Residen Aceh selaku Panglima Sagi 26 Mukim. Teuku Nyak Arif diangkat menjadi anggota Volksraad oleh Gubernur Hens, yang pada waktu itu memerintah didaerah Aceh. Sejak pertengahan 1927 Muhammadiyh telah beridiri di kutaraja, Sigli, Lhok Seumawe dan Takengon berkat dukungan dari Residen Aceh Teuku Nyak Arif, banyak organisasi yang disetujui oleh Teuku Nyak Arif demi mempersatukan persatuan untuk mengusir penjajah yaitu, PUSA, API, TKR, IPI. serta keterlibatan Teuku Nyak Arif dalam mengahadapi Perang saudara yakni Perang Cumbok. pada masa itu Teuku Nyak Arif ingin mempersatukan rakyat Aceh hingga melepaskan semua jabatan yang diembannya demi kemaslahatan umat agar tidak terjadi pertikaian sesama rakyat Aceh.
A. Saran
1. Pengkajian tentang sejarah perlawanan tokoh-tokoh pejuang nasional, seperti tokoh pejuang Aceh yaitu Teuku Nyak Arif yang telah penulis susun ini perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan karena melalui perjuangan beliau yang gigih, akhirnya kita dapat merasakan nikmatnya Kemerdekaan ini. Di samping itu jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur
dalam pertempuran yang syahid dan sebagai pelaku peristiwa sejarah sangat besar artinya, sehingga melalui kajian ini kita memperoleh kejelasan tentang peristiwa pada masa lampau dan hasilnya dapat digunakan sebagai pelajaran dalam membentuk kebijaksanaan sejarah dimasa akan datang
2. Kepada rekan-rekan generasi muda, generasi penerus harapan bangsa manfaatkanlah dari istilah kemerdekaan ini, yang telah diperleh dengan susah paya, pengorbanan harta benda dan pengorbanan jiwa raga pahlawan kita. Dengan hal ini yang berguna karena masih banyak kewajiban harus kita patuhi dalam hidup ini dipundak kitalah tanggung jawab negeri ini diteruskan karena kita sebagai generasi muda penerus bangsa.
3. Semoga pengkajian semacam ini dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan oleh rekan-rekan yang lain dengan mengungkapkan tokoh-tokoh pahlawan nasional lainnya karena penulisan semacam ini sangat besar artinya, khususnya untuk menumbuhkan semangat generasi muda dalam rangka mengisi kemerdekaan ini dengan mengharumkan nama negeri ini.
Dengan selesainya skripsi ini, penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan. Dan penulis berharap semoga apa yang sudah dipersembahkan akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi penulis khususnya, dan pembaca pada umumnya
DAFTAR PUSTAKA
A.K. Jakobi, Tgk. Aceh Daerah Modal Long March Ke Medan Area. Jakarta: Yayasan Seulawah RI-001, 1992.
Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999. Abubakar, Said. Berjuang Untuk Daerah Otonomi Hak Azazi Insani. Aceh: Yayasan
Nagasaki Banda Aceh, 1995.
Akira, Nagazumi. Pemberontakan Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang. penerjemah Muchtar, Jakarta : Yayasan obot Indoensia, 1988.
Alfian, Ibrahim. Zakariah Ahmad, at al, Revolusi Kemerdekaan Indonesia Di Aceh 1945-1949. Banda Aceh, 1982.
Alvian, Ibrahim. Perang Di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1987.
Amin, S.M. Kenang-Kenangan Dari Masa Lampau. Jakarta: Pradnya Paramita, 1978. Bakar, Abue. Atjeh Gerakan Salafiyah Indonesia. Jakarta: Permata, 1970.
Banda, H.J. Bulan Sabit Dan Matahari Terbit, Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya,1980.
El Brahimy, Nur. Teungku Muhammad Daud Beureueh. Jakarta: PT. Gunug Agung, 1986. Gaharu, Sjamaun. Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
1995.
Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Ter. Nugroho Noto Susanto, Jakarta: UI Press, 1986. Hasjmy, A. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi
Belanda. Jakarta: Bulan Bintang 1977.
Hasjmy, A. Semangat Merdeka 70 Tahun Menempuh jalan Pergolakan dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta : Bulan Bintang, 1985.
Ibrahim Alfian, T. Metodologi Sejarah dari Babad dan Hikayat Sejarah Kritis Cet. III. Yogyakarta :Gadjah Mada University Perss, 1992.
Ibrahim, Muchtarul. Cut Nyak Dien. Jakarta: Depdikbud, 1986. Iskandar, Moetiara. Atjeh Jakarta: Balai Pustaka, 1946.
Joenoes Jamil, M. Riwayat Barisan “F” Fujiwaea Kikan di Aceh. Banda Aceh: Pusat Ilmu Sosial, 1975.
Kamajaya. Lima Putera-puteri Aceh Pahlawan Nasional. Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1981. Kartodirjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : PT.
Gramedia, 1997.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah Cet. III. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999. Machmud, Anas. Kedaulatan Aceh yang Tidak Pernah Diserahkan Kepada Belanda Adalah
Bahagian dari Kedaulatan Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
Mawar, Siti. Teuku Nyak Arif Pahlawan Aceh Tiga Zaman. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2013.
Meuraxa, Dada. Peristiwa Berdarah di Aceh. Medan: Pustaka Sadar, 1957.
Nasution, A. H. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesi. Bandung: Disjarah AD dan Angkasa, 1977.
Notosusanto, Nugroho. Tentara Peta Pada Jaman PendudukanJepang Di Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1979.
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Perang Kolonial Belanda DI Aceh. Bandung : P.T. Harapan Offset 1977.
Rahman, Putera. Kegiatan Inteligence dari masa ke masa stensil. Jakarta: Balai Pustaka 1959.
Safwan, Mardanas. Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif. Jakarta: Balai Pustaka 1992.
Sagium, M.D. Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Fasisme Jepang. Jakarta: Inti Idayu Press, 1985.
Said, Muhammad. Aceh Sepanjang Abad. Medan: 1980.
Saleh, Hasan. Mengapa Aceh Bergolak Bertarung Untuk Kepentingan Bangsa dan Bersabung Untuk Kepentingan Daerah. Jakarta : Pustaka Grafiti 1992.
Sjarif Thajeb, Sjamaun. Amran Zamzami. Pecut Meurah Intan Srikandi Nasional Dari Tanah Rencong. Jakarta: Yayasan TP Aceh, 1987.
Suny, Ismail. Bunga Rampai Tentan Aceh. Jakarta: Bharata Karya Aksara, 1980.
Suparno, Sejarah Indonesia V Perang Aceh Hingga Negara Merdeka Untuk SMA. Jakarta: Sari Pers, 1957.
Talsya. Batu Karang di Tengah Lautan. Banda Aceh: Penerbit Lembaga Sejarah Aceh, 1990.
Van’t Veer, Paul. Perang Belanda di Aceh. Penerjemah Abubakar Dinas P dan K Tingkat I
Propinsi Aceh.
Wiryosaputro, Sucipto. Sejarah Indonesia. Jakarta: Indira, 1960.
Zainuddin, H.M. Srikandi Aceh. Medan: Pustaka Iskandar Muda , 1966. Zamzani, Amran. Jihad Akbar di Meda Area. Jakarta: Bulan Bintang, 1990.