Untuk memastikan panduan GLS disusun dengan baik dan berjalan sesuai harapan, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad membentuk Satuan Tugas (Satgas) GLS. Ada empat tugas yang diemban Satgas GLS sesuai SK Dirjen Dikdasmen Nomor 35/D/ KEP/TU/2016 yang terbit pada 22 Januari 2016. Pertama, melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait literasi dari tingkat pusat hingga satuan pendidikan. Kedua, mengimplementasikan literasi sekolah sesuai dengan Panduan Pelaksanaan Literasi Sekolah yang telah disusun oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketiga, Melakukan promosi literasi sekolah menggunakan berbagai media. Keempat, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program literasi sekolah yang telah berjalan.
Anggota Satgas terdiri dari unsur birokrat, akademisi, pegiat literasi, dan lembaga swadaya masyarakat16. Keragaman unsur ini mengisyaratkan komitmen dalam menjalankan program-program pendidikan melalui jalur gerakan.
Dalam perjalanannya, kegiatan yang dilakukan beberapa personel di luar Ditjen Dikdasmen turut mendukung pelaksanaan GLS. Soie Dewayani, misalnya, melakukan pelatihan kepada guru SD kelas rendah di Bandung yang merupakan kegiatan rutin yayasannya. Ia juga membuat dan menerbitkan buku-buku cerita anak, beberapa di antaranya mendapatkan penghargaan di luar negeri.
Roosie Setiawan, yang selama bertahun-tahun berkampanye tentang pentingnya read aloud (membaca nyaring) kepada orang tua dan guru melalui pelatihan-pelatihan dan radio, kini terus bergerilya mengampanyekan read aloud di kalangan guru.
Wien Muldian, Ketua Dewan Perpustakaan Jakarta yang merupakan aktivis perbukuan sebelum jadi PNS di Kemendikbud, masih membangun jejaring dengan aktivis dan relawan literasi
di berbagai daerah. Luasnya jaringan dan kokohnya jalinan emosi dengan para pegiat Taman Bacaan Masyarakat memudahkan GLS dalam pelibatan pegiat literasi di daerah.
Pratiwi Retnaningdyah dan Kisyani merintis Pusat Studi Literasi (PSL) di Unesa. Keberadaan PSL sangat penting dalam mendorong mahasiswa dan dosen melakukan penelitian-penelitian terkait literasi sekolah. Diharapkan ke depan Perguruan Tinggi menjadi penyangga bagi kegiatan literasi di berbagai daerah, di antaranya melakukan pendampingan terhadap sekolah.
Pangesti Wiedarti, dengan beragam keterlibatan dalam sejumlah program bersama Badan Bahasa, Puskurbuk, dan Pendidikan Tinggi, mampu menjalin kesinambungan dan elaborasi antara GLS dengan Kurikulum 2013 serta pengembangan kerja sama antarlembaga.
Di lingkungan Ditjen Dikdasmen, GLS dimasukkan ke dalam sejumlah program kegiatan, baik berupa sosialisasi maupun bimbingan teknis. Disamping Program Indonesia Pintar dan Bantuan Operasional Sekolah, GLS merupakan program andalan yang wajib disosialisasikan dalam berbagai kegiatan.
Sosialisasi
Sosialisasi GLS ke publik tidak dimulai saat buku panduannya selesai dibuat—Maret 2016. Sosialisasi dilakukan dua bulan sebelumnya, tepatnya pada 27 Januari 2016.
Pada tanggal itu, di Gedung Ki Hadjar Dewantara lantai 3 Kompleks Kemendikbud Senayan Jakarta, DKI Jakarta mendeklarasikan diri sebagai provinsi literasi. Mendikbud Anies Baswedan direncanakan hadir membuka acara. Salah satu rangkaian acara adalah penyerahan Panduan GLS secara simbolis dari Dirjen Dikdasmen kepada Mendikbud. Kendati kemudian Mendikbud
tidak dapat hadir dan diwakili oleh Sekretaris Jenderal, buku Desain Induk GLS dan Panduan GLS tiap satuan pendidikan diserahkan secara institusional dari Ditjen Dikdasmen kepada Kemendikbud17.
Sosialisasi berikutnya saat acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, Depok, Jawa Barat, pada 21 – 23 Februari 2016. Saat itu, karena dirasa Desain Induk dan panduan lain belum sempurna tata letaknya (lay out), sosialisasi dilakukan melalui penerbitan Buku Saku GLS. Buku ini merupakan intisari Desain Induk. Selain itu, standing banner GLS diletakkan di sejumlah sudut gedung lokasi acara.
Desain Induk dan Panduan GLS tiap satuan pendidikan dicetak dan disosialisasikan secara utuh ketika penyelenggaraan Workshop GLS. Acara yang mengundang 34 Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, 33 Kepala LPMP, dan 514 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Indonesia ini digelar dalam lima angkatan18.
Ada beberapa hal unik dalam workshop ini. Pertama, dalam tiap acara, selain menampilkan narasumber internal, diundang pula narasumber dari luar Kementerian, yaitu guru/kepala sekolah pelaksana GLS dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota percontohan literasi19.
Kedua, pada sesi terakhir digelar diskusi kelompok dan presentasi. Peserta dibagi dalam enam kelompok. Tiap kelompok merumuskan rekomendasi kegiatan yang dapat dilakukan oleh Pusat dan Daerah untuk mendukung pelaksanaan GLS. Diskusi seperti ini mengadopsi model diskusi yang diterapkan pada RNPK.
Setidaknya ada dua hal pokok dukungan GLS yang ditekankan kepada para peserta sekembali ke daerah masing-masing. Pertama, pengalokasian dana dalam APBD. Kedua, pembuatan regulasi dalam bentuk Peraturan Wali Kota/Bupati dan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan. Setelah kembali ke daerah masing-masing, beberapa Dinas Pendidikan mengabarkan tengah menyusun Peraturan Wali Kota/Bupati dan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan yang
dibingkai dalam deklarasi kabupaten/kota literasi.
Sosialisasi GLS yang tergolong strategis juga dilakukan pada saat pelatihan instruktur Kurikulum 2013, mulai dari Narasumber Nasional, Instruktur Nasional, Instruktur Provinsi, Instruktur Kabupaten/Kota, hingga Guru Sasaran. Program GLS masuk sebagai materi umum dengan durasi 2 jam pelajaran (90 menit).
Sekolah rujukan mendapatkan porsi perhatian yang lebih. Setiap direktorat menyelenggarakan bimbingan teknis terhadap sekolah rujukan yang tersebar se-Indonesia. Mereka mendapatkan sosialisasi, pelatihan, dan kucuran dana agar GLS dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing.
Sekolah rujukan dipilih karena amanat yang ditanggungnya. Mereka wajib mengimbaskan program Pemerintah kepada sekolah- sekolah di sekitarnya.
Pada semester II, sosialisasi GLS dilakukan dalam kegiatan yang sangat beragam, baik dalam bentuk bimbingan teknis, festival dan lomba, maupun stan pameran. Undangan dari berbagai instansi dan lembaga juga berdatangan dalam bentuk seminar dan pelatihan, di antaranya organisasi guru, asosiasi penerbit, dinas pendidikan, dan perguruan tinggi. Undangan yang bersifat kebijakan biasanya dipenuhi oleh Dirjen Dikdasmen atau Sekretaris Ditjen. Sedangkan undangan untuk mengisi pelatihan dan hal teknis lainnya digawangi anggota Satgas GLS. Hal ini mengindikasikan antusiasme berbagai pemangku kepentingan terhadap GLS begitu tinggi.
Di akhir tahun, sejumlah rektor dan kementerian diundang20. Program GLS membutuhkan dukungan luas agar bisa berjalan optimal. Dari perguruan tinggi, bentuk dukungan yang diharapkan antara lain pendirian Pusat Studi Literasi, penelitian skripsi/tesis/ disertasi mengenai literasi, dan Kuliah Kerja Nyata bertema literasi. Dari Kementerian Perhubungan diharapkan menyediakan area baca di tiap stasiun dan bandar udara. Kementerian Agama diharapkan menduplikasi program GLS menjadi Gerakan Literasi Madrasah.
Kementerian Keuangan, melalui Lembaga Pengembangan Dana Pendidikan (LPDP), diharapkan membuka beasiswa S-2 dan S-3 dalam dan luar negeri untuk program studi literasi. Sedangkan Kementerian Dalam Negeri diharapkan membuat penghargaan Adiliterasi, yaitu anugerah yang diberikan kepada daerah yang berkontribusi membangun gerakan literasi21.