1. Pegendalian hama penggerek buah kakao dengan cara pemberian kondomisasi/sarungisasi
1. Tujuan
1) Menjaga kelembaban buah kakao.
2) Menjaga agar tidak mudah terserang penyakit. 3) Meningkatkan produksi buah kakao.
2. Dasar teori
Kondomisasi yaitu pemasangan kantong plastik dengan bagian bawah terbuka untuk ruang udara pada pentil buah yang masih muda (panjangnya 7 cm atau lebih kecil) sangat efektif untuk menghindari serangan penggerek buah kakao dan penghisap buah dan pucuk kakao.
Dengan mempersiapkan alat dan tenaga kerja yang terampil dapat membungkus buah kakao guna untuk menghindari serangan penyakit (Badan litbang pertanian, 2003).
c. Alat dan bahan
Alat : kantong plastik gula, karet gelang, bambu kecil, gergaji, datongkat pendorong.
Bahan : - d. Prosedur kerja
1) Menyediakan alat yang akan di gunakan
2) Menentukan besar buah kakao yang akan di bungkus
3) Memasukkan plastik tersebut pada buah kakao yang umurnya sekitar 3 - 4 minggu dan mengikat atau menstaples plastik tersebut dipangkal buah kakao.
e. Hasil yang dicapai
Standar : 22 pohon / HKO Hasil : -
2. Pengendalian hama kepik penghisap buah kakao (Helopeltis antoni sign) dengan cara pemberian sarang semut
a. Tujuan.
Pemberian sarang semut agar menjadi predator pada hama Helopeltis dan kutu putih dan hama penggerek buah kakao.
b. Dasar teori.
Semut angkrang adalah predator yang menjaga pohon-poho n dalam kawasan sarang untuk memburu mangsa. Mereka hidup di
pohon dan jarang turun ke permukaan tanah. Bila antar pohon di beri jembatan misalnya dari bambu daya jelajah semut angkrang dapat mencapai lebih dari 50 m semut ini cukup perkasa karena dapat memburu lebah, kumbang besar segala macam larva, kadal kecil dan lain- lain (Badan litbang pertanian, 2003 ).
Dengan pembuatan sarang semut dapat mengurangi serangan hama-hama yang menyerang pada buah kakao.
c. Alat dan Bahan
Alat : Tali, Palstik.
Bahan : Seresah, Gula merah d. Prosedur Kerja
1) Persiapan plastik
2) Masukan seresah, gula lalu di ikat di pohon / cabang
3) Membuatkan lubang pada di atas kantong plastik untuk masuknya semut angkrang.
e. Hasil yang dicapai
Standar : 10 Buah Sarang Semut / HKO Hasil : 2 Buah Sarang Semut / HK
3. Pengendalian hama penggerek batang / cabang dengan cara pemangkasan batang yang terserang
a. Tujuan
1) Untuk menghindari serangan hama penggerek batang kakao 2) Meningkatkan produksi tanaman kakao
b. Dasar teori
Gejala serangan hama penggerek batang/cabang :
Ulat ini merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang/cabang. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati (Badan litbang pertanian, 2003).
Cara pengendalian hama penggerek batang/cabang
- Lubang gerekan dibersihkan dan ulat yang ditemukan di musnahkan
- Cara kimiawi : Memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan kearah batang/cabang, kemudian ulatnya dimusnahkan /dibakar.
- Cara pengendalian meliputi lubang gerekan di bersihkan dan ulat yang di temukan di musnahkan.
c. Alat dan bahan Alat : parang Bahan : - d. Prosedur kerja
1) Menyiapkan alat dan bahan 2) Menyiapkan tenaga kerja
3) Mengedintifikasi tanaman yang akan dikendalikan 4) Menentukan waktu pelaksanaan
e. Hasil yang dicapai
Standar : 10 pohon/ HKO Hasil : 1 pohon / HK
4. Pemberantasan penyakit VSD ( Vascular Streak Dieback ) a. Tujuan :
1) Untuk membebaskan tanaman kakao dari meyebarnya serangan penyakit VSD
2) meningkatkan produksi tanaman kakao 3) Mengoptimalkan pertumbuhan kakao kembali b. Dasar Teori
Penyakit VSD disebabkan oleh Oncobasidium theobromae, yang dapat menyerang dipembibitan sampai tanaman dewasa.
Cara pengendalianya yaitu dengan melakukan pemangkasan bentuk yang dapat mengurangi kelembaban dan memberikan sinar matahari yang cukup.
Penyakit-penyakit penting pada tanaman kakao di Indonesia pada umumya hampir menyerang semua bagian tanaman, antara lain penyakit yang menyerang akar, batang, daun. Tidak satu pun dapat luput dari seranga n penyakit (Widya, 2008 ).
- Daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong)
- Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik tiga kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan belang.
- Bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu yang rusak berupa garis kecil ( streak ) berwarna kecoklatan.
Cara Pengendalian penyakit VSD :
- Memotong ranting/cabang yang terserang sampai 30-150 cm. - Tanaman kakao yang masih sehat di beri pupuk NPK 1,5 kali
dosis anjuran.
- Eradikasi : pembongkaran tanaman yang kurang berat. c. Alat dan Bahan
Alat : Gunting, Pisau Bahan : -
d. Prosedur kerja Eradikasi 1) Menyiapkan alat dan bahan
2) Mengidentifikasi tanaman yang akan di pangkas 3) Menyiapkan tenaga kerja
4) Menentukan waktu pelaksanaan 5) Melakukan pembongkaran tanaman
e. Hasil yang dicapai.
Standar : 10 Pohon / HKO Hasil : -
5. Pemberantasan Penyakit Busuk Buah Kakao a. Tujuan :
1. Membebaskan tanaman kakao dari menyebarnya penyakit busuk buah kakao
2. Meningkatkan produksi tanaman kakao
3. Memberantas penyakit yang menyerang untuk mengoptimalkan pertumbuhan kakao kembali.
b. Dasar Teori :
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophora palmivora yang dapat menyerang buah muda sampai masak. Penyebaran penyakit ini dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan. Patogen ini disebarkan oleh angin dan air hujan melalui spora pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan didalam tanah.
Pengendalian penyakit ini di lakukan dengan cara sanitasi kebun, mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang) dan kultur teknis (Badan litbang pertanian, 2003).
Gejala serangan penyakit busuk buah kakao :
- Buah yang terserang nampak bercak-bercak cokelat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah.
- Keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat keseluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk kehitaman
- Apabila buah ditekan dengan jari terasa lembek dan basah. Cara pengendalian penyakit busuk buah kakao :
- Dilakukan dengan sanitasi kebun : memetik semua buah yang busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm.
- Kultur teknis : mengatur pohon pelindung, melakukan pemangkasan pada tanaman sehingga kelembaban akan turun. - Cara kimiawi : penyemprotan dengan fungisida (gondoz,
cuprarit, lobox). Penyemprotan dilakukan 2 minggu sekali. c. Alat dan Bahan :
Alat : Handsprayer Bahan : -
d. Prosudur kerja
1) Menyiapkan alat dan bahan 2) Menyiapkan tenaga kerja
3) Menyemprotkan Fungisida pada tanaman yang terserang 2 minggu sekali
4) Menentukan waktu pelaksanaan. e. Hasil Yang dicapai
Standar : 10 pohon/HKO Hasil : 2 pohon/ HK
6. Pemberantasan Penyakit Antraknose a. Tujuan :
1) Membebaskan tanaman kakao dari menyebarnya penyakit Antraknose
2) Meningkatkan produksi tanaman kakao
3) Memberantas penyakit yang menyerang untuk mengoptimalkan pertumbuhan kakao kembali.
b. Dasar teori :
Penyakit Antraknose disebabkan oleh oleh jamur Gloeosporioodes yang menyerang buah, pucuk/daun muda dan ranting muda. Pada daun muda nampak bintik-bintik cokelat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati.
Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara memangkas cabang dan ranting yang telah terimpeksi, mengambil buah-buah yang sakit di kumpulkan dan di bakar, melakukan pemupukan serta mengatur naungan (Badan litbang pertanian, 2003).
Gejala serangan penyakit Antraknose :
- Pada buah muda nampak bintik-bintik cokelat yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (Antraknose) - Buah muda yang terserang menjadi layu, kering, dan
- Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya
Cara pengendalian penyakit Antraknose : - Memangkas cabang dan ranting yang terinfeksi - Buah sakit dikumpul dan dibakar
- Pengaturan naungan kakao c. Alat dan Bahan :
Alat : Gunting pangkas Bahan : -
d. Prosudur kerja
1) Menyiapkan alat dan bahan 2) Menyiapkan tenaga kerja.
3) Menyemprotkan Fungisida pada tanaman yang terserang 2 minggu sekali.
4) Menentukan waktu pelaksanaan. e. Hasil Yang dicapai
Standar : 10 pohon/HKO Hasil : -
7. Pemberantasan Penyakit Kanker Batang (Phytophora palmivora) a. Tujuan :
1) Untuk membebaskan tanaman kakao dari meyebarnya serangan penyakit kanker batang (Phytophora palmivora)
3) Mengoptimalkan pertumbuhan kakao kembali b. Dasar teori :
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang sama dengan penyebab penyakit busuk buah. penyakit ini dapat terjadi karena patogen yang menginfeksi buah menjalar melalui tangkai buah atau bantalan bunga dan mencapai batang atau cabang (Badan litbang pertanian, 2003).
Pengendalian penyakit ini dapat di lakukan dengan mengupas kulit batang yang membusuk sampai batas kulit yang sehat, luka kupasan di oles dengan pungisida tertentu.
Gejala serangan penyakit kanker batang :
- Bagian batang/cabang menggembung berwarna lebih gelap/kehitam- hitaman dan permukaan kulit retak.
- Batang/cabang tersebut membusuk dan basah serta terdapat cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. - Penyakit berkembang dengan kelembaban dan curah hujan
yang tinggi.
Cara pengendalian penyakit kanker batang : - Mengelupas kulit batang yang busuk
- Luka kupasan dioles dengan fungisida tertentu
- Apabila tanaman sudah melingkar tanaman sebaiknya dipotong.
c. Alat dan Bahan Alat : Pisau Bahan : - d. Prosudur kerja
1) Menyiapkan alat dan bahan 2) Menyiapkan tenaga kerja
3) Menyemprotkan Fungisida pada tanaman yang terserang 2 minggu sekali
4) Menentukan waktu pelaksanaan e. Hasil Yang dicapai
Standar : 10 pohon/HKO Hasil : 2 pohon/HK
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Permasalahan yang terdapat di Berambai yaitu kurangnya tenaga kerja dan kurangnya pemeliharaan pemangkasan tanaman kakao dan pemangkasan tanaman pelindung sehingga mudah terserang hama dan penyakit.
2. Dalam pelaksanaan PKL mahasiswa mempelajari pembuatan sarang semut dan kondomisasi/sarungisasi yang tidak didapat di bangku kuliah. 3. Memahami teknis penggunaan alat dan bahan yang digunakan dalam Budidaya Tanaman Kakao serta dapat menggunkan alat-alat dengan baik serta melakukan pema ngkasan dan sambung samping dengan terampil. B. Saran
1. Untuk Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan
Semua kegiatan pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) yang dilakukan sudah cukup baik hanya saja perlu perbaikan dalam sistem pelaksanaan kerja yaitu,
Untuk pelaksanaan kegiatan perawatan tanaman kakao sebaiknya disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan untuk budidaya tanaman kakao.
2. Untuk Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) Kegiatan PKL ini dirasakan sangat bermanfaat bagi mahasiswa/i, oleh karena itu menyarankan untuk Politani Samarinda umumnya dan
Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan untuk mengadakan kerja sama dengan pihak perusahaan perkebunan Negeri maupun Swasta bukan hanya dalam hubungan sebagai tempat kegiatan PKL namun lebih mengarah kepada hubungan kerja.