4. Model Pemberdayaan Baru
4.1 Pemberdayaan Berbasis Teknologi Informasi
Pemberdayaan masyarakat adalah memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup manusia atau meningktakan harkat dan martabat manusia. Pemberdayaan berarti mengembangkan kekuatan atau kemampuan (daya), potensi sumber daya manusia agar mampu membela dirinya sendiri.23 Masalah yang paling utama dalam pemberdayaan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat. Masyarakat yang sadar adalah masyarakat yang memahami hak-hak dan tanggung jawabnya sendiri sehingga sanggup membela dirinya dan menentang ketidakadilan yang terjadi padanya.
29 Melalui proses pendampingan masyarakat dapat belajar mengenali kelemahannya dan mengembangkan kemampuannya untuk mengatasi berbagai macam persoalan yang dihadapi. Memahami realitas structural yang menindas dan sadar akan posisinya dalam realitas tersebut. Jika kesadaran masyarakat tumbuh, maka akan tumbuh pula kehendak yang kuat melakukan perubahan dalam rangka memperbaiki kualitas kehidupan sehingga mereka melalui tindakan-tindakan bersama antar masyarakat tersebut.
Masyarakat yang berdaya dan sadar pada akhirnya akan mampu memperbaiki kualitas hidupnya. Perbaikan kualitas hidup masyarakat harus diusahakan oleh mereka sendiri. Manusia atau masyarakat tidak bisa dibangun oleh orang lain. Kemampuan masyarakat inilah yang menjadi indikator penting dalam melihat apakah sebuah pemberdayaan berhasil. Parson mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada: Pertama apakah sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi perubahan sosial yang lebih besar, kedua apakah sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain. Ketiga adalah pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang-orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.24
Melihat berbagai indikator keberhasilan pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi dapat dikategorikan sebagai salah satu alternatif model pemberdayaan beradasarkan kecanggihan teknologi yang mampu
30 meningkatkan minat seseorang yang lebih tinggi dibandingkan pemberdayaan konvensional.
Dalam pengertian yang sederhana, teknologi informasi dapat diartikan sebagai: "Teknologi informatika yang mampu mendukung percepatan dan meningkatkan kualitas informasi, serta percepatan arus informasi ini tidak mungkin lagi dibatasi oleh ruang dan waktu" (J.B. Wahyudi, 1990). Dari pendapat ini terdapat item yang sangat mendasar yaitu: "percepatan dan peningkatan kualitas informasi yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu" kalimat kunci tersebut lebih mengarah kepada kedudukan teknologi informasi secara fungsional, yakni mempercepat akses informasi dan meningkatkan kualitas informasi.
Everett M. Rogers (1986) dalam Communication Technology menyatakan bahwa teknologi biasanya memiliki dua aspek, yaitu perangkat keras (objek materi dan sifatnya), dan aspek perangkat lunak (dasar informasi untuk menggerakkan perangkat keras itu). Sedangkan batasan mengenai teknologi informasi itu, Rogers menyatakan:"Teknologi informasi adalah perangkat keras bersifat organisatoris, dan meneruskan nilai-nilai sosial dengan siapa individu atau khalayak mengumpulkan, memproses, dan saling mempertukarkan informasi dengan individu atau khalayak lain
(Rogers, 1986).
25
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa teknologi informasi merupakan seperangkat fasilitas yang terdiri dari hadware dan
31 software yang dalam prakteknya diarahkan untuk menyalurkan informasi, mendukung informasi dan meningkatkan kualitas informasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat secara cepat dan berkualitas. Berkat teknologi informasi inilah, informasi yang ada di setiap tempat pada detik yang sama dapat dipantau di tempat lain meskipun tempat itu berada di belahan bumi yang lain, atau bahkan di ruang angkasa sekalipun.
Dewasa ini semakin dirasakan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana untuk layanan informasi bagi masyarakat guna mendukung penyelenggaraan program-program pemerintah. Pemerintah bagaimanapun tidak dapat mengkesampingkan keberadaan teknologi informasi karena teknilogi informasi merupakan sarana yang paling efektif untuk menyampaikan atau mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam berbagai bidang.
Teknologi informasi yang difungsikan untuk layanan informasi kepada masyarakat memungkinkan terjadinya pertukaran informasi dalam waktu seketika tanpa dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini tentu akan sangat mendukung suatu disiplin ilmu atau suatu jenis pekerjaan yang memerlukan kecepatan akses informasi seperti jurnalistik atau ekonomi.Jurnalistik merupakan jenis kerja yang mengutamakan aktualitas/ kecepatan; sedangkan pada bidang ekonomi/bisnis percepatan informasi akan membawa pengaruh terhadap perolehan profit atau sebaliknya.
Sudah terbukti secara nyata bahwa bidang pembangunan, perekonomian, bisnis, dan bidang lainnya tidak akan mengalami kemajuan tanpa diimbangi dengan pencapaian kemajuan di bidang teknologi informasi. John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1984) telah memprediksikan akan terbentuknya ekonomi global. Prediksi ini saat ini telah menjadi kenyataan, misalnya saja pada saat ini seseorang yang tengah berada di tengah
32 hutan belantara di pedalaman Kalimantan dapat saja melakukan transaksi dengan rekan bisnisnya yang ada di New York melalui komunikasi dengan telepon satelitnya.26
Oleh karena itu pemanfaatan teknologi informasi untuk layanan informasi kepada masyarakat merupakan suatu keniscayaan. Sebab layanan informasi di masa sekarang ini tidak akan membuahkan hasil yang maksimal jika tidak didukung oleh teknologi informasi. Inilah kaitan erat antara teknologi informasi dengan layanan informasi bagi masyarakat.
Menurut Haag dan Keen teknologi informasi adalah separangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.27 Sedangkan menurut Martin teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.28
Tetapi dalam perjalanan dan berkembangnya teknologi informasi ini ada pro dan kontra didalamnya. Bagaimana banyak yang berpikir bahwa teknologi informasi ini dapat memberikan dampak yang buruk atau negatif bagi masyarakat dan ada juga yang beranggapan bahwa teknologi informasi ini dapat memberikan efek positif bagi masyarakat karena masyarakat seperti dipermudah dalam melakukan sesuatu atau memperoleh informasi.
Internet merupakan salah satu pemanfaatan teknologi informasi yang paling cepat berkembang dan paling banyak diminati untuk pengaksesan informasi. Internet
26 Naisbitt, John, dan Aburdene, Megatrend 2000, Jakarta, Binarupa Aksara,1990
27 Haag, S and Keen P, (1996), “Information Technology, Tomorrow’s Advantage Today”,
28 Martin, E. Wainright; et al. (2005). Managing Information Technology.(5th ed.), Pearson Prentice Hall, New Jersey
33 dapat diartikan sebagai jaringan sistem global (international networking) yang menghubungkan setiap jaringan komputer.
Internet merupakan “dunia baru” yang penuh pesona. Internet merupakan hasil dari hubungan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu memukau sehingga telah banyak digunakan oleh orang-orang di dunia. Perkembangan internet dirasa begitu cepat karena banyaknya variasi program di dalamnya sehingga membuat semua orang terpukau. Program-program yang dimiliki internet pun dinilai multifungsi, selain menyediakan informasi yang mendunia dan up to date, internet juga menyediakan sarana untuk berkomunikasi secara maya yang dapat dilakukan oleh banyak orang dan bahkan dapat mencipatakan suatu realitas kehidupan baru dalam masyarakat.
Di samping internet masih banyak lagi produk teknologi informasi yang dapat diarahkan kegunaan untuk melaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Roger Harris dalam bukunya yang berjudul Information and Communication Technologies for Poverty Alleviation (2004), mencatat sekurangnya 12 strategi pemanfaatan teknologi informasi yang dapat dimaksimalkan dampaknya untuk memberdayakan masyarakat, yaitu:
1. Mendistribusikan informasi yang relevan untuk pembangunan
2. Memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung (disvantaged) dan terpinggrikan (Marginalized)
3. Mendorong usaha mikro
4. Meningkatkan layanan informasi kesehatan jarak jauh (telemedicine)
5. Memperbaiki pendidikan melalui e-learning dan pembelajaran seumur hidup ( Life long learning)
34 6. Mengembangkan perdagangan melalui ecommerce
7. Menciptakan ketataprajaan (governance) yang lebih efisien dan transparan melalui egovernance
8. Mengembangkan kemampuan 9. Memperkaya kebudayaan 10. Menunjang pertanian
11. Menciptakan lapangan kerja (creating employment); dan 12. Mendorong mobilisasi sosial
Secara konseptual Pemberdayaan Konvensional dan Pemberdayaan berbasis IT menggunkan Prinsip yang hampir sama. Bagaimana masih menggunakan menggunkan prinsip seperti Bottom Up, variasi lokal, Desentralisasi, proses belajar, dan keberlanjutan. Tetapi dalam hal ini pemberdayaan berbasis IT ini lebih menganut konsep community driven development yaitu bagaimana pemberdayaan ini digerakan oleh masyarakat itu sendiri dan atas keinginan mereka sendiri ini sangat berbeda dengan pemberdayaan konvensional yang masih berkutat dalam CBD (Community Based
Develpoment) yaitu masyarakat hanya sebagai sasaran dan pelaksana program yang
diberikan oleh pemerintah. Di dalam pemberdayaan berbasis IT kita bisa menemukan kemudahan di dalam perjalanannya karena pemberdayaan berbasis IT ini dapat lebih menghemat waktu dan biaya selain itu juga pemberdayaan ini memiliki kelebihan lain seperti membentuk jaringan sosial baik itu secara internal maupun eksternal dan cakupan dalam pemberdayaan sangat luas karena dalam IT informasi atau pengetahuan sangat global dan berkembang sangat cepat sehingga didalam pemberdayaan berbasis IT tidak hanya fokus dengan memberdayakan masyarakat dari satu sisi tapi dapat memberdyakan dari berbagai sisi atau aspek apalagi di jaman saat ini masyarakat harus di siapkan untuk mengahadapi era globalisasi dan hal itulah yang tidak bisa ditemukan
35 di Pemberdayaan Konvensional. Karena dalam Pemberdayaan Konvensional, pemberdyaan biasanya bersifat kaku dan tidak mempunyai efektivitas dari segi waktu pelaksanaan dan biaya sering terjadinya ketimpangan antara masyarakat dan Pemerintah sebagai pemberi program dengan masyarakat sebagai objek atau penerima program sering terjadi komunikasi yang tidak berjalan dengan baik sehingga apa yang harusnya dibutuhkan masyarakat sering tidak sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemerintah. Tetapi terkadang ada unsur selektivitas dalam pemberdayaan berbasis IT karena tidak semua orang bisa menggunakan teknologi, hanya orang terbatas saja yang dapat menggunakannya. Sehingga dalam pemberdayaan berbasis IT terkesan agak eksklusif karena hal tersebut