BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.11. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir melalui Pendidikan Non Formal
Pada umumnya tuntutan terhadap sebuah program adalah yang mampu memfasilitasi gender untuk dapat berkembang. Gender merupakan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan. Program atau kegiatan yang memberi nilai manfaat secara adil dan proporsional terhadap gender memiliki nilai tambah yang perlu dihargai. Artinya program atau kegiatan mampu memberikan dan memberi peluang untuk berperannya laki-laki dan perempuan secara adil dan seimbang.
Kelompok marginal merupakan faktor penting yang perlu mendapatkan prioritas atas manfaat program atau kegiatan tersebut. Kadang-kadang suatu program atau
kegiatan dipertanyakan segmen masyarakat mana yang akan menerima manfaat utama, dan masyarakat mana yang dirugikan. Kelompok marginal seperti : perempuan, anak-anak, difabel, kelompok minoritas dan orang-orang miskin seringkali dijadikan sebagai obyek suatu program semata, sehingga mereka lebih banyak menderita kerugian daripada memperoleh keuntungan yang diterima dari pembangunan program atau kegiatan yang dibangun. Sementara itu sebagai aktor pembangunan kelompok marginalpun turut andil dalam keberhasilan suatu program, sebab jika kelompok sasaran tidak berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan terhadap program maka secara keseluruhan program dianggap gagal. Untuk itu program dianggap memiliki nilai tambah jika proyek mampu merekrut dan memfasilitasi kelompok-kelompok marginal yang dimaksud.
Kaum perempuan pesisir dalam hal ini menjadi fokus dari kelompok marginal yang perlu diberdayakan dalam bidang ekonomi produktif. Perempuan pesisir sebagai bagian dari sumber daya masyarakat yang tidak ternilai harganya, dan apabila dikembangkan akan memiliki nilai strategis yang semakin penting. Berdampingan dengan sumber daya alam pesisir dan kelautan yang berlum dapat dioptimalkan manajemennya, maka antara sumber daya alam dan perempuan pesisir perlu dipadukan agar menghasilkan kinerja perekonomian yang lebih tinggi nilainya. Sumber daya yang dimiliki masyarakat pesisir perlu digali supaya memberikan kamanfaatan dalam peningkatan taraf hidup melalui pemberdayaan perempuan. Upaya mengeksiskan perempuan pesisir dalam pengelolaan sumberdaya kelautan perlu dilakukan agar diperoleh kemanfaatan bagi hajat hidup masyarakat pesisir. Studi tentang pemberdayaan perempuan pesisir dalam peningkatan program aksi hendaknya segera dapat digulirkan. Kepedulian terhadap aspek penting memberdayakan perempuan pesisir melalui pengembangan pendidikan non formal, yakni dengan pelatihan-pelatihan tertetu, untuk penanganan masalah ketidakberdayaan sosial ekonomi merupakan bagian pembangunan yang strategis. Dengan pendidikan non formal perempuan pesisir mempunyai kamandirian untuk membangun komunitas, sosial ekonomi, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan.
Sumber daya dalam pembangunan yang tidak kalah pentingnya selain sumberdaya manusia yang dilengkapi dengan ketrampilan adalah sumber daya alam dan teknologi Kaum perempuan mempunyai potensi untuk melakukan aksses dalam pembangunan. Sebagian besar perempuan pesisir tidak mempunyai pekerjaan tetap untuk menambah income keluarga sehingga perempuan lebih dapat meningkatkan taraf
hidupnya. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kaum perempuan dapat melakukan apapun (lebih fleksibel) ketika mempunyai ketrampilan untuk msemberdayakan dirinya. Pada gilirannya jumlah kaum perempuan yang relatif banyak, apabila diberdayakan, dibina melalui berbagai jenis ketrampilan merupakan unsur penting dalam kegiatan ekonomi dan dalam upaya membangun perekonomian didaerahnya. Pada dasarnya kaum perempuan merupakan sumber tenaga kerja, bisa menjadi tenaga ahli, pengusaha yang dapat meningkatkan roda perekonomian bagi lingkungan. Untuk itu adanya pelatihan-pelatihan yang berorientasi pada kemampuan menggali potensi daerah/ kearifan lokal dan mengelola sumber daya.
Kaum perempuan pesisir sudah selayaknya mendapat pertolongan supaya dapat memberdayakan dirinya melalui pendidikan non formal. Untuk mengetahui jenis pelatihan-pelatihan yang mereka butuhkan maka perlu menggali potensi yang ada serta kebutuhan untuk meningkatkan potensi serta menajemen baik dalam meproduk maupun pemasarannya. Melalui pendidikan non formal diharapkan ada kesadaran akan eksistensi dirinya, selanjutnya tahu harus bagaimana dan mencari solusi melalui berbagai upaya alternatif sebagai hasil dari proses pendidikan. Sebagaimana dijelaskan oleh Sulistiyani (2005) bahwa menghadapi orang yang tidak tahu akan dirinya melalui proses pemberdayaan, antara lain dengan beberapa tahap menintervensi kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik dan konatifnya. Melalui pendidikan nonformal perubahan kognitif, afektif, pskomotorik dan konatifnya diharapkan akan menhalami perningkatan dan termoivasi untuk mengembangkan usaha produktif secara lebih intens dan produkif. Langkah-langkah ini akan dicoba untuk memberdayakan kaum pesisir agar diperoleh keberdayaan dalam pengembangan kelompok usaha produktif, kelembagaan sosial dan manajemen usaha secara berkelanjutan dan kinerja perekonomian perempuan pesisir dapat meningkat.
Menurut Karl Marx, dalam Husodo (2000) pemberdayaan masyarakat adalah proses perjuangan kaum powerless untuk memperolah surplus value sebagai hak normatifnya. Perjuangan memperoleh surplus value dilakukan melalui distribusi penguasaan faktor-faktor produksi. Dan perjuangan untuk mendistribusikan penguasaan faktor-faktor produksi harus dilakukan melalui perjuangan politik. Kalau menurut Marx, pemberdayaan adalah pemberdayaan masyarakat, maka menurut Fiedmann (1992) pemberdayaan harus dimulai dari rumah tangga. Pemberdayaan rumah tangga adalah pemberdayaan yang mencakup aspek sosial, politik, dan psikologis. Yang dimaksud dengan pemberdayaan sosial adalah usaha bagaimana rumah tangga lemah
memperoleh akses informasi, akses pengetahuan dan ketrampilan, akses untuk berpartisipasi dalam organisasi sosial, dan akses ke sumber-sumber keuangan. Yang dimaksud dengan pemberdayaan politik adalah usaha bagaimana rumah tangga yang lemah memiliki akses dalam proses pengambilan keputusan publik yang mempengaruhi masa depan mereka. Sedang pemberdayaan psikologis adalah usaha bagaimana membangun kepercayaan diri rumah tangga yang lemah.
Menurut Husodo (2000) Selain Karl Marx dan Friedmann, masih banyak pandangan mengenai pengertian pemberdayaan, seperti Hulme dan Turner (1990), Robert Dahl (1963), Kassam (1989), Sen dan Grown (1987), dan Paul (1987), yang pada prinsipnya adalah bahwa pemberdayaan adalah penguatan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi masa depannya, penguatan masyarakat untuk dapat memperoleh faktor-faktor produksi, dan penguatan masyarakat untuk dapat menentukan pilihan masa depannya. Dengan demikian pemberdayaan perempuan pesisir mencakup pemberdayaan melalui proses pendidikan non formal untuk mengubah perilaku psikologis dan psikomotorik, dengan dilengkapi oleh penguatan pemilikan faktor produksi dan aksesabilitas.
2.12. Tinjauan Umum Karakteristik Sosial dan Sistem Pengetahuan Masyarakat