• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

B. Pemberdayaan Masyarakat

1. Pengertian Pemberdayaan

Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang mendapat awalan ber- menjadi kata “berdaya” artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan. Kata berdaya apabila diberi awalan pe- dengan mesisipkan m- dan akhiran –an menjadi “pemberdayaan” artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuata.3 Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata „power‟) kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya ide utama

1

Pusat Bahasa DEPDIK, Kamus besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal.627

2

Aliminsyah dan Patji, “ Kamus Istilah Manajemen”,( Bandung : CV Yrama Widya, 2004)

3

H. Roesmidi, dan Riza Risyanti, Pemberdayaan Masyaraka, (Sumedang: ALQAPRINT, 2006), h.1

pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol. Pengertian ini mengasumsikan bahwa kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak berubah atau tidak dapat diubah.

Pemberdayaan atau pemberkuasaan dapat dipahami sebagai upaya memberikan atau meningkatkan kekuasaan (power) kepada pihak yang lemah atau kurang beruntung, dimana pemberdayaan dilaksanakan dengan bertolak dari situasi ketidak berdayaan yang dialami oleh sekolompok masyarakat baik secara perseorangan, kelompok maupun komunitas.4

Dalam pemberdayaan diharapkan masyarakat yang kurang berdaya menjadi masyarakat yang berdaya dan kuat dengan menggali serta mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Dengan kata lain, pemberdayaan adalah untuk mencapai tujuan akhir yang disebut dengan masyarakat sejahtera dan mandiri yang mempunyai kekuatan hidup atas potensi dirinya sendiri.5

Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau kebedayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjukan pada keadaan atau hasil yang dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam

4

Syamsir Salam dan Amir Fadhilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h.232.

5

Owin Jamasy, Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta: Belantik, 2004), cet pertama, h. 108.

kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.6 Rubin menyatakan bahwa pemberdayaan sebagai suatu proses ataupun sebagai tujuan pada dasarnya akan memunculkan keberanian pada individu atau kelompok. Kondisi semula yang cenderung hanya menerima keadaan, selanjutnya akan lebih berani bertindak untuk merubah keadaan.bentuk keberanian itu juga dapat merupakan kekuatan formal guna menghapus ketergantungan. 7

2. Tahap-tahap pemberdayaan

Tahapan intervensi sosial dalam program pemberdayaan masyarakat pada satu sisi sebenarnya mempunyai kemiripan dengan tahap pengembangan masyarakat,8 adapun tahapan pemberdayaan adalah sebagai berikut :

a. Tahap Persiapan (Enggagement)

Pada tahap persiapan ini didalamnya sekurang-kurangnya ada dua tahap yang harus dikerjakan yaitu:

1) Penyiapan Petugas, ini terutama diperlukan untuk menyamakan persepsi antar anggota tim agen perubahan (change agent) mengenai pendekatan apa yang akan di pilih dalam melakukan pemberdayaan masyarakat.

2) Penyiapan Lapangan, dikenal juga dengan tahap enggagement, petugas pada awalmya melakukan studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran, baik dilakukan secara informal maupun formal. 9

6

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, (Bandung: PT Rafika Aditama. 2005), h. 57-60

7

Rajuminropa, Pemberdayaan Anak dari Keluarga Miskin ( Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Kesejahteraan, 2003), h. 43

8

Isbandi Rukminto Adi, Pemikiran-Pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI.2002), h.179

b. Tahap Penkajian (Assessment)

Proses assessment yang dilakukan disini dapat dilakukan secara individual melaui tokoh – tokoh masyarakat (key-person), tetapi dapat juga melalui kelompok – kelompok dalam masyarakat. Pada tahap ini, petugas sebagai agen perubah berusha mengidentifikasi masalah (kebutuhan yang dirasakan = felt needs) dan juga sumber daya yang dimiliki klien. Dalam kebutuhan masyarakat ini ada berbagai teknik yang dapat digunakan untuk melakukan assessment baik itu dengan pendekatan yang kuantitatif maupun kualitatif. c. Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan (Designing).

Pada tahap ini, petugas sebagai agen perubah (change agent) secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana mereka mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada, masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program dan kegiatan yang dapat mereka lakukan.

d. Tahap Formulasian Rencana Aksi

Pada tahap ini petugas membantu masing – masing kelompok masyarakat untuk memformulasikan gagasan mereka dalam bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana.

e. Tahap Pelaksanaan Program

Tahap pelaksanaan ini merupakan salah satu tahap yang paling penting dalam program pemberdayaan masyarakat karena sesuatu yang sudah

9

direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan bila tidak ada kerja sama antara petugas, warga masyarakat, maupun kerja sama antar warga.10

f. Tahap Evaluasi

Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga.

g. Tahap Terminasi (Disengagement)

Tahap ini merupakan tahap „pemutusan‟ hubungan secara formal dengan komunitas sasaran. Terminasi dalam suatu program pemberdayaan masyarakat, tidak jarang dilakukan bukan karena masyarakat sudah dapat dianggap „mandiri‟, tetapi lebih karena proyek sudah harus dihentikan karena sudah melebihi jangka waktu yang ditetapkan sebelumnya.

3. Strategi Pemberdayaan

Parsons menyatakan bahwa proses pemberdayaan umumnya dilakukan secara kolektif. Menurutnya, tidak ada literatur yang menyatakan bahwa proses pemberdayaan terjadi dalam relasi satu-lawan-satu antara pekerja sosial dan lkien dalam setting pertolongan perseorangan. Dalam beberapa situasi, strategi pemberdayaan dapat saja dilakukan secara individual meskipun pada gilirannya strategi inipun tetap berkaitan dengn kolektivitas, dalam arti mengkaitkan klien dengan sumber atau sistem lain diluar dirinya. Dalam konteks pekerjaan sosial,

10

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pemberdayaan Masyarakat & Intervensi Komunitas Pengantar Pada Pemikiran & Pendekatan Praktis, (Jakarta: UI Press, 2001), Cet. 1, h. 24.

pemberdayaan dapat dilakukan melaui tiga aras atau matra pemberdayaan (empowerment setting): mikro, mezzo, dan makro.

a. Aras mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individual melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas – tugas kehidupannya. model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).

b. Aras Mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap – sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalah yang dihadapinya.

c. Aras Mikro. Pendekatan ini disebut juga sebagai strategi sistem besar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luasa. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, manajement konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Strategi sistem besar memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi – situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.

4. Pendekatan Pemberdayaan

Pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan diatas dicapai melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi 5P, yaitu: Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyongkongan dan Pemeliharaan.

a. Pemungkinan : menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat – sekat kultural dan struktural yang menghambat

b. Penguatan : memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan – kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh – kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian mereka

c. Perlindungan : melindungi masyarakat terutam kelompok – kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghinndari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan yang lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskrimanasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil d. Penyongkongan : memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat

mampu menjalankan peranan dan tugas – tugas kehidupannya. pemberdayaang harus mamapu menyongkong masyarakat agar tidak

terjatuh ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.

e. Pemeliharaan : memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbanga distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha. 11

Dokumen terkait