BALITA GIZI BURUK
B. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah
Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.
Tabel 2.60
Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
No. URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
1. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 16,40 16,86 16,86 12,02 48,31 Sumber: DP3AP2KB
Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah di Kabupaten Bogor dari tahun 2013-2017 menunjukkan pola yang fluktuatif. Tahun 2013 partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan sebesar 16,40 persen, tahun
II-78 2014 dan tahun 2015 sebesar 16,86 dan tahun 2016 menurun menjadi 12,02 persen sedangkan tahun 2017 naik secara signifikan pada angka 48,31.
Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta
Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.
Tabel 2.61
Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
No. URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
1. Partisipasi perempuan di lembaga swasta 44,55 45,40 47,00 87,98 53.63 Sumber: DP3AP2KB
Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta di Kabupaten Bogor dari tahun 2013-2017 menunjukkan pola yang berfluktuatif. Tahun 2013 partisipasi perempuan di lembaga swasta sebesar 44,55 persen dan tahun 2015 meningkat menjadi 47,00 persen. Meningkat signifikan di tahun 2016 menjadi sebesar 87,98 persen dan turun lagi di tahun 2017 menjadi sebesar 53,63 persen.
Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Tabel 2.62
Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
No. URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
1. Rasio KDRT 0,00004 0,000051 0,000043 0.00003 0.00054 Sumber: DP3AP2KB
Persentase kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kabupaten Bogor relatif sangat kecil. Tahun 2013 persentase kekerasan dalam rumah tangga hanya 0,00004 persen, dan tahun 2014 naik menjadi 0,000051 persen, tahun 2015 hanya 0,000043 persen dan tahun 2016 menurun menjadi 0,00003 persen dan naik lagi di tahun 2017 sebesar 0,00054.
II-79
C. Pangan
Ketersediaan Pangan Utama
Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang wajib diperhatikan oleh pemerintah daerah. Kejadian rawan pangan menjadi masalah yang sangat sensitif dalam dinamika kehidupan sosial. Ketersediaan pangan utama di Kabupaten Bogor pada tahun 2017 (digambarkan oleh Konsumsi Normatif per Kapita terhadap Ketersediaan Bersih Serealia), terdapat sebanyak 25 Kecamatan belum swasembada, hanya 15 Kecamatan yang termasuk swasembada pangan, tetapi secara keseluruhan Kabupaten Bogor sudah mencapai swasembada pangan. Regulasi ketahanan pangan di Kabupaten Bogor sebagai pedoman tata laksana keamanan, mutu dan gizi pangan serta ketersediaan pangan utama dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.63
Ketersediaan Pangan Utama di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
No. URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
1. Ketersediaan pangan utama 87,44 60,33 57,00 87,44 61,75 Sumber : LKPj (diolah)
D. Pertanahan
Persentase Luas Lahan Bersertifikat
Persentase luas lahan bersertifikat adalah proporsi jumlah luas lahan bersertifikat (HGB, HGU, HM, HPL) terhadap luas wilayah daratan. Indikator pertanahan ini bertujuan untuk mengetahui tertib administrasi sebagai kepastian dalam kepemilikan.
Hak Milik (HM) merupakan hak turun-menurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Sifat-sifat hak milik yang membedakannya dengan hak- hak lainnya adalah hak yang “terkuat dan terpenuh”, maksudnya untuk menunjukkan bahwa diantara hak-hak atas tanah yang dipunyai orang, hak miliklah yang paling kuat dan penuh.
Hak Guna Usaha (HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu paling lama 25 tahun. Hak Guna Usaha merupakan hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan, pertanian, perikanan dan peternakan.
Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. Tidak mengenai tanah pertanian,
II-80 oleh karena itu dapat diberikan atas tanah yang dikuasai langsung oleh negara maupun tanah milik seseorang.
Hak Pengelolaan Lahan (HPL) adalah hak untuk mengelola lahan yang hanya diberikan atas tanah negara yang dikuasai oleh Badan Pemerintah, BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Tabel 2.64
Persentase Luas Lahan Bersertifikat di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
NO Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1. Persentase luas lahan bersertifikat 26,50 26,83 26,83 26,83 49,35 Sumber : DPKPP
Persentase luas lahan bersertifikat di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan dari tahun 2013-2017. Tahun 2013 luas lahan bersertifikat sebesar 26,50 persen dan tahun 2017 naik menjadi 49,35 persen. Semakin besar persentase luas lahan bersertifikat menggambarkan semakin besar tingkat ketertiban administrasi kepemilikan lahan di Kabupaten Bogor.
Penyelesaian izin lokasi
Kondisi daerah Kabupaten Bogor terkait dengan urusan pertanahan salah satunya dapat dilihat dari penyelesaian permohonan izin lokasi. Indikator ini bertujuan untuk menggambarkan atau mengetahui kemudahan investasi sebagai daya tarik investasi dalam mengundang investor. Semakin banyak penyelesaian permohonan izin lokasi menggambarkan semakin mudah dan menarik berinvestasi di suatu daerah. Berikut disajikan data persentase penyelesaian izin lokasi/permohonan di Kabupaten Bogor selama kurun waktu tahun 2013-2017.
Tabel 2.65
Penyelesaian Izin Lokasi di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
NO Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1 Penyelesaian izin lokasi 69,75 65,89 64,79 62,58 41,34 Sumber : DPMPTSP
Penyelesaian izin lokasi di Kabupaten Bogor terus menurun dari tahun 2013 sebesar 69,75% dan di tahun 2017 sebesar 41,34%.
E. Lingkungan Hidup
Persentase Jumlah Sampah yang Tertangani
Salah satu masalah yang dihadapi kota-kota di Indonesia khususnya di Kabupaten Bogor adalah masalah persampahan. Salah satu masalah
II-81 persampahan yang cukup rumit dalam penyelesaiannya adalah pengadaan dan pengelolaan fasilitas tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) yang layak, baik secara teknis maupun non teknis. Keberadaan TPSA selain dapat menampung timbulan sampah yang dihasilkan juga harus dapat meminimalisasi bahaya yang mungkin timbul akibat penimbunan sampah tersebut. Adapun persentase penanganan sampah di Kabupaten Bogor tertera pada Tabel 2.127
Tabel 2.66
Persentase Jumlah Sampah yang Tertangani di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2017
NO Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1. Persentase jumlah
sampah yang tertangani 39,05 58,92 61,37 60,77 64,56 Sumber: DKP
Persentase jumlah sampah setiap tahunnya relatif meningkat, hal ini dikarenakan tiap tahunnya selalu ada penambahan armada pengangkut sampah. Pada tahun 2013 persentase jumlah sampah yang ditangani 39,05 persen, pada tahun 2017 nilainya meningkat menjadi 64,56 persen.
F. Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil