BAB V RENCANA PROGRAN DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Rancangan Awal RKPD Kota Pekalongan Tahun 2019 | EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
80 Pada tahun 2012, persentase penerapan K3 pada perusahaan-perusahaan di Kota Pekalongan sebesar 92,06%. Keadan ini semakin membaik pada tahun 2013 namun menurun pada tahun 2014 dan meningkat lagi pada tahun 2015. Pada akhir 2016, persentasenya kembali menurun menjadi 81,52%..
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
a. Persentase Partisipasi Perempuan Bekerja di Lembaga Pemerintah
Partisipasi perempuan yang bekerja di lembaga pemerintah ditunjukkan dengan membandingkan jumlah pekerja perempuan terhadap jumlah pekerja perempuan secara keseluruhan. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah menunjukkan angka yang menurun, bukan dikarenakan jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah yang menurun tetapi dikarenakan semakin meningkatnya jumlah pekerja perempuan. Kondisi ini menunjukkan peningkatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Perkembangan perempuan yang bekerja di lembaga pemerintah ditunjukkan dalam Tabel 2.81.
Tabel 2.81 Banyaknya Partisipasi Pekerja Perempuan Pada Lembaga Pemerintahan di Kota Pekalongan Tahun 2010-2014
URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah (org)
2.128 2.115 2.046 2.007 2.007 Jumlah pekerja perempuan (org) 6.789 6.776 55.548 56.536 56.536 Persentase partisipasi
perempuan di lembaga pemerintah (%)
31,34 31,21 3,68 3,55 3,55
Sumber : BPMP2AKB, 2014, diolah
b. Pesentase Partisipasi Perempuan dalam Jabatan Struktural ASN
Partisipasi perempuan dalam jabatan eselon II, III, dan IV di Kota Pekalongan selama kurun waktu 2012-2016 cenderung menurun. Pada tahun 2012 pejabat perempuan yang menduduki eselon II, III dan IV dibandingkan seluruh jabatan yang terisi sebesar 258 orang. Pada tahun 2016 partisipasi perempuan dalam jabatan ASN menurun menjadi 221 orang.
Sumber : BKD,2013- 2016; BKPPD, 2017
Gambar 2.26 Persentase Partisipasi Perempuan Dalam Jabatan ASN Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
Rancangan Awal RKPD Kota Pekalongan Tahun 2019 | EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
81
c. Rasio KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
Rasio KDRT menunjukkan persentase kasus KDRT dibandingkan dengan jumlah rumah tangga. Selama kurun waktu 2012-2016 rasio KDRT mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Rasio KDRT terendah terjadi pada tahun 2014 dengan angka rasio 0,046%, dan angka tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu 0,093% sebagaimana ditunjukkan Gambar 2.27.
Sumber : BPMP2AKB Kota Pekalongan, 2013-2016, Dinsos PPAKB, 2017
Gambar 2.27 Perkembangan Rasio KDRT di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
c. Penyelesaian Kasus Perlindungan Perempuan dan Anak
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan di Kota Pekalongan telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Gambar 2.28 menunjukkan bahwa pada tahun 2012 hanya 36% kasus pengaduan perlindungan perempuan dan anak yang dapat diselesaikan, maka pada tahun 2014, 2015 dan 2016 telah mengalami peningkatan yang signifikan, dimana seluruh kasus pengaduan dapat tertangani. Peningkatan angka penyelesaian yang sangat signifikan tersebut terutama dikarenakan di Kota Pekalongan telah dibentuk Lembaga Perlindungan Perempuan, Anak dan Remaja (LP-PAR).
Sumber : BPMP2AKB Kota Pekalongan, 2013-2016, Dinsos PPAKB,2017
Gambar 2.28 Perkembangan Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016 3. Pangan
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang mencakup empat sub sistem yaitu: (a) Ketersediaan pangan melalui upaya peningkatan ketersediaan pangan di daerah dan pengembangan produksi pangan lokal serta cadangan pangan, (b)
Rancangan Awal RKPD Kota Pekalongan Tahun 2019 | EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
82 Keterjangkauan pangan melalui pemantapan distribusi, pemasaran, perdagangan, informasi; (c) konsumsi pangan melalui peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan; (d) keamanan pangan melalui sanitasi, pemberian jaminan keamanan dan mutu pangan.
Ketersediaan pangan pada satu wilayah ditunjukkan dengan rasio ketersediaan pangan utama. Sepanjang tahun 2012-2016 terjadi penurunan ketersediaan pangan. Adapun rasio ketersediaan pangan utama ditunjukkan dalam Tabel 2.82.
Tabel 2.82 Rasio Ketersediaan Pangan Utama Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
Tahun Ketersediaan Pangan Utama Per tahun
Jumlah Penduduk Persentase 2012 7.092.511 287.978 24,63 2013 6.136.302 290.870 21,1 2014 4.674.618 293.704 15,92 2015 6.323.153 296.533 21,31 2016 6.855.003 299.210 22,91
Sumber : KKP Kota Pekalongan, 2013-2016; DPP, 2017
Pola Pangan Harapan adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya, baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun onsumsi pangan , yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, agama dan cita rasa ( Depkes RI, 2005)
Kualitas konsumsi pangan masyarakat Kota Pekalongan dari Tahun 2012 - 2016 yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH), merupakan salah satu indikator keberhasilan ketahanan pangan di Kota Pekalongan dari aspek konsumsi. Skor PPH selama lima tahun terus membaik. Capaian skor PPH dapat dilihat pada Tabel 2.83.
Tabel 2.83 Skor PPH Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
Tahun Skor PPH Kota Pekalongan
2012 85,4
2013 87,1
2014 87,8
2015 87,8
2016 87,8
Sumber : Kantor Ketahanan Pangan Kota Pekalongan, 2015
Berdasarkan pengelompokan menurut jenis bahan pangan, menunjukkan bahwa konsumsi beras di Kota Pekalongan sangat tinggi. Konsumsi umbi-umbian di Kota Pekalongan sepanjang tahun 2012-2016 terus menurun termasuk konsumsi pangan hewani. Untuk konsumsi sayur dan buah walaupun di Kota pekalongan tergolong kecil sepanjang lima tahun terakhir. Perkembangan capaian konsumsi per kelompok pangan dan capaian konsumsi energi per kapita/hari dapat dilihat pada Tabel 2.84.
Tabel 2.84 Capaian Konsumsi Kelompok Pangan di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2012 2013 2014 2015 2016 Padi-padian Kg/Kap/th 92,27 90,97 94 89,9 101,5 Umbi-umbian Kg/Kap/th 17,4 17,23 18,2 15,6 16 Pangan Hewani Kg/Kap/th 110,93 74,93 78,5 39,3 38,3
Rancangan Awal RKPD Kota Pekalongan Tahun 2019 | EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
83 Capaian Konsumsi
Kelompok Pangan Satuan 2012 2013 2014 2015 2016 Minyak dan Lemak Kg/Kap/th 5,7 8,72 8,7 19,7 17,2 Buah/biji berminyak Kg/Kap/th 7,35 14,21 13,8 2,9 3,5 Kacang-kacangan Kg/Kap/th 35,39 23,68 24,6 11,7 13,8
Gula Kg/Kap/th 11,78 7,65 8 7 9,5
Sayur & Buah Kg/Kap/th 102,69 98,74 99,5 70,6 78,4
lain-lain Kg/Kap/th 1,16 3,38 3,6 2,9 2,8
Sumber : KKP Kota Pekalongan, 2013-2016; DPP, 2017
Konsumsi utama masyarakat Kota Pekalongan masih didominasi oleh jenis padi-padian, kacang-kacangan, dan pangan hewani. Konsumsi padi-padian dari tahun ke tahaun terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Kota Pekalongan. Seperti kebanyakan masyarakat Indonesia lainnya padi-padian menjadi kebutuhan utama dalam memenuhi asupan konsumsi berenergi. Berikut perkembangannya tercakup pada Tabel 2.85.
Tabel 2.85 Konsumsi Energi Per Kapita/Hari di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
Konsumsi Energi per
kapita/hari Satuan 2012 2013 2014 2015 2016 Padi-padian Kg/Kapita/hr 911,44 897,7 992,5 886,7 1.000,8 Umbi-umbian Kg/Kapita/hr 50,66 49 119,1 46,7 48 Pangan Hewani Kg/Kapita/hr 316,21 241,3 238,2 222,7 217,2 Minyak dan Lemak Kg/Kapita/hr 136,22 214,1 198,5 468,4 410,7 Buah/biji berminyak Kg/Kapita/hr 32,94 76,9 59,5 50,8 60,2 Kacang-kacangan Kg/Kapita/hr 321,87 215,1 99,2 105,7 124,9 Gula Kg/Kapita/hr 118,1 76,5 99,2 70,3 94,9 Sayur & Buah Kg/Kapita/hr 86,03 86,9 119,1 100,2 111,4 lain-lain Kg/Kapita/hr 9,73 24 59,5 23,4 22,6
Sumber : Kantor Ketahanan Pangan Kota Pekalongan, 2016, Dinperpa 2017
4. Pertanahan
Dalam era otonomi daerah saat ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, terdapat 9 urusan pertanahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kota. Kesembilan urusan tersebut adalah Izin Lokasi, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pelayanan Umum, Sengketa Tanah Garapan, Ganti Rugi, Penetapan Subyek Obyek Redistribusi tanah, tanah ulayat, pemanfaatan tanah kosong, izin membuka tanah, dan penggunaan tanah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pertanahan kabupaten/kota hanya meliputi 8 sub urusan yaitu izin lokasi; sengketa tanah garapan; ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absente; tanah ulayat; tanah kosong; izin membuka tanah; serta penggunaan tanah.
Pelayanan umum kepada masyarakat di urusan pertanahan, bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lahan dan lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam rangka mempertahankan lahan pertanian, serta memberikan sertifikat tanah masyarakat yang berada di kawasan lindung dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Rancangan Awal RKPD Kota Pekalongan Tahun 2019 | EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
84 Perkembangan kepemilikan sertifikat tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Secara lengkap tanah bersertifikat di Kota Pekalongan dijelaskan dalam Tabel 2.86.
Tabel 2.86 Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016
2012 2013 2014 2015 2016
Luas wilayah 4.525 4.525 4.525 4.525 4.525 Luas tanah bersertifikat 3.286,15 3.369,75 3.527,49 3.617,23 3.690,93
Hak Milik 2.716,38 2.790,15 2.838,12 2.880,99 2.939,78
HGB 260,55 266,39 278,63 286,96 289,49
Hak Guna Usaha 5,76 5,76 5,76 5,76 5,76
Hak Pakai 246,02 248,81 344,68 382,56 394,95
Hak Pengelolaan 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00
Hak Wakaf 53,45 54,63 56,31 56,96 56.96 Lahan Bersertifikat (%) 72,62% 74,47% 77,96% 79,94% 81,57%
Sumber : BPN, 2017, diolah
Kinerja persertifikatan bidang tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2012 luas lahan bersertifikat adalah 72,62% maka dalam kurun waktu tahun 2012-2016 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan pada tahun 2016 sebanyak 81,57% lahan di Kota Pekalongan sudah bersertifikat. Semakin meningkatnya persentase tersebut dapat juga menandakan kesadaran hukum masyarakat yang semakin meningkat, khususnya terhadap pertanahan.
Sumber : BPN, 2017, diolah
Gambar 2.29 Persentase Luas Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2012-2016