• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pemberian Edukasi pada Klien

Peran perawat sebagai pendidik klien adalah perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medik yang diterima klien, sehingga klien atau keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya. Dalam hal ini perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga yang beresiko tinggi terhadap masalah kesehatan, kader kesehatan dan yang lainnya (Hutahaean, 2010).

Dalam keperawatan, edukasi merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik (Suliha, 2002).

2.3.1 Pengertian Edukasi

Edukasi adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi, dengan tujuan untuk mengingat fakta atau kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction), aktif memberikan informasi-informasi atau ide baru (Suliha, 2002).

Definisi di atas menunjukkan bahwa edukasi adalah suatu proses perubahan perilaku secara terencana pada diri individu, kelompok, atau masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat. Edukasi merupakan proses belajar dari tidak tahu tentang nilai kesehatan menjadi tahu dan dari tidak mampu mengatasi kesehatan sendiri menjadi mandiri.

Pelaksanaan edukasi dalam keperawatan merupakan kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut: pengkajian kebutuhan belajar klien, penegakan diagnosa keperawatan, perencanaan edukasi, implementasi edukasi, evaluasi edukasi, dan dokumentasi edukasi (Suliha, 2002).

Secara umum tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu dan masyarakat di bidang kesehatan, serta tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga, dan masyarakat dalam memelihara perilaku sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan pendidikan dalam

pelayanan kesehatan, antara lain tingkat pendidikan, tingkat social eknomi, adat istiadat, kepercayaan masyarakat, dan ketersediaan waktu dari masyarakat (Potter&Perry, 2009). Pendidikan dalam pelayanan kesehatan mengacu juga pada edukasi pada klien. Klien semakin menyadari kesehatan dan ingin dilibatkan dalam pemeliharaan kesehatan. Perawat atau tim kesehatan harus memeberikan edukasi kesehatan pada tempat yang nyaman dan dikenal oleh klien (Potter&Perry, 2009). Sedangkan tempat penyelenggaraan pendidikan kesehatan dapat dilakuakan di isntitusi pelayanan antaralain puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Sekolah ataupun pada masayarakat berupa keluarga binaan (Rocahdi, 2011).

2.3.2 Standar Untuk Pendidikan Klien

Pendidikan bagi klien telah lama menjadi standar pada praktek keperawatan profesional. Menurut Virginia Henderson (1966) dalam Potter & Perry (2005), bagian dari peran perawat adalah untuk meningkatkan tingkat pemahaman klien dan dengan demikian meningkatkan kesehatan.

Badan yang terakreditasi di Amerika Serikat dan kanada telah menyusun petunjuk untuk memberikan pendidikan kesehatan bagi klien di institusi pelayanan kesehatan. The Joint Commisionon Accreditation Of Healhcare

Organization (JCAHO) (1995) menggambarkan standar berikut bagi pendidikan

klien: Klien/keluarga diberikan pendidikan yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang diperlukan untuk memberikan keutungan penuh dari intervensi kesehatan yang dilakukan institusi. Organisasi

merencanakan dan mendorong pengawasan dan koordinasi aktivitas dan sumber pendidikan klien/keluarga. Klien/keluarga mengetahui kebutuhan belajar mereka, kemampuan dan kesiapan untuk belajar. Proses pendidikan klien/keluarga bersifat interdisiplin sesuai dengan rencana asuhan keperawatan. Klien/keluarga mendapatkan pendidikan yang spesifik sesuai dengan hasil pengkajian, kemampuan dan kesiapannya. Pendidikan kesehatan meliputi pemberian obat-obatan, penggunaan alat medis, pemahaman tentang interaksi makanan/obat dan modifikasi makanan, rehabilitasi, serta bagaimana melakukan pengobatan selanjutnya. Informasi mengenai instruksi pulang yang diberikan pada klien/keluarga diberikan oleh pihak institusi atau individu tertentu yang bertanggungjawab terhadap kesinambungan perawatan klien (Potter & Perry, 2005).

2.3.3 Tujuan Edukasi Pada Klien

Pendidikan klien yang komprehensif meliputi tiga tujuan penting yang setiap tingkatannya mencakup tingkatan perawatan kesehatan yang berbeda.

a. Pemeliharaan, peningkatan dan pencegahan penyakit

Memungkinkan klien untuk hidup dengan perilaku yang lebih sehat. Peningkatan perilaku sehat melalui pendidikan meningkatkan harga diri dengan mengizinkan klien mengambil tanggung jawab dan menjaga kesehatannya. Pengetahuan yang lebih besar dapat menghasilkan kebiasaan mempertahankan kesehatan yang lebih baik. Pada waktu klien

menyadari tentang kesehatannya, mereka cendrung untuk mencari pertolongan secepatnya untuk masalah kesehatannya.

b. Perbaikan kesehatan

Klien yang mengalami kecelakaan atau sakit memerlukan informasi dan keterampilan yang akan membantunya mengembalikan atau mempertahankan tingkat kesehatannya. Perawat perlu melibatkan keluarga karena keluarga merupakan bagian vital dalam pengembalian kesehatan klien dan mungkin membutuhkan informasi yang sama banyaknya dengan klien.

c. Koping terhadap gangguan fungsi

Tidak semua klien benar-benar pulih dari sakit atau cedera. Banyak klien belajar untuk menghadapi perubahan kesehatan permanen. Pengetahuan dan keterampilan baru seringkali dibutuhkan klien untuk melanjutkan aktivitas hidup sehari-hari (Potter & Perry, 2005).

2.3.4 Proses Pendidikan Kesehatan pada Pasien

Proses pendidikan adalah rangkaian tindakan yang sistematik, berurutan dan terencana terdiri dari dua operasi utama yang interdependen, pengejaran dan pembelajaran yang membentuk siklus tanpa terputus, dan melibatkan pengajar dan peserta didik. Secara bersama-sama mereka melakukan kegiatan belajar dan mengajar yang hasilnya berupa perubahan perilaku yang dikehendaki oleh kedua belah pihak (Bastable, 2002).

Langkah-langakah proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, evaluasi digunakan pada saat pengembangan rencana pemberian edukasi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan pasien.

a. Pengkajian

Yaitu diarahkan pada pengumpulan data secara sistematik tentang kebutuhan pembelajaran dan kesiapan untuk belajar seseorang dan tentang kebutuhan pembelajaran keluarga. Pengkajian faktor predisposisi yang meliputi: Pengkajian riwayat keperawatan (usia, status perkembangan, persepsi pasien tentang masalah kesehatannya saat ini, kepercayaan klien tentang kesehatan, agama yang dianut, peran gender, budaya, keadaan ekonomi, dan sistem pendukung pasien), pengkajian fisik, motivasi dan kemampuan membaca klien.

Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi edukasi, maka gunakan kata-kata yang lebih pendek, hindari kata-kata dengan beberapa suku kata, tulis kalimat-kalimat pendek, jelaskan peristilahan yang digunakan, dan gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan (Suliha dkk, 2002).

Pengkajian kesiapan individu untuk pendidikan kesehatan meliputi: Keyakinan dan perilaku kesehatan individu, adaptasi psikososial yang telah dibuat individu, kesiapan individu untuk belajar, kemampuan individu untuk belajar perilaku ini, informasi tambahan yang diperlukan oleh individu, harapan individu, dan yang ingin ketahuinya. Selanjutnya

mengorganisasikan, menganalisis, sintesis dan merangkum data yang dikumpulkan.

b. Diagnosa Keperawatan

Merumuskan diagnosa keperawatan yang menunjukkan kebutuhan pembelajaran individu. Diagnosa keperawatan yang dikelompokkan pada kategori kurang pengetahuan. Identifikasi kebutuhan pembelajaran, karakteristik dan etiologinya dan menetapkan diagnosa keperawatan dengan singkat dan persis

c. Perencanaan

Yaitu perencanaan komponen proses pengajaran-pembelajaran ditetapkan sesuai dengan kriteria umum yang berlaku pada proses keperawatan. Sebagaimana halnya dengan proses keperawatan prioritas diagnosa ditentukan bersama dengan pasien dan anggota keluarga yaitu antaralain: Tetapkan prioritas diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan kebutuhan pembelajaran individu, tentukan tujuan pembelajaran pengajar-peserta didik jangka pendek, menengah dan jangka panjang, mengidentifikasi strategi pengajaran yang sesuai dengan pencapaian tujuan, menetapkan hasil yang diperkirakan, kembangkan rencana pengajaran tertulis, termasuk diagnosa, tujuan, strategi, hasil yang diharapkan. Buat informasi yang akan diajarkan dalam urutan yang logik, tuliskan poin-poin penting, pilih alat bantu pengajaran yang sesuai, pertahankan rencana terbaru dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran individu yang terus berubah, dan libatkan peserta didik,

keluarga atau orang terdekat, anggota tim keperawatan, anggota tim kesehatan dalam semua aspek perencanaan.

d. Implementasi

Yaitu proses pengajaran-pembelajaran pasien, anggota keluarga dan anggota tim keperawatan serta tim kesehatan lain menjalankan aktivitas yang telah dibuat dalam rencana pengajaran. Semua aktivitas dari semua individu ini dikoordinasi oleh perawat, yaitu antaralain: Buat rencana perawatan menjadi nyata, gunakan bahasa yang dapat dimengerti individu, gunakan alat bantu pengajaran yang sesuai, gunakan peralatan yang sama dengan yang akan digunakan individu setelah pemulangan, beri dorongan pada individu untuk ikut serta secara aktif dalam pembelajaran, catat respon pesrta didik terhadap tindakan pengajaran, dan berikan umpan balik.

e. Evaluasi

Yaitu menentukan seberapa efektifnya individu telah merespons terhadap strategi pengajaran dan sejauh mana tujuan telah tercapai, yaitu antaralain: Kumpulkan data objektif, observasi individu, ajukan pertanyaan untuk menentukan apakah individu mengerti, gunakan peringkat skala, daftar periksa, catatan dan ujian tertulis bila memungkinkan, bandingkan respons perilaku individu dengan hasil yang diharapkan. Tetapkan sejauh mana tujuan sudah tercapai, libatkan individu, keluarga atau orang terdekat, anggota tim keperawatan, dan anggota tim kesehatan lainnya dalam evaluasi. Identifikasi perubahan

yang harus dibuat dalam rencana pengajaran. Buat rujukan ke sumber atau lembaga yang sesuai untuk menguatkan pembelajaran setelah pemulangan. Lanjutkan semua langkah dari proses pengajaran yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Smeltzer & Bare, 2002).

2.3.5 Hambatan dan Rintangan Perawat dalam Menjalankan Perannya sebagai Educator

Ada banyak halangan dan rintangan yang dihadapi perawat saat melaksanakan tanggung jawab mereka untuk mendidik klien. Halangan terhadap pendidikan adalah faktor-faktor yang menghalangi kemampuan perawat di dalam memberikan jasa pendidikan. Rintangan terhadap pembelajaran adalah faktor-faktor yang berdampak negatif terhadap kemampuan peserta didik untuk menangani dan memproses informasi.

hambatan dari perawat antara lain perawat tidak siap memberikan pendidikan kesehatan. Ketidaksiapan ini dapat diakibatkan oleh masih kurang memadainya pendidikan perawat, karakter pribadi parawat dan keterbatasan waktu. Pendidikan yang kurang memadai, karakter pribadi perawat yang pemalas dan tidak kreatif membuat perawat kurang mampu memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan pasien. Selain itu kurang distandarisasikan dan kurang jelasnya materi pendidikan, delegasi, pendokumentasian dan koordinasi yang kurang juga mempengaruhi pendidikan kesehatan yang diberikan oleh seorang perawat. Hal ini menyebabkan seringkali terjadi duplikasi dokumentasi pendidikan kesehatan atau malah tidak dilakukan sama sekali, kurangnya

komunikasi antara perawat dan tenaga kesehatan yang lain serta materi diambil dari berbagai sumber yang belum valid.

Sedangkan hambatan pendidikan kesehatan dari pasien antara lain tingkat pendidikan yang rendah, karakter pribadi peserta didik, efek hoptalisasi, stres akibat penyakit, ansietas, menurunnya fungsi tubuh (pancaindra), kurangnya waktu untuk belajar, kompleksitas target yang harus dicapai, ketidaknyamanan, fragmentasi, ketidakmanusiawian sistem perawatan yang sering menyebabkan frustasi dan ketidakpedulian (Bastable, 2002).

BAB III

KERANGKA PENELITIAN

Dokumen terkait