• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Ijin Impor Non-automatic Import Licensing

BAB III SISTEM AGRARIA THAILAND DAN KERJASAMA

B. Hubungan Bilateral Thailand-Indonesia

4. Pemberian Ijin Impor Non-automatic Import Licensing

BAB IV : KEBIJAKAN IMPOR BERAS INDONESIA-THAILAND TAHUN 2009-2011 A. Faktor Internal B. Faktor Eksternal BABV : PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran

20 BAB II

KONDISI KEDAULATAN PANGAN DAN KEBIJAKAN IMPOR BERAS INDONESIA

Sebagaimana dijelaskan pada Bab I, untuk menjelaskan penelitian ini, penulis akan menggunakan teori kebijakan luar negeri, konsep kepentingan nasional dan Food Security. Oleh karena itu, Bab II ini akan menjelaskan sekilas tentang kondisi Indonesia, dari geografis, kondisi social-ekonomi masyarakat, lalu kemudian dilanjutkan dengan kondisi pangan Indonesia periode 2009-2011, dinamika yang mempengaruhinya, hingga kritik dari berbagai pihak.

A. Kondisi Geografis di Indonesia

1. Letak Geografis Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang membentang dari ujung timur di Sabang hingga ujung barat Merauke. Di bagian timur berbatasan dengan Papua New Guinea, di utara berbatasan dengan Philippines, dan Malaysia, selatan dengan Australia, dan barat dengan Malaysia dan Singapura.

Posisinya yang berada tepat di lintas katulistiwa, menjadikan Indonesia memiliki dua musim: hujan dan kemarau, sekaligus menjadi wilayah yang hutannya sangat penting untuk iklim di dunia.

Menurut Arias, posisi Indonesia berada di antara dua samudera dan dua benua serta merupakan negara kepulauan dengan topografi yang sangat beragam.

21

Kondisi ini menjadikan Iklim Indonesia sangat dinamis dan kompleks. Beberapa faktor yang berperan terhadap iklim Indonesia antara lain : fluktuasi suhu permukaan laut, Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ), Dipole Mode Index (DMI), suhu permukaan laut Pasifik ekuator, Monsun Asia Tenggara-Australia, sirkulasi Hadley dan Walker serta arus lintas Indonesia32.

Selain hal itu, iklim Indonesia juga dipengaruhi oleh tiga sistem peredaran angina, yaitu : angina pesat, meridional, dan loka. Keseluruhan komponen tersebut membentuk suatu sistem baik lokal, regional, maupun global, yang turut menentukan variabilitas dan keragaman iklim Indonesia. dan perubahan pola cuaca curah hujan33.

2. Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat Indonesia

Sebagai negara kepulauan serta terletak di lintas katulistiwa, jauh tahun sebelum kemerdekaan, masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani, nelayan, serta sebagian lainnya sebagai pedagang. Demikian, sejalan dengan modernisasi dan globalisasi, pemerintah mulai merubah haluan dari yang dulunya berkonsentrasi di ketiga sektro itu, menambahnya dengan sektor industri.

Menurut Hidayat, pembangunan ekonomi selama setengah abad terakhir telah berhasil mengubah struktur perekonomian Indonesia dari yang berbasi

32

Arias Pramudia, et all. Dalam Fenomena dan Problematika Iklim Indonesia serta Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Kalender Tanam. [Database Online] Dapat diakses di http://pintar.pdkjateng.go.id/uploads/users/tarjani/materi/SD_Letak_Geografis_dan_Astronomis_I

ndonesia_serta_Pengaruhnya_2014-10-15/Letak_Geografis_dan_Astronomis_Indonesia_serta_Pengaruhnya.pdf Hal 53 diakses pada 10 June 2015

33

Arias Pramudia, et all. Dalam Fenomena dan Problematika Iklim Indonesia serta Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Kalender Tanam. [Database Online] Dapat diakses di http://pintar.pdkjateng.go.id/uploads/users/tarjani/materi/SD_Letak_Geografis_dan_Astronomis_I

ndonesia_serta_Pengaruhnya_2014-10-15/Letak_Geografis_dan_Astronomis_Indonesia_serta_Pengaruhnya.pdf Hal 54 diakses pada 10 JJune 2015

22

kepada sektor pertanian menjadi prekonomian yang berbasis pada sektor Industri. Bahkan lebih jauh, Hidayat juga memaparkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian menurun tajam, dari sebesar 56,3% pada 1962 menjadi hanya 14,7% pada 2011. Bahkan sempat turun pada level 13% pada 2005-2006. 34

B. Kondisi Pangan di Indonesia dan Kebijakan Impor Beras dari Thailand

tahun 2009-2011

1. Produksi dn Konsumsi Beras Indonesia Tahun 2009-2011

Indonesia merupakan negara yang sebagian besar masyarakatnya memiliki matapencaharian di bidang pertanian. Akan tetapi, petani Indonesia bukanlah masyarakat yang tingkat kesejahteraannya tinggi, dan mayoritas petani adalah bukan pemilik lahan sawah pertanian atau hanya sebagian besar adalah petani buruh (petani yang tidak memiliki lahan pertanian, atau hanya merupakan pekerja buruh harian di ladang pertanian).

Mereka merupakan orang-orang yang masih miskin dan terpinggirkan. Mereka sering dirugikan oleh masalah kebijakan perberasan yang dilakukan oleh pemerintah. Belum lagi masalah sosial ekonomi lain yang mereka hadapi sebagai petani. Permasalahan beras dan petani menjadi sebuah ironi bagi negeri ini. Sebuah ironi karena negara ini merupakan negara peghasil beras, akan tetapi melakukan impor beras dalam jumlah yang tidak sedikit.

Pada umumnya sebagian masyarakat menganggap bahwa impor beras dipicu oleh produksi atau suplai beras dalam negeri yang tidak mencukupi seperti yang dijadikan alasan pemerintah. Akan tetapi, pada kenyataannya impor beras

34

Hidayat Amir. Dalam Sektor Pertanian : Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. [Database Online] dapat diakses di www.perpustakaan.depkeu.go.id Diakses pada 10 June 2015.

23

dilakukan ketika data statistik menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami surplus beras.

Pemerintah terus menegaskan bahwa alasan impor beras adalah karena adanya keterbatasan volume produksi hasil pertanian padi sehingga ketersediaan beras menjadi masalah bagi negara. Namun sebenarnya itu hanya alasan yang tidak dapat dibenarkan oleh publik dengan adanya impor beras pada 2009, karena pada 2009 terdapat data yang berupa angka statistik bahwasannya produksi padi/beras mengalami surplus atau kenaikan sebesar 6,75 %.35

Pada 2009, wilayah seperti Jawa sebagai penghasil padi terbesar di Indonesia bahkan harus menerima beras impor. Bibit Waluyo (Gubernur Jawa Tengah) mengungkapkan bahwa dirinya menyatakan berada dalam posisi dilematis saat muncul penilaian dari beberapa fraksi di DPRD Jateng yang menyebutkan bahwa dirinya inkonsistensi terkait dengan pernyataannya siap menerima 180.000 ton beras impor dari Thailand pada tiga bulan ke depan.

“... Jawa tengah mengalami surplus beras sebagai fakta, namun Bulog belum mampu memenuhi kebutuhan untuk raskin” Secara logika ekonomi, kondisi surplus dengan permintaan relatif tetap, akan menurunkan harga. Tetapi faktanya harga beras terus naik di berbagai pasar di Semarang antara Rp7.800 dan Rp 8.100 per kg (SM, 27/09/11). Padahal Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 5.060 per kg sehingga petani tidak mau menjual ke Bulog karena selisih harga yang relatif jauh lebih mahal.36

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), sebenarnya sejak 2008 produksi beras nasional selalu surplus. Tetapi anehnya, sejak 2008 hingga 2011, Impor

35

Tabel Produksi, Konsumsi, Surplus dan Penyediaan BULOG 2003 - 2013

36

Purbayu Budi Santosa “Beras dan Posisi Dilematis Bibit”; Suara Merdeka,30 September 2011.

24

beras terus dilakukan.37 Bulog selalu berdalih kalau data produksi yang ada tidak bisa dijadikan pijakan. Menurut Bulog, meskipun data yang ada menunjukkan surplus, hal itu belum bisa menjamin amannya ketersedian pasokan beras setiap bulannya.38

Pada 2010, sebenarnya Indonesia juga dalam kondisi surplus, namun surplus sebesar 1,17 %, merupakan kondisi yang jauh menurun dibanding tahun 2009, yang surplus 6,7 %, dengan peningkatan produksi padi tahun 2010 hanya 3,22 %.39 Karena itu, pada 2010 impor dilakukan dengan alasan untuk menjamin ketersediaan (stok) beras, dimana tingkat kebutuhan masyarakat Indonesia akan beras selau meningkat termasuk di tahun ini. Data Bulog bahwa produksi yang ada belum bisa dijadikan pijakan.

Selama ini, penghitungan produksi beras dilakukan oleh BPS bekerjasama dengan Kementrian Pertanian. Untuk menghitung produksi beras, BPS menggunakan hasil perkalian antara produktivitas tanaman padi per hektar dan luas panen. Pengukuran produktivitas yang dilakukan oleh BPS melalui survei ubinan sebenarnya sudah cukup akurat, masalahnya adalah pada penghitungan luas panen yang dilakukan oleh Dinas Pertanian yang masih mengandalkan metode pandangan mata.40

Dalam prakteknya, mantri tani hanya melihat hamparan padi, lalu memperkirakan luasnya. Akurasi cara seperti ini tentu sangat lemah, belum lagi kalau data luas panen dikerjakan di atas meja, yang akhirnya terjadi laporan dari

37

Sumber Laporan BPS

38

Sumber hasil wawancara dengan pegawai Bulog, 2014.

39

Sumber bulog; Tabel Produksi, Konsumsi, Surplus, dan Penyediaan Bulog 2003-2013.

40

25

menyusutnya pertumbuhan produksi padi, yang merupakan bahan baku membuat beras, sebagai bahan makanan pokok bangsa Indonesia, sehingga pemerintah tetap beralasan untuk melakukan impor beras dari Thailand dan juga negara lainnya.

Dalam rentan waktu 2009-2011, pemerintah mulai gencar melakukan kampanya untuk mengurangi konsumsi nasi, dengan menggantinya dengan umbi-umbian seperti ubi, kentang, dan singkong, serta biji-bijian seperti jagung dan gandum yang hanya dikonsumsi sebagian kecil masyarakat di daerah. Di samping itu juga, pemerintah melakukan kampanya tersebut untuk mengurangi konsumsi beras yang disebut-sebut menjadi salah satu penyebab tingginya diabetes di Indonesia.

Dengan konsumsi beras mencapai 139 kg/kapita/tahun saat, Indonesia adalah konsumen beras terbesar di dunia. Maklum, orang Indonesia makan nasi seperti minum obat, tiga kali sehari. Bukan makan namanya kalau tanpa nasi. Jika kebiasaan makan nasi orang Indonesia dapat dirubah, maka akan berdampak besar pada penurunan konsumsi beras. Kebutuhan beras dalam negeri dapat ditekan dengan program diversifikasi pangan yang harus digalakkan agar masyaratkat tidak terlalu bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama saat ini. Seperti diketahui bersama bahwa sekitar 80 % kebutuhan karbohidrat orang Indonesia dipenuhi dari beras.

2. Jumlah Produksi Dibandingkan dengan Kebutuhan Beras

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa jumlah penduduk Indonesia cenderung naik setiap tahunnya, tetapi tidak pada produksi beras di Indonesia yang berfluktuasi. Dan pada tahun 1990, 1993, 1994, 1997, 1998, 2001 dan 2005

26

terjadi penurunan jumlah produksi beras dari tahun sebelumnya. Sedangkan peningkatan permintaan terhadap beras harus diikuti dengan peningkatan penawaran (ketersediaan) beras domestik, karena apabila produksi beras domestik tidak mencukupi kebutuhan atau permintaan penduduk, maka akan dilakukan impor beras.

Table II.B.1. Data Jumlah Penduduk dan Produksi Beras di Indonesia Tahun 1990 sampai 2005

Tahun Jumlah Penduduk Indonesia (000 000 jiwa)

Produksi Beras Indonesia (000 ton) 1990 179.30 28 453 1991 181.38 28 178 1992 184.49 30 358 1993 187.60 30 320 1994 190.68 29 417 1995 193.75 31 349 1996 196.80 32 215 1997 199.84 31 093 1998 202.91 31 040 1999 202.83 32 031 2000 205.13 32 693 2001 207.93 31 806 2002 210.74 32 444 2003 213.55 32 861 2004 216.38 34 102 2005 219.21 34 028 2006 222,74 54 454 2007 225,64 57 157 2008 228,52 60 325 2009 231,37 64 398 2010 237,64 66 469 2011 237,64 68 061 Sumber : BPS, 1990-2011

27

Pembangunan sektor pertanian merupakan fokus dari kegiatan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak Pelita I. Beberapa alasan kuat mengapa peningkatan produksi beras merupakan titik berat pembangunan di sektor pertanian antara lain: (1) beras merupakan makanan pokok dan sumber utama penyedia kalori, (2) sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai mata pencaharian di sektor pertanian tanaman pangan, dan (3) memiliki saham terbesar dalam indeks harga konsumen yang menjadi indikator pengukur stabilitas ekonomi.41

Kebijakan harga gabah dan beras merupakan salah satu instrumen penting dalam menciptakan ketahanan pangan nasional. Kebijakan harga gabah tidak efektif apabila tidak diikuti dengan kebijakan lainnya. Kebijakan harga murah tidak dianjurkan, karena bukti-bukti empiris menunjukan bahwa kebijakan ini telah menyengsarakan petani padi dan tidak mampu mendorong sektor industri untuk bersaing di pasar dunia.

Kebijakan stabilitas harga beras di pasar domestik yang berorientasi pada peningkatan pendapatan petani, merupakan paket kebijakan yang sangat diperlukan oleh petani padi.42

Table II.B.1. Data Harga Dasar Pembelian Pemerintah, Harga Gabah Tingkat Petani dan Harga Beras Eceran di Indonesia Tahun 1980 sampai

2005 TAHUN HPP (Rp/Kg) HGTP (Rp/Kg) HBE (Rp/Kg) 1980 105 189.32 198.39 1981 120 212.16 226.19 41

Majalah Pangan, Departemen Pertanian. 1989. 12.

42

Malian,et.al..”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi, Konsumsi dan harga

Beras serta Inflasi Bahan Makanan”. 2004, Publikasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial

28 1982 135 229.61 254.92 1983 145 274.69 304.24 1984 165 284.81 330.97 1985 175 288.59 322.07 1986 175 167.27 345.24 1987 190 184.73 386.86 1988 210 381.62 469.20 1989 250 475.48 469.56 1990 270 466.68 525.17 1991 295 517.47 557.84 1992 330 303.70 603.68 1993 340 284.05 592.25 1994 360 325.83 660.37 1995 400 419.81 776.38 1996 450 432.75 880.00 1997 525 498.27 1 064.03 1998 800 933.01 2 099.71 1999 1 400 1 159.43 2 665.58 2000 1 400 964.72 2 424.22 2001 1 500 1 141.22 2 537.09 2002 1 519 1 255.46 2 826.06 2003 1 725 1 249.33 2 785.85 2004 1 740 1 258.31 2 850.96 2005 2 250 1 567.67 3 478.87 Sumber: BPS, 1980-2005

Secara umum, salah satu permasalahan permintaan beras di Indonesia adalah harga beras yang relatif tinggi dan cenderung naik seiring dengan berkembangnya jaman (dapat dilihat pada Tabel 2.5 di atas). Masalah kenaikan harga beras, secara ekonomi adalah masalah penawaran dan permintaan, seperti yang dikemukakan oleh Hutauruk bahwa luas areal panen responsive terhadap harga dasar padi dan harga padi pada jangka panjang.43

Untuk menekan harga beras, pemerintah harus menjaga harga yang berkolerasi langsung dengan ongkos produksi dan menjamin keuntungan

43

Hutauruk, J. Analisis, ”Dampak kebijakan Harga Dasar Padi dan Subsidi Pupuk

terhadap Permintaan dan Penawaran Beras di Indonesia”, 1996, Tesis. Institut Pertanian Bogor, 22.

29

petani. Hal ini dapat diwujudkan apabila BULOG membeli gabah langsung dari petani.44 Pada Tabel 2.5 dapat dilihat bahwa besarnya harga gabah tingkat petani masih lebih kecil nilainya dibandingkan dengan harga dasar pembelian pemerintah sedangkan harga beras eceran cenderung naik.

Kebijakan insentif berupa penetapan harga dasar yang dilanjutkan dengan harga dasar pembelian pemerintah (HDPP) tidak akan terlaksana secara efektif, apabila pemerintah tidak menetapkan kebijakan pendukung yang

compatible dengan HDPP. Pengurangan subsidi pupuk tahun 1998 tidak efektif, karena apabila dilakukan penghapusan subsidi pupuk maka kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif.45 Hal itu akan menurunkan pendapatan petani produsen dan mutu intensifikasi yang diterapkan oleh petani padi.46

Kebijakan proteksi tidak mungkin dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang karena tuntutan globalisasi yang semakin kuat.

Oleh karena itu, upaya-upaya perbaikan efisiensi kebijakan beras nasional, baik aspek budi daya (perbaikan teknologi, irigasi dan lain-lain), pascapanen (prontokan, pengeringan, penyimpanan), pengolahan (penggilingan) maupun pemasaran hasil (perbaikan infrastruktur, informasi pasar, dan lain-lain), perlu terus dijalankan untuk mempersiapkan agribisnis beras nasional dalam menghadapi serbuan produk impor sejenis dari negara lain.

44

Saragih B. . Suara Dari Bogor: Membangun Sistem Agribisnis. 2006, Jakarta : Pustaka Wirausaha Muda, 22.

45

Malian,et.al.2004.”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi, Konsumsi dan harga Beras serta Inflasi Bahan Makanan”. 21.

46

Malian,et.al.2004.”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi, Konsumsi dan harga

30

3. Kebijakan Impor Beras Indonesia Periode 2009-2011

Kenyataan yang diakui oleh pemerintah Indonesia tentang impor beras adalah Indonesia membutuhkan banyak beras, dan impor menjadi pilihan yang tepat. Pada hakekatnya kepentingan nasional Indonesia adalah menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945, maka kepentingan nasional Indonesia adalah melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum dan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kepentingan Indonesia terhadap Thailand jelas seperti tertuang dalam UUD 1945, dan termasuk didalamnya adalah upaya menjalin kerjasama guna memelihara legitimasi atas wilayah NKRI dan segenap kepentingan NKRI termasuk kepentingan sosial-ekonomi, sosial-budaya, kepentingan politik dan militernya.

Hal yang sama bagi Thailand, Indonesia adalah mitra yang baik, potensial dan sangat aktif, kooperatif dalam membantu Thailand. Selain kerjasama ekonomi termasuk impor beras, Thailand juga selalu mendapatkan bantuan atas penanganan kondisi krisis dan konflik di Thailand. Dalam masalah impor beras, Thailand sangat berkepentingan untuk dapat menguasi pasar beras di Indonesia.

31

Hal ini tercermin antara lain dari angka pertumbuhan nilai investasi dan perdagangan antara kedua negara. Diantaranya adalah semakin meningkatnya kunjungan oleh pejabat dan pengusaha di kedua negara dan semakin menguatnya konektivitas masyarakat antara kedua negara. Selain itu, meningkatnya investasi Thailand di Indonesia tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Thailand dalam menetapkan Indonesia sebagai negara tujuan utama investasi Thailand di samping Myanmar dan Vietnam. 47

Meskipun banyak kritikan dari masyarakat dalam dan luar negeri, pemerintah terbukti akan terus memperpanjang impor beras dari Thailand selama dua tahun ke depan. Dalam perjanjian perdagangan dengan Thailand, kerjasama impor beras sedianya berakhir tahun 2011. Namun Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu mengungkapkan demikian : "kerjasama impor beras dengan Thailand berakhir tahun ini, tapi pihak Indonesia akan memperpanjang dua tahun berikutnya," (jumat, 9 September 2011).

Volume impor beras yang diajukan Pemerintah Indonesia kepada Thailand sebanyak 1 juta ton. Disamping terus melanjutkan kerjasama dalam pengadaan beras dengan Thailand, Indonesia juga akan memperpanjang impor beras dari Vietnam. Meski, perjanjian pengadaan beras dengan Vietnam berakhir tahun 2012 nanti, pemerintah sudah menyatakan akan mengimpor beras dari Vietnam sampai tahun 2014. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu yaitu: "Untuk Vietnam tahun 2012 akan Indonesia perpanjang sampai tahun 2014,".

47

32

Volume beras yang akan dibeli pun sama dengan Thailand yakni sebanyak 1 juta ton. Salah satu alasan pemerintah mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam lantaran cadangan beras kedua negara tersebut sangat besar. Seperti diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu yaitu: "Kalau Thailand ada 8 juta ton, sedangkan Vietnam ada 3 atau 4 juta ton,".

Lebih lanjut Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu mengungkapkan bahwa kebijakan impor beras ini tujuannya untuk menjaga agar stok bahan pangan tetap aman, seperti penegasannya: "Kalau tidak perlu Indonesia tidak impor. Semua tergantung situasi dalam negeri,"

Namun jauh sebelum diketahui bagaimana produksi padi di tahun selanjutnya, ternyata, menurut Mari, Badan Urusan Logistik (Bulog) telah menandatangani kontrak pembelian beras sebanyak 800.000 ton. Rinciannya, sebanyak 500.000 ton dari Thaliand dan 300.000 ton beras dari Vietnam. Sebagai informasi, Bulog akan menghabiskan anggaran Rp9,69 triliun sampai Rp9,95 triliun untuk pengadaan beras impor periode 2010-2011 sebanyak 1,84 juta ton48.

Mencermati pergerakan harga beras Thailand sepanjang tahun 2009-2011, tren kenaikan harga sudah terindikasi di awal semester kedua tahun ini, sementara harga beras domestik sebenarnya sudah naik konsisten sejak awal tahun 2011. Di sisi lain, keputusan impor yang dilakukan pemerintah untuk 2011 baru saja terealisasi pada Agustus lalu sejak kontrak dilakukan sebelumnya di bulan Juli.

Data menunjukkan perkembangan harga beras di Indonesia cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, jika dibandingkan dengan

48

33

negara pengimpor beras, seperti Filipina, Bangladesh, Tiongkok, dan Vietnam, harga beras Indonesia adalah harga yang termahal di dunia.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), per Juni 2011 harga beras rata-rata di tingkat eceran di Indonesia US$ 1,04/kg. Pada saat yang sama, harga di Manila US$ 0,69/kg; Banglades US$ 0,38/kg; Tiongkok berdasarkan harga rata-rata di 50 kota untuk beras kualitas kedua di tingkat eceran sedikit di bawah Indonesia, US$ 0,83/kg; dan Vietnam hanya US$ 0,41/kg. Sementara itu, harga beras di Thailand sebagai negara asal impor Indonesia ialah US$ 0,44/kg49.

Di lain sisi, pada 2010 dan 2011, saat pemerintah mengimpor beras, justru harga beras dalam negeri akan semakin melambung. Harga beras di dalam negeri pada 2010 mencapai US$ 1,01/kg dan pada 2011 (Juni) naik menjadi US$ 1,09/kg . Padahal, harga beras di Thailand pada 2010 sangat murah, US$ 0,45/kg dan pada 2011 (Juni) turun menjadi US$ 0,43/kg50. Harga naik dipicu berkurangnya pasokan dan pengaruh cuaca yang menghambat proses penjemuran gabah. Tingginya harga gabah dan beras itu dipengaruhi oleh minimnya jumlah panen di daerah.

Hingga Juli, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai USD 829 juta atau sekitar Rp 7,04 triliun rupiah. Uang sebanyak ini digelontorkan pemerintah untuk mendatangkan sebanyak 1,57 juta ton beras dari Vietnam (892,9 ribu ton), Thailand (665,8 ribu

49

Ibid, Data hasil penelitian dari Bulog berupa print out dan soft copy via email.

50Ibid,

34

ton), Cina (1.869 ton), India (1.146 ton), Pakistan (3,2 ribu ton), dan beberapa negara lain (3,2 ribu ton)51.

Banyak masyarakat mengira bahwa impor di atas dipicu oleh produksi atau suplai beras dalam negeri yang tidak mencukupi. Namun tentu saja itu keliru, karena kenyataannya impor beras dilakukan ketika data statistik menunjukkan bahwa Indonesia surplus beras.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi padi pada tahun 2011 mencapai 68,06 juta ton Gabah Kering Giling (GKG)─Angka Ramalan II (ARAM II). Jika dikonversi ke beras, ini artinya, pada tahun ini, produksi beras nasional sebesar 38,2 juta ton. Dan jika memperhitungkan adanya loses

(kehilangan) sebesar 15 %, maka produksi beras mencapai 37 juta ton.

Dengan asumsi bahwa konsumsi beras sebesar 139 kg/kapita/tahun dan jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237 juta orang, konsumsi beras nasional tahun ini berarti mencapai 34 juta ton, ini diperoleh dengan mengalikan konsumsi beras per kapita dan jumlah penduduk Indonesia saat ini. Dengan demikian, merujuk pada hasil perhitungan tersebut, tahun ini Indonesia sebenarnya surplus beras sebesar 3-4 juta ton.52

Namun bukti yang ada, di saat Indonesia surplus 3-4 juta ton, pemerintah tetap melakukan impor, dengan alasan bahwa karena prosedur dan kecemasan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan raskin, maka impor dianggap layak dilakukan.

51

35

Lagi-lagi pemerintah memiliki alasan yang cukup menguatkan kebijakannya, terlepas bahwa mereka dianggap sudah melakukan kebijakan yang keliru, maka hasil wawancara penulis dengan Bulog sendiri, terkait alasan kenapa pemerintah/ Bulog melakukan impor beras Thailand pada 2009-2011, pada saat beras Indonesia surplus, maka hasil wawancara dengan pegawai bulog adalah sebagai berikut:

“ Petani di Indonesia sebagian besar adalah buruh tani, jadi hanya sebagian kecil dari petani yang memang memiliki sawah, makanya hanya petani pemilik sawah yang memperoleh hasil keuntungan dari produksinya, namun mayoritas buruh tani yang sangat konsumtif dengan beras, mereka orang miskin yang tidak punya padi/beras, dan mereka buruh tani menerima bantuan Raskin (beras miskin)”.53

Selanjutnya Bulog juga memaparkan adanya fakta, bahwa mereka tidak dapat menjangkau petani secara langsung, dan bahwa kebijakan HPP membatasi mereka.

“Bulog tidak membeli gabah/padi kepada petani itu tidak dapat menjangkau langsung. Daya beli dilakukan atas HPP yang lebih rendah dari harga padi yang terus meningkat pada tahun 2009-2011”.

Lebih lanjut alasan Bulog tentang kesulitan yang mereka alami tentang data riil tentang perkembangan produksi padi yang sesungguhnya.

“ Bulog juga sulit untuk mendapatkan data riil dari produksi

Dokumen terkait