• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PELAKSANAAN SISTEM PEMBERIAN KREDIT

E. Pemberian Kredit dengan Jaminan Kredit

Jaminan adalah sarana perlindungan bagi keamanan kreditur, yaitu kepastian atas pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur. Keberadaan jaminan merupakan persyaratan untuk memperkecil risiko bank dalam menyalurkan kredit. Walaupun demikian secara prinsip jaminan bukan persyaratan utama, bank memprioritaskan dari kelayakan usaha yang dibiayainya sebagai jaminan utama bagi pengembalian kredit sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama.79

Jaminan merupakan alternatif terakhir, jika kelayakan usaha atas prospek bisnis debitur tidak mendukung lagi untuk pengembalian kredit dalam langkah menarik kembali dana yang telah disalurkan. Sebagai langkah antisipatif dalam menarik

79Indrawati, Soewarso, AspekHukum Jaminan Kredit, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 2002,

kembali dana yang telah disalurkan kepada debitur, jaminan hendaknya dipertimbangkan 2 (dua) faktor, yaitu :

- Secured, artinya jaminan kredit dapat diadakan pengikatan secara yuridis

formal, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur maka bank memiliki kekuatan yuridis untuk melakukan tindakan eksekusi ;

- Marketable, artinya jaminan tersebut bila hendak dieksekusi dapat segera

dijual atau diuangkan untuk melunasi seluruh kewajiban debitur.

Dengan mempertimbangkan kedua faktor di atas, jaminan yang diterima oleh pihak bank dapat meminimalisasi risiko dalam penyaluran kredit sesuai dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Secara normatif saran perlindungan bagi kreditur tercantum dalam berbagai ketentuan perundang-undangan. KUH Perdata merumuskan hal tersebut dalam:

1. Pasal 1131 KUH Perdata

Pasal ini menyatakan bahwa segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Dengan demikian secara umum jaminan kredit diartikan sebagai penyerahan kekayaan, atau pernyataan kesanggupan seseorang untuk menanggung pembayaran kembali suatu utang. Jadi pada dasarnya seluruh harta kekayaan debitur menjadi jaminan dan diperuntukkan bagi pemenuhan kewajiban, kepada semua kreditur secara bersama-sama. Di sini Undang-undang memberikan

perlindungan bagi semua kreditur dalam kedudukan yang sama atau berlaku asas paritas creditorium, di mana pembayaran atau pelunasan hutang kepada kreditur dilakukan secara berimbang (ponds-ponds gewijs). Dengan demikian para kreditur hanya berkedudukan sebagai kreditur konkuren yang bersaing dalam pemenuhan piutangnya, kecuali apabila ada yang memberikan kedudukan preferen (droit de preference) kepada para kreditur tersebut.

2. Pasal 1132 KUH Perdata

Pasal ini menyatakan bahwa kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua benda yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda- benda itu dibagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecil piutang masing-masing, kecuali di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan. Dengan demikian, dapat ditafsirkan bahwa di dalam pasal ini diletakkan prinsip persamaan kedudukan dari para kreditur (paritas creditorium). Pada asasnya para kreditur sama tinggi, baik tagihannya yang sudah lama maupun yang masih baru. Perwujudan persamaan itu dirumuskan dalam bentuk pembagian hasil penjualan harta kekayaan debitur secara pond’s-

pond’s, yaitu menurut perimbangan besar kecil masing-masing tagihan, yang

akan tampak nyata dalam hal hasil penjualan seluruh harta kekayaan debitur tidak mencukupi untuk membayar lunas semua hutang-hutang debitur. 80 Perkecualian atas prinsip persamaan kedudukan dari semua kreditur hanya bisa,

80J, Satrio,Hukum Jaminan Hak-hak Jaminan Kebendaan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,

kalau terdapat ”alasan yang sah” untuk mendahulukan kreditur tertentu. Mendahulukan di sini maksudnya adalah mendahulukan kreditur yang bersangkutan dalam mengambil pelunasan atas hasil eksekusi harta kekayaan debitur. Hak untuk didahulukan bagi seorang kreditur terhadap kreditur-kreditur lainnya timbul dari hak istimewa, dari gadai dan dari hipotik, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1133 KUH Perdata 81. Hak istimewa ini juga diatur secara khusus dalam Pasal 1150 KUH Perdata tentang Gadai, Pasal 27 Undang-Undang nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dan Pasal 20 ayat 1 huruf b UUHT.

2. Jenis-jenis Perjanjian Jaminan

Keberadaan jaminan (collateral) merupakan kebutuhan bagi kreditur atau bank. Dalam hal ini terdapat suatu transaksi jaminan yang dapat diartikan sebagai suatu ketetapan di mana suatu pihak baik sebagai individual/pribadi atau sebagai organisasi bisnis, memberikan pinjaman atau memberikan kredit kepada pihak lain dengan harapan bahwa pinjaman tersebut akan dibayar kembali dengan bunga yang sesuai dan jika syarat-syarat dalam transaksi pemberian hutang tersebut tidak terpenuhi maka pihak terjamin (pihak yang kepada siapa kewajiban harus dipenuhi) akan menuntut haknnya atas jaminan.

81Hak istimewa ialah suatu hak yang oleh Undang-undang diberikan kepada seorang berpiutang

sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada orang berpiutang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutangnya. Gadai dan Hipotik adalah lebih tinggi daripada hak istimewa, kecuali dalam hal-hal di mana oleh Undang-undang ditentukan sebaliknya. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1134 KUH Perdata.

Dalam transaksi jaminan disyaratkan adanya suatu hutang, seorang debitur, seorang kreditur yang menjadi pihak terjamin, harta kekayaan yang menjadi jaminan (barang jaminan) dan suatu perjanjian yang menjamin bahwa kreditur akan memiliki kepentingan atas jaminan pada barang jaminan yang disebut perjanjian jaminan.

Perjanjian jaminan timbul karena adanya perjanjian pokok. Perjanjian pokoknya berupa perjanjian pinjam-meminjam atau perjanjian kredit dan tidak mungkin ada perjanjian jaminan tanpa ada perjanjian pokoknya. Perjanjian jaminan merupakan perjanjian khusus yang dibuat oleh kreditur atau bank dengan debitur atau pihak ketiga yang membuat suatu janji dengan mengikatkan benda tertentu atau kesanggupan pihak ketiga dengan tujuan memberikan keamanan dan kepastian hukum pengembalian kredit atau pelaksanaan perjanjian pokok. Perjanjian jaminan ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu sebagai berikut:

- Perjanjian Jaminan Perorangan

Perjanjian jaminan perorangan merupakan hak relatif yaitu hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu yang terikat oleh perjanjian. Perjanjian jaminan perorangan adalah perjanjian jaminan antara kreditur dengan pihak ketiga, di mana perjanjian ini diadakan untuk kepentingan debitur. Perjanjian jaminan perorangan dinamakan sebagai penanggungan utang (borgtocht). Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1820 KUH Perdata. Dalam perjanjian jaminan perorangan (personal guarantee) yang diikat adalah kesanggupan dari pihak ketiga untuk melunasi hutang debitur. Dalam perjanjian jaminan perorangan tidak jelas benda apa atau yang mana milik pihak ketiga

yang akan menjadi jaminan, sehingga di sini akan berlaku ketentuan seperti dalam jaminan umum yang lahir karena undang-undang dan hanya memberikan kedudukan yang sama di antara para kreditur yaitu sebagia kreditur konkuren saja.

- Perjanjian Jaminan Kebendaan

Perjanjian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi jaminan dan menyediakannya guna pemenuhan (kewajiban) hutang seseorang debitur.

Kekayaan tersebut dapat berupa kekayaan debitur sendiri atau kekayaan pihak ketiga yang mengikatkan diri dalam perjanjian antara debitur dengan kreditur atau bank. Penyendirian atau penyediaan secara khusus itu diperuntukkan bagi keuntungan seorang kreditur tertentu yang telah memintanya, karena bila tidak ada penyendirian atau penyediaan secara khusus itu, bagian dari kekayaan tadi, seperti halnya seluruh kekayaan si debitur dijadikan jaminan untuk pembayaran semua hutang si debitur. Dengan demikian maka pemberian jaminan kebendaan kepada seorang kreditur tertentu memberikan kepada kreditur tersebut suatu

privilegeatau kedudukan istimewa terhadap para kreditur lainnya.

Dokumen terkait