• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEJARAH SINGKAT PARTAI KOMUNIS INDONESIA

B. Pemberontakan PKI 1926 (Awal Konflik Internal)

Pemberontakan PKI yang terjadi pada 1926, merupakan awal terjadinya konflik antar sesama anggota PKI sendiri. Ketika itu, salah satu tokoh PKI yang cukup besar pengrauhnya, Tan Malaka22 tidak mendukung. Selain itu, Komintern sebagai kiblat seluruh partai komunis di dunia, juga tidak mendukung.

Pada sekitar tahun 1924 hingga 1925 kondisi eknomi Indonesia sebagai negara jajahan saat itu, mengalami krisis. Kebijakan kerja rodi dan pemungutan berbagai macam pajak, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sangat membuat rakyat menderita.23 Kondisi seperti ini, membuat semangat perlawanan rakyat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda memuncak. Untuk mengartikulasi dan mengagregasi semangat perlawanan rakyat tersebut, pada Desember 1924 PKI mengeluarkan keputusan untuk merebut kekuasaan.24

Untuk mendapat dukungan masyarakat luas dalam melaksanakan keputusan Desember, PKI melakukan propaganda anti-pemerintah kolonial di seluruh wilayah

20 Setiap negara yang bergabung dengan Komintern diwakili oleh partai komunis negara

masing-masing. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 77.

21 Ibid. Sebelum menjadi PKI, ISDV mengganti namanya menjadi ISDP (Indische Sociaal

Democratische Partij). Ketika istilah sosial demokrat dianggap kurang tegas dalam menganut Marxisme-Leninisme, maka ISDP berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).

22

Ibrahim Datuk Tan malaka lahir di Pandan Gadang, Minangkabau, Sumatera Barat, pada 1894. Ia menjadi ketua PKI pada 1922 menggantikan Semaun. Ia menjadi calon anggota Tweede Kamer (parlemen Belanda) pada 1922 mewakili orang-orang sosialis Belanda. Lihat Rus Darmawan,

Inkonsistensi Gerakan Radikal Kiri: Praktik Politik Kaum Komunis di Indonesia (Bantul: Kreasi

Wacana, 2011), h. 54-58. Lihat juga Hasan Nasbi, Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (Jakarta: LPPM Tan Malaka, 2004), h. 41-52.

23 McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h.524.

jajahan. Propaganda ini berhasil mendapat simpati masyarakat di beberapa wilayah luar Jawa, seperti Nias dan Lampung.25 Namun yang terpenting, propaganda ini juga melibatkan adik laki-laki Bupati Serang, Hasan Djajadiningrat26, yang merupakan salah satu penyebab pemberontakan PKI pada 1926 di Banten mendapat banyak simpati masyarakat.

Pada saat propaganda berlangsung, PKI mencoba merencanakan pemogokan umum pada 8 Mei 1925, untuk memperingati tertangkapnya Semaun dua tahun sebelumnya.27 Namun, rencana ini ditolak VSTP. Karena, dasar dan tujuan pemogo-kan tidak jelas. Walaupun mendapat penolapemogo-kan dari VSTP, pemogopemogo-kan tetap terjadi secara liar pada Mei dan Juli 1925.

Krisis ekonomi sepanjang tahun 1925, membuat rakyat semakin tidak percaya kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah pemogokan-pemogokan liar pada Mei dan Juli 1925, pemogokan berikutnya terjadi di Surabaya pada September 1925. Pemogokan di Surabaya, dimulai dari perusahaan percetakan pada 1 September 1925, berlanjut pada para operator mesin pada 5 Oktober 1925, dengan tuntutan kenaikan upah dan “rasionalisasi” jam kerja.28 Pemogokan di Surabaya tersebut, merupakan pemogokan terbesar di Indonesia sepanjang tahun 1925.

Melihat keadaan yang tidak terkendali, PKI mengadakan konferensi di Prambanan pada 25 Desember 1925. Konferensi ini dihadiri oleh pejabat-pejabat eksekutif PKI seperti: Sardjono, Alimin, dan Musso. Sardjono sebagai ketua eksekutif

25

Ibid, h. 524. Propaganda ini mengusung isu anti kerja rodi.

26 Hasan Djajadiningrat mengawali karir politik dari dorongan keluarga. Ia menjabat sebagai

eksekutif pusat ISDV pada 1918 dan konsisten menjadi anggota terhormat ISDV/PKI sampai akhir hayatnya pada 1920. Lihat McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h.525.

27

Semaun ditangkap pada 1923, dengan tuduhan perencanaan demonstrasi besar-besaran lewat organisasi VSTP. Lihat Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Semaun”, artikel diakses pada 6 Juni 2011, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Semaun

pusat pada waktu itu, membuka konferensi.29 Konferensi ini membahas masalah perlunya membuat rencana pemberontakan. Sardjono dalam konferensi ini, ber-pendapat bahwa aksi diawali dengan pemogokan, berlanjut pada kekerasan senjata, yang melibatkan kaum tani sebagai prajurit.30

Konferensi Prambanan memutuskan pemberontakan harus segera dimulai. Namun, waktu pemberontakan belum bisa diputuskan, karena perbedaan pendapat. Keputusan Prambanan tidak didukung oleh salah satu tokoh PKI, Tan Malaka, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Menurut Tan Malaka revolusi harus didukung seluruh elemen masyarakat. Pada saat itu menurut Tan Malaka, “... Indonesia hanya memiliki persatuan orang dengan pandangan „campuraduk‟ melakukan aktivitas politik.”31

Bukan hanya Tan Malaka yang tidak mendukung, Komintern sebagai kiblat partai komunis sedunia, juga tidak mendukung, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.32

Tanpa dukungan Komintern dan salah satu tokoh PKI yang berpengaruh, Tan Malaka, pemberontakan seharusnya tidak terjadi. Namun, mereka yang sudah tidak tahan dengan keadaan ekonomi yang semakin memburuk, tetap mengadakan perlawanan, baik dengan pemogokan maupun dengan pemberontakan bersenjata.

29 Ibid, h. 535 dan 559.

30 Ibid, h. 535.

31 McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia, h. 545. Sejak Tan Malaka menyatakan tidak

setuju dengan pemberontakan 1926, hubungan Tan Malaka dengan PKI tidak berjalan baik, bahkan, sebagian anggota PKI menganggapnya sebagai pengkhianat. Pada Kongres Komintern (Komunis Internasional) ke-empat pada 12 Nopember 1922, Tan Malaka berpidato melawan pendapat Lenin tentang perjuangan melawan Pan-Islamisme. Menurut Tan Malaka, Pan-Islamisme bukan musuh melainkan rekan seperjuangan dalam melawan penjajahan. Dalam forum itu, Tan Malaka juga menganjurkan agar bergabung dengan kaum borjuis nasional yang menyerukan pemboikotan dalam mengusir penjajah. Ini dianggap sudah menyimpang dari ajaran-ajaran Marxisme yang menempatkan kaum borjuis sebagai musuh. Tan Malaka, Komunisme dan Pan-Islamisme (1922), (text pidato), t.t.

32

Ibid, h. 588. Keputusan tidak mendukung disampaikan oleh Stalin sebagai pemimpin Komintern. Stalin berpendapat bahwa, “...revolusi pada masa itu tidak tepat.” Lihat juga Petrik Matanasi, Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara, (Yogyakarta: I:Boekoe, 2009), h. 252.

Pemberontakan meletus sekitar November 1926. Di Tangerang, terjadi pe-nyerangan kantor polisi dan peristiwa pembunuhan para pejabat pemerintahan.33 Menjelang akhir 1926 penumpasan pemberontakan berhasil dijalankan oleh KNIL

(Koninklijk Nederlandsch Indische Leger).34 Para pemberontak dibuang ke Digul. Di

Jakarta, pemberontakan diawali peristiwa ledakan bom di Tanah Tinggi. Setelah itu berlanjut ke penyerangan agen polisi dan kantor telpon.35 Pemberontakan tidak hanya terjadi di Tangerang dan Jakarta, tetapi juga di kota-kota lainnya. Namun, selalu gagal karena, kurangnya dukungan dari para anggota-anggota PKI sendiri, maupun dari masyarakat luas.

Dokumen terkait