HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pembersihan Lahan dengan Cara Bakar (Burning)
Di Desa Sukaresmi pembersihan lahan dengan cara bakar hanya digunakan dalam kondisi tertentu saja. Adapun beberapa hal yang membuat masyarakat menggunakan cara ini antara lain :
Dalam pembersihan lahan dengan cara bakar, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Salah satu diantaranya adalah tahapan dimana sampah organik (tumbuhan bawah, rerumputan, dan sisa hasil panen) harus dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan tersebut dilakukan dengan menjemur sampah tersebut di bawah sinar matahari. Proses pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan kadar air bahan bakar sehingga bahan bakar menjadi kering dapat dengan mudah terbakar. Pada musim penghujan proses pengeringan ini akan sulit dilakukan dan memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan pada musim kemarau proses pengeringan tersebut tidak memerlukan waktu yang lama, dan dapat lebih cepat dibandingkan dengan cara tanpa bakar (no burning), sehingga masyarakat lebih memilih cara tersebut.
b. Cara bakar digunakan pada tanaman tertentu
Pada sebagian masyarakat permbersihan lahan dengan cara bakar (burning) hanya digunakan pada tanaman tertentu, seperti pada tanaman buncis dan kacang panjang. Hal itu dikarenakan sisa sampah yang dihasilkan dari tanaman tersebut terlalu menggembung. Sehingga apabila pembersihan dilakukan dengan cara tanpa bakar (no burning), khususnya dengan teknik ditimbun dalam tanah dapat menyusahkan peladang dalam pelaksanaannya, karena gundukan tanah yang dibuat akan menjadi terlalu besar. Selain itu sisa tanaman buncis dan kacang panjang sulit terurai menjadi bahan organik, sehingga pembersihan dengan cara tanpa bakar (no burning) akan memerlukan waktu yang lama dalam proses penguraiannya. Khusus pada tanaman buncis, selain karena kedua alasan tersebut pembersihan dengan cara bakar (burning) juga dipilih untuk menghindari adanya serangan hama dari tanaman buncis yang telah dipanen pada tanaman buncis yang baru ditanam.
Gambar 7 Sampah Organik Sisa Tanaman Buncis
c. Cara bakar digunakan pada lokasi-lokasi tertentu
Sebagian masyarakat desa Sukaresmi yang bekerja sebagai buruh tani lebih memilih membersihkan lahan dengan cara menumpuk/membuang sampah yang dihasilkan pada lokasi-lokasi yang tidak digunakan dan jaraknya cukup jauh dari lahan yang mereka garap. Namun, apabila disekitar lahan yang mereka garap itu tidak ditemukan lokasi yang tepat untuk membuang sampah tersebut maka mereka menggunakan cara bakar dalam membersihkan lahannya.
d. Jumlah sampah terlalu banyak
Pembersihan lahan dengan cara bakar juga digunakan apabila sampah yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan cara tanpa bakar (no burning) karena keterbatasan waktu dan tenaga.
Adapun teknik yang digunakan masyarakat desa Sukaresmi dalam pembersihan lahan dengan cara bakar, yaitu dengan teknik pembakaran tumpuk (Pile burning). Teknik pembakaran tumpuk (Pile burning) merupakan teknik pembakaran yang dilakukan dengan cara mengumpulkan (menumpuk) bahan bakar yang akan dibakar di suatu tempat. Pada pelaksanaannya teknik
Ladang
pembakaran tumpuk (Pile burning) ini dapat dilakukan dengan berbagai modifikasi. Adapun beberapa cara yang dilakukan masyarakat desa Sukaresmi dalam pembakaran tumpuk (Pile burning) adalah sebagai berikut:
1. Pembakaran dilakukan dalam beberapa tumpukan
Pada cara ini bahan bakar yang telah dikeringkan dikumpulkan dalam beberapa tumpukan (gundukan) untuk dibakar. Jarak antar gundukan tidak ditetapkan secara pasti, hanya disesuaikan dalam pelaksanaanya. Pembuataan beberapa gundukan tersebut bertujuan untuk mempermudah pekerjaan peladang dan mempersingkat waktu yang digunakan. Disisi lain salah satu keuntungan dari pembakaran sampah yang dilakukan dalam beberapa gundukan tersebut ialah api yang dihasilkan dari pembakaran tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan pembakaran yang dilakukan hanya pada satu gundukan saja, sehingga mengurangi resiko terjadinya kebakaran maupun perambatan api ke daerah lain dikarenakan api yang terlalu besar.
Keterangan :
: gundukan sampah/bahan bakar
Ladang
2. Pembakaran dilakukan dalam satu tumpukan
Pada cara ini bahan bakar yang telah dikeringkan dikumpulkan (ditumpuk) menjadi satu tumpukan yang dibuat memanjang di tengah-tengah ladang yang telah dibersihkan. Api tidak disulut hanya dari satu titik saja, melainkan dari beberapa titik dalam gundukan tersebut. Cara ini dilakukan untuk mempersingkat waktu dalam proses pemanasan dan pembakaran bahan bakar.
Keterangan :
: gundukan sampah/bahan bakar
Gambar 9 Pola Pembakaran Tumpuk (Pile Burning) dengan Satu Tumpukan
Kegiatan pembakaran umumnya dilakukan pada waktu antara pagi hari (yaitu sekitar pukul sepuluh) hingga siang hari. Pembakaran mulai dilakukan ketika bahan bakar telah kering dan matahari telah mulai terasa panas (udara tidak lembab). Karena udara yang lembab dapat membuat kadar air bahan bakar tinggi sehingga sulit terbakar. Proses pembakaran yang dilakukan tidak ditinggalkan begitu saja, melainkan ada pengawasan dari peladang yang bersangkutan. Hal itu untuk menghindari api yang merambat dan menyebabkan terjadinya kebakaran
hutan. Oleh karena itu, pembakaran tidak dilakukan pada waktu sore atau malam hari, yaitu dimana pada waktu tersebut para peladang telah pulang dari ladang. Selain itu pembakaran tersebut dilakukan pada ladang yang telah dibersihkan dari tumbuhan bawah, rerumputan, dan sisa hasil panen sehingga lokasi pembakaran terbebas dari bahan bakar lain yang memungkinkan api merambat ke tempat yang tidak diinginkan.
Namun ada juga sebagian kecil peladang yang melakukan pembakaran pada waktu sore hari, karena pada waktu tersebut sampah (bahan bakar) yang dijemur telah benar-benar kering sehingga mudah dan cepat untuk terbakar. Pada pembakaran tersebut tidak dilakukan pengawasan terhadap api yang telah dibuat, dan api ditinggal begitu saja. Cara tersebut itu dilakukan oleh peladang yang lokasi ladangnya tidak terlalu jauh dari pemukimannya. Api ditinggal begitu saja karena menurut mereka api tersebut tidak akan mampu merambat ke daerah lain dan menyebabkan kebakaran dikarenakan gundukan yang mereka bakar berada di tengah ladang yang telah dibersihkan dan tidak ada bahan bakar yang berserakan yang memungkinkan api untuk api menjalar ke luar areal.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pembersihan dengan cara bakar (burning) di desa Sukaresmi adalah sebagai berikut:
a. Pembersihan lahan
Pembersihan dilakukan dari tumbuhan bawah, rerumputan, dan sisa hasil panen. Dalam kegiatan pembersihan umumnya digunakan alat arit, cengkrong, dan parang.
b. Pengeringan bahan bakar
Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air bahan bakar sampai bahan bakar kering dan potensial untuk dibakar sehingga proses pembakaran dapat berjalan dengan cepat dan bahan bakar habis terbakar. Pengeringan bahan bakar dilakukan dengan cara menjemur bahan bakar di bawah sinar matahari. Bahan bakar yang tersedia disebar merata ke seluruh areal agar proses pengeringan berjalan cepat dan merata. Lamanya
waktu yang diperlukan dalam proses pengeringan tergantung pada intensitas matahari pada saat penjemuran bahan bakar.
c. Penumpukan bahan bakar
Bahan bakar yang telah kering dikumpulkan dan ditumpuk untuk dibakar. Tujuan dari penumpukan bahan bakar adalah agar api cepat menghabiskan bahan bakar yang tersedia. Penumpukan bahan bakar tersebut dapat dibuat menjadi satu tumpukan yang memanjang ataupun menjadi beberapa tumpukan yang lebih kecil dimana tinggi dan jarak antar tumpukan tidak ditentukan.
d. Pembuatan sekat bakar
Sebelum dilakukan pembakaran terlebih dahulu peladang membuat sekat bakar dengan cara membersihkan sisi-sisi ladang dari serasah, rumput, atau bahan bakar lainnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah api merembet ke areal lain. Lebar sekat bakar yang dibuat tidak ditentukan.
e. Pembakaran
Pembakaran dilakukan dengan teknik tumpuk (Pile burning) dengan berbagai modifikasi.