Gizi Lebih Gizi Baik
SUMBER DAYA KESEHATAN
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota.
APBD Kota Yogyakarta Tahun 2012 sebesar Rp. 1.146.288.393.816,-. Adapun anggaran bidang kesehatan yang terdiri dari Dinas Kesehatan dan rumah Sakit Jogja sebesar Rp. 83.992.289.336,- dengan rincian belanja langsung sebesar Rp 52.514.523.127,- dan belanja tidak langsung sebesar Rp 31.477.766.209,- sehingga persentase APBD bidang kesehatan pada Tahun Anggaran 2012 sebesar 12,28 %.
40
Dokter Gigi Perawat Bidan Apoteker Sanitarian Tenaga Ahli
Indikator Indonesia Sehat RatioGizi
49 BAB VI
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Keadaan umum Kota Yogyakarta yang berkaitan dengan geografi, demografi, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, sarana pelayanan kesehatan menggambarkan sebagai berikut :
a. Kota Yogyakarta terletak di tengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan merupakan pusat dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Kepadatan penduduk cukup tinggi yaitu mencapai 13.161 jiwa per Km2.
c. Fasilitas pendidikan cukup lengkap mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Ditinjau dari segi jenjang pendidikan, persentase tertinggi adalah pada tingkat pendidikan menengah ( SMA) yaitu 30 %, meningkatdibandingkan tahun lalu 28,57 %. Selain itu masih ada penduduk yang tidak/belum tamat SD dan tidak sekolah yang jumlahnya cukup banyak. Pada jenjang pendidikan tinggi, perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.
d. Jumlah penduduk miskin dan hampir miskin di Kota Yogyakarta meningkat dari tahun sebelumnya, dari 68.998 jiwa pada tahun 2011 menjadi 179.946 jiwa pada tahun 2012.
e. Sarana pelayanan kesehatan di Kota Yogyakarta baik yang dikelola Pemerintah maupun Swasta secara kuantitas dan kualitas cukup memadai, walaupun masih perlu ditingkatkan kualitas pelayanannya agar angka kesakitan dan kematian suatu penyakit dapat menurun.
2. Standar pelayanan yang digunakan sebagai acuan kinerja adalah Indikator Indonesia Sehat 2010, SPM berdasarkan SK Menkes No.
1457/Menkes/SK/IX/2003, dengan pencapaian program kesehatan sebagai berikut :
a. Derajat Kesehatan di Kota Yogyakarta dilihat dari angka kematian, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat Kota Yogyakarta. Secara umum angka kematian bayi dan angka kematian Balita dalam delapan tahun terakhir mengalami penurunan dan di bawah angka maksimal, tetapi untuk angka kematian ibu maternal mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya,
50 penyebab kematian ibu maternal sebagian besar dikarenakan perdarahan pada saat persalinan. Perdarahan waktu persalinan dapat disebabkan antara lain karena anemia ibu hamil, disamping penyakit lainnya seperti halnya hipertensi yang mengakibatkan eklamsia. Morbiditas di Kota Yogyakarta adalah angka kesembuhan (Cure rate) TB paru BTA + yang baru mencapai 75,3 % masih dibawah angka harapan yang seharusnya yaitu diatas 85%.
Upaya meningkatkan ketaatan minum obat melalui PMO dan upaya perbaikan sanitasi perumahan masih perlu ditingkatkan.
Status gizi penduduk Kota Yogyakarta masih perlu mendapat perhatian, hal ini diperkuat dengan data status gizi buruk Balita sebesar 1,01%, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun dibawah target nasional sebesar 5 % masih menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian.
Masih ditemukannya balita dengan status gizi burukjuga merupakan permasalahan yang perlu diselesaikan. Walaupun demikian angka gizi buruk di Kota Yogyakarta hanya sebesar 0,71 % yang berarti sudah lebih baik dari target Nasional ( <1 % ).
Kasus penderita DBD mengalami penurunan yang cukup tajam, dari 448 penderita pada tahun 2011, menjadi hanya 359 penderita pada tahun 2012.
Sedangkan jumlah kematian DBD sama dengan tahun lalu, yaitu 2 penderita (CFR 12,1 %). Angka tersebut masih dapat diupayakan menjadi lebih rendah bila kegiatan PSN dapat ditingkatkan sehingga angka bebas jentik menjadi tinggi. Pada tahun ini ABJ yang diharapkan sebesar 95 % hanya dapat mencapai 80,37 %.
b. Persentase rumah sehat pada tahun ini juga terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu. Hasil 50.258 rumah yang diperiksa (inspeksi sanitasi) pada tahun 2012 terdapat 44.799 rumah yang sehat (89,14 %).
Sedangkan tahun 2011 persentase rumah sehat sebesar 87,77 %. Angka ini berarti sudah dapat mencapai target SPM yaitu sebesar 80 %.
c. Dilihat dari perilaku masyarakat, berdasarkan hasil survei PHBS menunjukkan bahwa persentase perilaku sehat penduduk Kota Yogyakarta masih sangat rendah, yaitu 56,9 %. Namun angka ini sudah lebih baik dibandingkan tahun lalu yang baru mencapai 56,4 %.
51 Cakupan Posyandu mandiri sudah mencapai 30,9 % dan Posyandu Purmana 41,3 %. Sedangkan persentase bayi mendapat ASI eksklusif mengalami penurunan yang cukup tajam dibandingkan tahun 2011 yang sudah mencapai 75,04 %. Tahun 2012 ini turun menjadi 46,4 %, padahal target nasional sebesar 80%.
d. Hasil pelayanan kesehatan di Kota Yogyakarta secara umum adalah :
1) Cakupan kunjungan ibu hamil di Kota Yogyakarta pada dua tahun terakhir dapat mencapai target > 90 %. K1 tahun ini sebesar 100 % sedangkan K4 92,8 % yang berarti terdapat DO (drop out) rata-rata sebesar 7,2 %. Dengan semakin banyaknya sarana kesehatan yang melayani pemeriksaan kehamilan, maka diharapkan Kunjungan ibu hamil (K4) akan terus meningkat.
2) Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat pada Tahun 2012 dapat mencapai 100 %. Sedangkan Ibu Nifas yang mendapat pelayanan kesehatan juga sudah mencapai target, yaitu 92,0 %.
3) Persentase peserta KB terhadap pasangan usia subur juga sudah mencapai target standar pelayanan minimal secara nasional (70%) yaitu sebesar 76,8 %.
4) Belum efektifnya pelaksanaan PWS Imunisasi secara konsisten menyebabkan terjadinya cakupan yang melebihi 100 %. Adanya bayi luar wilayah yang diimunisasi di Kota Yogyakarta menyebabkan cakupan imunisasi dasar lengkap tahun 2012 menjadi sebesar 100,8 %. Walaupun demikian dapat dipastikan bahwa cakupan imunisasi bayi di Kota Yogyakarta sudah mencapai target standar pelayanan minimal secara nasional (80%).
5) Cakupan ibu hamil mendapat Fe masih berada di bawah target nasional (90 %). Pada tahun 2012 ini cakupan Bumil mendapat Fe 1 sebesar 79,17
%, dan cakupan Fe3 sebesar 73,07 %.
6) Cakupan Vitamin A yang diberikan pada Balita dan Ibu Nifas sudah mencapai angka yang cukup tinggi. Cakupan Balita mendapat Vit A 2 kali sebesar 99,63 % dan Cakupan Ibu Nifas mendapat Vit A sebesar 85,58 % berada di bawah standar pelayanan minimal secara nasional (100 %).
7) Ketersediaan obat essensial sudah sesuai kebutuhan dan persentase penulisan resep obat generik telah sesuai kebutuhan artinya 100%
52 terpenuhi. Angka ini telah diatas target nasional yang diharapkan yaitu sebesar 70%.
8) Anggaran Pembiayaan kesehatan dari sektor pemerintah mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.
B. Saran
Perlu dilakukan evaluasi yang lebih intensif terhadap kegiatan-kegiatan maupun pelaksanaan program yang cakupannya masih berada di bawah standar pelayanan minimal atau yang belum seprti yang diharapkan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Cakupan Keluarga ber-PHBS.
2. Status Gizi Balita.
3. Angka kesembuhan penyakit TB paru BTA (+).
4. Kegiatan pendampingan ibu hamil, suami siaga dan kelurahan siaga sebagai bagian dari upaya untuk mengeliminasi kasus kematian ibu maupun neonatus 5. Perlu adanya peningkatan sosialisasi penerapan cara pengelolaan makanan yang
benar, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian makanan
6. Diperlukan peningkatan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan mutu SDM di bidang kesehatan.
7. Pembiayaan kesehatan melalui APBD perlu ditingkatkan untuk mendukung pelayanan kesehatan pada masyarakat melalui advokasi pada Pemerintah Kota Yogyakarta.
8. Perlu adanya peningkatan kerjasama lintas sektor, sektor swasta, dan masyarakat dalam membahas permasalahan kesehatan dan lebih meningkatkan komunikasi.
53
54