BAB IV UPAYA KESEHATAN
SUMBER DAYA KESEHATAN
C. Pembiayaan Kesehatan
1. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten
Pada tahun anggaran 2014 alokasi anggaran kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang sebesar Rp. 89.832.183.166,- yang bersumber dari APBD kabupaten Rp 86.817.044.566,- (termasuk DAK), APBD Propinsi Rp 139.893.600,- dan dari APBN Rp 2.875.245.000,-.
Perkembangan jumlah dan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD kabupaten pada tahun 2010 s.d 2014 adalah sebagai berikut.
Grafik 5.3
Sumber : Sekretariat
Anggaran kesehatan tahun 2014 cenderung meningkat dari segi jumlah namun menurun dari segi persentase terhadap total APBD Kabupaten. Anggaran kesehatan DKK Rembang tahun 2014 sebesar Rp 89.832.182.566,- sedangkan persentase anggaran dari APBD kabupaten pada Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang hanya 5,83 % ( Rp 86.817.044.566,- ) dari total APBD Kabupaten Rembang. Besarnya anggaran kesehatan per kapita sebesar Rp 145.816,47.
Adapun rincian alokasi anggaran pada tahun 2014 berdasarkan sumber dan pembiayaanya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 anggaran (milyard) 50.394 46.006 42.820 37.911 52.808 68.466 86.817 % thd Tot APBD 8,0 % 7,6 % 5,9 % 4,7 % 5,1 % 6,1 % 5,8 % 8,0 % 7,6 % 5,9 % 4,7 % 5,1 % 6,1 % 5,8 % 0,0 % 2,0 % 4,0 % 6,0 % 8,0 % 10,0 % 0 20.000.000.000 40.000.000.000 60.000.000.000 80.000.000.000 100.000.000.000
Jml dan Persentase Anggaran DKK dari APBD Kab. terhadap APBD Kab. Rembang Th. 2008- 2014
Tabel 5.4
Anggaran Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Tahun 2014
NO SUMBER BIAYA ALOKASI ANGGARAN
KESEHATAN (Rupiah) %
1 2 3 4
1 APBD KAB/KOTA 86.817.044.566 96,64
a. Belanja Langsung (termasuk DAK) 50.774.458.566
b. Belanja Tidak Langsung (Gaji) 36.042.586.000
2 APBD PROVINSI 139.893.000 0,16
3 APBN : 2.875.245.000 3,20
- Penyehatan lingkungan 366.845.000
- Bina Upaya Kesehatan 1.000.000.000
- BOK 1.508.400.000
4 PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI (PHLN)
- GF ATM
- NLR
5 SUMBER PEMERINTAH LAIN
Total anggaran kesehatan 89.832.182.566
Total APBD Kab. 1.489.979.054.176
% APBD kes. thd. APBD Kab (termasuk DAK) 5,83 %
Anggaran kes per kapita / th Rp 145.618,47
Sumber : Sekretariat DKK
Dari tabel di atas nampak bahwa persentase anggaran kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten sebagian besar berasal dari APBD kabupaten yaitu sebesar 96,64%. Anggaran lain berasal dari APBN 3,2 % dan APBD Tk I sebesar 0,16 %. Adapun persentase anggaran dari APBD kabupaten terhadap total anggaran APBD sebesar 5,83%. Sedangkan bila dibagi dengan jumlah penduduk tahun 2014 maka jumlah anggaran per kapita sebesar Rp 145.618,47 per tahun.
BAB VI P E N U T U P
Dalam kesimpulan ini akan disajikan pencapaian hasil pembangunan kesehatan dengan indikator Indonesia Sehat yang dikelompokkan dalam beberapa indikator yaitu Indikator Derajat Kesehatan, Indikator Hasil Antara serta Indikator Proses dan Masukan yang dicapai oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang beserta jajarannya serta lintas sektor yang terkait pada tahun 2014.
A. Hasil Akhir (Derajat Kesehatan)
Jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Rembang tahun 2014 menurun menjadi 14 kasus dari 17 kasus pada tahun 2013. Angka Kematian Bayi (AKB) juga menurun menjadi 13,89/1.000 KH (125 kasus) bila dibandingkan tahun 2013 sebesar 17,12/1.000 KH (153 kasus).
Indikator kesakitan terutama penyakit yang berkaitan dengan komitmen global dan komitmen nasional antara lain Penemuan kasus penyakit TB Paru baru BTA + ( Case
Detection rate / CDR) mengalami peningkatan dari 59,66 % (389 kasus) pada tahun
2013 menjadi 66,4 % (433 ks) pada tahun 2014. Sedangkan angka kesembuhan penyakit TB Paru mengalami penurunan dari 84,31 % pada tahun 2013 menjadi 80% pada tahun 2014.
Angka Kesakitan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2014 menurun tajam menjadi IR 34,2/100 rb penduduk (211 ks) dari sebelumnya 54,8/100 rb penduduk (358 ks). Namun angka kematian DBD sedikit meningkat menjadi 1,4 % (3 ks) pada tahun 2014 dari tahun sebelumnya yaitu 1.12 % (4 ks) di tahun 2013.
Kasus HIV/AIDS yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 54 ks, penemuan ini meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu 32 kasus di tahun 2013. Sedangkan kematian karena HIV/AIDS pada tahun 2014 sebanyak 18 orang. Apabila dilihat dari pertama kali kasus HIV/AIDS ditemukan yaitu pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2014 telah ditemukan 206 kasus HIV/AIDs dengan jumlah kematian 101 penderita.
Status Gizi Balita yang dilihat dari BB/TB pada akhir tahun 2014 sebanyak 30 balita, hal ini meningkat apabila dibandingkan dengan akhir tahun 2013 sebanyak 21.
Untuk status gizi balita selama tahun 2014 (bulan januari s/d desember) di Kabupaten tercatat 70 balita gizi buruk (BB/TB) dengan berbagai upaya penanggulangan gizi buruk sehingga pada akhir 2014 balita gizi buruk hanya tercatat 30 balita.
B. Indikator Proses dan Masukan
Indikator proses dan masukan dalam hal ini adalah indikator pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan dan kontribusi sektor terkait.
Indikator pelayanan kesehatan diantaranya adalah pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan, persentase K4 pada ibu hamil, persentase desa UCI, persentase desa terkena KLB yang ditangani dan persentase keluarga miskin yang mendapat pelayanan kesehatan.
Cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2014 adalah 94,3 % meningkat apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yaitu : 92,66 %. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2014 adalah 86,0 % juga mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu 80,81 %.
Cakupan desa/ kelurahan UCI di Kabupaten Rembang pada tahun 2014 mencapai 100 % artinya semua desa dan keluarahan telah mencapai desa UCI (294 desa/kelurahan). Hal ini lebih tinggi apabila dibandingkan dengan cakupan tahun 2013 sebesar 99,66 % ( 293 desa). Adapun berkaitan dengan KLB pada tahun 2014 terdapat 6 desa yang mengalami KLB berupa penyakit DBD, campak dan keracunan yang keseluruhannya (100 %) telah ditangani kurang dari 24 jam.
Berkaitan dengan jaminan kesehatan, maka keluarga miskin di Kabupaten Rembang telah mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan nasional (JKN) dan Jamkesda/JKRS. Dalam program JKN kepersertaan terbagi menjadi dua yaitu penerima bantuan iuran (PBI) sebanyak 357.649 jiwa dan Non penerima PBI sebanyak 50.627 jiwa. Sedangkan peserta program jamkesda / JKRS pada tahun 2014 tercatat sebanyak 74.606 jiwa.
Adapun peserta JKN dan jamkesda/JKRS yang telah melakukan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar sebesar 236.878 kunjungan (54,87%) di Fasilitas kesehatan Dasar dan 4.292 kunjungan (1,44 %) di fasilitas kesehatan lanjutan.
Sumber Daya Kesehatan meliputi SDM kesehatan dan anggaran bidang kesehatan tahun 2014 terhitung masih rendah. Rasio tenaga kesehatan diantaranya rasio tenaga medis dokter umum sebesar 9,4 / 100 ribu penduduk, dokter spesialis 3,4 / 100 ribu penduduk dan dokter spesialis 1,62 / 100 ribu penduduk. Rasio tenaga perawat 64,84 / 100 ribu penduduk dan bidan sebesar 59,17 / 100 ribu penduduk. Sedangkan alokasi anggaran bidang kesehatan khususnya di Dinas Kesehatan dan puskesmas pada tahun 2014 yang berasal dari APBD Kabupaten mengalami
peningkatan dari Rp 68.466.901.000,- (th. 2013) menjadi Rp 86.817.044.566,- pada
tahun 2014. Prosentase anggaran terhadap total APBD kabupaten adalah 5,83 % yang mana jumlah tersebut sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 6,1% dan masih jauh dari yang diharapkan sebesar 15 % dari total APBD Kabupaten.
C. Indikator Hasil Antara
Dalam Indikator Indonesia Sehat, indikator antara meliputi keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat dan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Keadaan kesehatan lingkungan dapat dilihat dari indikator prosentase rumah sehat, penduduk dengan akses terhadap air minum, akses terhadap jamban sehat dan prosentase tempat – tempat umum dan pengelolaan makanan (TUPM) sehat. Sedangkan perilaku hidup masyarakat dilihat dari indikator rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan akses dan mutu terhadap pelayanan kesehatan dapat dilihat dari penduduk yang memanfaatkan puskesmas dan rumah sakit.
lndikator tentang keadaan lingkungan mencakup persentase akses keluarga terhadap sarana air bersih, jamban, tempat sampah, pengelolaan air limbah, dimana keadaan tersebut didapatkan dari data keluarga yang diperiksa. Untuk cakupan rumah sehat sampai dengan tahun 2014 sebesar 66,77 % (113.261 rmh) dan yang belum memenuhi syarat sebesar 33,22 % ( 56.366 rmh). Sedangkan cakupan akses penduduk terhadap air minum adalah 59,70 % ( 367.441 jiwa ). Untuk cakupan akses terhadap sanitasi yang layak pada tahun 2014 sebesar 57,8 % ( 355.864 jiwa ). Adapun cakupan Tempat – Tempat Umum dan Pengola Makanan ( TUPM) sehat sebesar adalah 58,67 % ( 3.967 TUPM ) dari jumlah TUPM yang diperiksa sebanyak 6.762 TUPM.
Berkaitan dengan prosentase posyandu tercatat jumlah posyandu sebanyak 1.227 buah dengan kategori Purnama 36,92 % dan kategori mandiri 8,07 %. Adapun untuk melihat perilaku hidup masyarakat telah dilakukan survey indikator PBHS Rumah tangga terhadap 43.537 rumah diperoleh hasil bahwa cakupan rumah tangga ber-PHBS sebesar 31.942 rumah ( 73,4 %).
Adapun pemanfaatan sarana kesehatan oleh masyarakat yang dilihat dari persentase kunjungan penduduk di Puskesmas meningkat daripada tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 jumlah kunjungan sebanyak 500.366 kunjungan terdiri dari rawat jalan 483.109 kunj , rawat inap sebanyak 15.524 kunj dan kunjungan PONED sebanyak 2.733 kunj. Untuk melihat sumber pembiayaan kunjungan di Puskesmas, kunjungan peserta JKN adalah yang terbesar yaitu 56,30 % ( 281.715 pst ), bayar / umum sebesar 42,51 % (212.689 pst) dan yang JKRS /Jamkesda adalah 1,19 % ( 5.962 %).