• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembiayaan Mudharabah

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh EVITA PURNAMA NIM: (Halaman 35-46)

BAB II TINJAUAN TEORITIS

B. Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Sedangkan secara istilah, mudharabah merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung

oleh pengelola dana.33

Menurut Syafi`i Antonio, mudharabah adalah akad kerjasama bisnis antara dua pihak dimana salah satu pihak (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal dan pihak lainnya menjadi pengurus. Keuntungan perdagangan mudharabah dibagikan menurut kesepakatan yang disepakati dalam akad, dan jika kerugian ditanggung oleh pemilik modal, asalkan kerugian tersebut tidak disebabkan oleh kelalaian pengelola. Jika kerugian disebabkan oleh penipuan atau kelalaian manajer, maka manajer harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.34

Menurut Umer Chapra, seorang pakar ekonomi dari Pakistan mengartikan mudharabah sebagai sebuah bentuk kemitraan di mana salah satu mitra disebut

33

Dwi Suwiknyo, Kompilasi Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, h. 181

34

shahibul maal atau rubbul maal (penyedia dana) yang menyediakan sejumlah modal tertentu dan bertindak sebagai mitra pasif (mitra tidur), sedangkan mitra yang lain disebut mudharib yang menyediakan keahlian usaha dan manajemen untuk menjalankan venture, perdagangan, industri atau jasa dengan tujuan untuk

mendapatkan laba.35

Dari beberapa pengertian diatas tentang mudharabah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa akad mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama sebagai penyedia dana (shahibul maal) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana/mudharib) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi antara mereka sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik dana selama kerugian tidak diakibatkan oleh kelalaian pengelola dana, apabila kerugian yang terjadi diakibatkan oleh kelalaian si pengelola, maka kerugian ini akan ditanggung oleh pengelola dana.

a. Jenis-jenis Pembiayaan Mudharabah

Secara umum mudharabah dibagi menjadi dua jenis, yaitu mudharabah Mutlaqoh dan mudharabah Muqoyyadah.

a) Mudharabah Mutlaqoh

Mudharabah mutlaqoh merupakan bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib, dan cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh jenis usaha, waktu dan bidang usaha. Dalam pembahasan fiqh ulama` Salafus Saleh, ungkapan if`al maa syi`ta (melakukan apa saja) dari shahibul maal

35

Neneng Nurhasanah, Mudharabah dalam Teori dan Praktik, Bandung: PT Refika Aditama, 2015, h. 69

sering dijadikan contoh, yang memberikan kekuatan besar.36 Di sini, shahibul maal memberdayakan Mudarib untuk berusaha menurut keinginannya sendiri, tetapi menurut prinsip-prinsip ajaran Islam, dan memberinya modal. b) Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan muqayyadah, yang menetapkan batasan-batasan, seperti mengharuskan mudharib dipasarkan di wilayah yang ditentukan oleh shaibul maal, atau untuk melakukan transaksi tertentu atau memberikan barang kepada orang-orang tertentu.37

b. Dasar hukum Pembiayaan Mudharabah 1. Al-Qur‟an QS. Al-Baqarah/02:283 ٌتَض ُْۡبَّۡۡه ٌي ُٰ ِزَف اًبِتاَك ا ُّۡد ِجَت ۡنَل َّّ ٍزََُس ٰٔلَع ۡنٌُُُۡك ۡىِا َّ ََُـًَاَهَا َيِوُتؤا ِٓذَّلا ِّدَؤُيلَف اًضعَب نُكُضعَب َيِهَا ىِاَف َّب َر َ ّاللّٰ ِقََُّيل َّ ّشلا اُْوُُكَت َلَ َّ َ Terjemahan:

“Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapat seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya)dan hendaklah dia bertakwa kepada allah, tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikan, sungguh, hatinya kotor (berdosa).Allah maha mengetahui apa yang

kamu kerjakan”.38

36

Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah, Jakarta: Pranedamedia Group, 2013, h. 197-198 37

Rachmat Syafe‟i, Fiqh Muamalah, Bandung: Pustaka Setia, 2001, h. 227 38

QS. Al Maidah/05:1

ۡيَلَع ٰٔلُُۡي اَه َّلَِا ِماَعًَۡ ۡلَا ُتَوۡيَِِب ۡنُكـَل ۡتَّل ِحُا ِد ُُْۡۡعۡلاِب ا ُْۡف َّۡا ا ٌَُْٰۤۡهٰا َيۡيِذَّلا اَُِّيَاـٰٰۤي ٌم ُزُح ۡنُُـًَۡا َّ ِدۡيََّّلااِّل ِحُه َزۡيََ ۡنُك

ُد ۡي ِزُي اَه ُنُك ۡحَي َ هللّٰاًَِّا Terjemahan:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan

hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.39

Aqad (perjanjian) dalam ayat di atas mencakup: janji prasetia seorang hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sehari-hari dengan sesamanya.

2. Al Hadist

Dari Shalih bin Suaib r.a. dari Ayahnya, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampuradukkan gandum dengan

jewawut untuk keperluan rumah tangga bukan untuk dijual.” 40

Dari Ibnu Abbas bahwa Abbas bin Abdul Muthalib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada pengelola dananya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar

Rasulullah SAW. beliau membenarkannya.41

39

Ibid, 107 40

https://roufibnumuthi.blogspot.com/2012/12/jual-beli-murabahah.html?m=1 (Di akses pada hari Minggu, pukul 20:03 tanggal 15 November 2020)

41

FATWA DSN MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Akad

3. Ijma

Pendapat ulama tentang Nisbah dalam kegiatan usaha yang menggunakan sistem Mudharabah :

a. Menurut pendapat Al-Syafi‟i dan Malik bila dalam Mudharabah ada persyaratan-persyaratan, maka Mudharabah tersebut menjadi rusak (fasid), sedangkan menurut Abu Hanifah dan Ahmad ibn Hanbal, Mudharabah tersebut sah.42

b. Menurut Ibrahim Al-Nakha‟i dan Hasan al-Basri berpendapat bahwa pengelola modal berhak atas nafkah atau biaya hidup, baik saat bepergian,

menjalankan usaha maupun saat dirumah.43

c. Ibnu Mundzir berkata,”para ulama sepakat bahwa pekerja harus mensyaratkan kepada pemilik modal bahwa ia mendapatkan sepertiga atau setengah dari laba, atau berdasarkan kesepakatan keduanya setelah laba tersebut diketahui bagian-bagiannya. Seandainya ditetapkan untuk semua laba, sejumlah dirham yang telah diketahui sebelumnya atau bagian yang

tidak diketahui, maka kogsi tidak sah.44

Apabila pelaksana bermudharabah (qiradh) dengan orang lain, lalu ia menyerahkan modal kepada orang tersebut, kemudian mendapat keuntungan, kerja sama tersebut tidak diperbolehkan. Adapun kalau ia telah berbuat demikian, keuntungannya diberikan kepada qiradh yang pertama. Demikian

menurut pendapat Hambali.45

42

Imam mustofa, al-fiqih al-islami wa adillatuh,(Beirut:Dar al-fikr,2004),h.159 43

Ibid,

44

Saleh Al-fauzan, Fiqh sehari-hari,(Jakarta:Gema insani,2005),h.256

4. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor 07/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah. Dalam fatwa tersebut Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama ‟Indonesia menetapkan Pembiayaan

Mudharabah sebagai berikut:46

1) Ketentuan Pembiayaan

a. Pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif

b. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) membiayai 100 % kebutuhan suatu proyek (usaha), sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha. c. Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).

d. Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan sesuai dengan syariah dan LKS tidak ikut serta dalam managemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

e. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

46

f. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.

g. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.

h. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN. i. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.

j. Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan, kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan, mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan

2) Rukun dan Syarat Pembiayaan

a. Penyedia dana (sahibul maal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum.

b. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a) Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).

c) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern

c. Modal ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut:

a) Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.

b) Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal diberikan dalam bentuk aset, maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, sesuaidengan kesepakatan dalam akad.

d. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi: a) Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan

hanya untuk satu pihak.

b) Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.

c) Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.

d) Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib), sebagai perimbangan (muqabil) modal yang disediakan oleh penyedia dana, harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.

2. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah, yaitu keuntungan.

3. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum Syari‟ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah, dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu.

e. Beberapa Ketentuan Hukum Pembiayaan

a) Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu.

b) Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu‟allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi.

c) Pada dasarnya tidak ada ganti rugi dalam mudharabah, karena pada dasarnya akad ini adalah amanah (yad alamanah), kecuali kesalahan yang disengaja, kelalaian atau pelanggaran perjanjian.

d) Jika salah satu pihak gagal melaksanakan kewajibannya atau terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, setelah perundingan gagal mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan melalui Panitia Arbitrase Syariah..

e) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penyelenggaraan usaha Pembiayaan Syariah.

Pasal 1; Pembiayaan jual beli adalah pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang melalui transaksi jual beli sesuai dengan perjanjian pembiayaan syariah yang disepakati oleh para pihak.

2. Rukun dan Syarat Pembiayaan Akad Mudharabah a. Rukun Pembiayaan Akad Mudharabah

Faktor-faktor yang harus ada (rukun) dalam akad mudharabah adalah47

a) Pelaku (pemilik modal maupun pelaksana usaha).Pelaku akad mudharabah sama dengan rukun dalam akad jual beliditambah satu faktor tambahan, yakni nisbah keuntungan. Dalam akad mudharabah harus ada minimal dua pelaku.Pihak pertama bertindak sebagai pemilik modal (shahibul mal), sedangkan pihak kedua bertindak sebagai pelaksanaan usaha (mudharib atau amil). Tanpa kedua pelaku ini maka akad mudharabah tidak ada. b) Objek mudharabah (modal dan kerja). Objek dalam akad mudharabah

merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan oleh para pelaku. Pemilik moal menyerahkan modalnya sebagai objek mudharabah, sedangkan pelaksana usaha menyerahkan kerjanya sebagai objek mudharabah. Modal yang diserahkan bisa berupa uang atau barang yang dirinci sesuai nilai uang. Sedangkan kerja yang diserahkan bisa berbentuk keahlian, ketrampilan, selling skill, management skill, dan lain-lain. Tanpa objek ini akad mudharabah pun tidak akan ada.

47

Binti Nur Aisyah, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, (yogyakarta: Kalimedia, 2015), h. 187.

c) Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul). Persetujuan kedua belah pihak merupakan konsekuensi dari prinsip antaraddin minkum (sama-sama rela). Disini kedua belah pihak harus secara rela bersepakat untuk mengikatkan diri dalam akad mudharabah. Pemilik dana setuju dengan perannya untuk menkontribusikan dananya, sementara pelaksana usaha pun setuju dengan perannya untuk mengkontribusikan kerjanya.

d) Nisbah (keuntungan). Nisbah adalah rukun yang khas dalam akad mudharabah, yang tidak ada dalam akad jual beli. Nisbah ini mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua belah pihak yang melakukan mudharabah. Mudharib mendapatkan imbalan atas kerjanya, sedangkan shahibul mal mendapat imbalan atas penyertaan modalnya. Nisbah inilah yang akan mencegah terjadinya perselisihan antara kedua belah pihak mengenai cara pembagian keuntungan.

b. Syarat Pembiayaan Akad Mudharabah

Syarat-syarat mudharabah adalah sebagai berikut:48

a) Syarat yang berkaitan dengan orang yang melakukan transaksi, harus orang yang cakap bertindak atas nama hukum dan cakap diangkat sebagai wakil.

b) Syarat yang berkaitan dengan modal, yaitu: 1. Berbentuk uang

2. Jelas jumlahnya 3. Tunai

48

Veithzal Rivai, Islamic Financial Manajgement, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 126

4. Diserahkan sepenuhnya kepada pedagang atau yang mengelola (mudharib).

Apabila modal berbentuk barang, menurut ulama tidak diperbolehkan, karena sulit untuk menentukan keuntungannya.Demikian juga halnya dengan hutang,tidak bisa dijadikan sebagai modal mudharabah. Namun apabila modal itu berupa al-wadi‟ah (titipan) pemilik modal kepada pedagang, boleh dijadikan modal Mudharabah.

C. Nisbah Bagi Hasil

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh EVITA PURNAMA NIM: (Halaman 35-46)

Dokumen terkait