• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : RESIKO BANK ATAS PEMBIAYAAN MURABAHAH

B. Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah

Diantara sekian banyak produk perbankan yang dikembangkan dalam sistem perbankan syariah, salah satunya adalah sistem jual beli (sale and purchase dalam bahasa inggris, bai’ dalam bahasa arab). Dalam sistem jual beli ini, dikenal ada tiga cara yang dilakukan dalam praketk sehari-hari, yaitu bai’ al-murabahah, bai’ as-

salam, dan bai’ al-istishna. Namun dalam praktek perbankan syariah, diantara ketiga

bentuk sistem jual beli ini, yang banyak dilakukan adalah sistem jual beli bai’ al-

murabahah dan selalu disebut secara ringkas dengan sistem murabahah.

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan

keuntungan atau tambahan harga yang telah disepakati dan transparan. Sesuai dengan pengertiannya, murabahah adalah jual beli barang dengan harga asal ditambah dengan keuntungan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam jual beli ini, penjual harus memberi tahu harga pokok pembelian barang dan menentukan tingkat

keuntungan tertentu sebagai tambahan dan menjelaskannya secara transparan kepada pembeli. Murabahah adalah salah satu jenis jual beli yang dibenarkan oleh syari’ah dan merupakan implementasi muamalat tijariyah (interaksi bisnis).

Menurut beberapa kitab fiqih, Murabahah adalah salah satu dari bentuk jual beli yang bersifat amanah. Jual beli ini berbeda dengan jual beli musawwamah (tawar menawar). Murabahah terlaksana antara penjual dan pembeli berdasarkan harga barang, harga asli pembelian si penjual yang diketahui oleh si pembeli dan keuntungan penjual pun diberitahu kepada pembeli. Sedangkan

musawwamah adalah transaksi yang terlaksana antara si penjual dengan si

pembeli dengan suatu harga tanpa melihat harga asli barang.105

Udovitch menyatakan bahwa murabahah adalah suatu bentuk jual beli dalam komisi, dimana si pembeli biasanya tidak dapat memperoleh barang yang dia inginkan kecuali lewat seorang perantara, atau ketika si pembeli tidak mau susah- susah mendapatkannya sendiri, sehingga ia mencarai jasa seorang perantara.106

Kemudian Gemala Dewi dalam bukunya menyatakan bahwa Murabahah adalah pembelian oleh satu pihak kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan.107

As-Shiddieqy menjelaskan dalam bukunya bahwa jual beli murabahah ini merupakan jual beli yang kurang disukai oleh kalangan sahabat Nabi saw, namun oleh beberapa imam mazhab bentuk jual beli murabahah ini dibolehkan.108

105

Hasballah Thaib, Op.cit, hal.121 106

Abdullah Saeed, op.cit, hal. 119 107

Gemala Dewi, dkk, op.cit, hal. 111 108

Menurut Abdullah Saeed, pada dasarnya murabahah adalah suatu bentuk jual beli, namun bukanlah suatu bentuk transaksi jual beli yang dikenal dalam Islam karena tidak ada hadits yang menjelaskan bentuk jual beli murabahah ini. Para ulama generasi awal semisal Malik dan Syafi’i yang secara khusus mengatakan bahwa jual beli murabahah adalah halal, tidak memperkuat pendapat menerka dengan satu hadits pun. 109

Lebih ekstrem lagi Abdullah Saeed menyatakan murabahah adalah suatu pembiayaan “mirip bunga”.110

Abdullah Saeed berpendapat bahwa para teoritisi perbankan Islam berargumen bahwa perbankan Islam harus didasarkan pada Profit and Loss Sharing (PLS), bukan berdasarkan bunga. Namun, dalam prakteknya, bank-bank Islam sejak awal telah menemukan bahwa perbankan berdasarkan pada Profit and Loss

Sharing adalah sulit untuk diterapkan karena penuh dengan resiko dan tidak

pasti. Problem-problem praktis yang terkait dengan pembiayaan ini telah mengakibatkan penurunan bertahap penggunaannya dalam perbankan Islam, dan mengakibatkan peningkatan yang terus menerus penggunaan mekanisme- mekanisme pembiayaan “mirip bunga”.111

Mereka (bank syariah) menemukan apa yang di dalam fiqih disebut dengan

murabahah, suatu model jual beli yang pihak pembeli –karena satu dan lain

hal– tidak bisa membeli langsung barang yang diperlukannya dari pihak penjual, sehingga dia memerlukan perantara untuk bisa membeli dan mendapatkannya. Dalam proses ini, si perantara biasanya menaikkan harga sekian persen dari harga aslinya. Produk ini kemudian menjadi bisnis yang paling populer dan disenangi oleh bank-bank Islam karena nyaris tanpa resiko.112

109

Abdullah Saeed, op.cit, hal. 119 110 ibid, hal 118 111 Ibid 112 ibid

Al-kaff, seorang kritikus murabahah kontemporer, menyimpulkan bahwa

murabahah adalah salah satu jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman nabi

atau para sahabatnya. Menurutnya, para tokoh ulama mulai menyatakan pendapat mereka tentang murabahah pada seperempat pertama abad kedua hijriyah, atau bahkan lebih akhir lagi.113

Dalam hukum Islam, dibolehkannya jual beli dengan memakai jasa perantara ini didasarkan pada pendapat Ibnu Abbas yang berkata “Juallah pakaian ini, sekiranya lebih dari sekian, maka untuk anda”.114

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa transaksi murabahah adalah transaksi jual beli yang termasuk dalam bidang muamalah yang tidak dikenal pada zaman nabi, dan baru berkembang di kemudian hari pada masyarakat Madinah sehingga ia merupakan urf (adat istiadat atau kebiasaan setempat) di bidang mualamalah, dan karena dianggap tidak bertentangan dengan syariat Islam maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal muamalah yang menyatakan “segala sesuatunya diperbolehkan kecuali ada larangan dalam Qur’an taupun Sunnah”.

Dalil yang dapat dijadikan dasar dalam transaksi murabahah merupakan dalil-dalil transaksi jual beli, karena itu dasar-dasar syariah mengenai jual beli dijadikan pula sebagai dasar syariah pada transaksi murabahah.

Adapun dalil-dalil tersebut antara lain, surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya: “dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”, dan Surat An-Nisa ayat 29 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu

113

ibid 114

M.Ali Hasan, Berbagai Transaksi Dalam Islam (Fiqh Muamalat), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 292.

memakan harta sesama kamu dengan jalan bathil, kecuali melalui perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu.”

Pembiayaan murabahah yang umum dipraktekkan oleh perbankan syariah di Indonesia juga memiliki perbedaan dengan konsep klasik murabahah. Perbedaan karakteristik pokok pembiayaan murabahah dalam literatur klasik dan praktik di Indonesia dapat dilihat pada tabel.

TABEL 4

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK POKOK PEMBIAYAAN MURABAHAH DALAM LITERATUR KLASIK DAN PRAKTIK DI INDONESIA115

Karakteristik Pokok Praktek Klasik Praktik di Indonesia Tujuan transaksi Kegiatan jual beli pembiayaan dalam rangka

penyediaan fasilitas/ barang. Tahapan transaksi Dua tahap Satu tahap

Proses transaksi (i) penjual membeli barang dari produsen.

(ii) Penjual menjual barang kepada pembeli

Bank selaku penjual dapat mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari produsen untuk dijual kembali kepada nasabah tersebut

Status kepemilikan barang pada saat akad

Barang telah dimiliki penjual saat akad penjualan dengan pembeli dilakukan

Barang belum jelas dimiliki penjual saat akad penjualam dengan pembeli dilakukan.

(i) perhitungan laba menggunakan biaya transaksi ril (real

transactionary cost).

(i) perhitungan menggunakan

benchmark atas rate yang

berlaku dalam pasar uang Perhitungan tingkat

marjin

(ii) perhitungan laba merupakan

lumpsum dan wholesale

(ii) perhitungan laba menggunakan persentase per

annum dan dihitung berdasarkan baki debet (outstanding) pembiayaan.

Sifat pemesanan barang oleh nasabah

- tidak tertulis - dua pendapat:

mengikat dan tidak mengikat

Tertulis dan mengikat

Pengungakapan harga pokok dan marjin

Harus transparan Harus transparan

Tenor Sangat pendek Jangka panjang (1-5 tahun) Cara pembayaran

transaksi jual beli

Cash and carry Dengan cicilan (ta’jil)

Kolateral Tanpa kolateral Ada kolateral/ jaminan tambahan

115

Namun demikian, Murabahah tetap merupakan salah satu produk yang populer dalam praktek pembiayaan pada perbankan syariah. Selain mudah perhitungannya bagi nasabah maupun bagi manajemen bank karena harga yang dibuat secara transparan dan tanpa adanya pembayaran dengan sistem bunga berjalan,

murabahah juga memiliki beberapa kesamaan (yang bukan prinsipil) dengan sistem

kredit pada perbankan konvensional. Meskipun demikian, secara prinsip, murabahah sangat jauh berbeda dengan suku bunga dalam perbankan konvensional.

Murabahah adalah transaksi kepercayaan (trustsworthiness), sebab pembeli

telah mempercayakan penjual untuk menentukan harga asal barang yang dibelinya. Oleh karena itu, ketika bank menawarkan skim pembiayaan

murabahah, maka sebenarnya bank menawarkan kepercayaan dan good-will

yang tinggi kepada nasabah, dan sebaliknya, nasabah juga memberikan kepercayaan yang penuh kepada pihak bank. Konsep amanah dan saling mempercayai inilah yang membedakan murabahah dengan pinjaman yang berbasiskan bunga tetap.116

Secara konvensional, dalam transaksi simpan-pinjam dana, si pemberi pinjaman mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang diterima si peminjam kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan selama proses peminjaman tersebut. Penyeimbang maksudnya adalah adanya suatu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil, seperti transaksi jual beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek.

Yang tidak adil disini adalah si peminjam diwajibkan untuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak, dan pasti untung dalam setiap penggunaan kesempatan tersebut. Dana tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya hanya dengan

116

Penjelasan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah tanggal 1 April 2000

faktor waktu semata tanpa adanya faktor orang yang menjalankan atau mengusahakannya. Bahkan walaupun peminjam tersebut mengusakannya, hasil akhirnya tetap terdapat kemungkinan untung ataupun rugi. Apabila hasilnya rugi, orang tersebut tetap harus membayar bunga seperti yang telah diperjanjikan, karena pada awal terjadinya transaksi, penentuan bunga dibuat dengan asumsi harus selalu untung.

Secara syariah, dibenarkan menginvestasikan modal atau dana yang dimilikinya untuk memperoleh keuntungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kerja sama usaha dan berbagi keuntungan, bukan meminjamkan uang dengan menarik bunga tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sektor riil. Pemilik

dana dapat menginvestasikan dananya melalui bai’ al-murabahah, bai’

al-istishna, bai’ al-ijarah, bai’ al-mudharabah, al-musyarakah, al-hawalah, al-kafalah, dan al-wakalah. Dari transaksi bisnis tersebut pemilik dana boleh

mengambil keuntungan dari hasil yang diperoleh, karena sangatlah tidak adil jika si pemilik dana telah mengkontribusikan dana bersama mitranya, sementara seluruh keuntungan diambil mitra serta tidak memberikan sesuatu kepada si investor. Namun yang dilarang dalam perolehan keuntungan tersebut adalah pematokan imbalan pada awal transaksi secara tetap dan harus pasti, karena tidak semua transaksi yang dilakukan pasti memperoleh keuntungan.

Oleh karena itu, penentuan besarnya keuntungan yang diperoleh oleh pemilik modal ditentukan oleh besarnya rasio/ nisbah bagi hasil yang dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. Dengan demikian,

semakin besarnya keuntungan dari usaha yang dilakukan, maka jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan, dan sebaliknya, apabila usaha yang dilakukan merugi, maka kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak. Hal yang demikian tentu akan lebih adil apabila dibandingkan dengan sistem bunga yang diterapkan oleh bank konvensional.

Margin atau keuntungan yang diperoleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Puduarta Insani adalah berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak, yaitu antara bank dengan nasabah debiturnya, namun nilainya tidak dibuat dibawah besarnya nilai persentase dari tabungan atau deposito bank. Apabila bank mengambil pembiayaan dari bank lain juga, semisal dari Bank Sumut, maka dalam menyalurkan pembiayaannya kepada nasabah debitur, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Puduarta Insani harus menaikkan keuntungan minimal 6% dari besarnya persentase pembiayaan dari bank lain tersebut. Misalnya bank mendapat pinjaman dengan persentase 13% setahun dari Bank Sumut, maka kepada nasabahnya Bank Pembiayan Rakyat Syariah Puduarta Insani harus menyalurkan kepada nasabah debiturnya sebesar 19% setahun untuk margin keuntungannya. Dalam menentukan marginnya, bank memulai dari 0% sampai dengan 38% keuntungan, tergantung kesepakatan para pihak. Bank hanya meminta 0% keuntungan bagi nasabah yang telah bermasalah dan hanya mewajibkan untuk mengembalikan pembiayaan pokok tanpa margin, ataupun bagi nasabah yang mengambil qardh (pinjaman kebajikan) yang memang tanpa margin keuntungan.

Perhitungan bank cukup sederhana dalam menentukan margin dan memberikan pembiayaan kepada nasabah debiturnya. Berikut contoh perhitungan pembiayaan yang diberikan bank kepada nasabah debitur.

Misalnya nasabah debitur akan membeli suatu barang dengan harga Rp.10.000.000,-. Bank meminta margin keuntungannya sebesar 18% pertahun dalam jangka waktu 24 bulan/ 2 tahun.

Oleh karena itu = Rp.10.000.000,- x 18% x 2 tahun = Rp.3.600.000,-.

Harga jual bank kepada debitur = Rp. 10.000.000,- + Rp.3.600.000,- = Rp. 13.600.000,- / 24 bulan = Rp. 566.670,- per bulan.

Dengan demikian nasabah debitur membayar Rp. 566.670,- per bulan kepada bank selama 24 bulan/ 2 tahun.

Hal lain yang membedakan perbankan konvensional dengan perbankan syariah adalah adanya ketentuan-ketentuan agama yang tetap harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar, baik itu adalah objeknya maupun tujuannya. Dalam perbankan syariah, suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram;

2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan dalam masyarakat; 3. Apakah proyek termasuk perbuatan yang melanggar kesusilaan; 4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian;

6. Apakah proyek merugikan syiar Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung. 117

Menurut Al-Kasani, jual beli murabahah dapat dikatakan sah apabila memenuhi beberapa syarat berikut ini:

a. Mengetahui harga pokok pembelian bagi nasabah, hal ini merupakan syarat mutlak bagi keabsahan jual beli murabahah, pihak bank harus men-disclose harga pokok pembelian pada nasabah.

b. Adanya kejelasan margin/ keuntungan yang diinginkan oleh bank, keuntungan harus dijelaskan kepada nasabah, atau bisa dengan menyebutkan persentase dari harga pokok pembelian.

c. Modal yang digunakan untuk membeli komoditas harus merupakan barang mitsli, dalam arti terdapat padanannya di pasaran, alangkah baiknya apabila menggunakan uang.

d. Akad jual beli pertama (antara pihak bank dan suplier) harus sah adanya, jika tidak, maka trasaksi jual beli yang dilakukan pihak bank dengan nasabah akan menjadi rusak dan batal akadnya. 118

Jual beli secara al-murabahah dilakukan hanya untuk barang ataupun produk yang memang telah dikuasai atau telah dimiliki oleh penjual pada waktu negosiasi dan berkontrak. Apabila barang atau produk yang menjadi objek dari jual beli tersebut tidak atau belum dimiliki oleh penjual, maka sistem yang digunakan adalah

Murabahah Kepada Pemesan Pembelian (KPP). Hal ini dinamakan demikian karena

si penjual semata-mata mengadakan barang untuk memenuhi kebutuhan si pembeli yang memesannya. Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i menamai transaksi sejenis ini dengan istilah al-aamir bisy-syira.119

117

Gemala dewi, Op.cit, hal. 109 118

Penjelasan Fatwa Dewan Syariah Nasional No.04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah tanggal 1 April 2000

119

Ide tentang jual beli murabahah KPP tampaknya berakar pada:120 1) Mencari pengalaman.

Nasabah meminta kepada bank untuk membeli sesuatu barang. Nasabah berjanji untuk ganti membeli barang tersebut dengan memberi bank tambahan keuntungan. Nasabah memilih sistem pembelian ini, yang biasanya dilakukan secara angsur, lebih karena ingin mencari informasi dibanding alasan kebutuhan yang mendesak terhadap aset tersebut.

2) Mencari pembiayaan.

Dalam operasi perbankan syariah, motif pemenuhan pengadaan barang atau modal kerja merupakan alasan utama yang mendorong nasabah datang ke bank.

Cara menjual secara angsur atau cicil sebenarnya bukan bagian dari syarat sistem murabahah atau murabahah KPP. Meskipun demikian, transaksi secara angsuran ini mendominasi praktik pelaksanaan kedua jenis murabahah tersebut, dikarenakan seseorang tidak akan datang ke bank kecuali untuk mendapat kredit atau pembiayaan dan membayar secara angsur.

Karena biasanya pihak bank belum memiliki barang atau komoditas yang diperjanjikan tersebut, maka yang terjadi selanjutnya adalah praktek pembiayaan

murabahah kepada pemesan pembelian (KPP). Berdasarkan kesepakatan tersebut,

pihak bank membeli komoditas dari supplier atas nama bank sendiri, dan kontrak pertama antara pihak bank dengan supplier ini harus bebas dari riba. Setelah komoditas tersebut telah menjadi milik bank sepenuhnya, kemudian bank

120 Ibid.

menawarkan komoditas tersebut kepada nasabah, hal ini tentunya barang atau komoditas yang ditawarkan oleh bank harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan pada saat kesepakatan. Setelah terjadinya kesepakatan antara bank dengan nasabah mengenai barang atau komoditas yang ditawarkan tersebut, baru kemudian pihak bank dan nasabah dapat melakukan kontrak jual beli. Dalam hal ini, bank harus menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan pembelian, seperti harga pokok pembelian, besarnya margin atau keuntungan, termasuk apabila pembelian tersebut dilakukan secara hutang. Jika telah terjadi kesepakatan antara bank dan nasabah mengenai jual beli tersebut, barang dan dokumen-dokumen dikirimkan kepada nasabah, dan selanjutnya nasabah memiliki kewajiban untuk membayar harga barang yang telah disepakati pada jangka waktu yang telah ditentukan.

Apabila pihak bank ingin mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga (supplier), maka kedua belah pihak harus menandatangani kesepakatan agensi (agency contract), dimana pihak bank memberikan otoritas kepada nasabah untuk menjadi agennya guna membeli komoditas dari pihak ketiga atas nama bank. Dengan kata lain, nasabah menjadi wakil bank untuk membeli komoditas. Kemudian nasabah membeli komoditas atas nama bank, dan kepemilikannya hanya sebatas pada sebagai agen dari pihak bank. Selanjutnya, nasabah memberitahukan kepada pihak bank bahwa ia telah membeli komoditas yang dimaksud, lalu pihak bank menawarkan komoditas tersebut kepada nasabah, dan terbentuklah kontrak jual beli dan komoditas tersebut kemudian berpindah menjadi milik nasabah dengan segala resikonya.

Dalam jual beli ini, bank diperbolehkan meminta uang muka kepada nasabah pada saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Hal ini lazim disebut dengan

bai’ ‘arbun atau oleh beberapa bank Islam digunakan istilah arboun. Dalam

yurisprudensi Islam, arboun adalah jumlah uang yang dibayar dimuka kepada penjual. Ringkasnya, arboun adalah uang muka untuk sebuah pembelian. Menurut Jumhur Ulama, hal ini memang tidak diperbolehkan, karena dalam jual beli ‘arbun tersebut terdapat gharar, resiko atau potensi untuk memakan harta orang lain tanpa adanya pembanding. Namun apabila kita bersandar pada pendapat Imam Ahmad Bin Hambal, jual beli tersebut diperbolehkan berdasarkan Hadist Riwayat Abdul Razzaq dari Zaid bin Aslam, yaitu:

“Rasulullah SAW ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya.”121

Apabila nasabah memutuskan untuk membeli barang atau komoditas tersebut, uang muka yang telah dibayar tersebut digunakan sebagai pengurang atas harga yang telah disepakati, sehingga nasabah hanya tinggal membayar sisa harga. Akan tetapi, apabila nasabah batal membeli, uang muka yang telah dibayar tadi menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. Dengan demikian, biaya riil pembelian yang telah dikeluarkan bank harus dibayar dari uang muka. Apabila uang muka tersebut lebih sedikit dari kerugian yang harus dikeluarkan oleh bank, maka bank dapat meminta kembali sisa

121

Fatwa Dewan Syariah Nasional No.04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah Tanggal 1 April 2000

kerugiannya pada nasabah. Namun apabila uang muka tersebut melebihi kerugian, bank harus mengembalikan kelebihan tersebut kepada nasabah.

Nasabah wajib menyelesaikan angsurannya sampai hutangnya lunas. Apabila nasabah menjual kembali barang tersebut kepada pihak ketiga sebelum masa angsurannya berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya, namun nasabah tetap harus menyelesaikan pinjamannya sesuai dengan kesepakatan awal. Hal ini dikarenakan transaksi penjualan yang dilakukan nasabah kepada pihak ketiga adalah merupakan akad yang benar-benar terpisah dari akad al-murabahah yang pertama dengan bank.

Dalam pembelian dengan sistem murabahah ini juga diperbolehkan diadakannya jaminan dari nasabah oleh bank. Walaupun pada dasarnya jaminan ini bukanlah suatu syarat yang mutlak harus dipenuhi, namun biasanya pihak bank meminta jaminan tersebut dengan maksud agar nasabah serius dengan kontrak jual beli yang dilakukan. Bank boleh meminta jaminan yang bernilai ekonomis dan sesuai dengan jumlah transaksi yang dilakukan. Dalam teknis operasionalnya, barang- barang yang dipesan dapat menjadi salah satu jaminan untuk pembayaran hutang.

Dari hal-hal yang diuraikan diatas, tampak jelas bahwa jaminan bukanlah hal utama yang menjadi acuan dalam pemberian pembiayaan seperti yang dilakukan pada bank konvensional. Hal utama yang paling penting adalah bahwa pembiayaan tersebut tidak boleh bertentangan dengan apa yang telah diatur dalam syariah Islam.

Adapun barang-barang yang dijadikan jaminan dalam pembiayaan yang diberikan, sama dengan barang-barang jaminan seperti halnya pada bank

konvensional. Terdapat barang-barang yang bersifat kebendaan, bergerak maupun tidak bergerak, berwujud maupun tidak berwujud, ataupun barang-barang yang bukan kebendaan, sesuai dengan lembaga jaminannya masing-masing, seperti gadai, fidusia, hak tanggungan, hipotek kapal, dan lainnya.

Yang menarik disini, terhadap tanah yang belum bersertifikat tetap dapat dijadikan sebagai barang jaminan, walaupun tanah yang belum bersertifikat tersebut bukanlah merupakan bagian dari satu lembaga jaminan manapun, tetapi pihak bank, dalam hal ini, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Puduarta Insani, tetap menerimanya sebagai barang jaminan terhadap hutang nasabah debitur. Menurut pihak bank, jaminan atas tanah yang belum bersertifikat ini dapat dijadikan barang jaminan karena kecilnya pembiayaan yang diambil oleh nasabah debitur, yaitu biasanya di