PEMBIAYAAN KESEHATAN
Bagian 7 Pembiayan Kesehatan
Peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatan kurang 2.
termobilisir dengan baik.
Inefisiensi pengeluaran masyarakat, terbatasnya dana pemerin-3.
tah, serta system pembayarannya yang masih membebani perse-orangan yang memerlukan perawatan di saat sakit.
Konsep SJSN dan Jaminan Kesehatan
Sistem pembiayaan kesehatan menurut Bisma Murti, ada dua system: Pertama, National Health System (NHS), yaitu jaminan kese-hatan bagi seluruh warga negara yang pembiayaannya bersumber pajak. Ini berlaku di negara seperti Inggris, Malaysia dan Thailand.
Kedua adalah Social Health Insurance (SHI). Asuransi kesehatan sosial
adalah program asuransi pemerintah yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan yang ditunjuk pemerintah. Ada unsur ke-harusan partisipasi. sehingga sering disebut asuransi wajib. Dalam sistim ini, biaya kesehatan berdasarkan pada persentase penghasil-an peserta. Asurpenghasil-ansi sosial ini dicirikpenghasil-an dengpenghasil-an sempenghasil-angat solidaritas dan gotong royong dan tidak bertujuan profit. Sistem ini berlaku di Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, Korea, Kosta Rika, dan Taiwan
Dalam Deklarasi Universal HAM PBB 1948 pada BAB 22 Pasal 22, hak atas jaminan sosial: setiap orang, sebagai anggota masyara-kat, berhak atas jaminan sosial dan berhak terlaksananya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan untuk martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya, melalui usaha-usaha nasional maupun kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan ser-ta sumber daya setiap negara. Sedangkan dalam BAB 25, Pasal 25 (1), tentang standar hidup yang layak dan jaminan perlindungan hatan: setiap orang berhak atas hidup yang memadai untuk kese-hatan, kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk atas pangan, pa-kaian, perumahan dan perawatan kesehatan, serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat pengangguran,
menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang berada diluar kekuasaannnya.Padan Kovenan Internasional PBB ta-hun 1966 juga ditekankan tentang hak ekonomi, sosial dan budaya, khususnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, perawat-an medis, jaminperawat-an sosial dperawat-an pelayperawat-anperawat-an-pelayperawat-anperawat-an sosial
Jaminan kesehatan di Indonesia merupakan amanah dari kon-stitusi Negara. Dalam UUD 1945 secara jelas dicantumkan pada pasal 28 H (3): setiap orang berhak atas jaminan sosial. Selain itu ditekankan pada pasal 34 (2): Negara mengembangkan jaminan so-sial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat. Ketentuan dan komitmen lain yang mendukung perlunya jaminan sosial. Secara lebih detail diterjemahkan dalam komitmen para penyelenggaran negara dalam bentuk UU no 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Tujuan UU ini adalah memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat mela-lui penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Asas SJSN diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. SJSN bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluar-ganya. SJSN meruapakan program Pemerintah/masyarakat (negara) untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan pendekatan sis-tem. Diharapkan SJSN dapat menanggulangi resiko ekonomi kare-na sakit, PHK, pensiun, usia lanjut dan resiko lainnya. Dalam lain SJSN merupakan cara sekaligus tujuan mewujudkan kesejahteraan. Secara keseluruhan upaya SJSN merupakan komitmen negara untuk mewujudkan sebuah cita-cita terciptanya sebuah welfare state (negara kesejahteraan). Penyelenggaraan SJSN diharapak untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak, sebagaimana dalam UUD 1945.
159
Bagian 7 - Pembiayan Kesehatan
Penyelenggaraan SJSN dapat dalam berbagai bentuk, yakni bisa melalui mekanisme asuransi sosial (Social Insurance), bantuan sosial (Social Assistance), pelayanan sosial (Social Services), mekanis-me ta bungan (provident-funds), merupakan bagian perlindungan sosial“Social-Protection”, dan instrumen mobilisasi dana masyarakat/ membentuk tabungan nasional. Sedangkan pronsip-prinsip SJSN sbb:
Kegotong-royongan/solidaritas peserta yang mampu membantu 1.
yang kurang mampu peserta yang sehat membantu yang sakit peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi Kepesertaan wajib seluruh rakyat menjadi peserta, sehingga da-2.
pat terlindungi. Pemberi kerja secara bertahap wajib mendaftar-kan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta, sesuai dengan program jaminan sosial yang akan diikuti . Pemerintah secara bertahap mendaftarkan penerima bantuan iuran sebagai peser-ta
Nirlaba: artinya tidak dimaksudkan untuk mencari laba, tetapi 3.
untuk sebesar-besar kepentingan peserta
Keterbukaan : system manajemen harus terbuka memberikan 4.
laporan dan menerima masukan dan saran stakeholder.
Akuntabilitas: sistem pengelolaan mengedepankan pertang-5.
gungjawaban kepada publik (negara)
Keberhati-hatian. Prinsip ketiga manajemen ini diterapkan dan 6.
mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya
Dana Amanat dana yang terkumpul dari iuran peserta merupa-7.
kan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya
Portabilitas : pelayanan jaminan kesehatan dapat diakses di-8.
Hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruh-9.
nya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besara kepentingan peserta.
SJSN harus mengakomodasi kepentingan Pusat dan Daerah, agar masing-masing melaksanakan kewajibannya sesuai peraturan perundangan di Negara ini. Melalui judicial review, Mahkamah Kon-stitusi : Putusan MK RI terhadap perkara no 007/PUU-III/2005 ten-tang pengujian UU SJSN: Kewajiban Daerah dan prioritas belanjanya mengembangkan sistem jaminan social. Daerah tidak hanya me-menuhi Standar Pelayanan Minimal, namun jaminan social merupa-kan kewajiban konstitusional. Putusan Mahkamah Konstitusi pada Perkara No. 007/PU-III/2005 menyatakan pula bahwa Badan Penye-lenggara Jaminan Sosial tingkat Daerah juga dapat dibentuk dengan Peraturan Daerah berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi de-ngan memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU Pemerintah Daerah. Implementasi ideal dari SJSN masih terus berproses.