• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA

4. Pembibitan mangrove

Tahap pembibitan dilakukan setelah tahap perlakuan bibit selesai.

20

1. Ambil Kantong plastik, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng.

2. Isi Kantong plastik dengan sedimen, tetapi jangan terlalu penuh melainkan ¾

dari isi Kantong plastik.

3. Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas kantong plastik ke bagian luar dengan

tujuan pada saat surut dan cuaca kering, kristal–kristal garam air laut tidak terjebak di dalam kantong plastik yang bisa menghambat pertumbuhan benih

mangrove.

4. Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi baik ke

dalam sedimen dengan kedalaman yang cukup.

5. Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia ke

dalam Kantong plastik kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera ke dalam

Kantong plastik yang berukuran besar.

6. Setelah itu, masukkan satu per satu Kantong plastik yang sudah terisi dengan

benih-benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar

satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar

mempermudah distribusi pada saat pengambilannya di tahap penanaman

mangrove.

Apabila kelompok masyarakat sudah terbentuk, kegiatan pembibitan dapat

dilakukan dan dilanjutkan seterusnya oleh kelompok. Selain bermanfaat untuk

kegiatan penyulaman atau penanaman baru, juga dapat menjadi alternatif

penghasilan bagi kelompok. Saat ini permintaan terhadap bibit mangrove cukup

banyak karena sudah berjalannya beberapa program penanaman mangrove

21

2.3.3.2 Penanaman

Kegiatan penanaman mangrove mencakup penentuan lokasi penanaman,

pemilihan pada setiap tapak, persiapan lahan, dan cara menanam.

a. Penentuan lokasi penanaman

Lokasi penanaman mangrove adalah lahan yang secara teknis (fisik, kimia,

dan biologi) cocok untuk tananam mangrove yang akan ditanam tumbuh dan

berkembang dengan baik. Lokasi penanaman merupakan lahan yang diperuntukan

bagi pengembangan ekosistem mangrove (sesuai tata ruang dan peraturan yang

ada) dan disepakati seluruh pihak yang berkepentingan, terutama masyarakat

setempat. Lokasi penanaman mangrove biasanya dilakukan di tepi pantai yang

mengandung substrat lumpur, tepian sungai yang masih terpengaruh air laut, dan

tanggul air saluran tambak. Secara umum, mangrove dapat ditanam pada lokasi

yang ada atau pernah ada tanaman mangrove.

Secara teknis, mangrove dapat ditanam pada daerah berikut.

1. Pantai dengan lebar 130 kali rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan

terendah yang diukur dari garis air surut terendah ke arah pantai.

2. Tepian sungai selebar 50 m ke arah kiri dan kanan tepian sungai yang masih

terpengaruh air laut.

3. Tanggul, peralatan, dan pinggiran saluran air ke dan dari tambak.

b. Pemilihan pada setiap tapak

1. Ketersediaan benih/bibit

Benih/bibit mangrove yang akan ditanam sebaiknya berasal dari lokasi

setempat atau lokasi yang terdekat sehingga perubahan faktor lingkungan yang

22

antara lain, tidak terserang hama dan penyakit, tidak layu, jumlah daun minimal,

dan ukuran bibit minimal. Disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2

Spesifikasi bibit yang berkualitas baik dan siap tanam

No Spesies Tinggi bibit minimal (cm) Jumlah daun minimal (lembar) Lama pembibitan (bulan) 1 2 3 4 5 6 Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Bruguiera gymnorhiza Sonneratia alba Avicennia marina Xylocarpus granatium 35 55 35 15 30 40 4 4 6 6 6 6 4 – 5 4 – 5 3 – 4 5 – 6 3 – 4 3 – 4 Sumber: Anonim b, 2005 (dalam Suwarman, 2008).

2. Pemilihan jenis yang sesuai

Jenis mangrove yang akan ditanam harus disesuaikan dengan kondisi

lingkungan lokasi penanaman, seperti kondisi tanah dan salinitas. Jenis-jenis pada

setiap tapak sebagai berikut.

1. Bakau (Rhizophora spp.) dapat tumbuh baik pada substrat berlumpur dan

lumpur berpasir di pantai yang agak berombak/bergelombang dengan

frekuensi genangan 20 s.d 40 kali per bulan. Bakau merah (R. Stylosa) dapat

ditanam pada lokasi bersubstrat pasir berkoral.

2. Api-api (Avicennia spp.) lebih cocok ditanam pada substrat pasir berlumpur,

terutama di bagian terdepan pantai dengan frekuensi genangan 30 s.d 40 kali

per bulan.

3. Gogem (Sonneratia spp.) dapat tumbuh dengan baik pada lokasi bersubstrat

lumpur atau lumpur berpasir dari pinggir pantai kearah darat dengan frekuensi

23

4. Tanjang (Bruguiera spp.) dapat tumbuh dengan baik pelaada substrat yang

lebih keras yang terletak kearah darat dari garis pantai dengan frekuensi

genangan 30 s.d 40 kali per bulan.

5. Nyirih (Xylocarpus Granatum) jenis mangrove lain yang juga sering

digunakan untuk kegiatan penanaman adalah X. Granatum.

c. Persiapan lahan

Persiapan yang perlu dilakukan sebelum penanaman mangrove sebagai

berikut.

1. Membuat jalur tanam searah garis pantai dan dibersihkan dari tumbuhan liar

selebar satu meter. Sebelum ditanami, lahan yang akan ditanami harus

dibersihkan dari sisa tebangan tanaman, akar-akar tananam, dan

sampah-sampah. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses penanaman dan

mengurangi gangguan terhadap bibit yang akan ditanam.

2. Memasang ajir-ajir menggunakan patok-patok kayu atau bambu dengan garis

tengah 10 cm secara tegak sedalam 0,5 meter dengan jarak disesuaikan dengan

jarak tanam. Keberadaan ajir digunakan untuk mengetahui tempat bibit yang

akan ditanam, penanda adanya tanaman baru, dan menyeragamkan jarak bibit

yang satu dengan yang lain. Ajir dibuat dari bambu dibelah dengan ukuran

yang dipakai adalah tinggi lebih kurang satu meter, lebar dua s.d tiga cm dan

ditancapkan tegak kedalam tanah sedalam 0,5 meter.

d. Penentuan jarak tanam

Jarak tanam tergantung lokasi dan tujuan penanaman. Penanaman di

pinggir laut dengan tujuan melindungi pantai dari abrasi atau sebagai jalur hijau,

24

saluran-saluran air menuju tambak dengan tujuan melindungi tanggul atau jalur

hijau, apabila hanya satu baris, jarak antar tanaman dapat satu meter atau 1,5

meter. Apabila lebih dari satu baris, jarak tanam dapat satu x satu meter atau 1,5 x

1,5 meter. Apabila dilokasi penanaman banyak penjala, pencari udang atau

kepiting, maka jarak antar tanaman sebaiknya diperbesar menjadi dua meter atau

dua x dua meter. Hal ini untuk member ruang bagi mereka dan alat yang

digunakan agar tidak merusak tanaman. Jarak antar tanaman di tambak dengan

tujuan untuk melindungi tanggul satu meter, satu setengah meter, atau dua meter.

Setelah tanaman membesar dan dirasakan terlalu rapat, dapat dilakukan

penjarangan sehingga jarak antar tanaman menjadi dua meter atau tiga meter.

e. Peralatan yang digunakan

a) Tali pengatur jarak tanam

Agar jalur tanaman dan jarak antar tanaman yang diinginkan seragam,

maka diperlukan tali tambang ukuran 10 atau 20 m, kedua ujung tali ini diikat

dengan sepotong bambu kayu dan pada jarak tanam diinginkan diberi tanda (cat )

sebagai titik-titik penanaman.

b) Ajir

Ajir diperlukan terutama untuk penanaman di pantai yang menghadap laut

lepas yang ombaknya cukup besar. Bibit atau benih diikat ke ajir agar tidak

hanyut dibawa ombak. Selain itu, ajir juga dapat digunakan untuk penanaman di

sungai atau aliran air. Penggunaan ajir ini bertujuan sebagai tanda adanya tanaman

25

c) Tugal

Tugal digunakan untuk membuat lubang tanaman dan dibutuhkan sewaktu

menanam ditanah lumpur yang agak keras. Tugal dapat terbuat dari sepotong kayu

atau bambu.

d) Ember dan parang

Ember digunakan untuk mengangkut bibit atau benih sewaktu diadakan

penanaman. Parang digunakan apabila di lokasi penanaman banyak tumbuhan liar

atau ranting.

f. Cara menanam

Penanaman mangrove dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu

penanaman langsung menggunakan buah dan melalui persemaian bibit. Metode

penanaman langsung memiliki keberhasilan tumbuh rendah, 20 s.d 30%.

Sedangkan yang melalui persemaian bibit tingkat keberhasilan tumbuhnya relatif

tinggi, kurang lebih 60 s.d 80%. Bila akan dilakukan penanaman menggunakan

buah, untuk mendapat bibit yang baik, pengumpulan buah (propagul) dapat

dilakukan antara september - maret dengan karakteristik sebagai berikut.

1. Bakau (Rhizophora spp.)

a) Buah sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia di atas 10 tahun.

b) Buah yang baik dicirikan oleh hampir lepasnya bongkol buah dari batang

buah.

c) Buah yang sudah matang dari Bakau Besar (R. mucronata) dicirikan oleh

warna hijau tua atau kecokelatan dengan kotiledon (cincin) berwarna kuning,

sedangkan buah Bakau Kecil (R. apiculata) matang ditandai dengan warna

26

2. Tanjang (Bruguiera spp.)

a) Buah dipilih dari pohon yang berumur antara lima s.d 10 tahun.

b) Buah dipilih yang sudah matang, dicirikan oleh hampir lepasnya batang buah

dari bongkolnya.

3. Api-api (Avicennia spp.), Gogem (Sonneratia spp.), dan Nyirih (Xylocarpus

granatium)

a) Buah sebaiknya diambil yang sudah matang, dicirikan oleh warna

kecokelatan, agak keras, dan bebas hama penggerek.

b) Buah lebih baik diambil yang sudah jatuh dari pohon.

Penanaman dapat dilakukan melalui dua cara yaitu bibit dan benih.

a. Penanaman dengan benih

Pada lokasi penanaman berlumpur lembek atau dalam, sekitar sepertiga

dari panjang buah/benih (terutama bakau dan tumu) ditancapkan ke dalam lumpur

secara tegak dengan bakal kecambah menghadap keatas. Pada lokasi penanaman

berlumpur agak keras, terlebih dahulu dibuat lubang baru buah/benih dimasukkan

kedalam lubang secara tegak. Setelah itu lubang ditutup kembali dengan tangan

sehingga benih dapat berdiri tegak dengan baik. Apabila ingin memasang ajir

sebagai tanda adanya tanaman baru, maka ajir ditanam disamping buah/benih.

Untuk melindungi buah agar tidak hanyut terbawa ombak, sebaiknya buah

diikatkan pada ajir.

Setelah buah ditanam, terutama di daerah terbuka, sebaiknya dinaungi atau

diberi penutup dengan pakis-pakisan, piyai, daun nipah, ranting atau lainnya. Hal

ini untuk menghindari sengatan matahari langsung (sesuai dengan sifatnya yang

27

matahari langsung sebagian buah akan kering. Ketam/kepiting biasanya

mengganggu tanaman apabila penanaman dilakukan di daerah pertambakan.

Penanaman buah tanpa naungan biasanya dilakukan di areal yang tidak terbuka

sama sekali. Secara umum terdapat kelebihan dan kekurangan penanaman dengan

dan tanpa naungan.

b. Penanaman dengan bibit

Penanaman dengan bibit sebaiknya membuat lubang terlebih dahulu.

Kantong plastik atau botol air mineral bekas dilepaskan secara hati-hati agar tidak

merusak perakarannya. Kantong plastik atau botol ini dikumpulkan untuk

digunakan lagi pada kegiatan pembibitan selanjutnya. Bibit dimasukkan kedalam

lubang secara tegak sebatas leher akar dan ditutup kembali dengan lumpur. Bila

ingin memasang ajir sebagai tanda adanya tanaman baru, maka ajir ditanam

disamping bibit. Bila untuk melindungi bibit agar tidak hanyut dibawa ombak,

bibit diikatkan pada ajir (Suwarman, 2008).

2.3.3.3 Pemeliharaan Upaya pemeliharan

Pemeliharaan mangrove yang telah ditanam harus dilakukan secara rutin

dan seksama. Kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pemeliharaan

mangrove setelah ditanam sebagai berikut.

Dokumen terkait