• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

6. Pembina

Meski Panti Asuhan memiliki struktur kepengurusan yang disebutkan di atas, namun yang melakukan pembinaan secara langsung adalah alumni dari Pondok Pesantren Al-Furqon Bandung yang melakukan kerjasama dengan Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam di mana alumni tersebut diwajibkan melakukan pengabdian selama satu tahun sebagai syarat memperoleh syahadah (ijazahnya). Berikut adalah nama-nama yang dimaksud:

BIDANG KEUANGAN DAN RUMAH TANGGA

Anggota Tugas

2. Menerima, menyimpan, dan mengeluarkan uang

3. Mengatur kebutuhan rumah tangga Panti

4. Melakukan pencatatan keuangan

5. Membuat laporan keuangan setiap bulan

3. Mawar Khoirunnisa kegiatan ibadah dan taklim internal Panti

4. Mengatur/melaksanakan kegiatan taklim anak-anak yatim

5. Melakukan evaluasi kegiatan ibadah dan taklim

6. Membuat laporan kegiatan ibadah dan taklim

BIDANG SARANA DAN LINGKUNGAN

Anggota Tugas

1. Ilham Malik Firdaus 2. Dini Nurhayati

1. Membuat perencanaan urusan sarana dan kondisi lingkungan 2. Melakukan pengadaan dan

pemeliharaan sarana 5. Membuat laporan tentang

kondisi sarana dan lingkungan

bibit, pemberian

pakan/pupuk/obat, penjualan dsb.

3. Melakukan kegiatan pengembangan wirausaha 4. Membuat catatan kegiatan

wirausaha

5. Membuat laporan kegiatan wirausaha

Sumber data: dokumen Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam 7. Program Kepembinaan

Pada Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam tidak hanya berfokus pada pembinaan anak yatim, namun juga terdapat beberapa jenis kegiatan yang menjadi program di Panti Asuhan, program tersebut antara lain adalah:

a. Kegiatan yang sudah dilaksanakan:

1) Pengasuhan di dalam Panti: Jumlah anak yatim di Panti: 9 anak.

2) Penyantunan anak yatim/piatu di luar Panti a) Pemberian santunan kepada 107 anak yatim/piatu b) Bantuan biaya pendidikan 68 anak yatim

c) Pendidikan/bimbingan belajar agama d) Pemberian sembako

e) Bimbingan keterampilan wira-usaha

f) Buka puasa bersama g) Pembagian baju Lebaran h) Pembagian paket Lebaran

b. Kegiatan yang akan dilaksanakan 1) Pengasuhan di dalam Panti

2) Penyantunan anak yatim/piatu di luar Panti a) Pemberian santunan kepada 107 anak yatim/piatu b) Bantuan biaya pendidikan

c) Pemberian Sembako

d) Pendidikan/bimbingan belajar agama

e) Bimbingan Bimbingan keterampilan wira-usaha f) Buka puasa bersama

g) Pembagian baju Lebaran h) Pembagian parcel Lebaran

3) Usaha meningkatkan kemampuan fakir miskin 4) Konsultasi keluarga47

47 Dokumen Profil Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak “Ukhuwwatul Aitam”

Sendangtirto Berbah Sleman.

8. Data Anak Yatim Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam

Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam merupakan Lembaga Kesejarhteraan Sosial Anak (LKSA) yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memberikan santunan kepada anak yang dibina di dalam Panti Asuhan, maka dari itu data anak-anak dibutuhkan untuk memudahkan pengurus dan pembina dalam menyalurkan santunan agar terbagi rata. Berikut merupakan data anak-anak yatim Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam yang dikelompokkan sesuai kategori anak yang dibina:

No Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Belum Sekolah 2 1 3

Sumber data: dokumen Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam 9. Jadwal Belajar Anak Didik

Anak didik di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam memiliki metode pembelajaran dengan berkelompok yang. Pembelajaran di jadwalkan terlaksana tida kali seminggu dengan durasi waktu satu jam terhitung dari jam empat sampai jam lima sore. Jadi anak didik dikelompokkan berdasarkan tingkatan umur mereka kemudian diberikan materi tentang akidah, syari’ah,

al-qur’an, hafalan, dan akhlak, semua jenjang umur diberikan materi dengan tema yang sama namun dengan tingkat kesulitan yang berbeda seperti jika pada tingkatan kelas lanjutan materi syari’ahnya tentang shalat jamak, qasar, dan shalat jenazah maka pada tingkatan kelas dasar mereka mendapatkan materi syari’ah berupa rukun islam, taharah, tata cara shalat dan puasa.

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Gambaran Umum Pola Komunikasi Interpersonal Pembina dalam Penanaman Dasar-dasar Keislaman kepada Anak Didik di Panti Asuham Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam

Komunikasi Interpersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi dalam diri komunikator itu sendiri. atau dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membtuhkan pelaku lebih dari satu orang. Dari pendapat lain kita menemukan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pelakunya menangkap reaksi oran lain secara langsung baik secara verbal maupun non verbal.48

Gambaran komunikasi interpersonal di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam didapatkan dari hasil wawancara terhadap pembina yang ada di sana.

Mawar Khoirunnisa, tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menerangkan bahwa:

“Menurut Mawar gambaran umum dari pembinaan dengan komunikasi interpersonal di Panti ini masih kurang baik, itu dikarenakan dari pihak

48 Suzy Azeharie, Nurul Khotimah, Pola Komunikasi Antarpribadi antara Guru dan Siswa di Panti Sosial Taman Penitipan Anak “Melati” Bengkulu, (Vol. 18 no. 3: Jurnal Pekommas) h. 216

pembina maupun anak didiknya. Hal ini bisa dilihat dari kedekatan yang terbatas sehingga masih kurang komunikatif bahkan merasa canggung ketika menyampaikan sesuatu. Sebab anak-anak tidak tinggal di dalam panti. Mereka berasal dari desa dan dusun yang berbeda-beda, maka dari itu mereka hanya akan bertemu satu sama lain saat jadwal belajar tiga kali dalam satu pekan itu. Yang kedua itu karena pola pikir anak-anak yang belum begitu paham tehadap apa yang disampaikan, sehingga informasi yang disampaikan sering kali mereka gagal paham, mengabaikan bahkan melupakannya.”49

Fanny Febriyanti juga selaku tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan bahwa:

“Pola komunikasi dalam melakukan pembinaan terhadap anak didik yang ada di Panti Asuhan pada dasarnya diolah dengan sangat sederhana. Cara kita mengajar adalah dengan meningkatkan rasa keingintahuan anak didik terlebih dahulu, kemudian kami selaku pengajar menyampaikan ilmu tentang dasar-dasar keislaman seperti rukun islam, rukun iman dan ihsan, kisah-kisah nabi dan rasul, juga nama-nama malaikat yang beberapa di antaranya kami ajarkan dalam bentuk irama atau lagu agar anak didik lebih cepat memahami dan menghafal. Ada pula praktek wudhu’, sholat dan do’a-do’a harian.”50

Khaira, 7 tahun siswi kelas 1 SD yang merupakan anak didik di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menegaskan tentang statement pembina soal kegiatan yang dilakukan di Panti:

“Betul, ada kegiatan praktek shalat dan wudhu dan saya sering ikut. Dan untuk materi pembelajaran di Panti saya paling suka adalah belajar iqra’

dan mengaji.”51

Cantika Mutiara Rizki, 10 tahun siswi kelas 4 SD yang juga merupakan anak didik di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan tentang statement pembina soal kegiatan yang dilakukan di Panti:

“Saya sudah lima tahun bergabung di Panti, pada awalnya masuk karena disuruh bunda karena ayah sudah meninggal. Sekarang senang belajar di

49 Mawar Khoirunnisa (19thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

50 Fanny Febriyanti (18thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

51 Khaira, (7thn) Wawancara Yogyakarta, 21 Januari 2022

sini karena pengajarnya baik, ramah dan lucu. Pelajaran di sini yang paling saya senangi adalah menghafal Al-Qur’an, saya juga suka mengikuti praktek shalat, wudhu’, dan hafalan doa-doa.”52

Dari hasil wawancara dengan beberapa pembina dan anak didik peneliti menemukan bahwa gambaran pola komunikasi Interpersonal di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam dikemas dengan cara yang sederhana.

Seperti menanamkan ilmu tentang dasar-dasar keislaman di mana beberapa di antaranya diajarkan dalam bentuk irama atau lagu yang bertujuan supaya anak didik lebih cepat memahami dan menghafal materi yang disampaikan oleh pembina. Namun di samping itu juga dalam proses kegiatan belajar mengajar terdapat kendala berupa kedekatan antara pembina dan anak didik yang terbatas sehingga komunikasi yang terjadi kurang efektif, bahkan pembina merasa canggung ketika menyampaikan materi. Selain itu juga disebabkan oleh pola pikir anak-anak yang belum begitu paham tehadap apa yang disampaikan, sehingga informasi yang disampaikan sering kali disalahartikan oleh anak didik, diabaikan bahkan dilupakan.

2. Peran Komunikasi Interpersonal Pembina dalam Penanaman Dasar-dasar Keislaman kepada Anak Didik di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam

Tanpa komunikasi suatu komunitas tidak mungkin terbentuk, sebaliknya, tanpa komunitas maka manusia tidak mengkin dapat mengembangkan komunikasi. Peran komunikasi interpersonal dalam menanamkan dasar-dasar keislaman kepada anak didik harusnya mampu menjadikan anak didik lebih religius dan lebih memahami nilai-nilai islam dan Al-Qur’an dan As Sunnah.

52 Cantika Mutiara Rizki (10), Wawancara Yogyakarta, 21 Januari 2022

Adapun cara untuk mengetahui peran dari komunikasi interpersonal di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam adalah dengan cara melakukan wawancara kepada beberapa pembina.

Mawar Khoirunnisa, menyampaikan bahwa:

“Peran dari komunkasi interpersonal dapat mengubah anak didik menjadi lebih mudah diatur dan diarahkan. Mereka menjadi lebih tertib dalam beberapa hal yang diarahkan oleh pembina. Sehingga Pembina lebih mudah menyampaikan pembelajaran terkait ilmu tentang dasar-dasar keislaman, seperti tauhid, akhlak, aqidah. Selain itu, hasil dari komunikasi interpersonal juga membantu anak didik untuk lebih terbuka baik dengan pembina maupun dengan anak didik lainnya, anak didik mulai kontinu dalam menerapkan sikap jujur, empati, lebih mempererat persaudaraan di antara mereka, dan juga berkasih sayang baik sesama anak didik maupun para pembina.”53

Riris Handayani, yang juga merupakan tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan:

“Peran dari komunikasi interpersonal pembina kepada anak didik setelah diterapkan adalah meningkatkan pemahaman anak-anak didik dalam memahami dasar-dasar ilmu agama, menjadikan anak-anak didik tidak misunderstanding dalam menangkap apa yang pembina sampaikan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Selain itu juga dampak dari peran komunikasi interpersonal menjadikan pembina lebih mudah dalam menyampaikan materi atupun hal-hal baru kepada anak didik, yang tak kalah penting adalah memudahkan pembina dalam memahami bagaimana respon anak didik terhadap pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pembina karena hal itu dapat menjadi tolak ukur pembina dalam mengajar.”54

Melihat dari hasil wawancara dengan beberapa pembina peneliti menemukan bahwa peran dari komunikasi interpersonal pembina dalam penanaman dasar-dasar keislaman terhadap anak didik, dapat dilihat dari perubahan perilaku anak didik menjadi lebih tertib dan mudah untuk diarahkan.

53 Mawar Khoirunnisa (19thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

54 Riris Handayani (23thn), Wawancara Yogyakarta, 2 Februari 2022

pola perilaku anak didik yang pada awalnya tidak mudah untuk diajak kerja sama sekarang lebih tertib dalam beberapa hal yang diarahkan oleh Pembina. Dengan itu pembina pun menjadi lebih mudah dalam menyampaikan materi dan mengarahkan para anak didik untuk mempraktekkan kegiatan yang diajarkan oleh pembina. Tujuannya tidak lain adalah memperkaya wawasan dan menanamkan dalam diri anak didik untuk mengenal dengan baik ilmu tentang dasar-dasar keislaman, seperti tauhid, akhlak, aqidah. Karena pada dasarnya, anak didik merupakan anak yatim atau piatu yang berasal dari desa dan dusun yang berbeda-beda, maka dari itu mereka hanya akan bertemu satu sama lain tiga kali dalam satu pekan, maka hasil dari komunikasi interpersonal yang diterapkan dengan baik juga sangat membantu anak didik untuk lebih akrab dan terbuka baik dengan pembina maupun dengan anak didik yang lainnya, dengan begitu anak didik juga mulai terbiasa untuk menerapkan sikap jujur, empati, dan tentunya lebih mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka, dan juga berkasih sayang baik sesama anak didik maupun para pembina.

Setelah diterapkannya komunikasi interpersonal pembina kepada anak didik juga menjadikan anak-anak didik tidak misunderstanding dalam menangkap apa yang pembina sampaikan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dan hasil yang tak kalah penting juga bahwa peran dari komunikasi interpersonal dapat memudahkan pembina dalam memahami bagaimana respon anak didik terhadap pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pembina karena hal itu dapat menjadi tolak ukur pembina dalam mengajar nantinya.

3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menanamkan Dasar-dasar Keislaman kepada Anak Didik di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam

Dalam menerapkan suatu kegiatan tentu kita tak akan lepas dari faktor yang menjadi pendukung atau justru penghambat kegiatan yang akan atau sedang dilaksanakan tersebut. Dalam hal ini peneliti akan membahas apa saja faktor pendukung ataupun penghambat dalam menanamkan dasar-dasar keislaman kepada anak didik di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuuwatul Aitam.

a. Faktor Pendukung

1) Faktor pendukung yang pertama adalah sarana prasarana yang disediakan oleh pihak pimpinan Panti Asuhan dalam memaksimalkan proses dan kegiatan belajar mengajar para pembina dan anak didik seperti tempat belajar yang nyaman, komputer, printer, kipas angin, meja lipat yang cukup memadai, papan tulis, alat tulis, alat sholat (sajadah, mukena) perpustakaan mini yang berisi berbagai macam buku-buku pelajaran, buku bacaan, Al-Qur’an, dan buku laporan santri.

2) Yang kedua adalah karena adanya kerja sama para pembina, dalam hal ini menyamakan persepsi, tujuan, dan metode pembinaan untuk bersama mendidik anak-anak yang ada di Panti Asuhan untuk mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak bangsa yang berkemajuan, berpendidikan, menjadikan mereka anak yang sholeh dan sholehah yang tekun, rajin dan mandiri serta kebaikan-kebaikan lainnya sebagaimana visi dan misi Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam.

Mawar Khoirunnisa, tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam mengatakan:

“Menurut Mawar untuk faktor pendukung adalah karena kerja samanya teman-teman pembina untuk mengajar dan membina anak-anak.”55

Fanny Febriyanti juga selaku tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan:

“Untuk faktor pendukungnya yaitu dari teman-teman Fanny yang juga membantu agar terus semangat dan istikamah dalam membina dan menghadapi anak-anak di Panti Asuhan ini.”56

3) Faktor yang ketiga adalah metode pengajaran dan interaksi (dalam hal ini komunikasi interpersonal) para pembina dalam menyampaikan materi kepada anak-anak didik. Metode pengajarannya adalah dengan membuat halakah dan mengelompokkan anak-anak didik sesuai dengan usia dan kemampuan mereka, kemudian menyesuaikan cara menyampaikan materi dan pengetahuan kepada masing-masing usianya. Komunikasi interpersonal sangat membantu para pembina dalam mempermudah proses pendekatan, keakraban kepada anak didik yang diajarnya. Dengan itu anak-anak pun lebih tertarik untuk mengimplementasikan materi yang telah dijelaskan oleh pembina.

b. Faktor Penghambat

Faktor penghambat merupakan hal atau suatu yang menghalangi terlaksananya tujuan tertentu.

55 Mawar Khoirunnisa (19thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

56 Fanny Febriyanti (18thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

1) Faktor penghambat yang terjadi dalam menanamkan dasar-dasar keislaman terhadap anak didik di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam yang pertama adalah kondisi anak-anak di panti yang merupakan anak yatim yang berasal dari dusun yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan mereka hanya akrab terhadap sesamanya. Hal itu juga mempengaruhi proses belajar mengajar, yang mana dalam kegiatan belajar mengajar di Panti dibutuhkan kekompakan antar sesama anak didik seperti saat kegiatan sholat berjamaah.

2) Hambatan yang kedua adalah kurangnya adab atau attitude, seperti terkadang anak-anak yang malah bermain disaat kegiatan belajar mengajar dan tidak memperhatikan penyampaian para pembina di sana. Hal itu termasuk penghambat yang sangat berpengaruh karena dengan begitu pelajaran atau materi yang akan ditujukan untuk anak-anak didik tidak terserap dengan baik. Seperti yang disampaikan Riris Handayani, selaku pembina:

“Penghambat yang paling menonjol sih attitude, terkadang anak-anak sesukanya bermain dan tidak memperhatikan apa yang pembina sampaikan di saat waktu belajar dan itu sangat menghambatan kami selaku pembina dalam menanamkan dasar-dasar keislaman kepada mereka.”57

Fanny Febriyanti, tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan bahwa:

“Untuk penghambatnya sendiri itu dalam diri anak-anaknya. Yang tidak jarang masih sulit untuk diatur atau di arahkan. Kemudian juga kurangnya efektifitas komunikasi yang sebelumnya dengan mereka (anak-anak didik).” 58

57 Riris Handayani (23thn), Wawancara Yogyakarta, 2 Februari 2022

58 Fanny Febriyanti (18thn), Wawancara Yogyakarta, 20 Januari 2022

3) Faktor penghambat yang selanjutnya adalah kurangnya komunikasi antar pembina dan anak didik. Hal itu dapat terjadi karena pembina sebagian besar merupakan siswa yang baru tamat SMA dan melanjutkan wajib mengabdi selama kurang lebih satu tahun sebagai syarat memperoleh syahadah atau ijazah dari sekolah/madrasah yang bersangkutan. Yang mana sikap, emosi dan juga karaker para pembina sedang dalam proses ditempa, hal itu yang memicu terjadinya kekurangkompakan dan ikatan yang terjadi antara pembina (dalam hal ini pembina) dan para anak didik.

Menurut Dini Nurhayati, yang juga merupakan salah satu tenaga pembina di Panti Asuhan Ukhuwwatul Aitam menambahkan:

“Saya rasa yang menjadi penghambat juga ialah disebabkan oleh pembinaan yang kurang baik, maka hasil implementasi ke anak didik juga tentunya menjadi kurang baik. Karena masih ada benteng rasa canggung saat kami selaku pembina dan pengajar menyampaikan materi kepada anak-anak di sini.”

Dini pun melanjutkan:

“Namun kami di sini akan terus belajar dan berusaha lagi untuk meningkatkan hubungan komunikasi interpersonal antar para pembina kepada anak didik dengan lebih baik lagi.”59

Dari hasil wawancara sebelumnya bersama Mawar Khoirunnisa dan beberapa teman-teman pembina dan pengajar yang membahas mengenai komunikasi interpersonal pembina dan anak didik dapat kita simpulkan bahwasanya dalam setiap proses sudah pasti akan kita dapati berbagai macam faktor baik faktor pendukung ataupun faktor penghambat yang akan menjadi

59 Dini Nurhayati (18thn), Wawancara Yogyakarta, 2 Februari 2022

bumbu-bumbu dalam pelaksanaan tujuan yang akan diraih. Faktor pendukung yang terdapat di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam sendiri adalah berbagai macam sarana dan juga prasarana yang disediakan pihak pimpinan Panti untuk dapat menunjang keberhasilan dan kenyamanan pembina dan anak-anak didiknya, lalu adanya kerja sama para pembina, dan metode pengajaran yang tepat bagi anak didik yang dibina. Adapun faktor penghambat yang dapat kita simpulkan di Panti Asuhan ini berupa kondisi anak-anak yatim yang berasal dari dusun yang berbeda-beda dan tidak mukim di dalam Panti sehingga efisiensi waktu dan kinerja yang ada kurang bisa dimaksimalkan dengan baik. Selanjutnya disebabkan karena masih minimnya pengetahuan anak didik tentang adab, baik terhadap sesamanya ataupun adab terhadap pengajar dan halakah. Dan faktor penghambat yang terakhir datang dari kurangnya komunikasi interpersonal pembina dan anak didik yang melahirkan ketidakdekatan dan juga kurangnya kekompakan antara pembina dan anak didik. Hal itu bisa dilihat dari kedekatan verbal maupun non verbal antara pembina dan anak didik yang terbatas sehingga masih kurang komunikatif bahkan senantiasa rasa canggung itu hadir di tengah-tengah mereka.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam Jl. Raya Berbah, Dusun Babadan, RT 05/RW 36, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tentang peran komunikasi interpersonal pembina dalam penanaman dasar-dasar keislaman kepada anak didik dengan beragam hasil penelitian dan juga data yang didapatkan, maka dapat disimpulkan poinnya sebagai berikut:

1. Gambaran umum pola komunikasi interpersonal di Panti Asuhan Muhammadiyah Ukhuwwatul Aitam dalam membina anak didik untuk menanamkan dasar-dasar keislaman, pembina memiliki beberapa cara dalam berkomunikasi yaitu memberikan materi pembelajaran tentang dasar tauhid seperti rukun islam, iman dan ihsan, kemudian melakukannya dengan metode pengajaran berbeda seperti menggunakan nyanyian, cerita dan praktek.

2. Peran komunikasi interpersonal pembina dalam melakukan pembinaan dasar-dasar keislaman di Panti Asuhan memiliki peran penting dalam pembinaan itu sendiri, karena dengan komunikasi interpersonal ini hubungan emosional antara anak didik dengan pembina semakin terjalin, dan hal itu berdampak baik bagi pembelajaran anak didik karena mereka menjadi lebih mudah diarahkan.

3. Meskipun telah terlaksana pola komunikasi interpersonal namun tidak terlepas dari faktor pendukung dan penghambat. Faktor penghambatan yang dimaksud adalah terdapat pada kondisi anak didik yang tidak tinggal di dalam panti asuhan, juga pembina yang berganti setiap tahunnya sehingga menyebabkan tidak kompaknya antara sesama anak didik dan juga kurangnya kedekatan emosional dengan pembina. Adapun faktor pendukungnya berupa kerjasama yang baik antara para pembina dan juga penyampaian materi pembelajaran yang dikemas dengan cara yang menarik dan disesuaikan dengan kategori usia juga kemampuan anak didik.

B. Saran

Di akhir penulisan skripsi ini penulis menyampaikan beberapa saran guna meningkatkan kesejahteraan anak yatim piatu di Indonesia sebagai berikut:

1. Kepada pengelola panti asuhan, agar menerapkan sistem boarding school kepada anak didik yang tinggal di luar panti agak lebih mudah dikontrol dan diarahkan atau dibina.

2. Bagi pembina, jika memang harus berganti setiap tahunnya maka alangkah baiknya dibekali pendekatan dan metode mengajar yang sama sehingga tidak kembali seperti saat sebelum diterapkannya metode yang tepat.

3. Kepada pemerintahan setempat, agar lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin di Indonesia.

57

DAFTAR PUSTAKA

Adhita, Krisna. 2018. “Sistem Pembinaan Dan Pengelolaan Dana Panti Asuhan Elisama”. Jurnal Ilmiah Akutansi dan Humaika, Vol. 8 no. 3 (Desember)

Adhita, Krisna. 2018. “Sistem Pembinaan Dan Pengelolaan Dana Panti Asuhan Elisama”. Jurnal Ilmiah Akutansi dan Humaika, Vol. 8 no. 3 (Desember)

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: FATIMAH EL ZAHRA NIM: (Halaman 53-0)