• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II IMPLEMENTASI PERDA NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG

2. Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan dan Pengemis

a. Pembinaan adalah segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara efesien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik 2

. Pembinaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara terencana dalam melaksanakan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis. Perda ini terdiri dari:

1) Anak Jalanan

Berdasarkan Bab I Pasal I Hal 5 Peraturan Daerah No 03 tahun 2010 Anak Jalanan Adalah mereka yang seluruh eksistensinya bergantung pada sumber- sumber yang mereka dapati di jalanan, dan mereka tinggal disana 24 jam setiap hari. Yang dapat disebut para pengamen “tulen”. Mereka sering memperkenalkan dirinya sebagai anak jalanan sejati. Mereka biasanya membuat

2

Alwi Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia , (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), cetakan pertama edisi ke empat, h. 1053

wilayah kekuasaan dan etika sendiri yang berlaku dikalangan mereka sendiri. Hukumnya adalah siapa yang kuat itulah yang menang dan mempunyai kekuasaan daerah yang luas (hukum rimba).

2) Gelandangan.

Berdasarkan BAB I Pasal I Hal 5 Peraturan Daerah No 03 tahun 2010 mengartikan Gelandangan sebagai orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat serta tidak mempunyai mata pencaharian dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap.

3) Pengemis

Di dalam BAB I Pasal 1 Halaman 5 mengartikan pengemis sebagai seseorang atau kelompok bertindak atas nama lembaga sosial yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di jalanan dan atau di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasian dari orang lain.

b. Anak jalanan adalah sebuah istilah yang mengacu pada anak-anak tunawisma yang tinggal di wilayah jalanan 3

. anak jalanan yaitu berusia sekitar di bawah 18 tahun dan bertempat tinggal di wilayah kosong yang tidak memadai, serta biasanya tidak ada pengawasan.

3

c. Gelandangan adalah seorang yang hidup dalam keadaan yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan tetap.4

dan mengembara ditempat umum sehingga hidup tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat.

d. Pengemis adalah seorang yang mendapat penghasilan dengan meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain.5

Jadi pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis adalah segala tindakan atau kegiatan pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis di Kota Bandar Lampung yang dilakukan secara efesien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik

3. Fiqh Siyasah

Fiqh dimaknai dengan “pengetahuan tentang hukum-hukum syara‟ yang bersifat amaliah yang digali dalil-dalilnya secara terperinci”.6 Fiqh Siyasah adalah ilmu tata negara Islam yang membahas tentang seluk-beluk pengaturan kepentingan umat manusia pada umumnya dan negara pada khususnya, berupa penetapan hukum, peraturan, dan kebijakan oleh pemegang kekuasaan yang bernafaskan atau sejalan dengn ajaran Islam,

4

Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No 03 tahun 2010 Tentang Pembinan Anak

Jalann, Gelandangan da Pengemis, hal. 5

5

Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No 03 tahun 2010 Tentang Pembinan Anak

Jalann, Gelandangan da Pengemis, hal. 5

6Toha Andiko, “Pemberdayaan Qawa’id Fiqhiyyah Dalam Masalah-Masalah Fiqh

Siyasah Modern”, Jurnal Al-„Adalah, Vol. XII, No. 1, Juni 2014. (Bandar Lampung: Fakultas

Syari‟ah UIN Raden Intan Lampung, 2014), h. 6. (online) tersedia di : http://www.ejournal.radenintan.ac.id/imdex.php.adalah/artikel/view/178

Siyasah dapat diartikan sebagai cara dan bentuk sesuatu perkara yang “dilaksanakan” dan “diuruskan” oleh seorang ketua, berhubungan dengan tugas-tugasnya, dalam mengendalikan urusan-urusan orang yang berada di bawah kekuasaannya.7

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Fiqh Siyasah merupakan salah satu aspek hukum Islam yang membicarakan pengaturan dan pengurusan kehidupan manusia dalam bernegara demi mencapai kemaslahatan bagi manusia itu sendiri.

4. Studi di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung

a. Studi merupakan salah satu metode penelitian dalam suatu ilmu sosial yang dapat digunakan untuk menghasilkan dan menguji hipotesis.8

b. Dinas Sosial adalah dinas yang mempunyai tugas menyelenggarakan

dan membidangi urusan dalam negeri di dalam pemerintahan untuk membantu presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan negara di bidang sosial.9

c. Kota Bandar Lampung adalah sebuah kota di Indonesia sekaligus ibu kota dan kota terbesar di Provinsi Lampung. Bandar Lampung juga merupakan kota terbesar dan terpadat ketiga di Pulau Sumatra setelah Medan dan Palembang menurut jumlah penduduk, serta termasuk

7M. Hasbi Umar, “Hukum Menjual Hak Suara Pada Pemilukada Dalam Perspektif Fiqh

Siyasah”, Jurnal Al-„Adalah, Vol. XII, No. 2, Desember 2014. (Bandar Lampung: Fakultas

Syari‟ah UIN Raden Intan Lampung, 2014), h. 3. (online) tersedia di : http://www.ejournal.radenintan.ac.id/imdex.php.adalah/artikel/view/186/393

8

Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 153,

9

salah satu kota besar di Indonesia dan Kota terpadat di luar pulau Jawa10

. Penulis memilih lokasi Kota Bandar Lampung di sebabkan: 1. Penulis sendiri berdomisili di Kota Bandar Lampung untuk

memudahkan melakukan penelitian.

2. Masih banyaknya anak jalanan, gelandangan dan pengemis di Kota Bandar Lampung.

Jadi yang dimaksud dengan studi di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi yang dilakukan di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung.

Berdasarkan pengertian dan uraian diatas, maka dapat disimpulkan maksud dari judul skripsi ini adalah bagaimana implementasi Perda Nomor 3 Tahun 2010 untuk mengatasi masalah sosial yang ada dikehidupan masyarakat dalam pandanagn Fiqh Siyasah (Studi di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung).

B. Alasan Memilih Judul

Adapun beberapa alasan yang menjadi motivasi penulis untuk memilih judul ini sebagai bahan untuk penelitian, diantaranya sebagai berikut:

1. Alasan Objektif

a. Pelaksaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis belum berjalan sebagai mana mestinya, hal ini dapat dilihat dari data di lapangan yang menunjukkan

10

bahwa anak jalanan, gelandangan dan pengemis masih dijumpai di kalangan masyaraka.

b. Untuk mengetahui bagaimana pandangan Fiqh Siyasah terhadap Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 tentang pembinaan anak jalnaan, gelandangan dan pengemis.

2. Alasan Subjektif

a. Pembahasan ini diangkat dikarenakan sangat relevan dengan disiplin ilmu pengetahuan yang penulis pelajari di fakultas Syariah jurusan Siyasah

b. Berdasarkan data Fakultas, belum ada yang membahas pokok permasalahan ini, sehingga memungkinkan untuk mengangkatnya sebagai judul skripsi.

C. Latar Belakang Masalah

Perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial di kota cenderung meningkat, munculnya berbagai fenomena sosial bersumber baik dari dalam masyarakat maupun akibat pengaruh gelobalisasi, industrialisasi dan derasnya arus informasi. Masalah kesejahteraan sosial merupakan kenyataan sosial kemasyarakatan di kota yang di pegaruhi oleh berbagai faktor seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan terbatasnya pengetahuan atau keterampilan, keterbatasan fisik atau kesehatan, pengaruh pola pikir atau budaya masyarakat, urbanisasi, keterbatasannya lapangan pekerjaan dan sebagainya yang akhirnya banyak anggota masyarakat demi mempertahankan hidupnya terpaksa berada di tempat umum memilih menjadi anak jalanan,

gelandangan dan pengemis serta adanya pelaku ekploitasi merupakan beban bagi pemerintah kota.

Pada tahun 2010 pemerintah Kota Bandar Lampung telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang telah dilimpahkan kepada Dinas Sosial Kota Bandar Lampung. Bahwa anak jalanan, gelandangan dan pengemis merupakan warga yang memiliki hak dan kewajiban yang sama serta perhatian yang sama sehingga perlu dilakukan penanggulangan secara komprehensif, terpadu, terarah dan berkesinambungan dengan melibatkan berbagai unsur baik pemerintah maupun non pemerintah agar mendapatkan penghidupan dan kehidupan yang layak

Keberadaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis dengan menggunakan jalan tidak sesuai dengan fungsi jalan karna dapat mengganggu keselamatan, keamanan dan kelancaran lalu lintas, hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai suatu bentuk kewajaran dan perlu ditanggulangi secara berkesinambungan dan melibatkan seluruh komponen masyarakat baik di lingkup pemerintah kota maupun oleh masyarakat itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan peraturan perundang undangan yang berlaku dengan mengedepankan peningkatan kualitas dan pemberdayaan sumber daya manusia. Seiring dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah maka daerah harus berperan aktif dalam melaksananakan upaya-upaya bagi penanganan permasalahan sosial tersebut.

Persoalan-persoalan kota sebagaimana yang tergambarkan diatas, juga terjadi di Kota Bandar Lampung. Sejumlah warga Kota Bandar lampung menyayangkan pemerintah setempat yang sudah melaksanakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 03 Tahun 2010 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan dan Pengemis namun masih ada anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang terdapat di Kota Bandar Lampung ini.

Tabel 1. Jumlah anak jalanan gelandangan dan pengemis tahun 2016-2018. No Tahun Jumlah % 1 2016 38 orang 17,35% 2 2017 68 orang 31,05% 3 2018 113 orang 51,59% 11

Keberadaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis sangat mengganggu dan mengkhawatirkan. Sehingga tidak jarang masyarakat yang mengungkapkan kegelisahannya pada aparat pemerintah yang seharusnya melaksanakan perda tersebut, Menurut Nasrul, warga Kedaton, Bandar Lampung, Minggu. Ia pun menjelaskan, di pertigaan Jalan Teuku Umar dengan Jalan A Rivai arah RSUD Abdoel Moeloek Lampung sudah dipasang tentang perda tersebut yang dilengkapi gambar Wali Kota Bandar Lampung Herman HN. Di sana jelas tertulis larangan dan ancaman memberikan sesuatu kepada pengemis atau anak jalanan, tetapi masih banyak pengemis di sana dan upaya Dinas Sosial Kota Bandar Lampung

11

adalah dengan melakukan pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis.12

Bagi anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang telah memperoleh pembinaan ternyata masih melakukan aktivitas mengemis akan diancam hukuman kurungan paling lama 3 (tiga) bulan, atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (Lima juta rupiah).13

dan bagi mereka yang memberikan sesuatu, diancam sanksi berupa kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (Satu juta rupiah).14

Pemerintah Kota Bandar Lampung telah beberapa kali melakukan penertiban anak jalanan, gelandangan dan pengemis. Di Kota Bandar Lampung antara lain di lapangan berkenaan dengan kebijakan pemerintah tersebut, ternyata langkah penertiban anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang sebelumnya pernah dijalankan hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, Indikator ini terlihat masih banyaknya para pengemis serta gelandangan yang terlihat di sekitar Lampu Merah Way Halim, Lampu Merah tugu Adipura dan di beberapa pom bensin di Bandar Lampung.

Istilah Fiqh Siyasah merupakan tarkib idhafi atau kalimat majemuk yang terdiri dari dua kata, yakni fiqh dan siyasah. Secara etimologis, fiqh merupakan bentuk mashdar dari tashrifan kata faqiha-yafqahu-fiqhan yang berarti pemahaman yang mendalam dan akurat sehingga dapat memahami

12

http://www.lampungpost.com/aktual diakses pada Tanggal 18 maret 2012 Pukul 14.00 WIB

13

Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan dan Pengemis, Pasal 16 ayat 2.

14

Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan dan Pengemis, Pasal 17 ayat 3

tujuan ucapan dan atau tindakan (tertentu). Sedangkan secara terminologis,

fiqh lebih populer didefinisikan sebagai berikut: Ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat perbuatan yang dipahami dari dalil-dalilnya yang rinci.15

Adapun Al siyasah berasal dari kata ةسايس سوسي س اس yang berarti mengatur, mengendalikan, mengurus, atau membuat keputusan. Secara terminologis, sebagaimana dikemukakan Ahmad Fathi Bahatsi, siyasah adalah pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara’. Definisi lain ialah Ibn Qayyim dalam Ibn „Aqil menyatakan: "Siyasah adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah tidak menetapkannya dan bahkan Allah tidak menentukannya".16

Pembahasan tentang fiqh siyasah juga berkaitan dengan sumber-sumber dan kaidah perundang-undangan di suatu negara, baik sumber material, sumber sejarah, sumber perundangan maupun sumber penafsirannya. Sumber material adalah hal-hal yang berkaitan dengan materi pokok undang-undang dasar. Inti persoalan dalam sumber konstitusi ini adalah peraturan tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat yang diperintah. Sebagai contoh, perumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 diusahakan sesuai dengan semangat masyarakat Indonesia yang majemuk.

Kemudian, agar mempunyai kekuatan hukum, sebuah undang-undang dasar yang akan dirumuskan harus mempunyai landasan atau dasar pengundangannya. Dengan landasan yang kuat undang-undang tersebut akan

15

Al-Zuhayli, Wahbah, Ushul al-Fiqh al-islami, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2001), h. 115

16

memiliki kekuatan pula untuk mengikat dan mengatur masyarakat dalam negara yang bersangkutan. Sementara sumber penafsiran adalah otoritas para ahli hukum untuk menafsirkan atau menjelaskan hal-hal yang perlu pada saat undang-undang dasar tersebut diterapkan.17

Berlaku adil adalah salah satu prinsip Islam yang dijelaskan dalam berbagai nash Al-Qur‟an maupun Hadist. Prinsip ini merupakan akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam syariat sehingga wajar kalau semua tuntutan dan aturan agama dibangun diatas dasar keadilan, begitu pula setiap manusia diperintah untuk berlaku adil. Keadilan dalam hak berarti memberikan hak bagi masing-masing masyarakat sebagaimana ditetapkan dalam syariat Islam.18

Islam menganjurkan umatnya untuk selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Tentunya nikmat tersebut senantiasa kita jaga dan kita lestarikan agar terciptanya peraturan yang baik dan dapat dipatuhi oleh setiap umat atau masyarakat.

Dalam al-qur‟an dijelaskan secara jelas dalam Q.s An-Nisaa‟:58.19





















































Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

17

Iqbal, Muhammad, Fiqh Siyasah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007),, h. 178-179.

18

Ust. Abu Fahmi,Hrd Syariah Teori dan Implementasi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), h. 20.

19

Dalam ayat-ayat tersebut Allah memerintahkan seluruh umat Islam untuk senantiasa berbuat adil. Keadilan dalam makna luas, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tidak berat sebelah. Lebih tegas lagi keadilan adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Itulah keadilan yang sebenarnya walaupun menurut manusia tampak tidak adil.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Fiqh

Siyasah adalah ilmu tata negara Islam yang secara spesifik membahas tentang

seluk-beluk pengaturan kepentingan umat manusia pada umumnya dan negara pada khususnya, berupa penetapan hukum, peraturan, dan kebijakan oleh pemegang kekuasaan yang bernafaskan atau sejalan dengan ajaran Islam, guna mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menghindarkannya dari berbagai kemudaratan yang mungkin timbul dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang dijalaninya.

Objek kajian Fiqh Siyasah meliputi aspek pengaturan hubungan antara warga negara dengan warga negara, hubungan antar warga negara dengan lembaga negara, dan hubungan antara lembaga negara dengan lembaga negara, baik hubungan yang bersifat intern suatu negara maupun hubungan yang bersifat ekstern antar negara, dalam berbagai bidang kehidupan. Dari pemahaman seperti itu, tampak bahwa kajian siyasah memusatkan perhatian pada aspek pengaturan. Penekanan demikian terlihat dari penjelasan T.M. Hasbi Ash Shiddieqy: “Objek kajian siyasah adalah pekerjaan-pekerjaan mukallaf dan urusan-urusan mereka dari jurusan penadbirannya, dengan

mengingat persesuaian penadbiran itu dengan jiwa syariah, yang kita tidak peroleh dalilnya yang khusus dan tidak berlawanan dengan sesuatu nash dari nash-nash yang merupakan syariah ‘amah yang tetap”. 20

D. Fokus Penelitian

Fokus pada penelitian ini adalah pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bandar Lampung menurut perspektif

Fiqh Siyasah.

E. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana impelementasi Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung?

2. Bagaimana pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bandar Lampung menurut perspektif Fiqh Siyasah?

F. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana impelemenyasi Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis di Dinas Sosial Kota Bandar Lampung?

20

b. Untuk mengetahui pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2010 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bandar Lampung menurut perspektif

Fiqh Siyasah?

G. Signifikansi Penelitian

Signifikansi yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: a. Secara teoritis

1) Penelitian ini diharapkan dapat memeberikan informasi bagi pembaca untuk mengetahui permasalahan sosial yang ada terhadap Perda Nomor 3 Tahun 2010 dalam menangani pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis ditinjau dari perspektif Fiqh Siyasah.

b. Secara Praktis

1) Untuk memberikan sumbangan pemikiran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dengan lebih kritis

2) Untuk memenuhi syarat wajib dalam menyelesaikan study pada Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum di Universitas Islam Negeri Lampung dengan gelar Sarjana Hukum (S.H)

H. Metode Penelitian

Metode penelitian ini adalah cara bagaimana suatu penelitian itu dilakukan21. Pembahasan penelitian ini agar sesuia dengan apa yang diharapkan, dan dapat terlaksana dengan objektif dan ilmiah serta hasil yang

21

Susiadi AS, Metodologi Penelitian, (Lampung: LP2M IAIN Raden Intan Lampung, 2014), h. 19.

optimal, maka diperlukan metode-metode penelitian untuk bertindak dan berfikir menurut aturan-aturan yang ilmiah. Maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1. Jenis dan Sifat Penelitian

a. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Lapangan (field research), penelitian lapangan dilakukan untuk kancah kehidupan yang sebenarnya penelitian lapangan yaitu penelitian yang langsung dilakukan atau pada responden.22

b. Penelitian ini bersifat deskriptif analis, yaitu penelitian yang menuturkan dan menguraikan data yang telah ada, kemudian memperoleh kesimpulan.23

2. Data dan Sumber Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau objek yang diteliti atau ada hubungannya dengan obek yang diteliti.24 Data yang diambil adalah data tahun 2018, dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2018. Data ini dipilih adalag data tahun terakhir, sedangkan data tahun 2019 belum dibukukan secara rapi karena data sedang berjalan.

Sumber data yang langsung berkaitan dengan objek penelitian. Dalam penelitian ini data primer yang diperoleh data primer yang diperoleh

22

Ibid., h. 9.

23

Abdul Khadir Muhammad, Hukum dan Politik Hukum, (Bandung: Citra Ditya Bakti, 2014), h.126.

24

dari hasil wawancara kepada responden yang terdiri dari Kepala Dinas Sosial. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap informan. b. Data Sekunder

Data Sukender adalah data yang mendukung data primer yang bersumber dari buku-buku, jurnal, artikel, majalah, makalah dan sumber-sumber lain berkaitan dengan judul skripsi.25

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data-data dan inforas dengan bantuan buku-buku yang terdapat pada perpustakaan.

3. Populasi dan Sampel

a. Populasi dalam penelitian ini adalah anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang ada di Kota Bandar Lampung. Data Tahun 2018 sebanyak 113 orang. Menurut Suharsimi Arikunto bahwa apabila jumlah populasi dalam penelitian kurang dari 100 orang maka akan diambil semua.26

b. Sample

Sampel adalah objek dari populasi yang diambil melalui teknik sampling, yakni cara-cara mereduksi objek penelitian dengan mengambil sebagian saja yang dapat dianggap representatif terhadap populasi.27 Sehubungan dengan populasi yang berjumlah lebih dari 100 orang, yakni hanya 3 responden maka semua responden yang ada

25

Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 132.

26

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 78.

27

dijadikan sampel penelitian. Penelitian ini disebut sebagai penelitian populasi.

4. Metode Pengumpulan Data a. Observasi

Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan cara melakukakn pencatatan secara cermat dan sistematik.28

Dalam penelitian ini penulis mengamati objek-objek yang ada di lapangan, khususnya berkaitan dengan pembinaan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bandar Lampung menurut perspektif Fiqh Siyasah.

b. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam.29 Wawancara di lakukan guna menggali informasi secara langsung kepada pihak-pihak yang berkaitan seperti kepala dinas dan anggota-anggota.

c. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa foto, catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum dan sebagainya, yang berhubungan dengan masalah penyelidikan.30

28

Soeratno, Lincolin Arsyad, Metode Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis, (Yogyakarta: STIM YKPN, 2008), h.11 70.

29

Susiadi AS, Op Cit, h. 107

30

Jalaludin Rahmat, Metodologi Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), h. 83.

5. Metode Pengolahan Data

Setelah peneliti memperoleh data yang cukup untuk penulisan skripsi ini, maka selanjutnya penulis akan melakukan pengolahan data dengan melakukan beberapa langkah sebagai berikut yaitu:

a. Editing, yaitu pengecekan atau pengoreksian data yang telah dikumpulkan, karena kemungkinan data yang masuk atau terkumpul itu tidak logis dan meragukan.31

b. Koding, yaitu mengklafikasikan jawaban-jawaban dari pada responden kedalam kategori-kategori,32

atau memberikan catatan atau tanda yang menyatakan sumber data atau urutan rumusan masalah.

c. Rekontruksi data (reconstructing), yaitu menyusun ulang data secara

Dokumen terkait