• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Pembinaan Baca Tulis Al- Qur’an

Pembinaan baca tulis Al-qur’an dilakukan agar setiap orang yang mempelajarinya mengerti akan kebenaran isi di dalam kandungan

Al-qur’an, belajar Al-qur’an harus dimulai dalam ilmu pendidikan yang sudah

modern, Alqur’an bisa dipelajari dengan cara melihat tata bahasa yang berada di dalamnya dengan cara menterjemahkan satu persatu dengan kamus bahasa arab.

Dalam kitab mukaddimah menyatakan bahwa “Al-qur’an itu perlu

dipelajari dan di baca oleh anak-anak pada peringkat awal karena membaca Al-qur’an akan menanamkan benih-benih keimanan ke dalam jiwa anak-anak”. Al-Qur’an diturunkan untuk kepentingan seluruh umat manusia tanpa membatasi bangsa tempat dan masa. Isi Al-qur’an menjadi

sumber asas kepada manusia untuk di jadikan panduan dalam menjalani kehidupan dunia apalagi akhirat. Untuk mencapai hasrat tersebut manusia perlu menyelami al-qur’an melalui belajar membaca, menghafal,

memahami serta mengamalkannya.9

Sesuai dengan pembahasan di atas wakil ketua remaja masjid menjelaskan tentang bagaimana remaja masjid dalam pembinaan Baca Tulis Al-Qur’an

Pembinaan Baca Tulis Al-Qur’an yang dilakukan oleh remaja masid

telah terbukti keberhasilannya, dimana pendidikan Al-Qur’an

memberikan nilai-nilai terpuji pada orang lain dalam hal ini adalah

9

Ibnu Kaldun. Menanamkan Benih-Benih Keimanan Dalam Jiwa Anak-Anak,(Departemen Agama 1991: 23).

peserta didik untuk berakhlak Al-Qur’an, pendidikan yang paling mulia diberikan orang tua adalah pendidikan Al-Qur’an yang

merupakan lambang Agama Islam yang paling hakiki sehingga dapat menjujnjung tinggi nilai-nilai spiritual Islam10

Kepentingan mempelajari serta mengajarkan Al-qur’an suatu yang tidak boleh diabaikan lagi karena ia merupakan sumber asas dalam pembinaan manusia. Membaca Al-qur’an sangat dianjurkan kepada setiap individu muslim karena Al-qur’an akan mendatangkan berbagai manfaat

terhadap pembacanya. Namun mempelajari kaedah dan tata cara dalam pembacaannya merupakan tuntutan yang mesti dipenuhi, disamping hukuman mendapat ganjaran dosa, kesalahan dalam membaca Al-qur’an

akan menentukan sah atau tidak sahnya ibadah yang dilakukan oleh seseorang tersebut.

1. Tujuan pembinaan Al-qur’an yaitu :

a. Agar yang mempelajari Al-qur’an dapat mengerti apa isi kandungan

dalam al-Qur’an.

b. Pembinaan dilakukan dengan orang yang sudah mengerti tata cara baca tulis al-qur’an dengan benar.

c. Mengetahui bahwa Al-qur’an adalah kitab suci Allah yang sudah

terbukti kebenarannya.

Keberadaan masjid di suatu lingkungan bisa menjadi ukuran sejauh mana pembinaan ummat dan masyarakat muslim terlaksana sebagaimana mestinya. Semuanya bisa dilihat dari aktifitas yang ada di masjid itu terutama dari aktifitas jamaah dan kegiatan masyarakat lainnya. Terkait

masalah di atas pendapat salah seorang santri yang diwawancarai pada hari senin 25 Agustus 2018 tentang manfaat adanya remaja masjid di Desa Gunturu Kecematan Herlang Kabupaten Bulukumba beliau berpendapat bawha:

Dengan adanya remaja masjid maka kegiatan–kegiatan yang ada di masjid dapat terlaksana misalnya pembelajaran baca tulis

Al-Qur’an. Semua santri merasa sangat senang dengan bimbingan

para remaja.11

Ditengah maraknya isu kenakalan remaja maka alternative jitu yang dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan pemberdayaan dan pembinaan remaja. Keberadaan remaja masjid sangatlah membawa manfaat bagi masyarakat sehingga remaja masjid sangat diharapkan mempunyai kemampuan dalam mengajar Baca Tulus Al-Qur’an. Terkait

masalah diatas pendapat santri tentang metode dalam mengajar Baca Tulis Al-Qur’an yang diterapkan oleh remaja masjid adalah:

Pendidikan formal dan non formal mengakui bahwa suatu metode pembelajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan namun keberhasilan suatu metode sangat di tentukan oleh beberapa hal seperti kemampuan guru santri, media, dan lingkungan. Namun dalam mengajar para remaja biasanya menggunakan metode

mengeja, Qira’ati, Al Barqy, dan berbagai metode lainnya yang

biasa diterapkan.12

Dalam kegiatan pendidikan non formal sudah selayaknya seorang pendidik harus memiliki kemampuan dalam mengajar jadi secara keseluruhan termasuk dalam pembelajaran membaca dan menulis

Al-Qur’an. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar

11

Nisa, Wawancara, 25 Agustus 2018.

12

Fatri, wawancara dengan santri tentang metode remaja masjid dalam mengajarkan

sehingga para santri harus memahami bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja.

2. Pola pembinaan baca tulis Al Qur’an.

Pembinaan secara rutin dalam keseluruhan proses pembinaan di masjid Nurul Yaqin, kegiatan merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh santri sebagai anak didik serta tingkat pembinaan yang dilakukan remaja terhadaphasil dari pembinaaan itu sendiri.

Belajar ialah satu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Proses pembinaan merupakan suatu proses yang mengandung seangkaian perbuatan remaja dan peserta didik atas dasar hubungan timbal balik, yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara remaja dengan santri itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembinaan baca tulis Al Qur’an. Interaksi pada peristiwa pembinaan mempunyai arti yang lebih luas, tidak hanya sekedar hubungan antara remaja dengan santri, tetapi berupa interaksi edukatif. Proses pembinaan ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi tajwid, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri santri yang sedang belajar. Dari proses pembinaan tersebut

guna menjamin hasil pembinaan yang maksimal maka dibutuhkan pola pembinaan yang baik pula.

Pola pembinaan dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an harusnya tidak lepas dari stategi mengajar.

Pertama adalah tahapan mengajar, ada tiga tahapan dalam strategi

mengajar yakni tahap pemula (prainstruksional), tahap pengajaran

(Instruksional) dan tahap pengajaran atau tindak lanjut; kedua adalah

penggunaan model atau pendekatan mengajar, pendekatan yang digunakan dalah pendekatan yang berorientasi pada guru ( teachercent

ered) dan pendekatan yang berorientasi pada siswa (student centered);

dan ketiga penggunaan prinsip mengajar.13

Dalam pola pembinaan baca tulis Al Qur’an biasanya masih bersifat teoritis dengan menggunakan metode ceramah sebagai metode dominan. Hal ini menyebabkan santri kurang aktif serta kurang tertarik terhadap pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Karena santri dituntut dapat mempraktekkan baca tulis qur’an dengan baik dan benar.

D. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembinaan Baca Tulis

Dokumen terkait