• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Batas Wilayah

Dalam dokumen rlppd kabupaten ttu 2014 (Halaman 72-78)

DILAKSANAKAN CAPAIAN

D. Pembinaan Batas Wilayah

1. Sengketa Batas Wilayah

Sebagaimana telah digambarkan pada Bab I laporan ini bahwa secara administratif selain berbatasan dengan Kabupaten Bellu dan Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara juga berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokrat Timor Leste (RDTL). Dengan demikian pada penyajian sengketa batas wilayah akan diuraikan menjadi 2 (dua) bagian sebagai berikut :

a) Sengketa Batas Wilayah Negara

Di perbatasan darat antara Kabupaten TTU dan Distric Ambeno, terdapat beberapa titik yang masih bermasalah. Titik-titik tersebut terdiri atas 1 (satu) segmen unresolved, 4 (empat) segmen unsurveyed dan 1 (satu) segmen kecil yang masih bermasalah. Adapun uraian masalahnya sebagai berikut :

Segmen unresolved yakni lokasi Bijaele Sunan – Oben di Desa Manusasi. Permasalahannya adalah terdapat zona atau area yang disengketakan karena kontra persepsi masing-masing pihak mengenai batas. Pihak masyarakat Passabe – Ambeno menginginkan agar batas negara mengikuti batas lama yang ditetapkan berdasarkan Traktat 1904. Sementara warga masyarakat Desa Manusasi menolak penentuan batas berdasarkan traktat dimaksud, sebab masih terdapat tanah ulayat masyarakat setempat di seberang garis batas. Zona sengketa tersebut sepanjang 2,6 km dengan luas 142,7 ha, dan di dalamnya terdapat lahan garapan (kebun) masyarakat Desa Manusasi sebanyak 489 bidang. Persoalan ini belum terselesaikan hingga kini karena belum ada titik temu antara kedua pihak yang berbeda acuan penentuan batas.

Gambar 5.1.

Segmen Bijaelsunan-Oben

Segmen unsurveyed sebanyak 4 (empat) lokasi yakni Subina (Desa Inbate dan Nainaban), Pistana (Desa Sunkaen), Tubu Banat (Desa Tubu dan Nilulat) dan Nefo Nunpo (Desa Haumeni Ana)

Persoalan keempat segmen unsurveyed hampir sama dengan uraian persoalan sebagai berikut :

- lokasi Subina (Desa Inbate dan Nainaban), sebanyak 72 orang mempermasalahkan tanah mereka seluas 393 ha, termasuk sebagian tanah ulayat. Akan tetapi kedua negara (Indonesia dan Timor Leste) pada pertemuan Technical Sub Committee on Border Demarcation and Regulation (TSC-BDR) ke 21 di Bandung tanggal 3 – 4 Juli 2008 dan pertemuan TSC-BDR ke 22 di Dili tanggal 27 – 29 Mei 2009, telah menyepakati garis batas negara dengan memasukkan segmen Subina sebagai bagian dari wilayah Ambeno – RDTL karena kesepakatan kedua negara untuk menentukan garis batas berdasarkan Traktat 1904. Segmen-segmen lainnya pun demikian, ditetapkan sebagai bagian dari negara Timor Leste. Lokasi sengketa dari Subina sampai Tubu Banat cukup luas, lebarnya kira-kira 300 hingga 500-an meter sedangkan panjangnya mencapai 9 (sembilan) kilometer. Meski telah disepakati bahwa zona sengketa merupakan zona bebas dari aktivitas warga kedua negara, namun dalam perkembangannya, pada tahun 2008 pemerintah Distric Ambeno membangun kantor Unidade Policia da Fronteiras (UPF) di zona tersebut. Ironisnya, kantor polisi Timor Leste tersebut dibangun tepat di depan Pos Satgas Pamtas Haumeni Ana namun tentara kita tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pelanggaran kesepakatan dimaksud. Jarak antara kantor polisi Timor Leste dengan Pos Satgas Pamtas RI di Haumeni Ana kira-kira sejauh 150 meter.

- Zona sengketa Pistana (Desa Sunkaen), terdapat lahan garapan milik 104 warga masyarakat serta tanah ulayat. Untuk segmen Nefo Nunpo, sebanyak 144 orang masyarakat mempersoalkan tanah miliknya seluas 290 ha. Di dalam lokasi Tubu Banat terdapat tanah milik masyarakat sebanyak 60 orang dengan luas lahan mencapai 183 ha. Keempat segmen ini pun telah disepakati oleh tim survey kedua negara untuk dimasukkan sebagai bagian dari wilayah Timor Leste.

segmen bermasalah lainnya selain persoalan unresolved dan unsurveyed segment, adalah segmen Bah Ob (Nelu) di desa Sunsea. Persoalan ini baru muncul sejak Timor Leste lepas dari NKRI dan berdiri sebagai sebuah negara merdeka. Warga desa setempat menuturkan bahwa mula-mula kedua belah pihak menerima tapal batas sesuai traktat 1904, namun dalam perjalannya, garis batas digeser oleh masyarakat Distric Ambeno sejauh 230 – 400 meter dengan panjang mencapai 1,5 km. Di dalam zona tersebut tardapat kebun dan makam lelulur warga Nelu. Pada tahun 2003, telah dilakukan survey delineasi namun masyarakat Nelu menolak untuk didemarkasi karena di dalam zona sengketa terdapat hak milik dan hak ulayat masyarakat kampung Nelu. Hasil survey demarkasi yang dilakukan pada tanggal 19 Nopember 2009 oleh Tim Survey Demarkasi Indonesia (Sri Handoyo) dan Timor Leste (Rodrigo de Mendonza) pun ditolak oleh warga setempat. Menurut laporan Tim Survey dan pihak

Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) TNI, wilayah Bah Ob adalah milik Timor Leste bila penentuan batas ini didasarkan pada traktat 1904. Masalah perbatasan pada segmen ini bukan masalah teknis melainkan masalah non teknis (sosial budaya). Karena itu, segmen ini masih tergolong sebagai unresolved segment karena telah dilakukan survey delineasi dan delimitasi namun ketika masuk pada tahap demarkasi, masyarakat setempat menolak penegasan batas sesuai kesepakatan Tim dari kedua negara.

b) Sengketa Batas Wilayah Kabupaten

Beberapa titik perbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Timor Tengah Selatan seperti lokasi Biliu Ana dan Maurisu, Desa Fatunesuan dengan Desa Fatumnutu, Desa Suanae dengan Desa Fatumnutu serta antara Kabupaten Timor Tengah

Utara dan Kabupaten Belu seperti lokasi T’eba, T’eba Timur,

Hauteas, Boronubaen, Lokomea, Naku, Birunatun, Sifaniha dan Motadik sering terjadi tindakan penyerobotan tanah untuk lahan garapan dan pemukiman. Permasalahan tersebut kemudian mengakibatkan ketidakjelasan status warga di sekitar titik – titik bermasalah yang berpengaruh terhadap kewajibannya sebagai warga negara seperti pelunasan PBB, pendistribusian berbagai bantuan pemerintah dan lain sebagainya.

c) Sengketa Batas Wilayah Kecamatan

- Masalah batas antar kecamatan yang belum tuntas penyelesaiannya adalah masalah batas antara Desa Oenbit-

Kecamatan Insana dan Desa T’eba-Kecamatan Biboki Tan Pah.

- Masalah batas wilayah antar kecamatan lainnya yang berpotensi konflik diantaranya adalah masalah batas wilayah administratif antara Kelurahan Kefamenanu Utara-Kecamatan Kota Kefamenanu dengan Kelurahan Oesena Kecamatan Miomaffo Timur yang melintasi batas adat eks kefetoran Bikomi dan eks kefetoran Tunbaba.

d) Sengketa Batas Wilayah Desa/Kelurahan

Masalah batas antara Desa yang belum tuntas penyelesaiannya adalah masalah batas antara Desa Popnam dan Desa Noebaun Kecamatan Noemuti.

2. Solusi yang Dilakukan dan Tingkat Penyelesaian a) Sengketa Batas Wilayah Negara

Segmen unresolved yakni lokasi Bijaele Sunan – Oben di Desa Manusasi merupakan segmen yang tidak dapat diselesaikan hingga hari ini. Sementara untuk Segmen unsurveyed sebanyak 4 (empat) lokasi yakni Subina (Desa Inbate dan Nainaban), Pistana (Desa Sunkaen), Tubu Banat (Desa Tubu dan Nilulat) dan Nefo Nunpo (Desa Haumeni Ana) sementara dalam tahap penyelesaian dan untuk segmen bermasalah lainnya selain persoalan unresolved dan unsurveyed segment, adalah segmen Bah Ob (Nelu) di desa Sunsea juga masih belum selesai dan perlu tindak lanjut oleh Pemerintah

Provinsi dan Pusat.

b) Sengketa Batas Wilayah Kabupaten

Terhadap beberapa permasalahan batas wilayah kabupaten sebagaimana telah diuraikan pada point 1 huruf b, Pemerintah Daerah telah berkoordinasi dengan Kabupaten Belu untuk meredam konflik yang terjadi namun belum tuntas sesuai harapan. Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara mengharapkan agar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan perhatian serius dan tindak lanjut terhadap penyelesaian masalah-masalah batas antara kabupaten sebagaimana diutarakan diatas.

c) Sengketa Batas Wilayah Kecamatan

Terhadap konflik perbatasan Desa Oenbit-Kecamatan Insana dan

Desa T’eba-Kecamatan Biboki Tan Pah, Pemerintah Daerah pernah

melakukan upaya penyelesaiannya dengan berbagai cara, diantaranya melalui pendekatan kultural dengan mempertemukan tokoh – tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda dari kedua belah pihak namun belum mendapatkan titik temunya.

Sementara masalah batas wilayah administratif antara Kelurahan Kefamenanu Utara-Kecamatan Kota Kefamenanu dengan Kelurahan Oesena Kecamatan Miomaffo Timur, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara tetap berupaya agar tidak terjadi konflik dengan cara memberikan pemahaman bahwa wilayah adat tidak mengenal batas dan dapat melampaui batas wilayah adamnistrasi pemerintahan. d) Sengketa Batas Wilayah Desa/Kelurahan

Masalah batas antara Desa Popnam dan Desa Noebaun Kecamatan Noemuti pernah ditangani penyelesaiannya, namun masyarakat hanya bersepakat untuk menjaga situasi agar tetap kondusif namun penyelesaian sampai pada penetapan tapal batas belum terlaksana.

3. Kelembagaan Khusus Yang Dibentuk Untuk Perbatasan

Kelembagaan khusus yang dibentuk untuk menangani Perbatasan adalah Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara.

E. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana

1. Bencana yang Terjadi dan Penanggulangannya

Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara pada Tahun 2014 dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Bencana rawan pangan yang terjadi sebagai akibat dari gagal panen karena kekurangan curah hujan, serangan hama, cuaca yang ekstrim dan merupakan salah satu fenomena alam yang tidak terduga. Bencana tersebut dialami oleh 285 KK yang terjadi di Desa Inbate Kecamatan Bikomi Nilulat, 214 KK Desa Oenenu Kecamatan

Bikomi Nilula dan 48 KK Kelurahan Nifuboke, 53 KK Kelurahan Kiola Kecamatan Noemuti.

b) Bencana Angin Puting Beliung, telah memporakporandakan pemukiman penduduk dan merusak 25 rumah warga. Rumah warga yang rusak akibat bencana tersebut terjadi menyebar di beberapa Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara.

c) Bencana Tanah Longsor di tahun 2014 sebanyak 9 kejadian dengan merusak ruas jalan, jembatan, tembok penahan, irigasi , lahan pertanian milik warga, gedung sekolah 1 unit rusak berat dan 1 unit rumah rusak berat.

d) Bencana Banjir merusak 190 unit rumah, 1 unit fasilitas umum, 558 are lahan pertanian milik 29 KK. Bencana banjir juga menelan korban jiwa sebanyak 2 orang.

d) Kebakaran, setidaknya telah menghanguskan 64 unit rumah yang tersebar di 24 Kecamatan se-Kabupaten Timor Tengah Utara.

2. Status Bencana

Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara baik bencana rawan pangan, angin puting beliung, tanah longsor, dan kebakaran digolongkan bencana biasa.

4. Antisipasi Daerah Dalam Menghadapi Kemungkinan Bencana

Antisipaasi bencana di Kabupaten TTU dilakukan dengan pengalokasian anggaran dalam APBD, penyediaan beras, bahan bangunan, padi, bibit palawija dan jagung serta traktor lahan kering.

5. Kelembagaan Khusus Yang Dibentuk Untuk Menangani Bencana

Kelembagaan khusus yang dibentuk untuk menangani bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara.

6. Potensi Bencana yang Diperkirakan Terjadi

Longsor, banjir, kekeringan, rawan pangan dan kebakaran berpotensi setiap tahun terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara.

F. Pengelolaan Kawasan Khusus

1. Jenis Kawasan Khusus

Kawasan Khusus yang ada di Kabupaten Timor Tengah Utara adalah Kota Terpadu Mandiri (KTM) Ponu

2. Status Kepemilikan Kawasan Khusus dan Dasar Hukum Penetapannya Pengembangan ( pembangunan ) program KTM Ponu menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten serta Dunia Usaha ( Swasta ). Adapun status kepemilikan KTM Ponu berada dalam wilayah kabupaten Timor Tengah Utara Kecamatan Biboki Anleu. Program KTM ponu telah diresmikan oleh Menteri Tenaga Kerja pada tanggal 12 Oktober 2009.

3. Permasalahan yang Dihadapi

Pengembangan KTM Ponu mengalami pasang surut sejak diprogramkan tahun 2009, namun demikian Pemerintah Daerah tetap berupaya

meningkatkan koordinasi dengan kementerian terkait untuk melanjutkan pengembangannya sesuai master plan. Selanjutnya sebagai salah satu upaya memperlancar pengembangannya pemerintah Daerah membentuk UPTD KTM Ponu pada tahun 2013

4. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menangani Kawasan Khusus

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) KTM Ponu.

G. Penyelenggara Ketenteraman dan Ketertiban Umum

1. Gangguan yang Terjadi

Permasalahan atau gangguan Kemanan dan Ketertiban Masyasrakat (Kamtibmas) yang menonjol di Kabupaten Timor Tengah Utara pada Tahun 2014 antara lain :

a) Penyelundupan sembilan bahan pokok dan BBM melalui ”jalan

tikus” masih sering terjadi diwilayah perbatasan TTU-RI dengan

District Oecusi-RDTL;

b) Kelangkaan BBM di Kota Kefamenanu;

C) Penggunaan badan jalan dan trotoar untuk berjualan; 2. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menangani

SKPD yang menyelengarakan ketenteraman dan ketertiban umum adalah Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Timor Tengah Utara.

3. Penanggulangan dan Kendalannya

a) Peningkatan kerjasama dengan pihak keamanan/Instansi terkait dalam rangka pemiliharaan dan peningkatan ketentraman dan ketertiban umum khususnya aparatur TNI dan POLRI di perbatasan untuk melakukan operasi penertiban dan pencegahan b) Memantau pihak SPBU yang memberikan BBM kepada penjual

BBM eceran yang tidak memiliki surat ijin resmi, menertibkan para penjual BBM eceran serta melakukan sosialisasi dan rapat pembahasan pengendalian distribusi BBM di Kabupaten TTU. c) Melakukan penertiban PKL dan Penjual BBM eceran yang

menggunakan badan jalan serta trotoar di dalam wilayah Kecamatan Kota Kefamenanu.

VII. PENUTUP

Seluruh masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara yang saya cintai……

Berbagai hal mengenai kemajuan dan kegagalan dalam mengimplementasikan program pembangunan daerah Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun 2014 telah digambarkan. Kami sungguh menyadari bahwa amanat rakyat yang diemban laksana sebuah kapal yang dikemudikan menuju pulau impian. Terpaan ombak, badai dan gelombang laut yang mengancam tak dapat dihindari, namun berkat kebersamaan dan kerjasama semua pihak akhirnya kita dapat melewatinya meskipun di sana sini masih terdapat kekurangan. Tingkat capaian yang cukup memuaskan telah kami paparkan sebagai kinerja pemerintah daerah, namun kekurangan, kelemahan dan kegagalan pada

beberapa aspek pembangunan pun tak dapat dipungkiri. Oleh karenanya berbagai masukan, kritikan dan saran dari seluruh masyarakat kabupaten Timor Tengah Utara akan sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah tercinta ini ke depan.

Mengakhiri RLPPD ini, saya menyampaikan ucapan terimakasih yang setulusnya kepada seluruh masyarakat, anggota DPRD, Organisasi Perangkat Daerah dan segenap elemen pemangku kepentingan atas kerjasama dan dukungannya dalam proses pembangunan dan pemerintahan sepanjang tahun 2014. Kemitraan yang telah terjalin tersebut perlu secara terus menerus kita tingkatkan untuk mewujudkan Timor Tengah Utara yang lebih maju dan lebih sejahterah.

Demikian Ringkasan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (RLLPD) Tahun Anggaran 2014 ini disampaikan sebagai informasi kepada seluruh masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara. Semoga kasih dan karunia- Nya senantiasa menuntun pikiran dan setiap gerak langkah kita dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah pada tahun-tahun mendatang.

Dalam dokumen rlppd kabupaten ttu 2014 (Halaman 72-78)

Dokumen terkait