BAB III PERKEMBANGAN BADKO TKA-TPA PROPINSI DIY
B. Aktifitas BADKO TKA-TPA Propinsi DIY
2. Pembinaan dan Pengembangan Pengelolaan TKA-TPA
Selain konsolidasi organisasi, aktifitas BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dititikberatkan pada pembinaan dan pengembangan pengelolaan TKA-TPA sehingga didapatkan kualitas lulusan TKA-TPA sesuai dengan standar kompetensi yang terdapat dalam kurikulum TKA-TPA.
Ada 3 (tiga) prioritas program kerja yang dikerjakan dalam rangka pembinaan dan pengembangan pengelolaan TKA-TPA oleh BADKO Propinsi, yaitu :
a. Pengembangan kurikulum dan standarisasi lulusan TKA-TPA
Pengembangan kurikulum dan standarisasi lulusan TKA-TPA merupakan aktifitas BADKO TKA-TPA Propinsi DIY yang dari awal berdirinya sampai sekarang terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. Sebab selama ini banyak pihak menilai bahwa TKA-TPA masih lebih menekankan aspek kognitif dan kurang pada aspek afektif.
Akibatnya santri lebih menonjol pada keterampilan membaca dan hafalan sedang perilaku dan kepribadiannya kurang nampak. Untuk itulah BADKO TKA-TPA Propinsi DIY berdasarkan pengalaman selama kurun waktu 19
29 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 3.
tahun itu, untuk melakukan pengembangan kualitas santri dengan merumuskan kembali sistem yang menghasilkan kualitas yang lebih baik.30 a) Pengembangan Kurikulum
Selama ini BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dalam pengelolaan TKA-TPA baik dari kurikulum maupun buku-buku pendukungnya mengacu pada buku-buku yang diterbitkan oleh Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) LPTQ Nasional Team Tadarus ”AMM”
Yogyakarta. Pada tanggal 23 September 2005 BADKO TKA-TPA Propinsi DIY bersama dengan LDPQ (Lembaga Dakwah dan Pendidikan Al-Qur’an) menyelenggarakan acara Bedah Kurikulum TKA-TPA yang kemudian ditindaklanjuti dengan membentuk tim untuk menyusun kurikulum TKA-TPA yang up to date (terkini). Selang dua bulan kemudian tepatnya tanggal 18 Desember 2005 pada saat dilaksanakan silaturrahim akbar Ustadz/Ustadzah TKA-TPA se-DIY yang dihadiri 5000 orang aktifis TPA se-DIY, Kurikulum TKA-TPA tahun 2006 diluncurkan.
Kurikulum baru ini segera disosialisasikan ke seluruh unit TKA-TPA se-DIY dengan tahapan antara lain menunjuk beberapa TKA-TPA di setiap kabupaten/kotamadya sebagai pilot project penerapan Kurikulum 2006, dan sosialisasi di setiap Rayon dan Daerah.
30 Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 49.
56
Adapun jenjang pendidikan menurut Kurikulum 2006 adalah sebagai berikut:31
b) Standarisasi lulusan TKA-TPA
Standarisasi kualitas lulusan TKA-TPA merupakan aktifitas BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dalam meningkatkan kualitas santri yang telah menyelesaikan pendidikan al-Qur’an TKA-TPA.
Standarisasi kualitas lulusan TKA-TPA ini dilakukan dengan melalui tahapan munaqosyah yang diselenggarakan oleh Tim Munaqosyah BADKO TKA-TPA Propinsi melalui BADKO Daerah dan Rayon.32 Munaqosyah adalah pelaksanaan ujian kemampuan santri dalam menguasai materi pendidikan TKA-TPA yang mengacu pada kurikulum
31 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 5.
32 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 6.
TQA ULYA
TQA W USTH O
TQA ULA
TK A TP A
TKA-TPA Propinsi DIY untuk mewujudkan kualitas lulusan santri yang lebih baik.
Metode baru ini dikembangkan BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dengan latar belakang kurangnya pengawasan mulai dari BADKO TKA-TPA Rayon sampai Wilayah dalam menjamin kualitas lulusan santri TKA-TPA. Sehingga banyak lulusan santri TKA-TPA di Wilayah Propinsi DIY belum memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, hal ini mengakibatkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap TKA-TPA. Untuk itu munaqosyah ini dijadikan salah satu syarat yang harus ditempuh santri untuk dapat mengikuti wisuda dan sebagai salah satu media evaluasi standarisasi kualitas santri TKA-TPA di wilayah Propinsi DIY.33
Dengan demikian munaqosyah diselengarakan secara rutin setiap tahun untuk menyongsong diselenggarakannya Wisuda di setiap Kabupaten/Kota. Setiap santri yang lulus dalam munaqosyah akan mendapat ijazah/sertifikat yang dikeluarkan oleh BADKO TKA-TPA Propinsi DIY.34 Standar minimal kelulusan munaqosyah santri TKA-TPA adalah santri mampu tadarus al-Qur’an, hafalan bacaan sholat, hafalan 14 surat –surat pendek, dan hafalan 12 doa-doa harian.35
33Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 49.
34 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 6.
35 Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 51.
58
b. Peningkatan kualitas Ustadz/ustadzah
Peranan ustadz/ustadzah sangat penting dalam pembentukan generasi qur’ani. Ustadz/ustadzah sebagai orang yang mengajarkan baca tulis al-Qur’an, pengetahuan agama, dan amalan-amalan ibadah yang dapat dilaksanakan oleh anak-anak haruslah mempunyai ilmu dan pengetahuan yang memadai. Guna mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari pengetahuan ustadz/ustadzah diperlukan pelatihan atau penataran.36 Ada 2 (dua) tahapan penjenjangan pelatihan bagi Ustadz/ustadzah :
a) Kursus Tartil al-Qur’an
Kursus Tartil al-Qur’an merupakan unit kerja BADKO yang bertugas untuk menyiapkan ustadz/ustadzah khususnya di DIY agar fasih dan berkualitas dalam hal baca tulis al-Qur’an, Ilmu Tajwid serta bacana-bacaan Ghorib. Hal tersebut diadakan untuk meningkatkan kualitas ustadz/ustadzah dalam mencetak lulusan santri TKA-TPA yang berkualitas, di mana kualitas lulusan santri TKA-TPA dipengaruhi oleh standart kemampuan ustadz/ustadzahnya. Kemudian masih banyak ustadz/ustadzah di wilayah DIY yang belum lulus Syahadah-1, serta Intensitas pergantian ustadz/ustadzah di wilayah tertentu yang cukup tinggi, sehingga tuntutan untuk pembinaan kemampuan ustadz/ustadzah
36 Siti Nurjanah, Peranan TKA-TPA dalam Membentuk Keluarga Sakinah, dalam Buletin GEMA edisi I (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 1997), hlm. 6.
perlu diselenggarakan, agar terwujud stabilitas pengajaran yang sesuai dengan standart minimal yang ditentukan.37
Kursus Tartil al-Qur’an ini bertujuan untuk menyiapkan Ustadz/
ustadzah agar mampu membaca Al-Qur’an secara tartil, menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya dan mampu mengajarkannya kepada orang lain. Dalam operasionalnya, tujuan tersebut dijabarkan dengan 5 target sebagai berikut :
1) Target pertama
Dengan mengikuti Kursus Tartil Al-Qur’an peserta diharapkan mampu Membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih di setiap ayat/
surat. Kemudian dapat mambaca dengan benar dan fasih semua materi hafalan TKA-TPA, serta hafal dengan baik bacaan shalat dan 12 surat pendek. Bagi peserta kursus yang sudah mampu menguasai target pertama diberikan Sertifikat S1 (Syahadah 1).
2) Target kedua
Target kedua merupakan kelanjutan dari target pertama sehingga setelah menguasai target pertama atau lulus Syahadah 1 peserta kursus mampu menguasai materi tambahan yaitu ilmu tajwid.
Kemdian bagi peserta kursus yang sudah mampu menguasai target kedua diberikan Sertifikat S2A.
37 Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 40.
60
3) Target ketiga
Target katiga ini dapat diraih apabila peserta kursus mampu mencapai target pertama (lulus S1) dengan ditambah harus hafal semua materi-materi hafalan TKA-TPA ditambah surat al-A’la dan al-Ghosyiyah. Bagi peserta kursus yang sudah mampu menguasai target ketiga diberikan Sertifikat S2B.
4) Target keempat
Syarat untuk dapat menguasai target keempat adalah peserta kursus mampu mencapai target pertama (lulus S1), kemudian hafal 30 hadits/mahfudhot tentang aqidah dan akhlak. Ditambah dengan praktek menulis Al-Qur’an, bagi peserta kursus yang sudah mampu menguasai target keempat diberikan Sertifikat S2C.
5) Target kelima
Target kelima merupakan gabungan dari pencapaian target pertama, kedua dan ketiga (lulus S1, S2A dan S2B) dengan nilai baik. Kemudian ditambah hafal dengan baik surat At-Takatsur sampai dengan An-Naba’. Bagi peserta kursus yang sudah mampu menguasai target kelima diberikan Sertifikat S3.
Agar pelaksanaan KTA (Kursus Tartil Al-Qur’an) dapat berjalan dengan efektif dan berjenjang, maka dilakukan distribusi kewenangan sebagai berikut :
JENJANG PENYELENGGARA PENGUJI
S1 BADKO Rayon BADKO Daerah
S2A,S2B,S2C BADKO Daerah BADKO Propinsi
S3 BADKO Propinsi BADKO Propinsi
Untuk mempersiapkan Tutor-tutor yang siap diterjunkan hingga ke Rayon-Rayon, BADKO TKA-TPA Propinsi DIY menyelenggarakan beberapa kali TOT (Training of Trainers) bagi calon tutor tartil.38
b) Penataran metodologi dan manajemen
Pelatihan metodologi pembelajaran Al-Qur’an dan manajemen TKA-TPA bertujuan untuk memberikan bekal kepada Ustadz/ustadzah agar siap mengajar sesuai dengan kurikulum dan mampu mengelola TKA-TPA dengan manajemen yang baik. Model pendidikan semacam ini sudah dilakukan sejak tahun 1991 hingga sekarang masih tetap berlanjut dan senantiasa dibutuhkan, sebab dalam kenyataannya banyak ustadz/ustadzah yang sudah mengikuti penataran keadaanya datang silih berganti sesuai dengan kondisi di lapangan.39
Agar pelatihan dapat berjalan efektif dan bisa menjangkau sampai ke pelosok DIY, maka BADKO TKA-TPA Propinsi DIY
38 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 7-8.
39 Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 44.
62
membuat penjenjangan pelatihan dan distribusi kewenangan antara Propinsi hingga ke Rayon-Rayon sebagai berikut :
Jenjang Pelaksana Materi Tutor
Dasar Rayon 1. Keutamaan dan Etika Ustadz
2. Manajemen dan
Administrasi
3. Metodologi Iqro’ dan Pengelolaan kelas
Daerah
Mahir I Rayon 1. Wawasan Kependidikan Islam
2. Kajian Tajwid 3. Irama Murattal 4. BCM
Daerah/
Propinsi
Mahir II Daerah 1. Psikologi Pendidikan 2. Program Pasca TKA-TPA 3. Problem Solving
4. Bahasa Arab 5. Cara menghafal
Propinsi
TOT Propinsi 1. Psikologi massa Propinsi
2. Komunikasi massa 3. Dakwah masa kini 4. Mikro teaching 5. Kepribadian 6. Analisis SWOT
7. Seluruh materi Pelatihan dari dasar – mahir
Untuk mempersiapkan penatar-penatar yang siap diterjunkan hingga ke Rayon-Rayon, BADKO TKA-TPA Propinsi DIY menyelenggarakan TOT yang diikuti oleh calon penatar utusan BADKO Daerah dan Propinsi.40
c. Pembinaan unit TKA-TPA
Supaya didapatkan hasil yang maksimal dari proses belajar mengajar di TKA-TPA, diperlukan suatu manajemen yang baik dalam pengelolaan unit TKA-TPA. BADKO TKA-TPA Propinsi DIY melakukan pembinaan pengelolaan unit-unit melalui program supervisi dan akreditasi unit yang dilakukan secara berjenjang dan terus menerus.
Supervisi adalah keseluruhan usaha yang bersifat pembinaan bagi seluruh proses pengelolaan TKA-TPA untuk mengembangkan situasi dan
40 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 9.
64
kondisi proses belajar mengajar yang lebih baik. Supervisi yang dimaksud di sini bukan inspeksi yang merasa serba tahu (superior) terhadap yang dianggap belum tahu (inferior), namun yang dimaksud adalah supervisi dalam bentuk silaturrahim dan sekaligus melakukan bimbingan yang mengacu pada pembinaan oleh supervisor untuk meningkatkan proses kegiatan belajar mengajar secara optimal. Sedangkan akreditasi adalah proses penilaian dan penghargaan yang dilakukan serta diberikan kepada unit TKA-TPA yang telah melaksanakan pengelolaan TKA-TPA sesuai dengan standar manajemen yang telah ditentukan.
Struktur Supervisi dan Akreditasi di BADKO TKA-TPA Propinsi DIY ditunjukkan oleh bagan sebagai berikut :
Bagan Mekanisme Pelaksanaan Supervisi41
41 Tim BADKO DIY, Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 23.
Keterangan :
= Alur pelaporan temuan secara formal (wajib)
= Alur pelaporan temuan alternatif
Supervisor adalah personel yang ditunjuk oleh BADKO TKA-TPA Daerah dan berkedudukan di Rayon-Rayon yang bertugas secara rutin melakukan silaturrahim dan pembinaan ke unit-unit serta melaporkan hasilnya secara rutin kepada Tim Supervisi Daerah untuk kemudian dilakukan adjusment. Tim Supervisi BADKO TKA-TPA Daerah secara rutin melaporkan hasil supervisi dan memberikan rekomendasi kepada Tim Supervisi dan Akreditasi BADKO TKA-TPA Propinsi yang kemudian akan turun untuk melakukan akreditasi terhadap unit yang sudah siap.
Tim Supervisi dan Akreditasi BADKO TKA-TPA Propinsi bersama Biro Litbang dan Biro Diklat secara rutin akan melakukan evaluasi dari hasil supervisi dan akreditasi di lapangan untuk dirumuskan menjadi suatu kebijakan dalam pembinaan pengelolaan unit TKA-TPA. Hasil akhir dari proses akreditasi adalah keluarnya Piagam Akreditasi Unit yang dikeluarkan oleh BADKO TKA-TPA Propinsi DIY.42
3. Kegiatan Penunjang Lainnya
Untuk lebih mendukung program pembinaan dan pengembangan TKA-TPA di Propinsi DIY menyelenggarakan kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Menerbitkan Buletin bulanan GEMA
Buletin GEMA awal diterbitkan pada periode ketiga dengan Ketua Umum Drs. Mangun Budiyanto. Buletin GEMA merupakan media informasi dan
42 Arifin Hafidz, Progress Report Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Aql-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Yogyakarta: BADKO TKA-TPA Propinsi DIY, 2008), hlm. 10-11.
66
komunikasi antara unit TKA-TPA yang satu dengan yang lain, antara ustadz yang satu dengan ustadz lain dan antar pengurus BADKO TKA-TPA Propinsi DIY.43 Penerbitan Buletin Gema pada periode selanjutnya terkendala oleh SDM (Sumber Daya Manusia) sehingga sampai periode keenam tidak terbit lagi, namun pada periode berikutnya akan diusahakan terbit kembali.
b. Kerjasama dengan Media Massa
Siaran Info BADKO di PTDI Kota Perak FM yang menginformasikan setiap program dan kegiatan BADKO TKA-TPA Propinsi. Selain itu dalam meliput kegiatan BADKO TKA-TPA Propisi DIY bekerjasama dengan koran “Kedaulatan Rakyat”, koran “Yogya Post”, dan koran “Harian Jogja”.44
c. Menyelenggarakan Kajian tematik dan Bedah buku bagi Ustadz/ustadzah.
Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka terus mengembangkan TKA-TPA. Sasaran dari kegiatan ini adalah aktivis TKA-TPA dan Remaja Masjid. Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan mampu menambah wawasan pengetahuan tentang pengelolaan TKA-TPA serta meningkatkan kualitas pribadi masing-masing peserta, sebab tema dalam acara ini berkaitan dengan peningkatan kualitas pengelola TKA-TPA di Propinsi DIY.
43 Dikutip dari Laporan Pertanggung-Jawaban (LPJ) Pengurus tahun1997-2000, hlm. 12.
pada tanggal 8 Januari 2009.
44 Wawancara dengan Rachmat Taufik S, (Yogyakarta: Karangkajen MG III/955, 20 Desember 2008)
d. Menyelenggarakan kegiatan Jambore Anak Sholeh bagi santri setiap 3 tahun.
Jambore merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh BADKO TKA-TPA dalam rangka mengembangkan kegiatan santri TKA-TKA-TPA dan ustadz/ustadzah dengan variasi kegiatan pembelajaran yang lebih bersifat praktek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk kegiatan tersebut sejenis dengan kegiatan kemah pada kepramukaan, namun dibungkus dengan kegiatan yang islami. Kegiatan ini diharapkan mampu membina santri dalam menghadapi permasalahan serta upaya pemecahannya dan menumbuhkan sikap kemandirian santri serta meningkatkan ukhuwah antar santri dan antar ustadz/ustadzah se-DIY.45 e. Menyelenggarakan Festival Anak Sholeh.
Festival Anak Sholeh Indonesia merupakan pagelaran lomba kreativitas santri berprestasi, baik santri TKA, TPA, maupun santri Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA). Kegiatan ini diselenggarakan oleh BADKO TKA-TPA Propinsi DIY yang bekerjasama dengan BADKO TKA-TPA dari Propinsi lain di Indonesia. Festival Anak Sholeh diselenggarakan dengan harapan terbinanya anak sholeh yang beriman, berakhlaq, berilmu serta terampil, sebagai generasi islami di masa depan. Di samping itu terbinanya anak sholeh juga merupakan investasi bangsa, sebab untuk kelangsungan dan kelestarian bangsa ini di masa yang akan datang haruslah dipegang oleh orang-orang yang sholeh sebagai sumber daya manusia yang berkualitas.
45 dalam Proposal Kegiatan Jambore Anak Sholeh I Se-DIY, tahun 2000, hlm. 1.
68
Festival Anak Sholeh yang berjenjang dari tingkat kecamatan hingga propinsi diperlukan untuk mengetahui dan mengevaluasi pembinaan anak sholeh di Propinsi DIY. Festival Anak Sholeh tingkat Nasional merupakan kelanjutan dari Festival tingkat Propinsi, dipandang perlu DIY mengirimkan kontingennya yang diawali dengan pembinaan.46
f. Menyelenggarakan Temu Aktivis TKA-TPA yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Syawal.
Temu aktivis TKA-TPA merupakan acara yang terus dikembangkan dalam rangka mengumpulkan para aktivis TKA-TPA se-DIY. Acara ini diadakan untuk membuka cakrawala pengetahuan yang dimiliki ustadz/ustadzah, sebab di dalam acara ini peserta disuguhi dengan berbagai wacana yang diharapkan mampu menambah wawasan sehingga diperoleh ustadz/ustadzah yang berkualitas47.
46 dalam Buku Panduan Festival Anak Sholeh Indonesia VI, tahun 2005, hlm. 10.
47 Dikutip dari Laporan Pertanggung-Jawaban (LPJ) Pengurus tahun 2000-2003, hlm. 16.
pada tanggal 8 Januari 2009.
BAB
IV
69
BAB IV
HUBUNGAN BADAN KOORDINASI TKA-TPA PROPINSI DIY DENGAN MASYARAKAT
Semenjak berdiri, BADKO TKA-TPA Propinsi DIY sudah mulai aktif sebagai fungsi koordinasi, pembina dan pengembang gerakan TKA-TPA di Propinsi DIY. Guna memasyarakatkan berbagai ide dalam bentuk kegiatan, BADKO TKA-TPA Propinsi menggunakan metode (HUMAS) Hubungan Masyarakat. Metode ini sering dipakai pada lembaga penelitian dan pendidikan. Suatu lembaga penelitian dan pendidikan yang sukses saat ini tidak terlepas dari unsur hubungan-hubungan dengan pihak-pihak terkait dan bekerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki tujuan yang sama. Tujuan komunikasi semacam ini adalah untuk menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga yang sejenis, dan untuk mengetahui sisi-sisi kelemahan dalam lembaga itu sendiri.1
Agar fungsi humas terlaksana dengan efektif, organisasi perlu mengambil tindakan-tindakan mendasar, seperti:
1. Menunjuk tenaga profesional sebagai penanggung jawab atau manajer humas, dengan tugas-tugas utama:
a. Menerima dan menyaring informasi yang penting dari luar dan menyebarkannya secara efektif kepada yang berkepentingan.
b. Membina program komunikasi efektif antar bagian dalam organisasi.
c. Menyusun program komunikasi keluar.
1 Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Metode dan Strategi Dakwah Islam, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996), hlm. 43.
2. Membina jaringan informasi dan komunikasi permanen dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam masyarakat.
3. Memelihara citra organisasi dalam masyarakat.2
Mengingat pentingnya humas bagi sebuah organisasi dalam mensukseskan kegiatan dan penyebaran informasi kegiatan yang diselenggarakan, berikut dipaparkan tentang hubungan yang terjalin antara BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dengan elemen-elemen masyarakat yang mempunyai peran penting dalam memasyarakatkan kegiatan. Hubungan tersebut bisa terwujud dalam bentuk kerjasama, dukungan ataupun penyebaran informasi.
A. Hubungan BADKO TKA-TPA Propinsi DIY dengan Masyarakat Muslim