Perkiraan Susut (%) Kegiatan Pascapanen
G. Pembinaan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan
Pembinaan penanganan pascapanen tanaman pangan dimaksudkan untuk membina para petani, petugas instansi terkait yang bergerak di bidang penanganan pascapanen agar dapat sesuai dengan Good Handling Practises (GHP). Selain itu, dengan melakukan pembinaan di tingkat lapangan diharapkan dapat meningkatkan SDM (petugas, petani/kelompok tani) yang menangani pasca panen dan menurunkan kehilangan hasil panen. Peningkatan efisiensi produksi, menurunnya susut hasil, meningkatnya rendemen dan mutu hasil, dapat menambah nilai tambah dan daya saing serta pengamanan harga hasil panen sesuai yang diharapkan.
Pembinaan penanganan pascapanen yang telah dilaksanakan adalah :
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 1. Pembinaan Penanganan Pascapanen Padi
Pembinaan penanganan pascapanen padi dilaksanakan ke beberapa provinsi yaitu Provinsi Aceh, Lampung, Riau, Gorontalo, Kalimantan Barat, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, dengan hasil sebagai berikut : a. Terkait dengan pengadaan bantuan sarana penanganan
pascapanen padi, pemilihan pembelian jenis sarana memprioritaskan pada kebutuhan poktan/gapoktan dengan tetap mengacu pada pedoman pelaksanaan penanganan pascapanen tanaman pangan 2011, sedangkan spesifikasi teknisnya disesuaikan kebutuhan poktan/gapoktan dengan tetap memper-timbangkan upaya menurunkan susut hasil dan mempertahankan mutu gabah/padi. Pembelian sarana menggunakan produsen/pengrajin di daerah sepanjang sudah memiliki persyaratan minimal test report dari lembaga uji yang telah ditunjuk oleh Kementerian Pertanian
b. Semua Provinsi yang dikunjungi sampai dengan tahun 2010 belum memiliki data nilai susut hasil padi dan rendemen beras, dan direncanakan dilakukan pada tahun 2012 melalui anggaran pembiayaan yang bersumber dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
c. Dukungan APBD Provinsi, Kabupaten dan Daerah terhadap upaya penanganan pascapanen padi masih minim, sehingga masih tergantung pada bantuan Pemerintah Pusat.
d. Dibutuhkan kebijakan dari Kepala Dinas serta koordinasi yang baik antara satker Bidang Tanaman Pangan dengan Bidang Bina Usaha/PPHP demi kelancaran pelaksanaan kegiatan penanganan pasca panen tanaman pangan.
e. Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota berupaya mengirimkan teknisi dan operator ke pabrikan dalam rangka mengikuti pelatihan untuk menambah pengetahuan dan teknologi pascapanen agar dapat
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 mengadopsi teknologi secara cepat serta meningkatkan kompetensi tenaga teknis dan operator.
2. Pembinaan Penanganan Pascapanen Jagung dan Serealia Lain
Pembinaan penanganan pascapanen jagung dan serealia lain dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Jambi, dengan hasil sebagai berikut :
a. Kurangnya permodalan pada Gapoktan untuk membeli jagung, baik jagung tongkolan kering, basah, maupun pipil kering, sehingga hanya dapat menampung sebagian kecil hasil panen petani, dan belum memiliki gudang serta lantai jemur.
b. Kurang minatnya petani dalam membudidayakan jagung, karena fluktuasi harga jagung pipilan kering di pasaran.
c. Produktivitas jagung menurun, dipengaruhi oleh kebiasaan panen petani jagung khususnya di Sulawesi Selatan yaitu tanam di musim hujan dan panen juga dimusim hujan, sehingga menyebabkan hampir 70 % areal tanam dan panen terkena jamur aflatoksin karena tidak cepat tertangani.
3. Pembinaan Penanganan Pascapanen Kedelai dan Aneka Kacang
Pembinaan penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang dilaksanakan di 8 (delapan) Provinsi yaitu : Provinsi Kalimantan Timur, Lampung, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan hasil sebagai berikut :
a. Upaya peningkatan produksi kedelai dan aneka kacang pada saat ini belum diikuti dengan penanganan pascapanen yang tepat sehingga susut hasil masih sangat tinggi. Untuk itu diharapkan adanya upaya khusus dari pemerintah pusat maupun daerah untuk mendorong perbaikan penanganan pascapanen kedelai dan
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 aneka kacang dalam rangka menurunkan susut/kehilangan hasil dan mempertahankan mutu.
b. Belum ada koordinasi antar lembaga terkait baik di tingkat pusat maupun daerah dalam penanganan pascapanen. Penanganan pascapanen tidak dapat dilakukan secara parsial, oleh karena itu koordinasi antar lembaga terkait perlu dioptimalkan baik di tingkat pusat maupun daerah. Koordinasi tersebut sangat penting dalam mendukung keberhasilan tercapainya program dan kegiatan penanganan pascapanen sesuai yang diharapkan.
c. Untuk mengurangi susut hasil karena tercecer dan mem-pertahankan mutu kedelai dan aneka kacang diperlukan teknologi dan sarana alat pascapanen yang memenuhi persyaratan teknis, ekonomis dan mudah diadopsi oleh petani sehingga alat yang diberikan dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh kelompok tani. Inovasi teknologi dan sarana pascapanen yang dihasilkan oleh lembaga penelitian maupun perguruan tinggi dan perusahaan swasta perlu didorong untuk terus dikembangkan sesuai dengan spesifik lokasi.
d. Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada belum memadai, untuk itu diperlukan peningkatan SDM melalui pelatihan/kursus, kerjasama dengan lembaga pelatihan maupun perguruan tinggi. Peningkatan kualitas SDM diarahkan untuk peningkatan sikap, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keterampilan pelaku pascapanen (petugas/penyuluh, petani/kelompoktani).
e. Kelembagaan yang menangani kegiatan pascapanen umumnya masih lemah. Untuk memantapkan perbaikan penanganan pascapanen termasuk usaha jasa pascapanen, diperlukan dukungan kelembagaan serta mendorong tumbuh kembangnya perbengkelan/pengrajin alat mesin pascapanen dan kemitraan usaha jasa alat mesin pascapanen antara petani/kelompok tani sebagai pengguna dan UPJA sebagai unit usaha bisnis yang
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 mengusahakan pelayanan jasa persewaaan alat mesin pascapanen.
4. Pembinaan Penanganan Pascapanen Aneka Umbi
Pembinaan penanganan pascapanen aneka umbi dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat, Aceh, Gorontalo, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Riau dan Papua Barat, dengan hasil sebagai berikut :
a. Penanganan pascapanen yang baik dan tepat belum dilakukan.
Petani/kelompok tani masih melakukan penanganan pascapanen secara tradisional, berdasarkan kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun (petani melakukan panen dengan mencabut sehingga peluang adanya umbi yang tertinggal atau patah cukup besar yaitu + 7%).
b. Penanganan yang dilakukan petani berdasarkan kebiasaan turun temurun, dapat disebabkan karena kurangnya informasi, kurangnya sosialisasi, kurangnya pembinaan, sehingga tingkat pengetahuan petani tetap berada di level “kebiasaan”.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kebutuhan manusia akan berkembang, sehingga manusia perlu berusaha mendapatkan inovasi baru. Kondisi yang ada di petani saat ini memerlukan adanya pembinaan dan pola pembinaan kepada petani, baik secara individual maupun yang tergabung dalam kelompoktani, hendaknya dapat dilakukan secara kontinyu dalam upaya meningkatkan dan memberdayakan pengetahuan dan kemampuan petani.
c. Bantuan sarana pascapanen kepada petani merupakan salah satu bentuk pembinaan. Namun pembinaan berupa bantuan sarana hendaknya tidak menjadikan petani “terlena” dan “malas”
sehingga dari tahun ke tahun tidak selalu mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 d. Ketersediaan sarana pascapanen untuk komoditi aneka umbi
masih sangat terbatas, umumnya yang tersedia untuk komoditi padi.