• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian (Binwasdal)

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 56-63)

SEKSI SUMBER DAYA KESEHATAN 3.1 Seksi Sumber Daya Kesehatan

3.3 Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian (Binwasdal)

Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur No. 58 tahun 2002, salah satu tugas Farmakmin adalah melakukan akreditasi dan pengawasan mutu pelayanan farmasi, makanan, dan minuman melalui Binwasdal. Pembinaan (Counseling) adalah kegiatan untuk menyiapkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan agar mempunyai kompetensi untuk memenuhi persyaratan. Pengawasan (Supervision/

Inspection) adalah evaluasi kesesuaian melalui pengamatan dan penetapan,

jika perlu dengan pengukuran, uji, atau cara lain. Pengendalian (Controlling) adalah bagian dari kegiatan yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi yang fokus kepada pemenuhan persyaratan/peraturan perundang-undangan (Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, 2011).

Ruang lingkup Pelayanan Binwasdal meliputi (Suku Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2011):

1. Mengendalikan Mutu Pelayanan meliputi BIMTEK dan Self Assessment Mutu Pelayanan pada sarana Farmakmin

2. Audit Mutu sarana Farmakmin

3. Rekomendasi perbaikan dan penyeliaan (Supervisi) 4. Memberikan sanksi

5. Memfasilitasi penyelesaian perselisihan/pengaduan/keluhan dari organisasi profesi dan masyarakat

6. Mensosialisasikan peraturan perundangan tentang mutu kesehatan Farmakmin

Universitas Indonesia 3.4 Pelanggaran dan Sanksi

Semua perizinan Sarana Kesehatan Farmakmin dalam memberikan pelayanan atau operasionalnya selalu mempunyai tujuan yaitu untuk memberikan kesehatan jasmani dan rohani bagi konsumen yang dilayani. Oleh sebab itu, bila pengelola atau pemilik sarana kesehatan tersebut tidak menjalankan seperti apa yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan maka akan diberikan sanksi yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan (Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2002).

Sanksi yang akan diberikan bagi pengelola atau pemilik yang tidak menjalankan peraturan perundang-undangan atau pelanggaran dalam mengelola sarana kesehatan Farmakmin dapat dibagi menjadi beberapa kriteria, yaitu:

1. Sanksi administratif berupa: a. Peringatan

b. Penghentian sementara kegiatan c. Pencabutan izin

47 BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara

Suku Dinas Kesehatan di Provinsi DKI Jakarta merupakan organisasi yang bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No.10 Tahun 2008. Dengan adanya Undang-Undang No.25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, sebagian kewenangan dan tugas pemerintah pusat dilimpahkan ke daerah termasuk masalah pelayanan kesehatan. Untuk wilayah privinsi DKI Jakarta, pemerintah mengeluarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 58 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang mengawali berdirinya Suku Dinas Kesehatan.

Dinas Kesehatan berfungsi sebagai penyusun kebijakan di bidang kesehatan untuk wilayah Provinsi, sedangkan Suku Dinas Kesehatan berperan dalam pengawasan pelaksanaan kebijakan tersebut di wilayah kota administratif oleh fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara merupakan unit kerja dinas kesehatan pada kota administrasi Jakarta Utara dalam Pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah Jakarta Utara. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara terdiri dari 4 seksi, yaitu Seksi Kesehatan Masyarakat, Seksi Pelayanan Kesehatan, Seksi Sumber Daya Kesehatan, dan Seksi Pengendalian Masalah Kesehatan. Apoteker banyak berperan dalam Seksi Sumber Daya Kesehatan terutama pada Koordinator Farmasi, Makanan, dan Minuman (Farmakmin).

Koordinator Farmakmin pada Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara berperan dalam pelaksanaan perizinan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian (binwasdal) serta penilaian efektivitas pelayanan kesehatan dalam bidang farmasi, makanan, dan minuman. Perizinan terhadap apotek, toko obat, dan UMOT dilakukan dengan alur yang telah diatur menurut ketentuan yang berlaku. Koordinator Farmakmin juga bertanggung jawab dalam memberikan perizinan terhadap sarana kesehatan seperti apotek, toko obat, dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), serta pemberian rekomendasi Sub Penyalur Alat Kesehatan

Universitas Indonesia (SubPAK) yang didirikan di wilayah Jakarta Utara. Selain itu, Farmakmin juga memberikan perizinan terhadap surat izin tenaga kesehatan (SIKA, SIPA, dan SIKTTK). Contoh surat izin terlampir di lampiran.

Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara, memiliki sistem satu atap dan satu pintu dalam hal perizinan sarana kesehatan. Sistem tersebut mempunyai kebijakan yang sama dimana seluruh berkas perizinan diserahkan dan diterima di tempat yang sama melalui front line officer (FLO) di pelayanan prima. Pemohon izin menyerahkan berkas permohonan yang sudah lengkap kepada FLO (Front Line Officer) di Pelayanan Prima. FLO akan menerima dan memeriksa kelengkapan berkas serta mengisi check list sesuai dengan persyaratan permohonan izin. Jika berkas tidak lengkap, kekurangan akan diberitahukan kepada pemohon dan berkas akan langsung dikembalikan. Check

list hasil pemeriksaan berkas disimpan oleh FLO. Jika berkas permohonan

lengkap dan benar, FLO akan membuat tanda terima (rangkap 2, asli untuk pemohon dan fotokopi untuk arsip), mencatat pada buku register, dan menginput data pemohon melalui software. Selanjutnya berkas permohonan akan diserahkan ke bagian Tata Usaha (TU). Oleh bagian TU, berkas akan dicatat dan diberi penomoran pada buku agenda masuk. Kemudian data akan diteruskan ke seksi Sumber Daya Kesehatan (SDK) melalui software dengan menulis tanggal penerimaan di buku agenda keluar dan paraf penerima di Status Kendali Mutu. Seksi SDK menerima berkas permohonan dari TU dan mencatatnya pada register seksi. Kepala Seksi SDK akan melakukan verifikasi kebenaran dan keabsahan berkas permohonan. Jika hasil verifikasi tidak memenuhi persyaratan, Seksi SDK akan membuat surat penolakan yang ditandatangani oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. Berkas permohonan dan surat penolakan akan diserahkan kembali ke FLO. Jika hasil verifikasi memenuhi persyaratan, Seksi SDK akan membuat perjanjian waktu pemeriksaan lapangan, membuat surat tugas yang ditanda tangani oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, dan mempersiapkan berkas pemeriksaan lapangan. Setelah pemeriksaan lapangan dilaksanakan, hasil pemeriksaan lapangan dilaporkan ke Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan dan atau Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. Bila memenuhi persyaratan di lapangan, pembuatan Surat Izin/SK/Sertifikat akan

49

Universitas Indonesia dilakukan.Selanjutnya dilakukan pemberian nomor Surat Izin/Sertifikat Sarana dan Nomor Agenda Surat Keluar TU.

Surat Izin/SK/Sertifikat akan dicetak dan ditempelkan foto lalu diteruskan ke Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara untuk ditandatangani. Selanjutnya, Surat Izin/SK/Sertifikat akan digandakan dan dibubuhkan stempel Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. Sebagai arsip, foto ditempelkan di buku register perizinan dan fotokopi Surat Izin/SK/Sertifikat didokumentasikan pada berkas permohonan. Seksi SDK menyerahkan Surat Izin/SK/Sertifikat asli ke FLO dengan berita acara serah terima dan menginformasikan kepada pemohon untuk mengambil Surat Izin/SK/Sertifikat tersebut. FLO mengisi blangko retribusi pembayaran dan menyerahkannya ke pemohon untuk segera membayar ke Kas Daerah. FLO akan memberikan Surat Izin/SK/Sertifikat asli kepada pemohon dengan menerima surat tanda terima dan Surat Ketetapan Restribusi Daerah (SKRD) dari pemohon. Untuk bukti, SKRD warna putih dipegang pemohon dan yang berwarna merah disimpan FLO sebagai arsip. Selajutnya, pemohon menandatangani buku register FLO sebagai bukti Surat Izin/SK/Sertifikat telah diambil. Keseluruhan proses ini harus dilakukan dan selesai dalam waktu tidak lebih dari 16 hari kerja.

Pelaksanaan perizinan selanjutnya dilaksanakan oleh petugas sudinkes di bidang Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin). Berbeda dengan perizinan tenaga kerja kefarmasian, pengeluaran izin bagi sarana kesehatan kefarmasian dilakukan setelah pemeriksaan fisik terhadap sarana tersebut. Khusus UMOT, perizinannya terdiri dari 2 jenis yaitu izin prinsip dan izin usaha, sedangkan izin edar produk menjadi wewenang BPOM.

Pada saat pemeriksaan lapangan apotek, dilakukan pemeriksaan meliputi bangunan, perlengkapan apotek, dan personalia (terutama Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian). Pada saat pemeriksaan juga dilakukan penyuluhan mengenai pentingnya pelaporan narkotika, kelengkapan sarana apotek seperti kartu stok, penaraan timbangan, dan pentingnya kehadiran Apoteker di apotek, serta keharusan apotek untuk membeli obat pada Pedagang Besar Farmasi. Penanggung jawab toko obat adalah Tenaga Teknis Kefarmasian dan daftar obat yang dapat dijual di toko obat hanya obat bebas dan obat bebas terbatas. Toko

Universitas Indonesia Obat tidak boleh melayani resep atau memberikan obat yang termasuk dalam daftar obat keras maupun DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek). Pada saat pemeriksaan UMOT, dilakukan pemeriksaan terhadap peralatan untuk pengolahan serta pengemasan produk, peralatan pengendalian pencemaran sarana produksi, serta sumber daya/energi yang digunakan.

Pada kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara dengan cara kunjungan langsung ke Apotek, Toko Obat, UMOT, dan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) kunjungan itu dilakukan dalam bentuk pemeriksaan kelengkapan administrasi seperti blanko kartu stok, blanko pesanan obat, salinan resep, faktur, buku penjualan, buku pesanan narkotik psikotropik dan alat pemadam kebakaran ada atau tidak, serta melakukan pembekuan atau pencabutan izin jika ada apotek yang melanggar peraturan misalnya pemesanan narkotik yang berlebihan. Kemudian pengendalian yang dilakukan di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara salah satunya adalah pengendalian Sistem Pelaporan Narkotik dan Psikotropik (SIPNAP). Semua apotek yang diberikan izin apotek oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara melaporkan narkotik dan psikotropik kepada Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara bagian koordinator Farmakmin. Kemudian bagian koordinator Farmakmin mengirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Binwasdal yang dilakukan di apotek meliputi pemeriksaan terhadap harga obat, sumber obat, data penjualan obat, personalia, dan sarana apotek. Harga obat yang dijual di apotek baik obat generik maupun obat paten tidak boleh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Pelanggaran apotek yang sering dijumpai di lapangan saat Binwasdal adalah ketidakhadiran Apoteker di apotek dan administrasi perbekalan farmasi yang kurang baik. Pelaporan Narkotika oleh apotek kepada Suku Dinas Kesehatan juga sering mengalami keterlambatan, Suku Dinas Kesehatan menetapkan batas akhir pelaporan bulanan Narkotika pada tanggal 10 di setiap bulan. Apotek dan toko obat memiliki perbedaan yang mendasar, dimana penanggung jawab apotek adalah seorang Apoteker sedangkan penanggung jawab toko obat adalah asisten apoteker. Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan asisten apoteker diapotek harus dibawah pengawasan apoteker. Namun, bila di toko obat pekerjaan kefarmasian dilakukan secara mandiri oleh

51

Universitas Indonesia asisten apoteker sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelayanan yang diberikan antara apotek dan toko obat juga berbeda, dimana toko obat tidak boleh melakukan peracikan atau penerimaan resep dan tidak melayani obat keras, serta narkotika dan psikitropika.

Selain apotek, Binwasdal juga dilakukan pada toko obat, UMOT ,dan PIRT. Binwasdal toko obat dilakukan dengan memeriksa obat yang dijual di toko obat. Pelaksanaan Binwasdal toko obat juga dapat merupakan penindak lanjutan dari temuan pelanggaran oleh BPOM. Binwasdal terhadap UMOT dan PIRT minimal dilakukan pada 5-10 sarana setiap bulan atau tergantung anggaran, pemilihan sarana dilakukan secara acak.

Penanggung jawab pada sarana UMOT adalah seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK). Suku Dinas Kesehatan hanya berwewenang untuk memberikan izin sarana produksi. Untuk memperoleh izin UMOT ini juga harus dilakukan pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi alur produksi mulai dari bahan baku, proses produksi, pengemasan sampai pada penyimpanan produk jadi. Jika ada beberapa hal yang tidak sesuai maka Suku Dinas Kesehatan akan merekomendasikan agar segera diperbaiki atau izin tidak akan diberikan. UMOT mengikuti Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Untuk PIRT, Koordinator Farmakmin juga menyelenggarakan Penyuluhan Keamanan Pangan agar PIRT dapat memahami dan menerapkan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB), sanitasi dan higiene, serta Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang diizinkan. Farmakmin juga memberikan perizinan bagi produk pangan yang diproduksi oleh PIRT dan akan diedarkan. Perizinan yang diberikan berupa Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). SPP-IRT hanya diberikan untuk satu jenis produk pangan industri rumah tangga. PIRT yang menjual makanan yang tahan lebih dari 7 hari harus didaftarkan, makanan yang tahan kurang dari 7 hari tidak wajib didaftarkan.

Jika diketahui terjadi pelanggaran atau penyimpangan, Koordinator Farmakmin dapat memberikan peringatan dan pembinaan agar sarana tersebut dapat memperbaiki kesalahannya. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kembali

Universitas Indonesia untuk mengetahui apakah perbaikan telah dilakukan atau belum. Jika suatu sarana tidak juga memperbaiki kesalahannya atau tetap melanggar peraturan, Koordinator Farmakmin berwenang untuk mencabut izin sarana tersebut.

Apabila apoteker penanggung jawab apotek meninggal maka ahli waris dan PSA melapor pada Suku Dinas Kesehatan dan membuat supervisi selama menunggu adanya apoteker baru. PSA wajib melaporkan jumlah narkotik dan psikotropik yang ada di apotek. Apabila telah di temukan apoteker penggantinya maka dibuat Surat izin apotek yang baru dengan menggunakan nomor SIPA apoteker yang baru tersebut.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 56-63)