DBKP KIB-A DBP KIB-A
K. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pembinaan atas barang milik daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. Kepala daerah melakukan pengendalian pengelolaan barang milik daerah, karena Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah, sehingga kepala daerah berwenang dan bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah. Sedangkan pemantauan dan penertiban terhadap penggunaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan Barang Milik Daerah yang berada di bawah penguasaannya dilakukan oleh pengguna barang. Pengelola barang berwenang untuk melakukan pemantauan dan investigasi atas pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah, dalam rangka penertiban penggunaan, pemanfaatan, dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, pengguna dan kuasa pengguna barang dapat meminta aparat pengawas fungsional untuk melakukan audit tindak lanjut hasil pemantauan dan penertiban terhadap penggunaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan Barang Milik Daerah yang berada di bawah penguasaannya.
Untuk pelaksanaan tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah, diberikan insentif bagi pejabat/pegawai yang melaksanakan pengelolaan barang milik daerah yang menghasilkan pendapatan dan penerimaan daerah. Sedangkan bagi Penyimpan barang dan pengurus barang dalam melaksanakan tugas diberikan tunjangan khusus yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Seluruh insentif maupun tunjangan khusus ini dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Kepala daerah dapat memperoleh informasi terjadinya kerugian daerah. Informasi tersebut dapat diketahui oleh Kepala Daerah melalui laporan hasil pemeriksaan dari aparat pengawasan maupun laporan Kepala SKPD yang membawahi pejabat/pegawai, penyimpan dan/atau pengurus barang yang bersangkutan. Apabila pengelola , pembantu pengelola, pengguna/kuasa pengguna, dan penyimpan dan/atau pengurus barang melakukan perbuatan yang merugikan daerah, dikenakan sanksi berupa Tuntutan Ganti Rugi (TGR). Dalam melaksanakan
Tuntutan Ganti Rugi, Kepala Daerah dibantu oleh Majelis Pertimbangan TGR untuk memperoleh masukan dan pertimbangan apabila terjadi permasalahan yang terkait dengan kerugian daerah. Majelis Pertimbangan TGR ini terdiri dari :
a. Sekda, selaku Ketua merangkap anggota;
b. Kepala Bawasda, selaku Wakil Ketua Satu merangkap anggota;
c. Asisten Sekda yang membidangi selaku Wakil Ketua Dua merangkap anggota; d. Kepala Biro/Bagian Keuangan/Badan Pengelola Keuangan, selaku Sekretaris; e. Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit Pengelola Barang, selaku Anggota; f. Kepala Biro/Bagian Hukum, selaku anggota; dan
g. Kepala Biro/Bagian Kepegawaian, selaku anggota.
Majelis Pertimbangan TGR ini memiliki tugas :
a. Mengumpulkan, menatausahakan, menganalisis serta mengevaluasi setiap kasus TGR yang diterima;
b. Memproses dan melaksanakan penyelesaian TGR;
c. Memberikan saran/pertimbangan TGR kepada Kepala Daerah atas setiap kasus yang menyangkut TGR;
d. Menyiapkan laporan Kepala Daerah mengenai perkembangan penyelesaian kasus kerugian Daerah secara periodik kepada Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Bina Administrasi keuangan Daerah.
Perlu diingat, suatu tuntutan ganti rugi barang tidak boleh hanya didasarkan pada sangkaan atau dugaan. Tetapi tuntutan ganti rugi barang harus didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya dan dalam pelaksanaanya tidak perlu menunggu Keputusan Pengadilan Negeri. Seorang kepala daerah harus berusaha semaksimal mungkin memperoleh penggantian atas semua kerugian yang diderita oleh daerah, tetapi sedapat mungkin dalam pelaksanaannya diusahakan dengan jalan/upaya damai. Selain itu, apabila biaya pelaksanaan tuntutan ganti rugi barang diperkirakan memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan uang yang akan diterima oleh daerah, tuntutan ganti rugi barang dapat ditiadakan.
Kalau usaha untuk mendapatkan penggantian kerugian dengan upaya damai tidak berhasil, maka dilakukan proses tuntuan ganti rugi. Prosesnya adalah :
a. Majelis TGR mengumpulkan bahan-bahan bukti, mengadakan penelitian dan menentukan berapa besar kerugian yang sebenarnya diderita oleh Daerah;
b. Dengan didasarkan pada hasil penelitian tersebut, Majelis TGR melaporkan kepada Kepala Daerah
c. Kepala Daerah mengeluarkan surat pemberitahuan tertulis kepada pihak yang akan dituntut. Surat pemberitahuan tersebut harus menyebutkan:
1) jumlah kerugian yang diderita oleh daerah yang harus diganti; 2) sebab-sebab dan alasan penuntutan dilakukan; dan
3) tenggang waktu pengajuan keberatan/pembelaan diri, yaitu 14 hari terhitung dari tanggal diterimanya surat pemberitahuan oleh pegawai yang bersangkutan.
d. kalau dalam tenggang waktu 14 hari tidak diajukan pembelaan diri atau diajukan pembelaan diri, Kepala Daerah menetapkan Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi.
e. Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi ini yang dijadikan dasar bagi kepala daerah melaksanakan penagihan, atau melakukan pemotongan gaji/penghasilan pegawai yang bersangkutan. Seorang kepala daerah bisa meminta bantuan yang berwajib untuk melakukan penagihan dengan paksa, apabila memang diperlukan.
f. Pegawai yang bersangkutan tetap berhak mengajukan permohonan banding kepada pejabat yang berwenang meskipun sudah ditetapkan Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi. Permohonan banding ini harus diajukan dalam waktu 30 hari sejak diterimanya surat keputusan tersebut.
g. Ada kemungkinan pegawai yang bersangkutan tidak mampu membayar ganti rugi. Apabila hal ini terjadi, maka peagawai tersebut harus mengajukan pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala Daerah untuk mohon pembebasan atas kewajibannya untuk membayar ganti rugi.
h. Apabila keputusan tingkat banding menyatakan pegawai yang bersangkutan dibebaskan dari kewajiban mengganti kerugian daerah karena kerugian tersebut disebabkan oleh kondisi diluar kemampuannya/bukan kesalahannya/ bukan karena kelalaiannya, maka Kepala Daerah menerbitkan Surat Keputusan Pembebasan kekurangan kerugian daerah.
Penggantian kerugian daerah dapat dilakukan dalam bentuk uang atau barang. Tuntutan ganti rugi barang akan kadaluwarsa kalau telah lewat lima tahun setelah akhir tahun anggaran kerugian daerah itu diketahui atau jika telah
lewat delapan tahun setelah akhir tahun anggaran dimana perbuatan melanggar hukum atau kelalaian yang menyebabkan kerugian daerah itu dilakukan. Misalnya saja, seorang pengurus barang lalai dan menyebabkan kerugian daerah pada tahun 2000. Kerugian daerah tersebut baru diketahui tahun 2002. Tuntutan ganti rugi akan kadaluwarsa tahun 2008 (8 tahun sejak kejadian tersebut terjadi, yaitu tahun 2000), atau tahun 2007, yaitu 5 tahun sejak kerugian daerah tersebut diketahui.
L. Latihan
Setelah Anda membaca uraian materi dalam Kegiatan Belajar 2, kerjakanlah latihan berikut ini. Anda dapat juga mendiskusikannya dengan peserta lain.
1. Apa yang dimaksud dengan perencanaan kebutuhan dan penganggaran barang milik daerah ? Jelaskan.
2. Kegiatan apa saja yang termaksud dalam pemanfaatan barang milik daerah ? Berikan contohnya.
3. Apakah yang dimaksud dengan pemindahtanganan barang milik daerah ? Jelaskan.
4. Menurut Saudara, kegiatan pembiayaan barang milik daerah terkait dengan kegiatan apa saja dalam siklus pengelolaan barang milik daerah. Jelaskan. 5. Apa yang dimaksud dengan penatausahaan barang milik daerah ? Jelaskan. 6. Apakah tujuan penghapusan barang milik daerah ? Jelaskan.
7. Apakah yang dimaksud dengan pengamanan dan pemeliharaan barang milik daerah ? Jelaskan.
M. Rangkuman
Siklus pengelolaan barang milik daerah dimulai dari perencanaan kebutuhan dan penganggaran barang milik daerah. Kesalahan dalam melakukan perencanaan kebutuhan barang milik daerah akan mengakibatkan inefisiensi dalam pengelolaan barang milik daerah.
Setelah dilakukan perencanaan kebutuhan dan penganggaran barang milik daerah, dilakukan pengadaan barang milik daerah. Proses ini selanjutnya akan
diikuti dengan penerimaan, penyimpanan dan penyaluran barang milik daerah. Proses ini juga harus dilakukan dengan teliti sehingga dapat dihindarkan adanya kerusakan, kehilangan barang milik daerah. Setelah barang milik derah diterima dan disalurkan, perlu dilakukan penetapan status atas barang milik daerah.