• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembobotan koorporasi untuk teknologi informasi adalah identifikasi keterkaitan antara proses bisnis BAPETEN dengan dukungan teknologi informasi yang dimiliki. Pembobotan ini dilakukan pada dua domain yaitu domain bisnis dan teknologi. Hal ini sangat penting dilakukan karena bobot domain bisnis dan teknologi sangat berbeda antara suatu organisasi dengan organisasi lainnya. Pembobotan koorporasi ini akan memberikan gambaran mengenai pandangan BAPETEN terhadap manfaat dari risiko dari investasi teknologi informasi yang ada. Bobot maksimum untuk manfaat adalah +5 sedangkan bobot minimumnya adalah 0. Untuk risiko, bobot maksimumnya adalah 0 sedangkan bobot minimumnya adalah -5.

Matriks keterkaitan antara bisnis dan teknologi informasi digunakan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara kemampuan organisasi dalam menghasilkan profit dan keunggulan bersaing dengan kemampuan sistem informasi dalam mendukung organisasi. Kuantifikasi finansial hanya dapat menjawab manfaat tangible dan mengabaikan intangible. Untuk kerangka Information economics, dapat dilakukan pembobotan terhadap nilai yang tangible (nyata) maupun yang intangible (tidak nyata).

Pembobotan disesuaikan berdasarkan banyak kriteria seperti tingkat kesehatan organisasi dalam menghasilkan keuntungan atau profit, kemampuan bersaing organisasi serta tingkat dukungan sistem informasi terhadap organisasi. Hal ini akan mempengaruhi pola pandang organisasi terhadap nilai dan risiko yang

ada. Selain pembobotan nilai, resiko dan ketidakjelasan juga perlu didapatkan sebagai faktor pengurang kesuksesan proyek sehingga menentukan hasil akhir sebuah investasi implementasi sistem.

Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, bahwa BAPETEN mempunyai lini bisnis yang cukup kuat. Hal ini terlihat bahwa BAPETEN memiliki aset yang cukup besar dan pemohon izin yang banyak di seluruh Indonesia. Meskipun BAPETEN tidak memiliki pesaing dan bertahan pada bisnis yang ada, dikarenakan BAPETEN merupakan lembaga pemerintah satu-satunya yang bertugas mengawasi pemanfaatan tenaga nuklir dan zat radioaktif di Indonesia. Tetapi hal ini tidak membuat BAPETEN menjadi lemah dalam peningkatan pelayanannya. Hal ini terlihat dari dukungan komputer yang kuat yang tampak pada sistem informasi yang telah diterapkan dan dukungan peralatan serta staf berkaitan dengan TI yang cukup kuat. Dengan kenyataan diatas, maka dapat dikategorikan bahwa BAPETEN berada pada kuadran D (breakthrough) pada matriks keterkaitan bisnis dengan teknologi informasi seperti yang ditunjukan pada gambar 3.14. Untuk organisasi pada kuadran D mempunyai lini bisnis yang lemah tetapi dukungan komputer yang kuat . Baik sistem infrastruktur maupun sistem backbone sangat bagus. Hal yang paling utama adalah kontribusi sistem informasi di masa depan terhadap kesehatan perusahaan.

Gambar 3.14 Posisi BAPETEN dalam Matriks Keterkaitan Bisnis dan Teknologi Informasi

Dari wawancara serta hasil analisa dari misi dan strategi lembaga, maka nilai-nilai faktor-faktor domain bisnis dan domain teknologi yang terdapat pada kuadran breaktrough tidak terlalu tepat sehingga diperlukan penyesuaian-penyesuaian. Faktor-faktor yang dikaji adalah sebagai berikut :

Garis Bisnis

Tingkat dimana dukungan bisnis menguntungkan, kompetitif, sehat, dankuat

Kuat Lemah Kuat Lemah Kuadran A INVESTASI Kuadran B STRATEGIS Kuadran C INFRASTRUKTUR Kuadran D BREAKTHROUGH MANAGEMENT

Tingkat dimana dukungan computer saat ini kuat dan efektif

3.5.1 Penilaian Domain Bisnis

Domain Bisnis adalah variabel yang ditambahkan dalam menghitung nilai total dari sebuah proyek TI dalam membuat ranking keseluruhan dari proyek menjadi realistis. Variabel ini di tambahkan untuk menghitung faktor-faktor yang tidak dapat secara langsung dihitung oleh ROI sederhana dengan kata lain untuk menghitung manfaat-manfaat yang bersifat intangible. Faktor– faktor dalam domain bisnis antara lain:

3.5.1.1 Return on Investment (ROI)

Return on Investment (ROI) merupakan pengukuran terhadap tingkat pengembalian suatu investasi kepada perusahaan. Bagi manajemen perusahaan, ROI cukup penting karena dapat mengetahui layaknya investasi teknologi informasi yang diinvestasikan, sehingga dari sudut pandang manajemen, faktor ROI ini diberi bobot yaitu 3.

3.5.1.2 Strategic Match

Teknologi informasi mempunyai peranan sangat penting bagi BAPETEN dalam membantu perusahaan menetapkan strategi agar dapat tercapainya tujuan-tujuan bisnis BAPETEN. Pemilihan TI yang diperlukan dalam mendukung kegiatan operasional BAPETEN harus memiliki kesesuaian dengan strategis bisnis yang ada. Oleh karena itu, nilai strategic match diberi bobot yaitu 4.

3.5.1.3 Competitive Advantage

Penerapan dan penggunaan teknologi informasi yang baik dapat menunjang kinerja BAPETEN agar dapat memiliki keunggulan dalam

memberikan pelayanan yang prima. Karena BAPETEN merupakan satu-satunya lembaga di Indonesia yang mengawasi hal-hal yang bersangkutan dengan penggunaan zat radioaktif. Oleh karena itu, competitive advantage di BAPETEN diberi bobot 2.

3.5.1.4 Management Information

Tujuan perusahaan menggunakan teknologi informasi adalah agar manajemen mampu memperoleh informasi dengan lebih cepat dan akurat, kemudian informasi tersebut akan digunakan untuk membantu pihak manajemen dalam proses pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Untuk itu, BAPETEN sangat membutuhkan nilai-nilai tersebut untuk merancang rencana-rencana strategis perusahaan, baik rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang. Maka dalam hal ini, diberi bobot 4. 3.5.1.5 Competitive Response

Competitive response ini berhubungan dengan kerugian yang akan diterima oleh BAPETEN karena adanya penundaan dalam mengimplementasikan proyek TI. Pengimplementasian proyek TI yang tepat waktu cukup penting bagi BAPETEN dimungkinkan tidak mengakibatkan kerugian yang signifikan terhadap BAPETEN akibat kehilangan kesempatan dalam pencapaian keunggulan kompetitif, oleh karena itu nilai competitive response diberi nilai 2.

3.5.1.6 Project Organization Risk

Investasi teknologi informasi berfokus pada derajat dimana sebuah organisasi mampu membawa perubahan yang dibutuhkan. Kemampuan

organisasi ini meliputi keahlian yang dimiliki dalam organisasi, kemampuan manajerial, atau pengalaman. Evaluasi faktor ini memperhatikan dari pengguna dan organisasi area bisnis, bukan orang teknis. BAPETEN memiliki rencana umum yang baik dalam mengimplementasikan teknologi informasi serta memiliki manajemen yang baik jika sewaktu-waktu terjadi perubahan perencanaan bisnis. Akan tetapi, perusahaan belum memiliki perencanaan yang detail menghadapi berbagai perubahan yang terjadi yang diakibatkan perubahan prosedur kegiatan secara signifikan. Untuk itu, bobot yang diberikan adalah -1.

3.5.2 Penilaian Domain Teknologi 3.5.2.1 Strategic IS Architecture

Penerapan teknologi informasi pada BAPETEN diharapkan dapat menunjang strategi sistem informasi secara keseluruhan untuk merefleksikan rencana teknologi informasi yang ingin dicapai oleh perusahaan. Oleh karena itu dengan melihat kondisi perusahaan, manajemen mendapat bobot yaitu 3.

3.5.2.2 Definitional Uncertainty

Ketidakjelasan dan ketidakpastian akan kebutuhan dapat terjadi dalam proyek TI. Hal ini berarti menggambarkan sejauh mana kebutuhan dan spesifikasi proyek TI telah diidentifikasi. Kondisi seperti ini dapat terjadi pada BAPETEN, sehingga faktor risiko ini mendapat bobot yaitu -2.

3.5.2.3 Technical Uncertainty

Pada umumnya perusahaan sudah membuat rencana yang baik untuk pengimplementasian TI. Hal ini didasari kenyataan bahwa tenaga ahli TI yang dimiliki cukup, dan pendidikan dan pelatihan cukup sering diberikan kepada staf TI pada BAPETEN. Oleh karena itu, maka resiko ini mendapat bobot -2.

3.5.2.4 IT Infrastructure Risk

Faktor IT Infrastructure Risk merupakan faktor yang berhubungan dengan resiko yang akan dihadapi oleh perusahaan ketika ada sistem baru, yaitu B@LIS.

Penilaian ini didasari pada kenyataan bahwa infrastruktur yang dimiliki cukup baik dan masih dapat mengakomodasi teknologi sampai beberapa tahun mendatang, dan tidak akan diperlukan banyak perubahan tambahan dalam penerapan TI. Maka risiko ini mendapat bobot yaitu -1.

Dari analisa penentuan bobot yang telah dilakukan, menghasilkan ringkasan hasil pembobotan terhadap masing-masing nilai dan risiko baik pada domain bisnis dan teknologi. Hal itu dapat dilihat pada tabel di bawah ini, dapat diketahui total analisa nilai korporat yang didapat adalah 18 dan resiko -6.

Tabel 3.2 Ringkasan Analisa Pembobotan Nilai dan Risiko Korporat

DOMAIN BISNIS Likely Value Scale Resulting

Weight

Max

A Return On Investment (ROI) Sedang 0…5 3 15

B Strategic Match Tinggi 0…5 4 20

C Competitive Advantage Sedang 0…5 2 10

D Management Information Tinggi 0…5 4 20

E Competitive Response Sedang 0…5 2 10

F Project Organization Risk Rendah 0…5 -1 -5

DOMAIN TEKNOLOGI

A Strategic IS Architecture Sedang 0…5 3 15

B Definitional Uncertainty Sedang 0…5 -2 -10

C Technical Uncertainty Sedang 0…5 -2 -10

D IT Infrastructure Risk Rendah 0…5 -1 -5

Total Score 18 90

Dokumen terkait