HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Infrastruktur permukiman
4.4 Pembuangan Sampah
Sarana pembuangan sampah juga merupakan salah satu kelengkapan dasar fisik permukiman. Pada ketiga lokasi terpilih yaitu RW 02 (Kelurahan Pekayon), RW 01 (Kelurahan Tanjung Barat) dan RW 05 (Kelurahan Pejaten Timur) pelayanan pembuangan sampah tergolong baik. Hal ini berdasarkan hasil penilaian 3 narasumber (Ketua RW lokasi terpilih) yang memberikan nilai skor 3 pada penilaian pelayanan pembuangan sampah. Hal ini dikarenakan menurut narasumber sebagian besar masyarakat (>80.00%) sudah mendapatkan pelayanan pembuangan sampah. Selain itu juga dikarenakan frekuensi pengangkutan sampah dilakukan setiap hari. Pelayanan pembuangan sampah di lokasi terpilih ditangani oleh Suku Dinas Kebersihan setempat. Selain itu berdasarkan hasil turun lapang diketahui bahwa terdapat sarana pengelolaan sampah berupa Tempat Penampuangan Sampah Sementara (TPS), di RW 01 Kelurahan Tanjung Barat dan RW 05 Kelurahan Pejaten Timur. Sarana pengangkutan sampah berupa
34
gerobak sampah berkapasitas volume sampah ± 1 m3. Mekanisme pengangkutan sampah di kawasan permukiman tidak terencana di lokasi terpilih dilakukan dengan cara diangkut oleh petugas kebersihan, kemudian dikumpulkan di TPS untuk selanjutnya di buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang.
Gambar 22 Sarana pembuangan sampah pada permukiman tidak terencana di lokasi terpilih
Karakteristik Permukiman Terencana 1. Pola permukiman
Berdasarkan hasil analisis pola permukiman dengan menggunakan software Google Earth diketahui bahwa pada permukiman terencana di lokasi terpilih memiliki pola permukiman yang berbeda. Pada Komplek Tanjung Mas Estate memiliki pola konvensional. Pada Komplek Batu Permata memilki pola cluster.
Bangunan rumah pada umumnya berorientasi pada jalan dan sebagian besar bangunan rumah merupakan bangunan permanen.
Gambar 23 Pola permukiman terencana di lokasi terpilih
Pola permukiman pada permukiman terencana di lokasi terpilih memiliki pola permukiman konvensional dan cluster. Pada Komplek Tanjung Mas Estate memiliki pola permukiman berbentuk konvensional. Pada pola permukiman konvensional memiliki batas kapling yang jelas dan tingkat kepadatan rumah yang tersebar merata di seluruh kawasan. Hal ini dikarenakan komplek Tanjung Mas Estate berdiri Tahun 1983, dan pada saat itu konsep konvensional tersebut merupakan konsep perencanaan permukiman terencana yang pertama dikenal dan berkembang pada Tahun 1970-1990. Dengan demikian diketahui bahwa faktor keterbatasan konsep perencanaan perumahan mempengaruhi pola permukiman di Komplek Tanjung Mas Estate. Sedangkan pada Komplek Batu Permata memilki pola permukiman cluster. Pada konsep cluster rumah dibangun secara berkelompok untuk mendapatkan kepadatan yang tinggi. Hal ini dikarenakan keterbatasan lahan yang dimiliki komplek Batu Permata yaitu sebesar 5 950 m2, sehingga rumah-rumah dibangun secara berkelompok guna mendapatkan tingkat
35 kepadatan bangunan yang tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah unit bangunan di komplek Batu Permata yang hanya berjumlah 22 unit. Dengan demikian diketahui bahwa faktor luas lahan mempengaruhi pola permukiman di Komplek Batu Permata.
2. Ukuran permukiman
Ukuran permukiman dibedakan menjadi permukiman tunggal (satu rumah), permukiman kecil (0-500 jiwa), permukiman sedang ( 2 000 jiwa), permukiman besar (2 000-5 000 jiwa) dan permukiman sangat besar (>5 000 jiwa) (Mulyana et al. 2007). Berdasarkan hasil hasil wawancara dengan Ketua RT setempat diketahui bahwa pada Komplek Tanjung Mas Estate tergolong ke dalam permukiman berukuran sedang. Hal ini dikarenakan komplek tersebut memiliki jumlah penduduk sebesar 1 719 jiwa. Sedangkan pada Komplek Batu Permata tergolong ke dalam permukiman berukuran kecil. Hal ini dikarenakan komplek tersebut memiliki jumlah penduduk sebesar 96 jiwa.
Permukiman terencana di lokasi terpilih dapat dikategorikan sebagai permukiman kecil dan sedang. Pada Komplek Tanjung Mas Estate tergolong ke dalam permukiman ukuran sedang. Kawasan perumahan ini dihuni sekitar 1 719 jiwa yang terdiri dari 480 KK. Hal ini disebabkan kawasan Komplek Tanjung Mas Estate tergolong sebagai wisma besar. Hal ini dapat dilihat berdasarkan luas kavling rata-rata >400 m2. Kawasan Komplek Tanjung Mas Estate yang tergolong sebagai wisma besar, menyebabkan tingginya harga lahan dan unit rumah di kawasan tersebut dan berdampak pada jumlah penduduk di dalamnya. Sedangkan Pada Komplek Batu Permata tergolong ke dalam permukiman ukuran kecil.
Kawasan perumahan ini dihuni sekitar 96 jiwa yang terdiri dari 22 KK. Hal ini disebabkan kawasan Komplek Batu Permata tergolong sebagai wisma sedang. Hal ini dapat dilihat berdasarkan luas kavling rata-rata >200 m2. Kawasan Komplek Batu Permata sebagai wisma sedang menyebabkan tingginya harga lahan dan unit rumah di kawasan tersebut dan berdampak pada jumlah penduduk di dalamnya.
Selain itu juga disebabkan unit rumah yang terbatas akibat keterbatasan luas Komplek Batu Permata.
3. Kepadatan permukiman
Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, kepadatan permukiman dibedakan menjadi kepadatan rendah (<40.00%), kepadatan sedang (40.00-60.00%), dan kepadatan tinggi (>60.00%). Berdasarkan hasil analisis kepadatan permukiman diketahui bahwa pada Komplek Tanjung Mas Estate memiliki kepadatan sebesar 30.95% dan tergolong ke dalam kepadatan rendah. Pada Komplek Batu Permata memiliki kepadatan sebesar 45.75% dan tergolong ke dalam kepadatan sedang.
Pada permukiman terencana di lokasi terpilih memiliki kepadatan permukiman rendah dan sedang. Pada Komplek Tanjung Mas Estate tergolong ke dalam permukiman kepadatan rendah. Hal ini disebabkan peruntukkan kawasan ini yang termasuk ke dalam kawasan permukiman dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sedang-tinggi menurut RDTR Kecamatan Jagakarsa, sehingga menyebabkan tingkat kepadatan permukiman di kawasan ini masih tergolong rendah. Pada Komplek Batu Permata tergolong ke dalam permukiman kepadatan sedang. Hal ini disebabkan peruntukkan kawasan ini yang termasuk ke kawasan permukiman dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sedang-tinggi menurut
36
RDTR Kecamatan Pasar Minggu, sehingga menyebabkan tingkat kepadatan permukiman di kawasan ini masih tergolong sedang.
5. Infrastruktur permukiman
Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, terdapat beberapa aspek penilaian yang digunakan sebagai tolak ukur dalam menentukan kualitas infrastruktur permukiman. Aspek yang digunakan dalam penilaian kualitas infrastruktur permukiman yaitu jalan, saluran drainase, air bersih dan pembuangan sampah. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kondisi infrastruktur di ketiga lokasi terpilih tergolong baik. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai total seluruh aspek (Tabel 9). Penilaian infrastruktur permukiman dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 9 Penilaian infrastruktur permukiman pada permukiman terencana Sampel
Keterangan: Nilai total 4-7 = Rendah, 8-10= Sedang, 11-12= Tinggi 4.1 Jalan
Kondisi jalan pada lokasi terpilih (Komplek Tanjung Mas Estate dan Komplek Batu Permata) tergolong ke dalam kondisi yang baik (Gambar 22). Hal ini berdasarkan hasil penilaian 2 narasumber (Ketua RT lokasi terpilih) yang memberikan nilai skor 3 pada penilaian kondisi jalan. Hal ini dikarenakan tingkat kerusakan di lokasi terpilih <50.00%. Selain itu diketahui bahwa jalan terdiri dari jalan lokal sekunder I dan jalan lokal sekunder II, dengan lebar jalan sebesar 3.50-7.00 m dan permukaan jalan umumnya sudah beraspal. Sedangkan pada Komplek Batu Permata diketahui bahwa jalan terdiri dari jalan lokal sekunder I dengan lebar yaitu berkisar antara 3.50-4.00 m, dan pada umumnya juga sudah beraspal. Selain itu diketahui bahwa pada kedua lokasi terpilih tidak terdapat bahu jalan.
Gambar 24 Kondisi eksisiting jalan pada permukiman terencana di lokasi terpilih Pada Komplek Tanjung Mas Estate, jalan terdiri dari jalan lokal sekunder I
dan jalan lokal sekunder II. Pada jalan lokal sekunder I di kawasan Komplek Tanjung Mas Estate memiliki lebar 6.00-7.00 m. Hal ini sesuai dengan kriteria lebar jalan lokal sekunder I minimum yaitu 5.50-6.00 m, menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri. Selain itu juga terdapat median jalan dengan lebar 3.00-4.00 m.
37 Sedangkan pada lokal sekunder II memiliki lebar 4.00-5.00 m. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria lebar jalan lingkungan II minimum yaitu 4.50-5.50 m, menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri. Namun baik pada jalan lokal sekunder maupun jalan lingkungan tidak terdapat bahu jalan. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria jalan lokal sekunder dan jalan lingkungan yang diharuskan memiliki bahu jalan menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri.
Pada Komplek Batu Permata hanya memiliki satu akses jalan berupa jalan lokal sekunder I dengan lebar 3.50-4.00 m. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria lebar jalan lokal sekunder I minimum yaitu 5.50-6.00 m, menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri. Selain itu pada kawasan ini tidak terdapat median jalan. Namun pada jalan lokal sekunder dan jalan lingkungan tidak terdapat bahu jalan. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria jalan lingkungan yang diharuskan memiliki bahu jalan menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri.
Dengan demikian diketahui bahwa sistem jaringan jalan pada permukiman terencana di lokasi terpilih terdiri dari jalan lokal sekunder I, jalan lokal sekunder II. Lebar jalan lokal sekunder I pada permukiman terencana (Komplek Tanjung Mas Estate) sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan pada jalan lokal sekunder II belum sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Lebar jalan lokal sekunder I pada permukiman terencana (Komplek Batu Permata) belum memenuhi kriteria yang ada. Pada jalan lokal sekunder I dan II pada permukiman terencana tidak terdapat bahu jalan. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria jalan yang telah ditetapkan. Bahu jalan merupakan bagian dari ruang manfaat jalan yang berfungsi sebagai fasilitas bagi pejalan kaki. Keberadaan bahu jalan dalam suatu permukiman sangat penting karena merupakan fasilitas bagi pejalan kaki. Oleh karena itu keberadaan bahu jalan diperlukan dalam menujang keberlangsungan permukiman. Dengan demikian perlu adanya pengawasan terhadap implementasi peraturan dalam pembangunan infrastruktur jalan khususnya keberadaan bahu jalan pada permukiman.
4.2 Saluran Drainase
Kondisi saluran drainase pada lokasi terpilih (Komplek TME dan Komplek Batu Permata) tergolong ke dalam kondisi yang baik (Gambar 23). Hal ini berdasarkan hasil penilaian 2 narasumber (Ketua RT lokasi terpilih) yang memberikan nilai skor 2 pada penilaian kondisi saluran drainase. Hal ini dikarenakan menurut narasumber ketinggian air di saluran drainase pada lokasi terpilih relatif rendah ≤25.00%. Selain itu diketahui bahwa saluran drainase berbentuk saluran terbuka dengan kedalaman berkisar antara 40.00-60.00 cm.
Sedangkan pada Komplek Batu Permata pada umumnya saluran drainase berbentuk saluran terbuka dengan kedalaman berkisar antara 30.00-60.00 cm dan lebar antara 30.00-50.00 cm.
38
Gambar 25 Saluran drainase pada permukiman terencana di lokasi terpilih Kondisi saluran drainase yang relatif lancar disebabkan kedalaman saluran drainase yang cukup ideal, yaitu minimum 30.00 cm menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang petunjuk teknis kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun berdiri sendiri.
Selain itu juga disebabkan tingginya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
4.3 Air Bersih
Kondisi pelayanan air bersih pada lokasi terpilih (Komplek TME dan Komplek Batu Permata) tergolong baik. Hal ini berdasarkan hasil penilaian 2 narasumber (Ketua RT lokasi terpilih) yang memberikan nilai skor 3 pada penilaian pelayanan air bersih. Hal ini dikarenakan menurut narasumber seluruh unit rumah sudah mendapatkan pelayanan air bersih (100.00%), yang berasal dari air tanah.
4.4 Pembuangan Sampah
Kondisi pelayanan sampah di lokasi terpilih (Komplek TME dan Komplek Batu Permata) tergolong baik. Hal ini berdasarkan hasil penilaian 2 narasumber (Ketua RT lokasi terpilih) yang memberikan nilai skor 3 pada penilaian pelayanan pembuangan sampah. Hal ini dikarenakan menurut narasumber seluruh penghuni perumahan sudah mendapatkan pelayanan pembuangan sampah (100.00%). Selain itu juga dikarenakan frekuensi pengangkutan sampah dilakukan setiap hari (Komplek Batu Permata) dan setiap 2 hari sekali (Komplek Tanjung Mas Estate).
Sarana pengangkutan sampah berupa gerobak sampah berkapasitas volume sampah ± 1 m3. Mekanisme pengangkutan sampah pada lokasi terpilih dengan cara diangkut oleh petugas kebersihan, kemudian dikumpulkan di TPS terdekat untuk selanjutnya di buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang.
Rekomendasi Pengelolaan
Berdasarkan hasil analisis terhadap perubahan penutupan lahan dan karakteristik permukiman, diketahui bahwa :
1. Luas RTH pada tahun 1993 (29.80%) dan pada tahun 2013 (12.06%).
Berdasarkan nilai Indeks Penutupan Lahan (IPL) diketahui bahwa kondisi penutupan lahan (RTH) di DAS Ciliwung Hilir pada tahun 1993 dan 2013, tergolong buruk (IPL <30.00%). Hal ini tidak sesuai dengan standar IPL dalam suatu DAS, dimana suatu DAS atau Sub-DAS tergolong dalam keadaan baik jika memiliki IPL (RTH) >75.00%. Dengan demikian perlu meningkatkan luas RTH di seluruh wilayah DAS Ciliwung Hilir melalui penyusunan pedoman pengelolaan RTH berbasis DAS. Selain itu pemerintah
39 juga perlu melakukan sosialisasi tentang RTH, peran serta manfaat RTH bagi DAS kepada masyarakat.
2. Perubahan lahan dari RTH menjadi ruang terbangun pada periode 1993-2013 sebesar 70.07%. Dengan demikian perlu adanya pengendalian perubahan penutupan lahan melalui pemberian insentif dan disinsentif oleh pemerintah.
3. Permukiman di lokasi terpilih di dominasi oleh permukiman tidak terencana (87.23%). Hal ini disebabkan semakin bertambahnya jumlah penduduk sehingga mendorong peningkatan kebutuhan lahan untuk dijadikan permukiman. Oleh karena itu perlu adanya pengendalian penambahan permukiman tidak terencana oleh pemerintah melalui konsolidasi lahan.
4. Pada permukiman tidak terencana di lokasi terpilih, memiliki karakteristik permukiman berupa kepadatan permukiman rendah-sedang. Hal ini disebabkan peruntukkan kawasan di lokasi terpilih sebagai kawasan permukiman dengan KDB sedang-tinggi berdasarkan RDTR Kecamatan Pasar Rebo, Jagakarsa dan Pasar Minggu. Dengan demikian RDTR yang ada khususnya rencana detail kawasan permukiman perlu dipertahankan.
5. Pada permukiman tidak terencana di lokasi terpilih, memiliki karakteristik berupa buruknya infarstruktur permukiman yaitu drainase permukiman. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kapasitas saluran drainase sehingga berpotensi menyebabkan banjir di wilayah tersebut. Dengan demikian perlu adanya revitalisasi saluran drainase melalui pendekatan Sustainable Urban Drainage System (SUDS) atau sistem drainase berkelanjutan, yaitu teknik pengelolaan air yang berfokus pada pengendalian aliran air permukaan dengan prinsip menampung air pada bangunan serapan (kolam tandon, sumur resapan, lubang biopori) untuk selanjutnya di resapkan ke dalam tanah.