BAB IV DATA DAN ANALISIS
A. Deskripsi Proses Penelitian
1. Pembuatan Desain Narasi
Standar Kompetensi (SK) pembelajaran menurut Lampiran 3 Permendiknas RI No. 26 Th. 2006 ialah menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika titik. Kompetensi Dasar (KD) untuk SK tersebut ialah menganalisis keteraturan gerak planet dalam tata surya berdasarkan hukum-hukum Newton. Selanjutnya, peneliti menyusun Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar (IPKD)-nya.
Berdasarkan IPKD tersebut, peneliti menyusun narasi Fisika sesuai dengan petunjuk yang dianjurkan oleh Isabelle (2007). Narasi yang dibentuk kemudian diberi judul “Pemenang Sejati (?)”.
Konsep Sains yang akan diajarkan dalam cerita “Pemenang Sejati (?)”, sebagaimana dapat diamati dalam Lampiran 7 adalah Hukum Gravitasi Universal Newton, Hukum Kepler, dan Kelajuan Orbital Planet. Dibandingkan dengan narasi “Under Pressure”, konsep Fisika yang
dimuat dalam narasi ini jauh lebih banyak dan lebih kompleks. Selain mengulas konsep-konsep Fisika berkenaan dengan gravitasi dan keteraturan pergerakan benda langit, narasi ini juga menyajikan informasi sejarah Fisika.
Ada sebuah sisi sejarah Fisika menarik yang ditemukan oleh peneliti. Pertama, bahwa Newton merupakan salah satu ilmuwan yang pernah dipaksa oleh ibunya untuk menjadi petani (Anonymous, 2015). Namun, Newton tidak melakukan tugasnya dengan baik. Berkat dukungan pamannya, ibunya mau mengirimkan Newton untuk studi. Kedua, Johanes Kepler mampu melampaui gurunya, Tycho Brahe, dan dapat menyelesaikan tugas dari gurunya (Kaiser, 2010).
Fakta menarik bahwa Johanes Kepler mampu melampaui gurunya inilah yang dicantumkan dalam narasi “Pemenang Sejati (?)”. Namun, peneliti tidak menggunakan fakta ini sebagai tema cerita. Dengan pertimbangan agar tema cerita dipandang menarik oleh peserta didik berusia 15-16 tahun, maka peneliti mengangkat tema seputar anak SMA, yakni konsep seorang pemenang sejati. Tokoh yang berdinamika dalam cerita juga tidak menggunakan tokoh dalam sejarah Fisika, sebagaimana digunakan oleh Isabelle (2007).
Sesuai dengan petunjuk yang dianjurkan oleh Isabelle (2007), peneliti mencoba mengemas konsep Fisika tersebut dalam alur dan konflik cerita yang dimainkan oleh tokoh-tokoh. Konsep ini juga disajikan melalui percakapan tokoh dalam narasi “Pemenang Sejati (?)”, yakni Jesse, Randi,
Papa, Pak Anton, Kak Thomas, dan beberapa tokoh lain. Namun, peneliti tidak menggunakan petunjuk dari Isabelle (2007) untuk menggunakan konsep Fisika sebagai resolusi konflik dalam cerita.
Agar narasi panjang ini terlihat menarik, peneliti kemudian menambahkan ilustrasi-ilustrasi. Ilustrasi ini digunakan untuk menjelaskan tokoh utama dalam narasi. Selain itu, ilustrasi ini juga digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep Fisika di dalamnya (bdk. Lampiran 7).
Berbeda dengan Isabelle (2007), narasi ini tidak mencantumkan informasi fakta dan fiksi dalam narasi. Informasi ini tidak dicantumkan karena peneliti bermaksud mendiskusikannya bersama peserta didik dalam kelas.
Sisi menarik dari sejarah Sains, bahwa Newton pernah dipaksa oleh ibunya menjadi seorang petani dijadikan sebagai tema cerita “Vonny, Passion, dan Keinginan Papa”. Sama seperti cerita sebelumnya, cerita ini juga tidak menjadikan konsep Fisika sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik antara Vonny dan Papanya dalam menentukan masa depan Vonny. Sebabnya ialah materi Fisika tentang kesesuaian Hukum Kepler dengan Hukum Gravitasi Universal Newton tidak relevan dengan konflik soal
passion. Konsep Fisika berupa kesesuaian Hukum Kepler dengan Hukum Gravitasi Universal Newton juga disajikan dalam cerita ini.
Panjang cerita ini lebih pendek daripada “Pemenang Sejati (?)” karena konsep Fisika yang dibahas di dalamnya spesifik. Namun, pada
narasi ini tidak disajikan ilustrasi-ilustrasi sebagaimana tercantum pada narasi sebelumnya (bdk. Lampiran 12).
Narasi ketiga, yakni “Surat dari Kepler” hadir sebagai jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh subjek penelitian dalam surat mereka yang ditujukan untuk Kepler. Pada narasi ini, konsep Fisika Hukum Kepler dipaparkan. Selain itu, cerita ini juga memuat kilasan sejarah penyusunan Hukum Kepler.
Konsep Hukum Kepler dan kilasan sejarah ini disampaikan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Dalam narasi ini, seakan-akan Kepler, seorang ilmuwan yang telah lama tiada, hadir kembali di dunia dan membalas surat yang ditujukan padanya.
Panjang narasi ini relatif sama dengan narasi “Vonny, Passion, dan Keinginan Papa”. Berbeda dengan narasi “Vonny, Passion, dan Keinginan Papa”, narasi ini mencantumkan 2 buah ilustrasi untuk memperjelas pemaparan konsep. Ilustrasi-ilustrasi tersebut ialah hipotesis Kepler tentang struktur orbit planet dan gambar penjelasan Hukum II Kepler (bdk. Lampiran 22).
Dalam mendesain narasi ini, peneliti menjumpai kesulitan untuk menemukan masalah yang langsung berhubungan dengan konsep Fisika yang hendak dipelajari dengan narasi. Ini sesuai dengan anjuran dari Isabelle (2007) untuk menggunakan konsep Fisika sebagai sarana menyelesaikan masalah ini. Hingga laporan penelitian ini disajikan, belum ada satupun narasi yang mampu mengekspos masalah yang berkaitan
dengan Hukum Kepler, tetapi sebuah gagasan dapatlah disampaikan pada bagian ini.
Salah satu masalah yang mungkin dijadikan tema penceritaan ialah kisah penjelajahan luar angkasa yang dilakukan oleh astronot. Perbedaan usia astronot akibat menjelajah planet lain yang memiliki periode revolusi berbeda dengan planet Bumi, kiranya dapat dijadikan masalah untuk menerapkan (L. kognisi “aplikasi”) konsep Hukum Kepler dalam menentukan periode revolusi planet yang masih berada dalam satu sistem tata surya dengan planet Bumi. Selanjutnya, konsep Hukum III Kepler dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa terjadi perbedaan usia ini.
Kesulitan lain yang dijumpai pada penelitian ini ialah kriteria kemenarikan narasi dari sudut pandang peserta didik sungguh beragam. Ada peserta didik yang menganggap bahwa narasi yang menarik ialah narasi yang memuat banyak gambar, tetapi tidak terlalu panjang. Kriteria panjang narasi ini tentu berbeda-beda bagi peserta didik. Selain itu, ada pula yang menganggap bahwa narasi yang menarik ialah yang memiliki pesan dan amanat bagi para pembaca, ceritanya berbobot dan jarang didengar, serta disajikan dengan menarik, singkat, padat, dan jelas.
Peserta didik ini juga mengusulkan bahwa narasi yang baik perlu meringkas materi di dalamnya. Ada pula peserta didik yang menganggap narasi menarik dibaca apabila judulnya menarik, tetapi ada juga yang beranggapan bahwa narasi yang menarik perlu mendasarkan alur cerita pada kehidupan sehari-hari dan tetap mengandung materi Fisika.
2. Proses Implementasi Model Pembelajaran Fisika Bergaya Naratif di
Asrama Samirono
Rencana awal proses implementasi model pembelajaran ini hendak dilakukan di SMA Pangudi Luhur atau SMA Kolese De Britto. Kedua sekolah ini terletak di Provinsi DI Yogyakarta.
Namun, peneliti memperoleh kabar buruk dari seorang mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma yang sedang melakukan praktek mengajar di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa materi Gravitasi Newton sudah mulai diajarkan olehnya.
Sontak peneliti kaget karena kejadian ini tidak sesuai dengan perencanaan yang dibuat oleh peneliti. Dalam struktur kurikulum Fisika SMA, seharusnya pokok bahasan Gravitasi Newton merupakan pokok bahasan yang dipelajari setelah pokok bahasan Kinematika dengan Analisis Vektor. Namun, yang terjadi di lapangan ialah bab Gravitasi Newton ternyata dipelajari mendahului bab Kinematika dengan Analisis Vektor. Ternyata, situasi dan kondisi ini juga terjadi di SMA Kolese De Britto, sesuai dengan yang disampaikan oleh salah satu guru Fisika di sekolah tersebut.
Hasil dari konsultasi dan diskusi dengan pembimbing skripsi diperoleh opsi alternatif agar proses implementasi dapat segera dilaksanakan. Opsi tersebut ialah mengumpulkan siswa-siswi yang sedang studi di tingkat menengah atas dan belum mempelajari pokok bahasan
Gravitasi Newton. Oleh sebab itu, peneliti memutuskan untuk menggunakan asrama Stella Duce I, Samirono sebagai tempat implementasi model pembelajaran ini karena ada subjek penelitian, yakni siswi kelas X yang memenuhi kriteria tersebut.
Setelah proposal penelitian disetujui oleh pimpinan asrama Samirono, peneliti menyusun matrikulasi waktu penelitian. Saat itu, pimpinan asrama memberikan waktu pada peneliti sebanyak 9 kali pertemuan dan 2 pertemuan tambahan untuk pretes dan postes. Alokasi waktu satu pertemuan ialah 45-50 menit.
Sesuai dengan hasil diskusi dengan pimpinan asrama, responden dibagi menjadi 2 kelompok besar, yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pembagian ini dilakukan secara acak.
Dengan adanya situasi dan kondisi khusus dari pelaksanaan model pembelajaran ini, maka revisi rancangan model diubah kembali. Pengubahan dilakukan dengan menyesuaikan alokasi waktu yang diberikan oleh pihak asrama. Rancangan model ini dapat diamati pada Lampiran 11. Ruang lingkup materi yang dipelajari dipersempit menjadi satu materi, dari yang awalnya 3 materi. Materi yang akan dipelajari adalah Hukum Gravitasi Universal Newton.
Dengan terbentuknya kelompok, peneliti segera memulai proses implementasi model pembelajaran Fisika bergaya naratif. Pretest
diselenggarakan pada tanggal 13 dan 20 Agustus 2015. Responden yang hadir ialah 46 orang. Pertemuan berikutnya baru mulai membedakan
kegiatan belajar kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa model pembelajaran bergaya naratif, sedangkan kelompok kontrol belajar dengan model ceramah.
Namun, proses implementasi sempat terhenti karena terjadi penyusutan responden penelitian. Penyusutan ini dikarenakan ada beberapa keluhan dari subjek penelitian yang disampaikan pada pimpinan asrama Samirono.
Ada 3 pokok keluhan yang dipaparkan oleh pimpinan asrama. Pertama, topik pembelajaran tidak sesuai dengan responden penelitian yang memilih peminatan IIS (Ilmu-Ilmu Sosial) dan BB (Bahasa dan Budaya). Menurutnya, responden yang memilih peminatan IIS dan BB berpendapat bahwa proses pembelajaran yang ditawarkan oleh peneliti tidak relevan dengan proses belajar di kelas peminatan mereka.
Kedua, materi yang diajarkan adalah materi kelas XI, sementara subjek penelitian yang digunakan adalah kelas X. Lebih lanjut, beberapa siswi keberatan dengan proses implementasi ini karena mereka tidak mendapatkan materi ini dalam pembelajaran formal di sekolah.
Ketiga, waktu pelaksanaan implementasi terbentur dengan waktu belajar subjek penelitian untuk menyiapkan ulangan-ulangan di sekolah mereka. Selain itu, beberapa responden juga mengeluhkan pada pimpinan asrama bahwa proses pembelajaran ini mengganggu waktu mereka untuk membuat tugas yang diberikan oleh guru mereka di SMA Stella Duce I Yogyakarta.
Untuk mengatasi hal ini, peneliti membuat sebuah forum yang menanyakan kesedian subjek penelitian mengikuti implementasi. Forum ini dilaksanakan pada tanggal 8 September 2015. Berdasarkan forum tersebut, 10 orang subjek penelitian menyatakan bersedia untuk mengikuti proses implementasi model. Dalam forum yang sama, peneliti bersama subjek penelitian yang bersedia, menyepakati pelaksanaan implementasi dilakukan tiap hari Kamis.
Setelah forum tersebut, implementasi model tidak dapat langsung berlanjut karena berbenturan dengan agenda sekolah. Pada tanggal 22 September–2 Oktober 2015, SMA Stella Duce I menyelenggarakan Ujian Tengah Semester. Oleh karena itu, Sr. Yoswita menyarankan agar proses implementasi dimulai setelah tanggal 2 Oktober 2015 dan harus selesai sebelum pertengahan November 2015. Hal ini dikarenakan responden penelitian akan sibuk menyiapkan Ujian Akhir Semester yang diagendakan pada tanggal 30 November–9 Desember 2015.
Melalui diskusi dengan pimpinan asrama dan responden penelitian yang telah menyatakan kesediaannya, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa proses implementasi akan dimulai kembali pada tanggal 8 Oktober 2015. Proses implementasi ini dimulai dengan materi dan jadwal baru.
Materi yang digunakan ialah Hukum Kepler. Selanjutnya, materi tersebut akan dipelajari dengan model pembelajaran Fisika bergaya naratif selama 4 kali pertemuan, ditambah dengan 2 pertemuan untuk pretest dan
posttest. Dengan jadwal ini, implementasi model dijadwalkan selesai pada tanggal 12 November 2015.
Dengan adanya perubahan ini, maka rancangan model pembelajaran yang tercantum dalam Lampiran 11 harus diubah lagi. Sembari mengubah rancangan model, peneliti juga menambahkan kegiatan menulis, sesuai dengan usulan dari validator ahli materi. Gambaran model pembelajaran dapat diamati lebih lengkap pada Lampiran 13. Model pembelajaran Fisika bergaya naratif pada lampiran inilah yang kemudian dipelajari dalam penelitian ini.
Pada Gambar 4, akan ditampilkan pula bagan alir dinamika proses implementasi rancangan model pembelajaran Fisika bergaya naratif.
Gambar 4. Dinamika Proses Implementasi Rancangan Model Pembelajaran 6-8 Ag 2015
Rancangan model dan instrumen penelitian siap diimplementasikan Tempat penelitian berubah karena materi Gravitasi Newton telah dipelajari di SMA PL dan Debritto Opsi alternatif: Asrama Stella Duce I Samirono, Yogyakarta Minggu I Ag 2015 Proposal disetujui pimpinan asrama Samirono 13 dan 20 Ag 2015
Pretest Minat Belajar, Hasil Belajar, dan Pengisian Kuesioner Kecerdasan Ganda 25 Ag 2015 Pertemuan I proses implementasi, materi: Hk. Gravitasi Universal Newton
Proses terhenti. Ada keluhan dari
responden.
8 Sep 2015 Forum Kesediaan
10 orang bersedia, materi, rancangan model berubah. Narasi tambah.
Pretest hasil belajar, proses implementasi, lalu posttest hasil belajar dan minat belajar 8 Okt 2015 – 12 Nov 2015