BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
1. Melakukan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat tangkai daun talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f) dengan metode lain, seperti metode difusi sumuran.
2. Melakukan pengujian dan pembuatan sediaan antibakteri dari ekstrak etil asetat tangkai daun talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f) baik sediaan oral maupun tropikal.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2021. Salmonella typhi – Materia Safety Data Sheet-Infectious Substances. Public health Agency of Canada.
Asri, Rifiqa., Handayani, Dewi., Sudaryono, Agus. 2019. Profil Fitokimia dan Pengaruh Ekstrak Tangkai Daun Talas Kemumu (Colocasia gigantea Hook.f) Terhadap Jumlah Leukosit Mus musculus.Aloptrop. 3(1): 48-46.
Astutiningsih C, Setyani W dan Hindratna H. 2014. Uji daya antibakteri dan identifikasi isolata senyawa katekin dari daun teh (Camellia sinensis L. var Assamica). Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas. 11(2):50–57.
Balouiri M, Sadiki M dan Ibnsouda SK. 2016. Methods for in vitro evaluating antimicrobial activity : A review. Journal of Pharmaceutical Analysis.
6(2):71–79.
Cappucino, J. G. and N. Sherman.2005. Microbiology: A Laboratory Manual.
7th.USA: Pearson Education Inc.
Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). 2018. Performance Standards for Antimicrobial Susceptibility Testing 28th Edition. Wayne, Pennsylvania: Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI).
Cushnie, T. P. T., Lamb, A. J., 2005. Antimicrobial Activity of Flavonoids, International Journal of Antimicrobial. 343–356.
Dalimatra, S., 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 4, (124). Jakarta, Indonesia: Puspa Swara.
Dalynn Biological. 2014. Mc Farland standard. Dalynn Biological.
Darmawati S, 2009, Keanekaragaman Genetik Salmonella typhi, Jurnal Kesehatan. 2(1).
Dermawan S. 2021. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) dan Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Staphylococcus epidermidis. Skripsi. Padang: Universitas Perintis Indonesia.
Dewi FK. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia, Linnaeus) Terhadap Bakteri Pembusuk Daging Segar. Skripsi.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1989, Materia Medika Indonesia, Jilid V,(285-295). Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.
Dirjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Ekowati, G., Yanuwiadi, B., & Azrianingsih, R. 2015. Sumber Glukomanan dari Edible Araceae Di Jawa Timur. Jurnal PAL. 6(1).
Etikasari R, Murharyanti R. dan Wiguna AS. 2017. Evaluasi pigmen karotenoid karang lunak Sarcophyton sp. sebagai agen antibakteri potensial masa depan Indonesia. Jurnal Farmasi. 2(1):28-36.
Endarini LH. 2016. Farmakognisi dan Fitokimia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Fathurrachman DA. 2014. Pengaruh Konsentrasi Pelarut Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn) dengan Metode Peredaman Radikal Bebas DPPH. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Faure, D. 2002. The Family-3 glycoside hydrolases: from Housekeeping Functions to Hostmicrobe Interactions. Applied and Environmental Microbiology, 68(4).
Fatisa Y. 2013. Daya antibakteri ekstrak kulit dan biji buah pulasan(Nephelium mutabile)terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Jurnal peternakan;10(1):31-38.
Febrianasari F. 2018. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kirinyu (Chromolaena odorata) Terhadap Staphylococcus aureus. Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Food and Drugs Administration. 2011. BAM: Diarreagenic Escherichia coli.
Harborne JB. 1987. Phytochemical Methods. Terjemahkan. Padmawinata K., Soediro I.Bandung: ITB.
Hafsan. 2011. Mikrobiologi Umum. Makassar: Alauddin University Press.
Harti AS. 2015. Mikrobiologi kesehatan. Yogyakarta.
Jawetz, E., Melnick, J.L & Aldelberg, E. A., 1984. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, Edisi ke-16. Jakarta: EGC.
Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A., 1996, Staphylococcus aureus. In:
Mikrobiologi Kedokteran, Edisi ke-20. Jakarta: EGC.
Jawetz, E., Melnick, J.L & Aldelberg, E. A., 2001, Mikrobiologi Kedokteran.
Jakarta: Salemba Medika.
Jawetz, E., Melnick, J.L & Aldelberg, E. A., 2005, Mikrobiologi Kedokteran.
Edisi 22. Jakarta: Saleba Medika.
Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 2007. Mikrobiologi kedokteranedisi 23. Jakarta:
EGC.
Jebarus AR. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Petai (Parkisa speciosa Hassk.) Terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Julianto TS. 2019. Fitokimia Tinjauan Metabolit Sekunder dan Skrining Fitokimia. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Kenneth, Todar., 2008. Staphylococcus aureus and Staphylococcus disease.
Kemenkes RI. 2017. Profil Kesehatan Indonesia 2016. Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Kramadibrata. 1983. Peranan Beberapa Serangga Pengunjung Perbungaan Pada Penyerbukan Colocasia EsculentaVar. Esculenta dan C. Gigantea. Jurnal Berita Biologi. 2(1).
Kusmiyati, Agustini NWS. 2007. Uji aktivitas senyawa antibakteri dari mikroalga Porphyridium cruentum. Biodiversitas;8(1):48-53.
Ladeska, Vera., Am, Rino Andriano., Hanani, Endang. 2021. Colocasia esculanta L. (Talas): Kajian Farmakognosi, Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi.
Jurnal Sains dan Kesehatan, 3(2): 351-358.
Lorian, V., 1980, Antibiotics in Labolatory Medicine, Jilid I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mariani Y, Yusro F dan Wardenaar E. 2020. Aktivitas ekstrak metanol daun ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn) terhadap empat jenis bakteri patogen. Jurnal Biologi Tropis. 20(1):94-101.
Masriani, Budi FS. 2017. Penapisan fitokimia ekstrak metanol beberapa tumbuhan obat asal Kalimantan Barat. Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 191–198.
Marliza, Hesti dan Oktaviani, Dita. 2021. Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol Daun Kemumu (Colocasia gigantea Hook.f.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLS). Bencoolen Journal Of Pharmacy. 1(1): 38-45.
Marliza, Hesti., Oktaviani, Dita. 2021. Batang Kemumu (Colocasia gigantea cv) Sebagai Bahan Baku Obat Alami Antibakteri dan Antikanker.Jurnal Kalisator. 6(1): 55-64.
Munawarah, Esti., Yuzammi., Solihah, Saniyatun Mar’atus., Suhendra. 2017.
Tumbuhan Berpotensi Sebagai Tanaman Hias. Jakarta: LIPI Press.
Mitsuoka, T. 1989. Microbes in the Intestine. Japan: Yakult Honsha Co., Ltd.
Nugraha SE, Achmad S dan Sitompul E. 2018. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah markisa ungu (Passiflora edulis Sims) aktif Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Indonesian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. 1(2):28-33.
Nuria, C., Faizatun, A., Sumantri. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 25923, Escherichia coli Atcc25922, dan Salmonella typhi Atcc1408. Jurnal Ilmu –ilmu Pertanian. 5(2): 26 –3.
Nurhayati LS, Yahdiyani N dan Hidayatulloh A. 2020. Perbandingan pengujian aktivitas antibakteri starter yogurt dengan metode difusi sumuran dan metode cakram. Jurnal Teknologi Hasil Peternakan. 1(2):41-46.
Parker, Tony C.B. 2000. Staphylococcus aureus. The Microbiological Safety and Quality of food Vol II. Maryland: Aspen Publisher Inc.
Pratiwi. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
Putri MH, Sukini, Yodong. 2017. Bahan Ajar Keperawatan Gigi Mikrobiologi.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Putri WA, Retno., Hanizar, evi., Sari NR, Dwi. 2022. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tangkai Daun Coloccasia esculanta Terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Biossaphire. 1( 1).
Rachmawaty DU. 2016. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol, Etil Asetat, dan Petroleum Eter Rambut Jagung Manis (Zea mays ssaccharata Sturt) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Skripsi.
Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Rubiono, Gatut., Sasongko, Mega., Siswanto, Eko., Wardana, ING. 2020.
Mungkinkah Memadukan Sifat Anti Air Daun Talas Dengan Karakter Fitokonstituen Antibakterial ? (Kajian Efek Daun Talas Sebagai Dasar Studi Materi Antivirus / Antibakteri. Prosiding Seminar Nasional Riset Teknologi Terapan.
Ristanti, Anindya Atikah., Safita, Noer., Khairunnisa, Reza., Ermawati, Sahilah.
2021. Efektivitas Gel Ekstrak Tangkai dan Daun Talas (Colocasia esculenta) Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes. University Research Colloquium. 378-388.
Sari, F.P. dan S. M. Sari. 2011. Ekstraksi Zat Aktif Antimikroba dari Tanaman Yodium (Jatopra multifida Linn) Sebagai Bahan Baku Alternatif Antibiotik Alami. Skripsi. Semarang: Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Sari WS. 2012. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Selasih (Ocimum basilicum L.) Terhadap Staphylococcus aureus Sensitif Dan Multiresisten Antibiotik. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
Sari TM, Fera O dan Yonedi Y. 2021. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah makisa konyal (Passiflora lingularis f. lobalata). Jurnal Katalisator.
6(2):241-253.
Satriyajati RP. 2010. Uji Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang Asam Jawa (Tamarindus indica Linn.) Terhadap Isolat Bakteri Eksudat Jerawat.
Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Subhash, C., Sarla, S. and Jaybardhan, S. 2012. PhytocheKHMal Screening of Garhwal Himalaya Wild Edible Tuber Colocasia esculenta. International Research Journal of Pharmacy. 3(3): 181-186.
Todar, K., 2004. Texbook of Bacteriology: Pseudomonas Aeruginosa. University of Winconsin-Madison Department of Bacteriology.
Toy TSS, Lampus BS dan Hutagalung BSP. 2015. Uji daya hambat ekstrak rumput laut Gracilaria sp terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal e-GiGi (eG). 3(1):153-159.
Utami NF, Nurdayanty SM, Sutanto, Suhendar U. 2020. Pengaruh berbagai metode ekstraksi pada penentuan kadar flavonoid ekstrak etanol daun iler (Plectranthus scutellarioides). Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi.
10(1):76-83.
Vasanthakumari, R. 2007. Texbook of Microbiology. New Delhi: BI Publications.
Van den Beld MJC, Reubsaet FAG. 2012. Differentiation between Shigella, enteroinvasive Escherichia coli (EAIC) and noninvasive Escherichia coli.
Eur. J Clin Microbiol Infect. 31: 899-904.
Verawati, Nofiandi D dan Petmawati. 2017. Pengaruh metode ekstraksi terhadap kadar fenolat total dan aktivitas antioksidan (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.). Jurnal Katalisator. 2(2):53-60.
Wijayati, B.A, Citranngtyas, G dan Wehantouw, F. 2014. Potensi Ekstrak Etanol Tangkai Daun Talas (Colocasia esculenta. L) Sebagai Alternatif Obat Luka Pada Kulit Kelinci (Oryctolagus cuniculus). Pharmacon. 3(3): 221-219.
Warsa, U. C. 1994. Staphylococcus dalam Buku Ajar Microbiologi Kedokteran.
Edisi Revisi. Jakarta: Binarupa Aksara.
Winarsih, S., D. A. Purwantiningrum, A. S. Wardhani. 2015. Efek Antibakteri Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus) terhadap Pertumbuhan Salmonella typhi secara In Vitro. Mutiara Medika. 15(2): 96-103.
Wulansari A, Aqlinia M dan Raharjo B. 2019. Isolasi bakteri endofit dari tanaman bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dan uji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri penyebab penyakit kulit Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Berkala Bioteknologi. 2(2):25- 36.
Zaunit MM, Febria FA dan Bakhtiar A. 2019. Pengendalian Staphyloccus aureus dan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus menggunakan ramuan obat diare masyarakat maek. Metamorfosa Journal Of Biological Sciences.
6(1):14–18.
Lampiran 1. Tumbuhan Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f)
Gambar 8. Tumbuhan Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f)
Gambar 9. Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f)
Lampiran 2. Hasil Identifikasi Tanaman Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f.)
Gambar 10. Surat Identifikasi Tumbuhan Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.)
Lampiran 3. Surat Keterangan Nama Bakteri
Gambar 11. Surat Keterangan Nama Bakteri Staphylococcus aureus Lampiran 3. (Lanjutan)
Gambar 12. Surat Keterangan Nama Bakteri Salmonella typhi
Lampiran 4. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f.)
Dicuci bersih dengan air mengalir
Dipotong kecil
Di keringanginkan selama 7 hari
Blender
1000 gram simplisia direndam 3x24 jam dengan 3 liter etil asetat didalam botol maserasi sambil sekali-sekali di aduk
Disaring dengan kertas saring
Dilakukan 4x maserasi hingga maserat yang didapat bening.
Di uapkan dengan rotary evaporator
Gambar 13. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f.)
7 kg tangkai daun talas segar
Simplisia
Maserat
Ekstrak kental
Evaluasi ekstrak : 1. Pemeriksaan organileptis 2. Pemeriksaan rendemen 3. Susut pengeringan 4. Kadar abu
Skrining fitokimia : 1. Uji flavonoid 2. Uji fenolik 3. Uji saponin 4. Uji tanin
5. Uji terpenoid dan steroid
6. Uji alkaloid
Uji aktivitas antibakteri
Lampiran 5. Skema Kerja Persiapan Bakteri Uji
Disuspensikan ke dalam 5 mL NaCl 0,9% menggunakan jarum ose steril
Disetarakan kekeruhannya dengan larutan standar 0,5 Mc Farland
Gambar 14. Skema Pembuatan Suspensi Bakteri
Lampiran 6. Skema Kerja Pembuatan Konsentrasi Laruan Uji Bakteri uji
Suspensi bakteri
Dilarutkan dengan 1 mL DMSO
Gambar 15. Skema Kerja Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji
Lampiran 7. Skema Kerja Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi
25 mg ekstrak kental
50 mg ekstrak kental
75 mg ekstrak kental
100 mg ekstrak kental
200 mg ekstrak kental
400 mg ekstrak kental
800 mg ekstrak kental
Larutan uji konsentrasi
2,5%
Larutan uji konsentrasi 5%
Larutan uji konsentrasi 7,5%
Larutan uji konsentrasi 10%
Larutan uji konsentrasi 20%
Larutan uji konsentrasi
40%
Larutan uji konsentrasi 80%
Diambil menggunakan kapas swab
Dioleskan pada media MHA
Kertas cakram yg telah dicelupkan pada masing-masing larutan uji diletakan pada media MHA yang telah kering
Inkubasi pada suhu 37˚C selama 24 jam
Gambar 16. Skema Kerja Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi
Lampiran 8. Skema Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Tambahkan 0,5 mL larutan uji Suspensi bakteri
Olesan bakteri mengering
(-) Jika tidak terbentuk zona bening (+) Jika terbentuk zona
bening
9 mL media NB
Tambahkan 0,5 mL suspensi bakteri
Di vortex
Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis (λ = 480 nm)
Inkubasi selama 18-24 jam (37˚C)
Diukur absorbansi setelah inkubasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis (λ = 480 nm)
Nilai absorbansi setelah inkubasi dikurang (-) dengan nilai absorbansi sebelum diinkubasi ( OD)
Gambar 17. Skema Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Lampiran 9. Skema Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM)
Dioleskan pada media MHA kering
Inkubasi selama 18-24 jam (37˚C) Media NB + Larutan uji
Media NB + Larutan uji + Suspensi bakteri
OD2
Nilai OD bakteri OD1
Larutan suspensi konsentrasi 20%
Larutan suspensi konsentrasi 40%
Larutan suspensi konsentrasi 80%
Amati ada atau tidak koloni bakteri
Konsentrasi yang tidak ditumbuhi koloni bakteri merupakan KBM
Gambar 18. Skema Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM)
Lampiran 10. Hasil Karakterisasi Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f)
Tabel 5. Pemeriksaan Organoleptik Ekstrak
Pemeriksaan Pengamatan
Bentuk Cairan pekat dan kental
Warna Hijau kecoklatan
Bau Khas
Rasa Pahit
Tabel 6. Hasil Rendemen
Pemeriksaan Pengamatan
% rendemen simplisia 78,571%
KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum)
% rendemen ekstrak 10,2%
Perhitungan Rendemen Simplisia Tangkai Daun Talas
% Rendemen =
=
= 78,571%
Perhitungan Rendemen Ekstrak Tangkai Daun Talas
% Rendemen =
=
= 10,2%
Tabel 7. Hasil Susut Pengeringan Ekstrak
Pemeriksaan Pengamatan
% Susut pengeringan
- Berat krus kosong (g) (A)
- Berat krus + sampel sebelum dipanaskan (g) (B) - Berat krus + sampel setelah dipanaskan (g) (C)
9,37%
39,2512 g 40,2575 g 40,1632 g
Lampiran 10. (Lanjutan)
Perhitungan Susut Pengeringan Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas
% Susut pengeringan =
=
=
=
= 9,37%
Tabel 8. Hasil Pemeriksaan Kadar Abu Ekstrak
Pemeriksaan Pengamatan
% Kadar abu
- Berat krus kosong (g) (A)
- Berat krus + sampel sebelum dipijarkan (g) (B) - Berat krus + sampel setelah dipijarkan (g) (C)
0,08%
39,2512 g 40,2575 g 39,2521 9
Perhitungan Kadar Abu Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas
% Kadar abu
= 0,08%
Lampiran 11. Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak Tangkai Daun Talas (Colacasia gigantea (Blume) Hook.f)
Tabel 9. Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak Kandungan
Kimia
Pereaksi Hasil Positif Hasil
Pengamatan Flavonoid Serbuk Mg, HCl pekat Warna jingga +
Fenolik FeCl3 Warna hijau, merah,
biru atau kehitaman
+
Saponin Aquadest Busa stabil -
Tanin FeCl3 Warna coklat
kehijauan atau biru kehitaman
+
Terpenoid Asam asetat anhidrat, H2SO4 pekat
Warna merah -
Steroid Asam asetat anhidrat, H2SO4 pekat
Warna biru kehijauan atau ungu
+ Alkoloid H2SO4 2N, Pereaksi
mayer
Endapan putih -
Keterangan : + = mengandung fitokimia - = tidak mengandung fitokimia
Lampiran 12. Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode disc diffusion Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Tabel 10. Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode disc diffusion Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
No Konsentrasi larutan uji
Diameter daya hambat (mm)
D1 D2 D3 Rata-rata ±SD
1 80% 21,06 21,16 21,1 21,10 0,050
2 40% 17,03 17,26 17,06 17,11 0,125
3 20% 14,26 14,26 14,43 14,34 0,085
4 10% 0 0 0 0 0
5 7,5% 0 0 0 0 0
6 5% 0 0 0 0 0
7 2,5% 0 0 0 0 0
8 Kontrol + 23,5 23,56 23,66 23,53 0,03
9 Kontrol - 0 0 0 0 0
Keterangan: D1 = diameter daya hambat pada pengulangan pertama D2 = diameter daya hambat pada pengulangan kedua D3 = diameter daya hambat pada pengulangan ketiga
Lampiran 12. (Lanjutan)
Perhitungan Diameter Daya Hambat Pada Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode Disc Diffusion Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus 1. Konsentrasi 80%
D1=
D2=
D3=
2. Konsentrasi 40%
D1=
D2=
D3=
3. Konsentrasi 20%
D1=
D2=
D3=
4. Konsentrasi 10%
D1
D2
D3
5. Konsentrasi 7,5%
D1
D2
D3
6. Konsentrasi 5%
D1
D2
D3
7. Konsentrasi 2,5%
D1
D2
D3 8. Kontrol +
D1
D2
D3 9. Kontrol –
D1
D2
D3
Lampiran 12. (Lanjutan)
2,5% 5%
40% 80% 20% 7,5% 10%
K + K-
Gambar 19. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Keterangan :
2,5% : konsentrasi 2,5% 40% : konsentrasi 40%
5% : konsentrasi 5% 80% : konsentrasi 80%
7,5% : konsentrasi 7,5% K+ : kontrol + 10% : konsentrasi 10% K - : kontrol - 20% : konsentrasi 20%
Lampiran 13. Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode disc diffusion Terhadap Bakteri Salmonella typhi
Tabel 11. Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode disc diffusion Terhadap Bakteri Salmonella typhi
No Konsentrasi larutan uji
Diameter daya hambat (mm)
D1 D2 D3 Rata-rata ±SD
1 80% 20,13 20,03 20,2 20,12 0,085
2 40% 16,93 16,9 17,03 16,95 0,068
3 20% 13,76 13,8 14,16 13,9 0,22
4 10% 0 0 0 0 0
5 7,5% 0 0 0 0 0
6 5% 0 0 0 0 0
7 2,5% 0 0 0 0 0
8 Kontrol + 22,76 22,76 23,03 22,85 0,155
9 Kontrol - 0 0 0 0 0
Keterangan: D1 = diameter daya hambat pada pengulangan pertama D2 = diameter daya hambat pada pengulangan kedua D3 = diameter daya hambat pada pengulangan ketiga
Lampiran 13. (Lanjutan)
Perhitungan Diameter Daya Hambat Pada Pengujian Aktivitas Antibakteri Menggunakan Metode Disc Diffusion Terhadap Bakteri Salmonella typhi
1. Konsentrasi 80%
D1=
D2
D3
2. Konsentrasi 40%
D1
D2
D3
3. Konsentrasi 20%
D1
D2
D3
4. Konsentrasi 10%
D1
D2
D3
5. Konsentrasi 7,5%
D1
D2
D3
6. Konsentrasi 5%
D1
D2
D3
7. Konsentrasi 2,5%
D1
D2
D3 8. Kontrol +
D1
D2
D3 9. Kontrol –
D1
D2
D3
Lampiran 13. (Lanjutan)
20% 2,5% 5%
40% 80% 7,5% 10%
K +
Gambar 20. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.) Terhadap Bakteri Salmonella typhi
Keterangan :
2,5% : konsentrasi 2,5% 40% : konsentrasi 40%
5% : konsentrasi 5% 80% : konsentrasi 80%
7,5% : konsentrasi 7,5% K+ : kontrol + 10% : konsentrasi 10% K - : kontrol - 20% : konsentrasi 20%
Lampiran 14. Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Tabel 12. Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
No Konsentrasi Larutan Uji
OD 1 OD 2
1 80% 2,100 1,583 -0,517
2 40% 1,720 1,337 -0,383
3 20% 1,333 1,018 -0,315
4 10% 0,951 0,973 0,022
5 7,5% 0,626 0,671 0,045
6 5% 0,548 0,600 0,052
7 2,5% 0,432 0,530 0,098
8 Kontrol + 0,713 0,610 -0,103
9 Kontrol - 0,135 0,239 0,104
Keterangan: OD 1 = absorbansi (optical density) sebelum diinkubasi K -
OD 2 = absorbansi (optical density) setelah diinkubasi
OD = nilai absorbansi (optical density) setelah diinkubasi dikurang absorbansi sebelum diinkubasi
Lampiran 14. (Lanjutan)
Tabel 13. Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Terhadap Bakteri Salmonella typhi
No Konsentrasi Larutan Uji
OD 1 OD 2
1 80% 1,945 1,485 -0,460
2 40% 1,546 1,317 -0,229
3 20% 1,188 1,060 -0,128
4 10% 0,805 0,817 0,012
5 7,5% 0,625 0,741 0,116
6 5% 0,481 0,632 0,151
7 2,5% 0,348 0,512 0,164
8 Kontrol + 0,484 0,210 -0,274
9 Kontrol - 0,120 0,336 0,216
Keterangan: OD 1 = absorbansi (optical density) sebelum diinkubasi
OD 2 = absorbansi (optical density) setelah diinkubasi
OD = nilai absorbansi (optical density) setelah diinkubasi dikurang absorbansi sebelum diinkubasi
Lampiran 15. Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM)
Tabel 14. Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
No Konsentrasi Larutan Uji Pertumbuhan bakteri
1 80% Tidak ada koloni bakteri (-)
2 40% Ada koloni bakteri (+)
3 20% Ada koloni bakteri (+)
Keterangan: + = menunjukan adanya pertumbuhan bakteri - = menunjukan tidak adanya pertumbuhan bakteri
Koloni bakteri
Gambar 21. Foto Pengujian Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) Ekstrak Etil Asetat Tangkai Daun Talas (Colocasia gigantea (Blume) Hook.f.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Lampiran 15. (Lanjutan)
Tabel 15. Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) Terhadap Bakteri Salmonella typhi
No Konsentrasi Larutan Uji Pertumbuhan bakteri
1 80% Tidak ada koloni bakteri (-)
2 40% Ada koloni bakteri (+)
3 20% Ada koloni bakteri (+)
Keterangan: + = menunjukan adanya pertumbuhan bakteri - = menunjukan tidak adanya pertumbuhan bakteri
Koloni bakteri
20% 40%
80%